Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Menggoda


__ADS_3

"Apa kau takut?" tanya Raymond menghentikan langkah Vivian saat ia melihat Vivian berjalan tergesa-gesa manuju kamarnya.


"Tidak." Jawab Vivian singkat dengan posisi masih membelakangi Raymond. Raymond tersenyum kecil mendengar jawaban Vivian. Ia lalu melangkah mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang.


"Kau lebih takut melihat aku yang tadi atau aku yang sekarang?" ucap Raymond sambil mencium lembut leher Vivian membuat Vivian merasa geli dan tidak nyaman jangan lupakan detak jantung nya yang juga berpacu cepat.


"Hentikan Ray." Pinta Vivian menahan sesuatu dalam dirinya. Bagaimanapun ia adalah gadis remaja yang beranjak dewasa dan mengerti setiap pergerakan yang dibuat oleh Raymond. Saat dirasa Raymond tidak mendengarkannya dan masih melakukan aksi nya itu, ia memutuskan menggunakan cara kasar. Ia menginjak kuat salah satu kaki Raymond dan hal itu sukses membuat Raymond melepaskan dirinya dan mengerang kesakitan. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu kamar nya.


"Aku akan membalasmu Vi." Teriak Raymond pada Vivian setelah Vivian kekamarnya. Raymond sebenarnya hanya bermain-main dan menggoda Vivian saja. Ia sadar statusnya dan Vivian bukanlah pasangan sebenarnya dan ia juga tidak gila untuk menyentuh Vivian tanpa ijin dari nya. Itu sama saja menodai kesucian gadisnya itu. Ia lalu beranjak melangkah menuju ruang kerja nya dengan menahan sakit pada kakinya.


"Sial, mengapa jantung ku berdetak tidak karuan seperti ini?" ucap Vivian merutuki dirinya saat ia sudah dikamar dan duduk di tepi ranjang. Ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai ia kembali duduk di tepi ranjang dan meraih tas nya tadi untuk memgambil foto yang ia bawa dari mansionnya tadi.


Ia lalu meraih dua bingkai kosong yang ada diatas nakasnya dan memang sudah ada sejak hari pertama ia berada disini. Ia lalu mencoba meletakkan foto nya itu kedalam bingkai tersebut dan ternyata ukuran nya sangat pas. Setelah selesai ia pun meletakkan foto-foto itu keatas nakas nya lalu tersenyum kepada foto-foto itu seolah-olah yang ada dalam foto itu nyata.


"Kalian akan selalu bersama ku dan hidup di sini." gumam Vivian sambil meletakkan salah satu telapak tangan nya di dada.


Kryuk kryuk


Terdengar bunyi perut Vivian yang keroncongan karena lapar. Ia pun akhirnya memutuskan untuk turun ke dapur untuk melihat apa saja yang bisa ia masak untuk dimakan. Ketika sedang sibuk dengan kegiatan memasak nya ia dikejutkan dengan pelukan seseorang dari belakangnya.

__ADS_1


"Aku mendapatkan mu nona kecil." Ucap Raymond si tersangka utama yang memeluknya tiba-tiba saat melihat nya sedang sibuk dengan kegiatan memasak nya.


"Jangan ganggu aku Ray." Titah Vivian berusaha melepaskan pelukan posesif Raymond.


"Tidak tidak, kau belum menjawab pertanyaanku tadi dan kita belum menyelesaikan kegiatan kita tadi." Ujar Raymond sengaja untuk mengerjai Vivian.


"Kau gila. Lepaskan aku." Vivian melanjutkan kata-katanya dan meronta meminta lepas. Raymond yang memang ingin menggodanya itu pun sengaja mempererat pelukannya. Namun hal itu justru membuat hasrat Raymond terpancing hanya dengan mencium wangi dari tubuh Vivian. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia memiliki hasrat terhadap seorang perempuan.


"Sial." Batinnya. Dan segera ia pun melepaskan pelukan nya sebelum hasrat nya itu semakin menggebu dan ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Vivian.


"Dasar aneh." Gumam Vivian memperhatikan pergerakan Raymond. Ia pun melanjutkan kegiatan memasak yang sempat tertunda gara-gara Raymond. Setelah selesai memasak ia pun langsung menyantap makanan nya karena ia sudah sangat lapar. Setelah selesai makan ia pun membersihkan sisa-sisa kotoran dan alat-alat yang ada didapur dan setelah selesai iapun beranjak ke kamarnya.


Saat memasuki kamarnya ia terkejut melihat Raymond yang menata pakaiannya kedalam koper. Ia pun mendekati Raymond dan bertanya pada nya untuk apa mengemasi barang-barang nya.


"Aku akan pindah kamar." Jawab Raymond santai sambil terus mengemasi barang-barang nya.


"Tidak tidak. Ray harusnya aku yang pindah bukan kau. Ini adalah kamarmu." Ucap Vivian berusaha menghentikan kegiatan Ray.


"Diamlah. Jangan mengganggu ku. Kau akan tidur dikamar ini atau aku akan menyuruhmu menjadi gelandangan." Titah Raymond.

__ADS_1


"Ya sudah aku memilih menjadi gelandangan saja." Sahut Vivian tak ingin kalah.


Raymond menghentikan kegiatan mengemas nya dan menghela nafas kasar. Gadisnya itu ternyata keras kepala juga.


"Tidak. Kau akan tetap dikamar ini dan jangan mencoba membantah ku." Ucap Raymond menekan setiap katanya.


"Aku tidak ingin sampai menyakiti mu." Batin Raymond dalam hati melanjutkan perkataannya.


"Hah..dasar pria aneh." Ucap Vivian lalu ia menuju ranjang nya dan berbaring di sana. Ia juga membungkus tubuhnya dengan selimut. Raymond yang melihat itu hanya menghela nafas kasar dan melanjutkan kegiatan nya. Setelah dirasa semua sudah lengkap iapun beranjak keluar dari kamar nya namun langkahnya terhenti sejenak lalu ia menghampiri Vivian dan mencoba membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Setelah berhasil membuka setengah selimut itu hingga leher Vivian ia pun menatap instens setiap inci wajah Vivian.


"Kau sangat cantik. Berikan hatimu pada ku dan aku akan menjaga mu selamanya." Gumam Raymond dengan suara pelan takut membangunkan Vivian yang sudah tertidur pulas, walau begitu Raymond masih dapat melihat sisa air mata di sudut matanya.


"Cup" Raymond mencium sekilas kening Vivian. Lalu ia keluar meninggalkan kamarnya dengan membawa serta dua koper besar berisi semua barang nya tadi. Ia memilih menggunakan kamar kosong disamping kamar yang digunakan Vivian saat ini.


Entah bagaimana pada akhirnya Raymond yang belum pernah jatuh cinta justru kini melabuhkan hatinya pada Vivian. Menurut nya Vivian sangat berbeda dengan kebanyakan perempuan yang ia temui di luar sana. Kecantikan Vivian sangat alami, hatinya lembut dan tulus. Ia juga perempuan yang kuat terlepas dari semua yang menimpa nya saat ini. Begitulah pandangan Raymond terhadap seorang Vivian. Raymond berusaha memejamkan matanya dan dengan susah payah akhirnya ia pun terlelap.


^^^~Sekian dulu.^^^


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^

__ADS_1


^^^Jangan lupa juga untuk menekan tombol favorit jika readers menyukai cerita ku~^^^


...*Terima Kasih*...


__ADS_2