
Hari ini Tasya dan Al menghabiskan waktu berdua. Mereka ada fitting baju bersama yang lainnya, bedanya yang lain langsung pulang, kalau mereka bepergian dulu. Al dan Tasya mengambil cincin pertunangan yang mereka pesan. Setelah itu mereka ke makam ayah Tasya.
Kini mereka sedang dalam perjalanan, menuju satu tempat yang akan mereka kunjungi. Sebenarnya Tasya dan Al tadi mendatangi rumah Sarah, Sherli dan Niken. Namun mereka tidak ada di rumah. Jadi ya terpaksa mereka lewat dulu.
Tasya sedikit ragu sebenarnya, tapi mau bagaimana pun dia tidak boleh memutuskan suatu hubungan dengan seseorang. Al menghentikan mobilnya sesaat sudah memasuki gerbang. Iya, rumah Viko. Tujuannya bukan Viko sebenarnya, tapi orang tuanya. Tasya pernah berjanji akan kesini dan tidak akan memutuskan hubungan dengan mereka. Radit pun memang mengundangnya, masa dia tidak?
Tasya menarik napasnya, lalu dia tersenyum ke arah Al yang sedari tadi menggenggam tangannya yang sudah berkeringat. Mereka berdua pun turun dari mobil dengan Tasya yang membawa oleh-oleh untuk orang tua Viko dan juga paper bag berisi undangan.
"Al, temenin gue ya," pinta Tasya.
Al pun mengangguk. Tasya dan Al berjalan menuju pintu. Saat Tasya memencet bel, Al malah terfokus dengan beberapa motor yang ada di pinggir rumah ini. Apa Viko ada di rumah ini juga?
Pintu rumah terbuka. Menampilkan seorang wanita yang tengah hamil sepertinya 4-5 bulanan dengan setelan daster. Tasya menahan napasnya sejenak, namun perlahan dia mencoba biasa saja karena Al mengeratkan genggaman mereka.
"Tasya, Al?" Ucap Bella tak percaya.
Tasya tersenyum. "T-tante Rena ada?"
"Tasya, Al gue mau min-"
Tak lama kemudian orang yang Tasya cari keluar dari balik pintu. Rena berbinar saat melihat Tasya ada di sini. Namun sekejap dia menyingkirkan Bella sedikit kasar. Tasya sedikit kaget, namun tidak ingin ikut campur juga. "Tasya, kamu kesini sayang?"
Tasya bersalaman dengan Rena sembari cepika-cepiki. Rena senang sekali melihat Tasya ada di sini, gadis yang dulu sangat dia sukai sebagai calon menantunya. "Ini, Tante. Tasya mau-"
Udah-udah ayok masuk kedalam. Tante kira kamu gak akan ikut kumpul loh. Ayok nak, Al," ajak Rena.
Tasya menatap Al bingung, kumpul? Kumpul apanya? Mereka tidak ada janji apapun untuk ke sini.
"Bikinin air!" Ucap Rena ketus kepada Bella.
Al sedikit melirik ke arah Bella, tatapannya begitu sendu seolah ada yang ingin dia bicarakan tapi tertahan. Namun Al mengabaikannya, lagi pula Bella juga memutuskan hubungan dengannya.
Tasya dan Al duduk di ruang tamu, Rena benar-benar antusias sekali dengan kehadiran Tasya. "Kok ke Bandung gak kabarin Tante dulu? Padahal bisa Tante jemput loh ke bandara."
"Hehe kita mendadak soalnya. Gak mendadak juga sih, Tan. Emang ada yang mau dilakuin di sini," jawab Tasya sambil tersenyum.
Bella datang membawa teh, tidak ada sepatah katapun. Tasya juga tidak berniat bertanya, dia bukan malaikat yang bisa biasa saja sebenarnya.
__ADS_1
Setelah Bella kembali ke dalam baru lah Tasya kembali memberanikan diri untuk bicara. Tasya menyerakan paper bag besar berisi tas kepada Rena. "Ini ada oleh-oleh buat Tante, Tasya gak tau brand kesukaan tante apa. Jadi minta tolong Tante Amara buat pilihin."
