
Tasya melihat penampilannya di kaca, sepertinya dia sudah siap ke sekolah hari ini. Namun, ketika dia hendak memakai tas, Amara datang dan terkejut melihat Tasya yang sudah rapi.
"Ehh mau kemana, Sya?" tanya Amara.
"Sekolah, Tan. Kayanya tugas Tasya udah numpuk karena beberapa minggu gak sekolah."
"Jangan dulu ya, kan Tasya baru pulang kemarin. Jadi mending istirahat dulu, oke?"
"Tapi, Tan .... "
"Hari ini dokter bakalan cek kondisi kamu, kalau udah sembuh baru boleh sekolah, ya?" Amara memberi pengertian agar membuat Tasya paham.
Tasya pun hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia cukup lega karena tidak harus berhadapan dengan orang banyak, tapi di satu sisi dia dibayang-bayangi oleh tanggung jawabnya sebagai murid dan Ketua OSIS.
Amara keluar dari kamar Tasya, sementara Tasya duduk di kasurnya sembari membuka ponselnya. Banyak notifikasi pesan dari teman-temannya, namun dia hanya membuka tanpa berniat membalasnya.
Radit memang sudah memaafkannya, tapi seperti masih banyak beban yang Tasya rasakan. Dia juga merasa kalau dirinya selalu dihantui ketakutan yang datangnya entah dari mana.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu sembari memasuki kamar Tasya. Iya, dia adalah psikiater yang akan membantu Tasya hari ini. Wajahnya cantik, memiliki rambut sebahu, memakai kaca mata dan berkulit putih. Dia menjinjing tas yang cukup besar dan tersenyum ke arah Tasya.
"Hai, Tasya," sapa nya dan dihadiahi sedikit senyuman dari Tasya. Sebenarnya Tasya agak canggung tapi dia harus memaksakan diri agar segera sembuh.
Wanita itu duduk di kasur, di samping kanan Tasya. Lalu memperhatikan wajah Tasya.
"Perkenalkan saya dokter Anna, hari ini kamu check up sama saya ya," ucapnya Ramah.
"Salam kenal, Dokter Anna. Aku Tasya," balas Tasya.
"Gimana kabarnya hari ini? Tangannya masih sakit?" tanya Anna pada Tasya sambil mengeluarkan alat tensi dan beberapa alat lainya.
"Engga, gak kerasa apa- apa, Dok," jawab Tasya dengan datar.
"Oiya, saya denger-denger kamu udah 2 mingguan di rumah ya. Pasti bosen banget?" Anna menatap Tasya dengan lembut.
"Nothing. Kadang ngerasa kangen temen, tapi kadang lebih nyaman di rumah aja."
"Iya emang sih, katanya kamu juga ketua OSIS ya? Wajar kalau ada rasa mumet dan pingin sekedar di rumah aja. Saya tensi dulu ya," ucap Anna sambil merekatkan manset perekat kepada lengan Tasya.
"Engga, aku ngerasa lebih enak ketika jauh dari keramaian," ucap Tasya, entahlah dia rasanya mengeluarkan saja apa yang dia pikirkan sekarang.
Anna merekatkan manset dan menyalakan alat pengukurnya. Ditatapnya Tasya, memperhatikan setiap gestur yang terlihat. Beberapa menit kemudian dia kembali melihat hasilnya yang ternyata melebihi batas normal.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada bermasalah sama orang sekitar begitu?" tanya Anna.
"Engga ada, itu yang lagi aku rasain sekarang."
"Tensinya tinggi, kamu bergadang kah semalam?" tanya Anna sembari melepas manset, lalu dia mengambil catatannya dan mencatat beberapa hal di sana.
"Aku gak bisa tidur, Dokter. Kepala rasanya pusing, mereka gak bisa biarin aku tidur."
"Mereka siapa? Teman kamu?"
"Bukan, tapi mereka selalu mojokin aku dalam waktu yang bersamaan. Mereka selalu bertanya hal-hal yang gak pingin aku jawab. Mereka suka berteriak sampai rasanya telingaku mau pecah. Mereka —"
Anna langsung memegang tangan Tasya, mengelusnya dengan lembut agar mengurangi ketakutannya saat ini. Wajahnya memucat, keringat dingin mulai bercucuran.
"Oke lalu?"
"Mereka minta aku buat mati atau melukai diri aku sendiri. Mereka selalu begitu setiap malam. Aku juga benci diri aku yang selalu menertawakan dan memojokan aku saat di depan kaca." Tasya menunjuk ke arah cermin.
"Aku benci mereka semua," lanjut Tasya.
"Jantung kamu apa berdetak lebih cepat dari biasanya?"
"Iyaa, rasanya seperti terlepas dari tubuh, lemas. Aku ngerasa aku ada di sini, tapi ngga juga. Aku selalu ngerasa gak aman. Overthinking terus berputar di otakku. Itu yang bikin aku gak bisa tidur."
Anna memakai handscoon, lalu memasangkan torniket di lengan Tasya. Mengambil kapas, alkohol dan mengoleskannya di lengan Tasya. Setelah di rasa cukup, Anna mengambil jarum suntikan dan menancapkan benda itu di lengan Tasya. Tidak ada rasa sakit atau penolakan dari Tasya, baginya perasaannya sekarang jauh lebih tidak enak dibanding rasa sakit apapun.
Anna memasukan sampel darah ke tabung penyimpanan, lalu melabelinya agar tidak tertukar saat masuk ke lab.
...~ • ~...
