
Setelah puas jalan-jalan akhirnya mereka sampai di rumah. Tasya turun dari mobil Al dan melambaikan tangannya pada pria itu. Lucu sekali, padahal rumah mereka ber-sebrangan. Tasya kini memasuki rumahnya dengan senyum mengembang.
"Dih kenapa senyum-senyum?" Tanya Radit yang keheranan melihat tingkah Tasya. Sudah lama sekali dia tidak melihat Tasya seceria itu.
Tasya langsung menghampiri abangnya di sofa dan duduk di sampingnya. "Emang gak boleh kalau adeknya seneng?"
"Bukan gak boleh, cuma aneh aja dateng-dateng senyum kaya gitu. Emang habis darimana?" Tanya Radit pada adiknya itu.
"Tadi Al ajak gue ke hutan," jawab Tasya, tidak asal sih tapi mampu membuat Radit menyerngitkan dahinya. Kenapa mereka berdua ke hutan?
"Ngapain ke hutan? Ke hutan kok seneng? Kalian gak ngelakuin yang iya-iya, kan?" Tanya Radit lagi.
"Ngaco, engga lah. Itu ke hutan lindung, kita kesananya harus pake perahu, terus di sana kaya ada gazebo di tengah hutan bakau gitu yang sepanjang jalannya pake jembatan kayu. Banyak spot bagus, keren deh," jelas Tasya.
"Oh gitu, terus kemana lagi?"
"Ke pasar kuliner, jajan banyak-banyak. Lo tau gak sih Al ngasihin dompetnya ke gue, tumben kan gak harus dibegal. Yaudah kita jajan sepuasnya," kata Tasya sambil tersenyum.
"Al baik loh, Sya," ucap Radit.
"Iya emang dia baik kan dari dulu, itu kenapa gue beruntung punya Al di hidup gue. Soalnya dia ada di saat apapun. Mau gue sedih, seneng atau butuh seseorang," balas Tasya.
"Lu gak ada kepikiran buat suka sama dia aja, Dek? Gua bakalan tenang kayanya kalau lu sama Al," Tanya Radit.
Tasya tertawa, menurutnya Radit ini sangat konyol. "Abang, lo ngaco ya? Al tuh sahabat gue, kita sahabatan dari kecil sampe sekarang segede gini, ngaco emang."
"Ya gak ngaco, kenapa gak mungkin coba?" Radit ini sebenarnya sudah gerah melihat hubungan 'Persahabatan' itu. Karena Al tidak mau maju tentunya Radit harus membuka celah dari sekarang dan membantu prosesnya.
"Ya, ck gimana sih gue bilangnya? Masa lo gak paham?" Kesal Tasya.
"Gua paham, cuma gua ingin menanyakan hal ini aja. Lu nyaman gak sama dia?" Kini Radit menatap serius.
__ADS_1
"Ya nyaman lah, kita sahabatan dari lama gak mungkin gak nyaman. Gue juga bilang kok sama dia, kalau entah kenapa gue selalu butuh dia dalam apapun. Tadi aja gue bilang kalau nanti KKN gue mau sama dia aja karena gue penakut dan gue butuh dia biar bisa hadapin itu," jawab Tasya polos.
"Terus kenapa kalian gak bareng-bareng aja, siapa tau Al suka sama lu? Sya, orang yang sayang sama kita itu dia bahkan memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan kita aja gak sadar. Al selalu tau itu Kan?"
Tasya terdiam, dia jadi ingat saat tadi Al mengikatkan tali sepatunya yang lepas. Dia saja tidak menyadari hal itu, tapi Al sangat detail sampai tau talinya terlepas.
Tasya tertawa setelahnya. "Ngaco, gak mungkin lah Al suka sama gue. Dia itu emang dasarnya baik aja sama semua orang. Apalagi sama sahabat-sahabatnya, salah satunya gue."
"Ya itu kan gak tau, ini misal deh misal kalau dia suka sama lu gimana? Lu gak mau suka balik sama dia?"
"Al tuh baik, terlalu baik. Dulu aja gue sampai gak akan pernah mau berbagi cerita tentang Al ke Sherli, Sarah sama Niken. Lo pernah gak sih punya orang terbaik selain keluarga lo dan saking baiknya itu lo mau keep dia selamanya aja jadi temen? Karena kalau dijadiin pacar nanti lo bakalan kehilangan dua sosok. Pacar sama Sahabat."
"Oke paham."
Radit sudah mendapatkan jawaban Tasya, dia hanya mengangguk-ngangguk memikirkan cara untuk kedepannya. Tasya menatap Radit bingung, kenapa abangnya ini seolah menginginkan Tasya memiliki hubungan serius dengan Al. Apakah dia terlihat sangat ngenes karena tidak mempunyai pacar sekarang?
"Lo sendiri kenapa tuh gak ada pacar?" Tanya Tasya tiba-tiba.