"Aduh repot-repot segala, tapi makasih loh. Jadi sekarang kalian kesibukannya apa?" Tanya Rena sembari menerima bingkisan itu.
"Kita berdua semester depan udah skripsi, setelah lulus kita koas 2 tahun dan persiapan buat sertifikasi 1 tahun. Baru kita bisa jadi dokter, Tan," jawab Tasya.
"Oh jadi kalian barengan gitu ya? Hahaha bagus, tante seneng dengernya. Keren loh kamu itu udah cantik, pintar, calon dokter, menantu idaman pokoknya."
Tanpa disadari Bella mendengar itu semua dari balik tembok. Dia benar-benar menangisi kehidupan yang dia jalani. Mendengarkan percakapan mertuanya tanpa mempedulikan perasaannya sebagai menantu.
Tasya hanya tersenyum. Perlahan mengambil dua undangan dari paper bag dan mengulurkannya pada Rena. "Oh iya, Tasya ke sini mau kasih undangan. Karena bang Radit mau menikah minggu depan. Tante datang ya sama om?"
Rena menatap undangan itu. Yang pertama masih biasa saja, namun melihat yang kedua membuat Rena sedikit kaget. "K-kalian?"
"Iya, Tante. Al akan bertunangan dengan Tasya," jawab Al dengan mantap.
"Yaampun, walaupun tante kecewa karena akhirnya kamu tidak menjadi menantu Tante, tapi Tante senang mendengarnya. Tante pasti dateng, semoga lancar sampai hari H ya?" Ucap Rena.
"Aamiin makasih ya, Tan," ucap keduanya.
"Yasudah kalau begitu, kalian bisa langsung ke taman belakang. Udah pada ngumpul di sana," kata Rena sembari mempersilahkan.
Degh ...
Sarah, Sherli, Niken, Arka, Bagus dan juga Reza ada di sana bersama Viko. Mereka sedang bertukar canda tawa. Entah kenapa Tasya merasa menjadi seperti badut di sini. Di saat dia mati-matian mencari kabar sahabat-sahabatnya, ternyata mereka di sini. Bersama Viko, orang yang katanya melukai SAHABAT mereka.
Tasya menatap Al, perasaannya terluka sekarang. Dia ingin pulang saja rasanya. Al dapat melihat dari sorot mata Tasya, namun Al menggeleng, Al mau Tasya menghadapi semuanya dan tidak lari.
Dari sudut sana, tiba-tiba tawa mereka berhenti saat melihat Tasya dan Al menatap mereka dari balik jendela besar. Tasya menghela napasnya dan berjalan ke arah mereka. Al pun mengikuti Tasya dari belakang. Dia harus memastikan Tasya aman tanpa mencampuri urusannya.
Jujur, tangan Tasya gemetar. Rasanya seperti saat melihat Viko berselingkuh kemarin. Melihat sahabat-sahabatnya seperti seorang pengkhianat. Entah benar atau tidak Tasya tidak tau. Dia hanya berusaha meredam pikiran dan emosinya.
"T-Tasya?" Ucap Sherli.
Saat sampai di hadapan mereka, Tasya berusaha tersenyum. "M-maaf gue ganggu kalian."
Tidak ada yang bicara, semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Tasya terkekeh. "Kok jadi awkward gini, gue terlalu lama di Surabaya ya sampai asing banget? S-sebenernya gue kesini tuh mau ketemu tante Rena. Tapi dikira mau kumpul, jadi disuruh kesini. Santai, gue gak akan ngapa-ngapain."
__ADS_1
"Sya-"
Tasya dengan cepat memotong ucapan Sarah. "Abang gue mau nikah. Kalian dateng ya, kalau berkenan. Punya Viko udah di tante Rena. Gue chat kayanya gak masuk deh ke kalian, rumah kalian juga kosong. Karena kalian ada disini ya sekalian aja." Tasya mengeluarkan undangan dan menaruhnya di meja kayu.
