
Setelah Tasya masuk, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya suara tangan sembari membuka nasi goreng milik masing-masing. Sejujurnya mereka menguping, karena terdengar keributan dari luar. Ternyata memang ada apa-apa yang terjadi di antara Tasya dan temannya yang bernama Sarah itu.
"Gila temen lo mau gue tampol aja rasanya," ucap Monik kesal.
"Lagian kenapa tadi kalian gak cerita sih soal ini? Tadinya gue mau emosi aja sama temen lo, cuma masih menghargai dia aja sebagai temen lo. Padahal bisa aja gue gas, " timpal Belva.
"Plot twist banget anjir, temanku memilih mantanku. Padahal si Tasya kemarin-kemarin butuh mereka. Eh taunya dia di pihak Viko nyembunyiin kelakuaan bejatnya. Ironis," ucap Yoda dramatis.
"Dia maunya gue bales budi karena dulu Viko ada buat gue saat gue down. Ya gue akuin emang, cuma gue gak habis pikir dia bilang gitu saat Viko sendiri aja udah nikah. Lo ngerasa kaya ngebadut gak sih?" Ucap Tasya sedikit menahan emosinya.
"Tapi kalau dia nyakitin lu itu bukan sesuatu yang bisa dijadiin balas budi. Enak aja, terus dia melupakan masalah lalu gitu aja?" Kesal Angkasa.
"Tapi gua liat Bella gak bahagia di sana," ucap Al tiba-tiba.
"Maksudnya?" Tanya Belva.
"Gak mau menilai, tapi dia gak diperlakukan dengan baik. Entah karena tante Rena belum bisa nerima kehadiran Bella atau kaya gimana," jawab Al.
"Dia hamil, tapi tante Rena malah muji-muji gue di sana. Agak sedikit kasar juga sih. Tapi gue gak mau gimana-gimana, gak ada niat nanya juga sama Bella. Gue bukan malaikat," jawab Tasya sambil menyuapkan nasi goreng pada Al.
"Ya ngapain juga lu nanya. Kalaupun emang iya ya itu resiko dia karena masa lalunya. Anggap aja itu karma," timpal Yoda.
"Bener, resiko dia mau nikah sama Viko. Walaupun gue agak kasian sih karena gimana pun kita pernah temenan. Cuma ya dia kaya babi," kata Belva.
"Tapi gua salut sama lu, Cil. Lu udah bisa tegas sama keputusan lu. Walaupun lu masokis tapi gua bangga loh." Angkasa mengusak rambut Tasya, sementara gadis itu hanya tersenyum kecil sembari memakan nasi goreng miliknya.
"Dia udah gak nangis lagi malah," timpal Yoda.
"Gue udah membiasakan diri. Gue mau bahagia-bahagia aja pokoknya dengan gak memperpanjang suatu masalah sampai kecewa sebegitunya."
"Bagus, udah jangan dipikirin, 3 hari lagi kalian tunangan. Mikirin happy-happy aja," ucap Monik.
__ADS_1
"Gue gak mikirin, biasa aja. Gak kaget juga karena gue udah nebak-nebak sebelumnya. Yang terpenting gue emang sayang sama Al, cinta juga sama dia, nobody else," kata Tasya spontan.
Al melirik gadisnya itu. Bisa-bisanya Tasya membuat dia salah tingkah. "Oh jadi lu cinta ya sama gua ya?"
Tasya tersadar, perlahan dia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa seolah lancar dia mengucapkannya, bodoh kamu Tasya. Batinnya.
Al rangkul pinggang Tasya lalu mencium pipinya. "Iya iya, gue juga cinta sama lu."
"Ekhm bisa gak uwuannya nanti aja jangan sekarang?" Peringat Belva.
Tasya terkekeh. Tasya dan Al malah semakin erat berpelukan. Membuat teman-teman mereka emosi ternyata menyenangkan. Salah sendiri mereka selalu meledek kalau Tasya dan Al jomblo. Sekarang giliran mereka yang merasakan menjadi nyamuk.
...~ • ~...
Keesokan harinya mereka disibukkan dengan acara pengajian dan siraman yang biasa dilaksanakan sebelum menikah. Tasya turun dari tangga dan ikut bergabung bersama ibu-ibu yang sudah berkumpul di rumahnya. Al tersenyum, Tasya terlihat cantik menggunakan hijab.
Untuk sejenak mereka saling melirik dan tersenyum. Padahal yang akan menikah Radit, tapi seperti mereka yang akan menikah rasanya. Mereka pun mengikuti acaranya dengan khusuk.
