
Hari ini hari libur, Al dan Tasya sama-sama menghabiskan waktu dengan tidur sampai puas. Lebih tepatnya mereka memang sudah menyelesaikan masa koass bahkan mereka telah di wisuda lagi dan mengikrarkan sumpah dokter dengan gelar Dr di depan nama mereka. Selain karena sudah merasa bebas dan ada jeda untuk intership, makanya mereka menikmati waktu bebas mereka.
Dr. Tasya Aurell dan Dr. Aldo Prayoga
Mereka sangat bangga dengan pencapaian mereka, nilai yang cukup tinggi pun menjadi kepuasan tersendiri. Tidak sia-sia mereka mengorbankan banyak waktu, tenaga, uang dan lain sebagainya.
Malam ini ada pertemuan keluarga dan acara makan malam. Setelah berdandan Tasya kembali memperhatikan penampilannya di cermin. Meskipun Al sudah tau sekali penampilan Tasya dari pertama kali dia bangun pun, tapi tetap saja dia harus terlihat cantik hari ini.
"Udah deh, gak usah terlalu menor juga. Gini udah cukup kali ya?" Tanyanya pada diri sendiri di depan cermin.
Setelah mantap barulah dia turun ke bawah, semua orang langsung melirik ke arah tangga dari meja makan, sudah bisa di pastikan kalau itu adlah Tasya. Al menatap kagum, ternyata calon istrinya ini sangat cantik, lebih cantik yang Al tau selama ini.
Tasya tersenyum lalu duduk di samping Al, mereka saling menatap seolah saling memuji, padahal tidak membicarakan apa-apa. Mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu karena agar santai. Sebenarnya Tasya dan Al tida mengetahui tujuan makan malam ini, ya mereka hanya tau kalau sekarang mereka ada acara keluarga.
Setelah beberapa menit, Tasya menyudahi makan malamnya. Dia memang hanya mengambil sedikit makanan karena tidak bisa makan malam banyak-banyak. Dia sedang diet karena kemarin menemukan kejanggalan naik 4 kilo.
"Kenapa makannya sedikit?" Tanya Al sambil melirik ke arah Tasya.
Tasya mendekatkan wajah ke telinga Al. "Aku naik empat kilo, aku lagi diet."
Al menghela napasnya, kenapa juga harus diet? Padahal Al lebih suka kalau Tasya terlihat berisi, itu artinya asupan makanannya tercukupi. Dia mengambil piring kecil dan menaruh beberapa buah yang sudah di kupas di sana. Melon dan juga apel. "Makan ini aja kalau takut naik kiloannya."
"Sama aja gak sih? Gak ah aku udah kenyang juga," kata Tasya menggeleng.
"Kamu ada magh loh, gak usah diet-diet. Yang nantinya nikah sama kamu juga aku. Cepet makan, jangan nyiksa diri sendiri."
Tasya hanya pasrah saja jika sudah seperti itu, kebanyakan orang ingin mempunyai pasangan yang kurus, tinggi, langsing tapi Al malah menyuruhnya menggemukan badan. Memang Al ini menyebalkan.
Dia melihat mereka hanya menggelengkan kepalanya, mereka memang sudah dewasa tapi di matanya masih terlihat seperti anak kecil.
"Pembukaan wahana intership kapan?" Tanya Radit tiba-tiba.
"3-4 bulan lagi. Masih lama, jadi ya bisa jadi pengangguran dulu," jawab Tasya enteng.
__ADS_1
"Mau ambil intership di mana?" Tanya Radit lagi.
"Ya maunya wahana lokal aja biar gak jauh, tapi itu rebutan. Ya segimana dapetnya, bisa aja sama Al juga beda tempat. Awalnya kita ikut seleksi lokal, kalau gak dapet ya harus ikut seleksi nasional. Itu bisa nunggu sampe beberapa bulan lagi."
"Lama juga jadi dokter," ucap Zea.
"Lama dan dalam prosesnya itu gak mudah, ada yang bisa sampai 1 tahun baru bisa intership," sambung Fadil tiba-tiba.
"Kamu itu gak diajak!" Ketus Zea.
"Saya hanya kasih tau kamu, kali saja kamu penasaran," jawab Fadil sembari melanjutkan makan malamnya.
Tasya dan Al melirik ke arah mereka. Untuk usia pernikahan hampir 1 setengah tahun lebih ya interaksi mereka ada kemajuan walaupun prosesnya sangat lama.
Beberapa menit pun berlalu, setelah selesai acara makan malam Tasya dan Al berencana untuk beranjak dari meja makan namun Diana menghentikannya. "Ettt mau kemana?"
