
Bantu Votmen, like, follow dan kasih gift ya, biar aku makin semangat. Jangan jadi silent readers pliss. Btw maaf kalau ada kesalahan penulisan, semuanya bakalan direvisi setelah tamat.
...Happy reading~...
.......
.......
.......
.......
.......
Di sini lah Tasya dan Al berada, di taman yang sering mereka kunjungi sambil makan eskrim. Tasya menyilakan kakinya di kursi dan menatap Al.
"Jadi lo ke sini gara-gara gue sakit ya? Ngerepotin banyak orang banget gue," ucap Tasya menyesal sambil mengaduk-aduk eskrim miliknya tak minat.
"Gak, kata siapa? Gua kesini karena gua kangen lu dan ..."
"Dan apa?" tanya Tasya penasaran.
"Nanti gua kasih tau deh di akhir, sekarang gua tanya dulu ke lu. Gimana sekarang? Apa yang lu rasain?" tanya Al.
Tasya menggelengkan kepalanya, dia rasanya ingin menangis jika disuruh bercerita kepada pria yang ada di hadapannya ini.
"Dih, kok gitu? Gua gak penting lagi nih?" tanya Al.
"Gakk, gak gitu. Gue cuma gak tau harus cerita dari mana."
"Dari apa yang lu rasain." Al menggenggam tangan Tasya dan menatapnya dengan kelembutan.
Tasya menarik napasnya dalam, dia berusaha untuk bisa menjelaskan semuanya tanpa menangis.
"Lo tau kan hubungan gue sama papa gimana?"
"Hmm, lalu?"
"Lo kalau jadi gue bakalan ngerasa amat bersalah gak sih? Ketika lo udah benci papa lo sendiri, tapi itu semua gak sesuai apa yang lo bayangin? Dan saat lo tau yang sebenernya, papa lo meninggal karena masalah yang lo ciptain."
"Iya-iya gua paham, terus gimana lagi?" Al berusaha untuk tidak memberikan komentar sampai Tasya benar-benar bisa mengeluarkan isi hatinya.
"Terus, setelah itu abang ninggalin gue, dia benci sama gue. Gue ngerasa kaya gak punya siapa-siapa. Gak nutup mata, gue punya banyak temen-temen yang care di samping gue, tapi rasanya kaya lo beneran sendirian. Dan lo tau? Mama gue itu mama tirinya temen gue. Dia selalu bilang kalau mamanya baik, sedangkan pada kenyataannya dia ninggalin gue, anak kandungnya sendiri." Tasya tak bisa menahan air matanya, dia mudah menangis, bahkan sekarang sudah terlihat seperti tersedu-sedu.
"Dan sekarang, gue nyaris gila dengan berdampingan sama skizofrenia. Gue gak bisa berpikir kaya biasanya, bahkan gue kesulitan saat ngerjain soal yang menurut gue dulunya mudah gue kerjain. Gue selalu takut buat menghadapi banyak orang, untungnya aja gue punya temen-temen yang bantuin gue buat menghadapi semuanya."
Al menganggukkan kepalanya mengerti, lalu dia memeluk Tasya, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Sebenarnya dia merasa bersalah karena tidak ada di masa-masa tersulit orang yang paling berharga baginya setelah bunda dan kakak perempuannya itu.
"Nangis lah, sampai lu lega. Lu mau dengerin pendapat gua gak?" tanya Al perlahan.
Tasya mengangguk perlahan sambil menyeka air matanya tanpa melepaskan pelukannya pada Al.
__ADS_1
"Kalau gua jadi lu, gua akan berpikir kalau semuanya udah ditakdirkan buat gua. Gak ada yang salah, semuanya udah diatur." Al menjeda omongannya sambil mengelus punggung Tasya lembut.
"Gua tau udah banyak yang bilangin soal itu, tapi itu bener. Lu gak salah dan buat penyakit lu, gua tau gak mudah, tapi lu punya banyak orang. Ada gua juga di sini. Jangan takut ya, Sya?" lanjutnya.
"Tasya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Al. Aroma tubuhnya yang tidak pernah berubah selalu membuat Tasya lebih tenang dari sebelumnya.
"Tapi kayanya mama belum puas atas apa yang terjadi sama gue," ucap Tasya perlahan.
Al melepaskan pelukannya dan menatap Tasya, sedikit terkejut dengan apa yang Tasya ucapkan.
"Kenapa?" tanya Al.
"Jadi sebelum gue coba buat bunuh diri itu, gue ketemuan diem-diem sama mama, gue kira mama bakalan nyesel sama perbuatannya, tapi mama bilang buat gue jauhin anaknya dan dia bilang kalau sebenernya dia nyesel lahirin gue, dia gak pernah mau gue ada. Sampai sekarang gue gak berani bilang sama siapa-siapa," ucapnya sambil kembali terisak.
"Lu harusnya bilang, Sya. Kenapa gak mau bilang?"
"Karena gue gak mau memperkeruh suasana. Gue cuma mau hidup normal lagi kaya biasanya tanpa bayang-bayang mama, Al. Kalau abang tau pasti dia marah besar. Tapi nyatanya kemarin gue lepas kendali sampai mau akhirin semuanya." Tasya menunduk.
Al tidak mau menyalahkannya, semuanya butuh proses. Yang terpenting Tasya sudah terbuka padanya, yang harus dia lakukan membantu dan menyelesaikannya secara perlahan.
"Udah-udah, ini masih sakit?" tanya Al sambil mengusap luka pada pergelangan tangan Tasya.
"Engga cuma kadang ngilu doang," jawab Tasya.