"G-gue cuma mau bilang, kalau gue kangen sama kalian. Kalau gitu gue pulang ya." Tasya memutar berniat pergi dari sana. Namun Viko menarik lengan Tasya dan memeluknya erat.
Tasya berusaha melepaskan pelukan itu, namun Viko memeluknya dengan erat bahkan sangat erat. Hanya menghirup aroma tubuh Tasya seperti ini rasanya rindu pada gadis itu sedikit terobati. Tasya menguatkan dirinya, dia tidak boleh menangis. Bukan karena goyah, tapi dia benci situasi di mana semua orang berpura-pura dan diam."Aku kangen kamu, Sya. Aku kangen."
Tidak ada perasaan lagi saat Viko mengucapkannya. Tasya melirik Al seolah meminta bantuan. Al mengambil lembaran undangan pertunangan mereka di paper bag. Tasya melupakannya tadi di sofa, jadi Al yang membawanya.
Al menghampiri Tasya dan menarik lengannya lembut dari pelukan Viko. Al menarik Tasya agar di belakangnya tanpa melepaskan genggaman dari tangan Tasya. Pria itu memberikan undangan tepat di dada Viko. "Dateng ke acara pertunangan gua sama Tasya. Gua sama Tasya cabut. Have fun, guys!"
Al pamit pada mereka dan membawa Tasya. Dari tempat paling tersembunyi, Bella menyaksikan semuanya. Rasa sakit itu semakin bertambah rasanya. Dia tidak kuat lagi berada di sini.
Al dan Tasya berpamitan pada Rena. Setelah itu mereka keluar dari rumah itu. Jujur Tasya ini merasa dia lebih dewasa atau karena terbiasa dikhianati. Dia tidak bisa menangis. Dia hanya diam mengikuti Al.
Viko menatap lembar undangan itu. Dengan cepat dia berlari menyusul Tasya. Tasya tidak boleh melakukan pertunangan itu!
"Syaaa, Tasyaaa stopp!" Viko dengan cepat menarik tangan Tasya.
"Aku mohon, kamu boleh marah sama aku. Tapi jangan tunangan sama dia. Aku gak bisa liat kamu sama Al," pinta Viko dengan suara paraunya.
Kalau bisa bilang, Viko memang sudah gila. Dia tergila-gila dengan Tasya dan sampai saat ini pun tetap sama. Teman-teman Tasya melihat dari balik pintu. Dia tidak tega melihat Viko seperti itu.
Untuk sesaat Tasya terkekeh. Ternyata dari tatapan mereka yang mereka pikirkan hanya Viko. Bukan dirinya. "Hubungan kita udah berakhir, aku udah gak ada perasaan lagi sama kamu."
"Bohong! Perasaan gak mungkin hilang secepat itu Tasya!" Bentak Viko.
Al ingin marah namun Tasya menahannya dengan mengeratkan genggaman mereka. "Menurut aku waktu 1,5 tahun itu lama, Vik. Di hati aku, di sudut yang paling tersembunyi dan susah disentuh, cuma ada satu nama sekarang. Cuma Al, Aldo Prayoga. Soo forget me and continue your life with her. Aku udah maafin kamu sama istri kamu."
Tasya melepaskan tangannya dari Viko lalu melambaikan tangan ke arah teman-temannya seolah tidak terjadi apa apa. Tasya mengekuarkan senyum terbaiknya. "Jangan lupa dateng, dadah!"
Tasya tersenyum lalu mengikuti Al masuk ke mobil. Al menatap Tasya yang kini sedang menetralkan perasaannya.
"Lo gak fine-fine aja, gua tau," ucap Al. Dia tau Tasya kecewa dengan teman-temannya sekarang.
Tasya terkekeh. "Not bad, but not good too."
Setelah memastikan Tasya aman Al pun melajukan mobilnya. Mereka bahkan tidak peduli dengan Viko yang masih mematung di sana. Al hanya fokus pada Tasya dan Tasya pun begitu.
__ADS_1