"Mau nonton, Bund. Iyakan Al?" Tanya Tasya memastikan.
"Gak, duduk lagi kalian," perintah Diana.
"Kenapa, Bund?" Tanya Al to the point.
"Ck kalian ini, janjinya setelah koass, setelah itu katanya nunggu wisuda dan gelar dr, tapi masih belum ada pergerakan?" Tanya Diana.
Haris menenangkan Diana, ya begitulah istrinya. Selalu tidak sabaran Al hasil mereka berdua hanya diam saja. "Begini, kalian berdua kan sudah selesai mendapat gelar, tinggal intership saja kan, jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Haris.
Mereka berdua nampak bingung, kalau ditanya tanggal atau bulan ya pasti belum menemukan jawabannya. Mereka belum membahasnya sama sekali. Ya itu membuat Diana semakin gemas melihatnya.
"Ah baik, Ayah ganti pertanyaannya. Kalian sudah siap menikah?" Tanya Haris pada keduanya.
"Of Course." Keduanya mengangguk.
"Lalu? Sudah dipikirkan kapan pelaksanaannya?" Tanya Amara.
"Belum, Tan. Tapi kalau sudah diingatkan mungkin akan segera dipikirkan," ucap Al.
__ADS_1
"Jangan segera, tapi memang harus cepat-cepat loh. Sebentar lagi kalian akan intership, hanya tersisa 3 sampai 4 bulan lagi untuk menyiapkan pernikahan," ucap Diana.
"Ya kalau begitu bisa Al dan Tasya urus mulai besok, iyakan?" Tanya Al memastikan pada Tasya.
Tasya hanya mengangguk, mereka berdua bukan tidak ingin ribet. Tapi menurut mereka semua harus dilalui dengan santai dan tidak terburu-buru. Kalau bisa dibuat simpel kenapa harus panik duluan?
"Jadi kalian beneran udah siap menikah?" Tanya Radit memastikan, bukan apa-apa meskipun mereka sudah 24 tahun tapi menurut Radit mereka tetaplah seorang anak kecil.
"Udah, Abang. Aku udah bicarain ini sama Al waktu tahun lalu. Kita bicara soal komitment, soal rencana masa depan, kita udah pikirin semuanya. Jadi yaudah, jangan ditunda-tunda, kan?" Tanya Tasya berbalik.
Radit mengangguk-nganggukan kepalanya. Lebih tepatnya dia cukup kaget mendengar kesiapan Tasya dan apa saja yang sudah mereka rencanakan. Keputusan besar pertama kali yang dia buat tanpa campur tangan Radit di dalamnya. Radit merasa bangga sendiri melihatnya, adik kecilnya ini sudah dewasa rupanya. Bukan hanya Radit namun semuanya juga ikut kaget mendengarnya.
"Baik kalau begitu, lalu apa yang kalian butuhkan di acara pernikahan kalian untuk kami bantu?" Tanya Haris.
"Al dan Tasya akan mengurusnya sendiri, Yah. Tanggal, konsep, tempat dan lain-lain biar kami yang menentukan," jawab Al.
"Kalian yakin?" Tanya Amara tak percaya.
"Yakin," jawab keduanya.
Zea menelan ludahnya, bahkan dirinya saja sewaktu menikah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya. Lalu mereka yang dianggap bocah tapi ingin menyiapkan sendiri, benar-benar di luar dugaan.
"Baik, kalau begitu Ayah kasih kalian waktu maximal 3 hari untuk memberikan laporan. Karena meskipun kalian akan menyiapkan sendiri, kalian harus tetap berkomunikasi dengan kami."
"Siap." Al menyanggupi, untuk ukuran keluarga Al dan Tasya pernikahan akan diadakan kapanpun mudah, kan? Semuanya bisa kapan saja. Bukan karena mereka mengandalkan uang orang tua mereka, tapi kalau memang ingin cepat tentu akan mereka kabulkan.
Setelah menyelesaikan pembicaraan di ruang makan, Tasya dan Al pun kini berada di balkon kamar Tasya. Duduk di sebuah sofa sambil menatap Ipad yang Al pegang.
"Tunggu, emang kamu tau apa aja persiapan pernikahan?" Tanya Tasya pada Al.
"Engga, biar gak dianggap anak kecil aja jadi aku sanggupin," jawab Al enteng.
Tasya menepuk dahinya. "Aku kira kamu tau."
Keduanya sama-sama anak bungsu, usia mereka juga sama, ini pengalaman pertama pula. Mereka memang ingin mengurusnya sendiri, itu benar. Tapi sekarang mereka malah kebingungan sendiri harus mulai darimana.
__ADS_1