
Tasya menatap Al, menunggu pria itu mengucapkan apa yang dia inginkan di hari ulang tahunnya pada Tasya. "Apa?"
Perlahan Al menggenggam tangan Tasya lembut, kejadian kemarin membuat Al belajar banyak hal dan dia harus segera meluruskan ini. "Aku mau kita saling percaya lagi mulai sekarang."
"Percaya gimana, bukannya aku selalu percaya sama kamu?"
"Iya aku maksudnya. Tapi aku bilang biar kedepannya kita gak kejadian kaya gini lagi." Al menjeda ucapannya.
"Aku mau kita saling percaya. Aku kasih kamu kepercayaan dan kamu juga. Mulai sekarang aku mau kita jalanin hubungan tanpa memikirkan apa apa yang dianggap sepele. Sesederhana kita bilang kalau kita saling sayang dan gak mempedulikan hal-hal di luar itu. Karena kita udah tau kalau kita saling sayang."
Tasya mengangguk. "Heem, oke. Terkabulkan!" Setelah itu Tasya tersenyum. "Terus permintaan kedua apa?" Tanya Tasya lagi.
Al menarik napasnya dalam, memikirkan keputusan yang sudah dia ambil untuk dijadikan permintaan. "Kamu mau gak kalau kita nikah setelah selesai koass? Aku tau kita pernah bahas ini, tapi aku tau kamu masih ragu."
"Kenapa mau cepet-cepet?" Tanya Tasya.
"Gak ada alasan untuk itu, aku cuma tau aku sayang sama kamu dan pingin secepatnya bisa bahagiain kamu."
"Kasih 1 alasan yang bisa bikin aku yakin buat iyain ajakan kamu ini, Al."
"Kamu butuh alasan?"
Tasya mengangguk, tentu dia memerlukan itu. Dia pernah kecewa oleh komitmen, meskipun dia sangat mempercayai Al tapi tetap saja trauma itu tetap ada walaupun sedikit. "Aku gak pernah raguin kamu, tapi aku butuh alasan setidaknya buat nuntasin sedikit hal yang mengganjal di hati aku buat yakin menikah sama kamu dengan cepat."
"Aku terlalu takut kamu kenapa-kenapa. Aku pingin selalu jaga kamu, Sya. Kalau kita menikah setidaknya aku punya hak yang lebih dari ini buat memutuskan sesuatu, menyesuaikan tindakan aku, aku mau kamu jadi milik aku seutuhnya karena aku mau menjadikan kamu satu-satunya. Aku gak mau kita saling cemburu berlebihan, aku juga mau menjaga kita biar gak terjadi hal-hal diluar batas."
"Dari semua yang aku sebutin. Aku mau bilang kalau aku serius sama kamu, Tasya. Aku mau kita jalanin kehidupan kita sama-sama. Kita punya anak-anak yang lucu, besarin mereka sama-sama sampai tua. Aku cuma mau kamu." Al menciumi punggung tangan Tasya.
Tasya tersentuh sebenarnya,dia merasa mendapat pernyataan cinta lagi dari Al. Dia dan Al sekarang sudah dewasa, pembahasan seperti ini rasanya masih tabu, tapi membuatnya senang entah kenapa.
"Sya?" Panggil Al yang merasa tidak mendapatkan jawaban dari gadisnya itu.
Tasya mengangguk perlahan.
"Apa? Itu jawaban?"
Lagi-lagi Tasya mengangguk. Al tersenyum lebar melihatnya, dengan spontan dia menarik Tasya ke dalam pelukannya, sampai Tasya hampir saja tersungkur dan menindih Al. "Yes!"
"Makasih, makasih karena kamu mau menikah sama aku, Sya. Aku seneng banget hari ini." Al mengeratkan pelukannya pada Tasya.
__ADS_1
"Sama-sama, aku sayang kamu," bisik Tasya malu-malu.
"Aku tau, aku juga sayang kamu. " Al terus memeluk Tasya dengan erat.
Fadil melihat itu dari jendela besar dalam rumahnya, dia baru saja turun dari kamar setelah tadi mengambil ponselnya yang tertinggal. Dia tertegun melihat itu, ya bagaimana pun perasaannya pada Tasya memang tidak akan terbalaskan karena mereka berdua saling mencintai.
"PACARAN TERUS!! SINI!" Teriak Monik.
Tasya dan Al saling bertatapan, lalu mereka berdua terkekeh. Al melepaskan pelukannya pada Tasya dan membereskan hadiah yang dia dapat ke paper bag.
"Ayok." Al berdiri dan mengulurkan tangan pada Tasya.
Tasya menerima uluran tangan Al, setelah menyimpan kado di tumpukan kado yang terkumpul di dekat jendela. Al menghampiri yang lainnya.
"Kalian bicarain apa sih kok seneng banget," tanya Belva.
"Ada deh," kata Al dan Tasya berbarengan.
"Bucin lo," cibir Zea.
"Bucin juga lah, udah punya suami juga," balas Al mencibir.