Setelah mendapatkan jawaban dan beberapa hasil tes. Anna keluar dari kamar Tasya. Anna langsung menemui Amara dan Radit yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Gimana, Dok? Tasya sakit apa?" tanya Radit.
Anna duduk di sofa, dia menatap Amara dan Radit. Anna mengambil catatan dan mulai membacakan diagnosa nya.
"Skizofrenia paranoid," ucap Anna sambil terus memperhatikan catatan-catatannya.
"Skizofrenia? Itu penyakit apa dok?" Tanya Amara yang terlihat tidak memahami perkataan Anna.
"Gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. Biasa penderitanya akan mengalami halusinasi, rasa cemas berlebih dan mereka tidak bisa membedakan mana halusinasi dan kenyataan." Anna menarik napas sejenak.
"Dalam beberapa tes, Tasya cukup mampu untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan. Dia mengalami gangguan kecemasan yang membuatnya susah tidur, suara-suara yang muncul, bahkan dia melihat dirinya yang lain di cermin," lanjut Anna.
__ADS_1
"Itu halusinasi atau indigo, Dok? Saya pernah mengira kalau adik saya indigo, karena dia sering bicara sendiri," tanya Radit.
"Itu halusinasi. Dalam kondisi ini pasien tidak menyadari halusinasinya sehingga timbul rasa kecemasan dan rasa ketakutan." Anna kembali membuka lembaran-lembaran catatan
"Sebetulnya ini masih awal, untung saja lebih cepat ditangani. Jika sudah tahap yang lebih lanjut akan semakin sulit. Tetapi, halusinasinya ini cukup berbahaya, karena ada dorongan untuk melakukan bunuh diri, itu kenapa sebaiknya Tasya harus lebih diawasi."
"Apa Tasya bisa sembuh, Dok?" tanya Amara.
"Skizofrenia ini sebenarnya kalau dalam teori tidak bisa disembuhkan, bahkan bisa seumur hidup. Tapi bisa diminimalisir kekambuhan nya dengan menggunakan obat-obatan, psikoterapi dan memberikan kesadaran tentang penyakit yang diderita Tasya secara perlahan. Beritahu kondisinya dengan cara yang bisa diterima oleh Tasya. Agar dia bisa membangkitkan semangatnya untuk sembuh."
"Jadi sekarang harus bagaimana, Dok?" tanya Radit.
"Mungkin sekarang saya akan meresepkan obat yang bisa dibeli dia apotik. Sampel darah Tasya akan diuji di lab untuk mengetahui apakah ada obat-obatan yang dikonsumsi oleh Tasya. Nanti akan saya jadwalkan untuk tes fungsi luhur, CT-scan dan mulai psikoterapi ya," tutur Anna sembari tersenyum.
"Ini resepnya dan anjuran pakainya, obatnya harus diminum secara konsisten agar Tasya bisa meminimalisir gejalanya." Anna memberikan selembar kertas kepada Radit.
"Terima kasih, Dok. Mungkin jika ada pertanyaan bisa saya hubungi dokter?" tanya Radit.
"Oh tentu, silahkan. Takut-takut kalau terjadi hal mendadak kepada Tasya. Saya juga akan menghubungi untuk memberikan hasil tes labnya ya."
"Baik, Dok terima kasih atas waktunya," ucap Amara.
"Iya sama-sama, kalau begitu saya pamit ya. Semoga Tasya bisa pulih sesuai yang kita harapkan." Ana berdiri lalu berjalan keluar rumah, Amara dan Radit mengantarnya sampai gerbang.
"Sekali lagi terima kasih, Dok." ucap Radit.
Anna pun hanya tersenyum dan melajukan mobilnya perlahan. Radit melihat resep obat yang dia pegang, rasanya sangat terpukul mendengar hasil diagnosis Tasya, tapi dia harus kuat demi Tasya.
"Tan, Tasya bisa hidup normal lagi, kan?" Tanya Radit.
"Bisa, pasti bisa. Yang harus kita lakukan adalah banyak berdoa, suport Tasya supaya dia gak ngerasa kesepian. Tante yakin, Tasya anak yang kuat. Dia gak pantang menyerah, kamu tau itu kan, Dit?" Amara mengelus bahu Radit dan berusaha membuatnya tidak cemas.
"Tapi, Tan. Kalau sampe Tasya gak bisa hidup normal lagi, semua itu salah Radit. Radit penyebab salah satunya Tasya jadi kaya gini. Radit bukan kakak yang baik." Pertahanan Radit runtuh, rasanya dia tidak bisa menahan tangisnya. Bukan karena dia lemah, tapi dia begitu menyayangi Tasya.
"Gak boleh bilang gitu ah, kita optimis, positif thinking kalau semuanya akan baik-baik aja. Kau gak sendirian, masih ada Tante disini buat jagain kalian."
Radit memeluk Amara erat, menumpahkan semua rasa sakit yang dia rasakan. Amara benar, dia harus berpikir positif, agar semua harapannya pada Tasya bisa terwujud.
"Makasih ya, Tan. Makasih Tante udah ada di sini di saat mama kita sendiri udah bener-bener jadi wanita yang jahat. Bahkan Tante yang lebih sayang sama kita dibandingkan mama," ucap Radit.
"Gak usah dipikirin, sekarang kalian harus hidup bahagia. Masa depan kalian masih panjang, oke?" Amara mengelus punggung Radit lembut.
Amara berjanji tidak akan membiarkan Lidya menyakiti kedua keponakannya lagi. Cukup kakaknya lah yang menahan penderitaannya sampai akhir khayat nya atas perbuatan mantan istrinya itu. Amara akan menjaga Radit dan Tasya seperti anaknya sendiri.
__ADS_1