
Tasya duduk di sebuah sofa yang menghadap tepat ke jendela besar. Lantai 3 rumahnya ini memang cocok untuk tempat menyendiri. Ditemani suara air hujan dan sebuah kenangan.
Pandangannya lurus ke depan, kosong. Rasanya sebagian dari hidupnya ada yang hilang dan dia tidak tau kemana harus mencarinya. Tasya menekuk lututnya sembari menggulir kenangan di dalam ponselnya. Foto-foto itu masih tersimpan rapi di sana.
Kalau kehilangan akan sesakit ini, mungkin sejak awal dia tidak akan memilih untuk menjatuhkan hatinya kepada siapapun. Mungkin memang expetasi nya yang lebih menyakiti diri sendiri, karena pada kenyataannya seseorang yang dia cintai tidak memiliki cita-cita yang sama dengannya.
Setetes air mata turun bersamaan dengan hujan yang semakin deras dan suara gemuruh. Mungkin, penggambaran yang sangat tepat untuk suasana hati Tasya sekarang ini.
Seorang pria memandangnya dari kejauhan, ada perasaan menyakitkan ketika seseorang yang berharga dalam hidupnya menjadi lemah seperti ini.
Al menghampiri Tasya dengan membawa 2 cangkir coklat panas yang sengaja dia buat. Mungkin akan sedikit membuatnya tenang walaupun tidak bisa mengobati luka di hatinya. Perlahan dia mengulurkan cangkir itu di hadapan Tasya.
Tasya menoleh ke arah Al, dengan segera dia menyimpan ponsel dan menyeka air matanya. Tasya menerima cangkir yang Al berikan. "Makasih ya."
Al mengangguk dan duduk di sebelah Tasya. Sesekali dia melirik ke arah gadis itu yang masih diam mematung memandangi jendela.
"Kalau mau nangis ya nangis aja. Gua pernah denger kalau cewek itu bisa lega dari apa yang dia rasain kalau dia nangis," ucap Al.
Tasya terkekeh. "Jangan bilang gitu, nanti malah nangis beneran."
"Sya, lu tau gak tentang filosofi kenangan?" Tanya Al yang kini sama-sama menatap jendela besar itu.
"Filosofi kenangan?"
"Kenangan itu semakin kita berusaha buat menghilangkannya, justru dia akan semakin menetap." Al menjeda ucapannya.
"Sama juga kaya perasaan. Semakin lu sangkal, semakin lu berusaha buat bikin dia hilang, maka akan semakin besar."
Tasya terdiam memikirkan kata-kata Al. "Jadi?"
"Jadi nikmatin aja semua perasaan yang dateng ke lu. Mau sedih, seneng, rindu, atau apapun itu tanpa harus memaksa buat menghilangkan itu semua. Karena ada satu titik dalam hidup di mana lu bakalan cape dengan sendirinya dan pelan-pelan bisa menerima keadaan, lebih spesifiknya move on."
Tasya terkekeh. "Bahkan gue aja gak ada kepikiran kesana, Al."
"Belum, bukan gak ada. Baru juga putus kemarin, pasti masih berat rasanya buat berpikir ke sana."
"Menurut lo gue bisa gak tanpa Viko?" Tanya Tasya.
__ADS_1
"Gue tanya. Mending lu masih sama Viko dengan keadaan kaya gini atau lu pisah sama dia?"
"Ya pisah lah, selingkuh itu bukan toleransi buat gue," jawab Tasya.
"Jadi menurut lu langkah yang sekarang lu ambil itu benar gak? Yakin gak sama keputusan lu?"
"Ya yakin dan udah bener apa yang gue lakuin."
"Lu tau? Keputusan yang benar itu pasti akan berdampak positif kedepannya. Ketika lu udah meyakini suatu kebenaran, cepat atau lambat lu bisa nemuin kesenangan, kepuasan, hasil yang baik juga. Tinggal tunggu waktunya aja."
"Al."
"Apa?"
"Kenapa sih lo ngerecokin kegalauan gue dari tadi? Gue jadi kebanyakan mikir dan lupa galau sampai mana," ucap Tasya kesal.
"Biarin, jangan galau-galau. Karena Tasya yang gua kenal itu selalu senyum dan bisa menghadapi masalahnya," kata Al sambil tersenyum.
"Gak ah, gue lagi mood ngegalau," ucap Tasya.
"Tapi kayanya gak akan bisa." Al tersenyum jahil.
"Karena ini." Al menggelitik perut Tasya dengan kedua tangannya. Tasya tidak akan pernah bisa menahan tawanya ketika seperti ini.
"HAHAHAHA AL, GELI!" Teriak Tasya sambil tertawa.
"Gak mauu, kalau lu janji gak akan galau." Al semakin menggekitik gadis itu dan membuatnya tertawa sampai rasanya ingin menangis.