"Ada yang pingin gua bicarain sebenernya," kata Radit ragu.
"Gua gak mau pacaran, tapi ada orang yang mau gua seriusin dan ajak dia menikah," cicitnya.
"SERIUS? SIAPA?" PARAH BACKSTREET YA?" Tasya kaget dengan penuturan Radit.
"Berisik!! Ada temen kampus gua waktu di Bandung. Namanya Amanda. Gak backstreet, kan gua bilang gak pacaran. Tapi mau langsung nikah, gua mau serius sama dia."
"Wahh Amanda Manopo?" Tanya Tasya dengan mata berbinar.
"Bukan, ngaco ini anak. Amanda Viaza Farasya, nih orangnya." Radit mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto gadis pujaannya.
Cantik, apakah dia masih satu keturunan dengan Tasya Farasya? Namun seketika wajahnya menjadi sendu. "Itu berarti kalau lo nikah bakalan ninggalin gue ya? Terus gue sama siapa?"
Radit memeluk adiknya itu dengan lembut. "Engga, gua bakalan ajak dia tinggal di sini. Jadi rumah ini tambah rame karena nambah satu orang. Abang pingin kenalin ke lu, nanti kita VC kapan-kapan. Sekarang abang tanya, boleh gak?"
__ADS_1
"Dia baik gak? Nanti gimana kalau kakak ipar jauhin abang dari adeknya? Atau tiba-tiba gue dibabuin?" Atau-"
"Lu kebanyakan nonton sinetron azab. Dia baik anaknya, kalem. Dia juga suka anak kecil, mana mungkin dia gak suka sama bayi monyet Abang," jawab Radit.
"ABANG! Apasih kok bayi monyet," kesal Tasya.
"Hahahahaha bercanda, maksudnya udah pasti sayang sama adek Abang yang manja, bawel dan gemesin ini. Gua udah cerita banyak tentang lu sama dia dan dia bilang lu cantik, lucu," ucap Radit.
"Oh jelas, gue emang cantik. Tapi beneran bakalan di bawa kesini kan? Gak harus pindah atau tinggal di Bandung?" Tanya Tasya.
"Iya, paling sesekali lah kita ke Bandung. Itu juga pasti lu harus ikut, karena gua gak mau ninggalin adek gua sendirian di sini sama tante Amara doang."
"Jadi rencananya kapan mau nikahnya?" Tanya Tasya lagi.
"6 bulan lagi? Setelah lu beres KKN dan liburan semester?"
"Gue boleh ajak temen-temen gue juga gak kesana? Sekalian liburan. Mereka pingin banget ke Bandung." Tanya Tasya.
Radit mengangguk, apa yang tidak untuk adik tercintanya? Dia senang kalau Tasya bisa menerima keputusannya. Ternyata adiknya ini memang sudah dewasa sekarang.
...~ • ~...
Setelah membersihkan diri, Tasya duduk di tepi ranjangnya. Dia tersenyum karena akhirnya Radit bisa mencintai seseorang lagi, bahkan sampai menikah. Dia pasti akan senang mempunyai kakak ipar dan tentunya nanti akan ada tangis dan aroma bayi di rumah ini. Meskipun masih lama juga.
Sejenak dia mengambil sling bag miliknya. Dia mengambil sebuah kotak dari sana yang tadi Al berikan di mobil. Tasya membuka kotak berisi jepit rambut kupu-kupu yang cantik dan elegan. Tasya memang suka menggunakan jepit simpel agar rambutnya yang digerai tidak terlalu sepi.
"Kemarin di kampus gua liat jepit rambut lu rusak, jadi gua beliin. Pake ya, soalnya kalau gak pake jepit rambut bukan Tasya namanya."
Tasya jadi memikirkan perkataan Radit soal seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil. Kalau Tasya ditanya siapakah pria yang baik menurutnya dan yang paling tau tentang dia? Tentu dia akan menjawab kalau orang itu adalah Al. Tasya menyayangi dia, nyaman, dan selalu ingin bersama Al.
"Ck kenapa jadi mikirin itu. Mending lo fokus buat move on. Lo emang harus move on, Tasya. Al itu baik, tapi bukan berarti lo harus sama dia, kan? Dia sahabat lo, jangan sampai lo merusak persahabatan karena perasaan. Oke? Ayok sadar dan lupain kata-kata abang," gumamnya.
Tasya menaruh jepit itu di lacinya lalu berusaha mengalihkan pikirannya. Akibat omongan konyol dari Radit, membuatnya jadi berpikir yang tidak-tidak. Lagi pula dia tidak ingin mempercayai suatu hubungan lagi, dia tidak percaya pada pria manapun.
__ADS_1
Kecuali Al dan teman-temannya.
Tasya menggeleng. "Ahhh abang sihh, kenapa gue jadi mikirin itu terus?!"