Sebenarnya Zea malas sekali harus melakukan formalitas ini dan bersebelahan dengan Fadil. Namun ini acara keluarga, acara ulang tahun adiknya juga. Mau tidak mau dia harus membawa serta Fadil ke dalam acara mereka. Kalau bisa memilih pun maunya Zea tidak mengajak Fadil.
Tasya mengambil sumpit lalu menyumpit daging dan menaruhnya di dalam selada. Perlahan dia menyuapkan itu pada Al. "Aaaa."
Al dengan senang hati menerima suapan dari Tasya. Semua orang di sana merasa menjadi nyamuk karena ulah pasangan muda. Apalagi Radit dan Amanda kini saling melirik. Mereka yang sudah menikah saja tidak seperti itu.
Tasya melirik ke sekitarnya, kenapa semua mata tertuju pada mereka berdua. Memangnya ada yang salah ya? "K-kenapa?"
"Bucin!" Jawab Angkasa spontan.
"Emang kalau suapin tunangan sendiri bucin ya? Kan itu rasa sayang, kalau bucin itu kita sayang sama orang tapi diperalat, iya kan Al?" Tanya Tasya pada Al.
"Betul."
"Ajarin tuh, Al, Sya kakak kalian. Biar bunda bisa cepet-cepet punya cucu," ucap Diana.
"Tuh dengerin, Kak. Bunda mau punya cucu katanya, kita juga mau ponakan ya Al?"
"Betul."
__ADS_1
"Betul-betul aja lo," kesal Zea.
Zea kalau begitu ya ketar-ketir. Ditagih cucu oleh keluarga membuatnya mati kutu. Jangankan memberi cucu, dia sendiri saja tidak kepikiran melakukan yang iya-iya bersama Fadil si raja es batu.
"Hadiah dari Tasya apa, Al. Spill dong," ucap Yoda.
"Gak mau pamer," jawab Al santai sambil bergantian menyuapi Tasya.
"Spill dong, kan bukan pamer. Penasaran tahun ini apa. Dia suka aneh-aneh, tahun lalu dia kasih lo thropy apasih namanya?" Tanya Belva pada yang lainnya.
"Penghargaan tunangan terbaik sepanjang abad," jawab Monik sambil terbahak yang disusul oleh gelak tawa semua orang.
"Ya Allah bucin banget adek gua buat begituan," ledek Radit.
"Terus-terus ada lagi tahun sebelumnya, pas awal-awal selesai KKN!" Celetuk Yoda.
"OH IYA, jar of happiness! Hahahaha dia niat banget nulis setoples isinya kata-kata biar dibuka setiap hari."
"Ih emang kenapa? Kan biar bisa dipajang sama memotivasi setiap hari," bela Tasya pada dirinya sendiri.
Al memeluk Tasya dan menenangkannya dengan mengelus lengan Tasya. "Sttt udah-udah, itu mereka iri karena gak pernah digituin sama gak bisa buat kaya kamu."
Tasya memajukan bibirnya lalu menganggum. "Huum, iri aja." Gemas sekali menurut Al kalau Tasya mode seperti itu.
Beberapa jam berlalu, setelah puas makan dan bermain Uno, mereka masuk ke dalam tenda masing-masing. Tidak terkecuali Tasya dan Al yang kini sedang menatap langit dan berbaring di Hammock yang bersebelahan. Tangan mereka saling menggenggam, membuat suasana di sini semakin romantis, di tambah mereka dekat dengan api unggun yang hangat.
Hari ini Tasya benar-benar sudah memutuskan kapan akan mereka akan menikah, meskipun belum pasti kapan bulan dan tanggalnya.
"Al, aku gak nyangka kita udah dewasa," kata Tasya tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba bahas soal dewasa?" Tanya Al.
"Karena ini pertama kalinya aku ambil keputusan besar dalam hidup aku tanpa campur tangan orang lain selain keputusan cita-cita aku. Kita tunangan juga kan masih diatur semuanya sama Tante Amara, Bang Radit, Ayah, Bunda."
"Ya kan kita berprogress. Kita bakalan sama-sama lebih dewasa nanti. Kita bakalan lewatin satu tahun lagi, kamu jangan kemana-mana ya. Tetep di samping aku sampai harinya datang," ucap Al.
Sesaat keadaan menjadi hening, Al melirik ke arah Tasya karena tidak mendapat respon. Ternyata gadis itu sudah tertidur. Ya tidak salah juga ini sudah jam 3 pagi, dia pasti mengantuk.
Al mengubah posisinya menjadi duduk, dia ingin memindahkan Tasya tidur ke dalam tenda sebenarnya. Tapi tidak memungkinkan karena semuanya sudah tertidur. Akhirnya Al beranjak memasuki salah satu tenda dan mengambil selimut di sana.
Dengan hati-hati Al menyelimuti Tasya dan membungkusnya seperti kepompong agar dia tidak kedinginan. Setelahnya dia mengelus pucak kepala Tasya dengan lembut. "Sweet dream."
__ADS_1