Tasya berpikir, ternyata menikah itu persiapannya banyak sekali. Mental juga dibutuhkan di sini, melihat Radit sekarang membuatnya terharu. Sebentar lagi abangnya akan melangkah menuju ke kehidupan baru. Ayahnya pasti senang melihat ini.
"Al, adat sunda gemes juga ya? Gue selalu suka kalau liat pernikahan adat sunda gini," ucap Tasya.
"Kenapa, nanti kita nikah mau adat sunda juga?" Tanya Al.
Tasya mengangguk. "Humm, mau pake siger sunda."
Al merapikan hijab Tasya dan tersenyum kecil. "Apapun mau lu, gua penuhin. Belajar dulu yang rajin, baru kita nikah."
Tasya terkekeh lalu mengangguk. "Siap bapak negara!"
Setelah dilafalkan doa doa dengan alunan musik khas sunda. Satu persatu pun mulai maju untuk menyiramkan air bunga. Tentunya dimulai dari Amara, Diana dan juga haris. Setelah itu saudara jauh yang lebih tua.
Sekarang giliran Tasya. Tasya dan Radit saling menatap, Tasya tertawa setelahnya. Dia langsung mengambil gayung dari batok kelapa dan menyiramkan beberapa siuk air mawar pada Radit
__ADS_1
"Semoga lo bisa jadi suami yang baik, jadi papa yang baik juga buat anak-anak lo nanti, lancar-lancar sampai hari H" ucap Tasya sambil tersenyum.
Radit mencium pipi adiknya berkali-kali. "Makasih ya, Dek. Semoga pertunangan lu juga lancar sampai hari H. Abang sayang banget sama lu."
"Tasya juga sayang Abang." Tasya tersenyum lalu kembali duduk. Semuanya kini bergantian maju, termasuk Al. Tasya melirik sekilas saat Radit membisikan sesuatu pada Al yang dihadiahi anggukan dan kesiapan dari pria itu. Pasti Radit memberi wejangan.
Setelah selesai, Al kembali duduk di samping Tasya. Melihat teman-temannya juga yang ikut maju. Tasya membuat boomerang bersama Al. Jarang-jarang mereka berpakaian muslim selain lebaran. Tasya menuliskan caption. H - berapa? @AldoPrayoga 🐰🦁
Begitu juga dengan Al. Sampai-sampai banyak yang memberikan dukungan dan doa. Mereka berdua terkekeh melihat pesan di ponsel masing-masing. Walaupun Tasya melihat teman-teman dekatnya juga menjdi viewers storynya. Ya dia tidak mau ambil pusing, kalau mau datang silahkan kalaupun tidak juga bukan masalah. Toh selama ini mereka mengasingkan diri dari Tasya.
"Lu cantik kalau pake hijab kaya gini," puji Al.
"Lebih suka sama Tasya yang mana? Yang pake hijab atau engga?" Tanya Tasya.
"Lebih suka Tasya Aurell. Mau diapaain juga tetep cantik, mau dia nangis, marah, apalagi seneng udah pasti cantik banget," jawab Al.
"Gak usah gombal, gue gak mempan digombalim," ucap Tasya sembari mencubit perut Al.
Al terkekeh. "Gak gombal, orang beneran."
"Oh iya Al, nanti buat tunangan udah siapin kata-kata? Tanya Tasya.
"Emang harus dipersiapkan ya? Kalau iya gua gak akan sih, gua mau utarain langsung dari hati, dari pikiran, apaan pake teks atau harus ngafalin. Jadi jatuhnya natural tanpa di buat-buat," jawab Al dengan senyum.
Tasya mengalihkan pandangannya kembali ke depan, bisa gila lama-lama kalau dia terus menatap Al. Pria itu begitu manis, hingga membuat pipinya memanas sekarang.
"Harus banget ya pipinya blushing gitu? Minta dicium banget," ucap Al sambil terkekeh.
Tasya mengulum tawanya. "Apasihh, jagan godain gue!"
"Jangan godain gue!" Ucap Al mengikuti Tasya.
"Alll resee!" Tasya tertawa, setelahnya mereka malah saling menggenggam lagi. Benar-benar lengket.
__ADS_1
Seperti menemukan kebahagiaan hari ini, Tasya berharap semoga dia dan Al akan selalu bahagia dan bisa menjalani hubungan mereka sampai akhir bahagia.