"Lu kalau marah jangan sampai nyakitin diri sendiri gitu, gak baik. Udah sakit hati, sakit fisik juga. Dan lu tau apa yang lebih parah?"
"Apa?" tanya Tasya penasaran.
"Orang ngerasa bersalah karena gak bisa jagain lu."
"Udah sembuh," kata Al sambil tersenyum manis.
"Masih aja pake cara kaya gitu." Tasya menyeka air matanya lagi sambil tertawa kecil.
"Lu lupa ya kata mama gua kasih sayang itu bisa menyembuhkan apapun?"
"Gak lupa, tapi kalau dipikir aneh gak sih?"
"Gak aneh, buktinya lu senyum sekarang," goda Al.
"Ishh udahlah maless, jadi tadi lo mau bilang apa? Lo pulang karena kangen gue dan?"
"Dan gua bakalan menetap di sini," sambungnya.
"Seriusss??? Lo gak bercanda, 'kan?"
"Engga lah, ngapain gua bercanda. Gua serius, Sya. Selain gua suka Bandung, gua gak mau kalau sampai gua gak ada di saat-saat lu butuh gua, saat di mana lu ngerasa terpuruk, gua gak mau itu terjadi lagi. Maaf ya, kemarin gua gak ada di sini. Lu jadi harus ngerasain hal yang gak enak gitu," ucap Al dengan sungguh.
"Lo gak salah, lupain aja soal kemarin. Lo ada di sini sekarang udah lebih dari cukup buat gue. Gue seneng banget, rasanya kaya pulang ke rumah."
"Rumah?"
"Lo tau? Ketika lo lagi seneng, sedih, kecewa, berantakan, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang," kata Tasya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lo bisa gak jangan buat gua salting?" Al menarik hidung Tasya sambil tertawa.
Mereka berdua pun tertawa. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak pergi dan menghabiskan waktu bersama. Mereka saling bercerita satu sama lain sambil melepas rindu.
Tasya senang karena Al telah kembali, Al adalah tempat berbagi segalanya. Bahkan tak jarang dia lebih sering meluapkan semuanya kepada Al daripada Radit. Tasya tidak ingin pria itu meninggalkannya lagi.
...~ • ~...
Arka, Bagus, dan Reza sedang berada di rumah Viko. Seperti biasanya mereka sibuk bermain PS, terkecuali Viko yang sibuk menatap ponsel sambil menscroll-scroll instagram milik Tasya.
Aldo Prayoga
Dicarinya nama itu di pengikut instagram Tasya. Ternyata dia adalah salah satu anak hits Surabaya. Melihat itu semakin menciutkan nyalinya.
Semakin dalam dia berkelana di akun milik Al, dia menemukan beberapa Photo Al bersama Tasya. Salah satunya Al yang sedang menggendong Tasya di punggungnya dan Tasya yang tersenyum manis. Memancarkan kebahagiaan, siapapun yang melihat itu akan tersenyum. Semakin membuat manis karena caption simpel loml ❤️ pada postingan itu.
"Kalian mikir gak kalau cowok tadi pacarnya Tasya?" Tiba-tiba Viko bergumam.
Arka, Bagus, dan Reza pun mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Yaelah, masih mikirin Tasya toh dari tadi?" tanya Arka.
"Gua sih gak mikir mereka pacaran, tapi gak tau dah kalau mereka HTS," ucap Bagus.
"Gua juga mikirnya mereka gak ada status, soalnya mereka deket banget keliatannya," sambung Reza.
"Anjir, jangan bikin gua makin ciut." Viko mengacak rambutnya pelan.
"Tapi, Ko. Menurut gua mau apapun status Tasya sama tu cowok, lu itu harus memberanikan diri sih buat confess. Istilahnya kalau lu gagal, lu udah pernah mencoba. Daripada kaya sekarang?"
"Kaya sekarang gimana?" tanya Viko tak paham.
"Lu cuma diem di tempat dan nunggu waktu yang tepat, sedangkan sekarang waktu itu dikejar, bukan ditungguin sampai tepat. Lu bakalan tertinggal jauh sama orang yang udah nyuri start duluan," ujar Arka.
"Kali ini gua setuju sama Arka, lu terlalu takut buat nyatain perasaan lu ke dia. Mikirnya gini bro, lu confess bukan buat obsesi dia jadi milik lu, tapi biar hati lu lega. Urusan dia jadi milik lu atau engga itu belakangan. Kalau jadian anggap aja bonus," timpal Reza.
"Eh tumbenan loh, lu pinter," kata Bagus sambil menggeplak kepala Reza.
"Yeuuu gua mah emang pinter," kesal Reza sembari mengusap kepalanya.
"Bener sih, tapi ngeliat dia sama yang lain nantinya gua gak akan rela lah." Viko kembali melirik instagram Al.
"Gak ada yang rela liat orang yang disayang sama yang lain, tapi hidup gak selalu menuhi ekspetasi, lu harus belajar menerima realita biar hidup lu gak di situ-situ doang. Mending ditolak setelah berjuang daripada lu diem tanpa kepastian," celetuk Bagus.
Viko pun menganggukkan kepalanya, teman-temannya benar. Dia tidak bisa selamanya berada di zona nyaman, dia harus berani untuk keluar dari zona itu apapun resiko yang akan dia hadapi.
--------- To be continue ....
Hai-hai aku kembali. Jangan lupa baca cerita baruku juga ya.
Btw kalian tim siapa nih?
Viko - Tasya?
__ADS_1
Aldo - Tasya?
Semoga suka sama alur ceritanya, untuk kritik dan saran bisa komen aja ya. Jangan lupa votmen, like, kasih gift dan follow aku! See u 🦋✨