"Hahahahaha gak mau, tapi hahahaha lepasinn! Ampun, Al hahahaha," teriak Tasya lagi.
"Janji gakk?" Tawar Al tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Hahahahaa iya iya ampun, janjii. Janji gak galau hahahaha," ucap Tasya menyerah.
Al tersenyum puas dan menghentikannya. Setelah itu dia menarik kedua tangan Tasya dan membantunya kembali duduk. "Nah gitu, ketawa. Ini baru namanya Tasya."
Tasya mengatur napasnya. Memang Al ini pasti tidak akan pernah membiarkannya sedih lama-lama. Selalu saja ada cara untuk membuatnya tertawa. "Au ah, jail banget."
"Ululu ngambekk, jangan ngambek dong," bujuk Al.
__ADS_1
"Gue ngambek pokoknya," kesal Tasya.
"Gue ngambek pokoknya," tiru Al.
"Ihhh ngeledek yaa!!" Tasya menyipitkan matanya.
"Ih ngeledek yaa!!" Ulang Al sambil mengikuti gaya Tasya.
"Aaaaaal jangan ikutin gue!" Tasya pun tertawa.
"Aaaaaal jangan ikutin gue!" Ulang Al yang kini ikut tertawa melihat Tasya tertawa.
Tasya kembali tertawa melihat tingkah Al. Kalau begini caranya bagaimana bisa dia galau? Dia sangat beruntung memiliki Al dalam hidupnya. Karena di saat-saat seperti ini yang dia butuhkan adalah seseorang untuk diajak bicara dan seseorang yang bisa membuatnya tertawa.
Radit yang melihat mereka dari ujung tangga tersenyum. Al berhasil membuat Tasya tertawa hari ini. Entah kenapa dia semakin ingin kalau Al saja yang akan bersama Tasya kelak. Karena kedepannya dia tidak akan mudah percaya kepada siapapun untuk menjaga Tasya adiknya.
...~ • ~...
Di kamar Tasya mengambil kartu yang baru saja dia beli. Langkah pertama yang harus dia lakukan adalah mengganti nomor agar tidak bisa di hubungi oleh Viko. Karena sampai sekarang Viko masih mencoba menghubunginya.
"Gue kadang gak ngerti sama jalan pikiran cowok, dia udah ngelakuin hal lebih sama Bella. Sama gue kayanya ciuman aja gak jadi. Tapi kenapa dia ngejar-ngejar gue lagi kalau hubungan mereka lebih dari sekedar selingkuh doang?"
"Bisa-bisanya juga bilang kalau dia sayang sama gue tapi di sana selingkuh. Bego banget lo, Sya. Harusnya lo percaya feeling lo saat itu pas dia mulai bicara Bella terus."
"Bucin sih, makanya jadi orang jangan bucin. Jadi yang sebenernya lo pinter aja bisa dibego-begoin."
"Katanya 'ayok kita selamanya' eh dia duluan yang selamat tinggal. Andai aja kemarin gue bisa blak-blakin ke dia, atau gue caci maki. Pasti bakalan puas banget gue balik-balikin ucapan dia," lanjutnya.
Dengan mantap dia mematahkan kartu sim itu. Bagaimana pun kehidupannya harus tetap berjalan, meskipun entah sampai kapan dia tersiksa dengan rasa sakitnya. Dia hanya berharap yang terbaik untuk kehidupannya.
Meskipun dia belum bisa mencopot foto-foto dia bersama Viko dari kamarnya, setidaknya untuk memutuskan komunikasi itu adalah hal yang bagus. Bagaimana pun dia harus bertanggung jawab untuk Bella meskipun dia tidak hamil.
"Besok pokoknya gue harus nikmatin kehidupan gue lagi, banyakin nyibukin diri sendiri, gue harus buktiin kalau gue bisa tanpa dia, gue harus buktiin ke dia kalau gue baik-baik aja," tekadnya.
"Gue gak mau dia kesenengan karena gue tangisin, gue gak mau dia besar kepala dan nanti seenaknya nganggap gue gampang dibego-begoin. Bener kata Al, keputusan gue sekarang udah bener," lanjutnya.
"Oke Tasya, move on! Move up! Lo itu kuat, lo banyak temen yang sayang lo, dan lo pasti bisa melewatinya dengan baik! Ayok, Tasya. Lo pasti bisa!!"
Namun Tasya hanyalah manusia. Sepersekian menit berikutnya dia malah kembali bertengger di depan ponselnya sambil mengenang beberapa moment bersama Viko. Memang manusia itu gampang berubah-ubah. Sama seperti suasana hati Tasya yang mudah berubah. Logikanya mengatakan dia harus move on, tapi hatinya merindukan pria itu. Hati dan Logika terkadang keduanya tidak bisa disandingkan.
__ADS_1
"Aaaahhh gue kangen Viko," teriaknya kecil.