
Delapan Belas Tahun Kemudian.
"Rai, bagaimana segala persiapan tugas akhir mu?" Raymond bertanya pada putra sulung nya disela sela kegiatan sarapan mereka.
"Sudah hampir selesai Pa. Sedikit lagi dan aku akan segera wisuda." Ucap Raiyan percaya diri.
Raiyan Lu, putra sulung Vivian dan Raymond, memang selalu percaya diri dengan apa yang ia lakukan.
Ia juga tidak akan pernah mengijinkan diri nya kalah ataupun gagal. Baginya kegagalan hanya milik orang yang hampir mati.
"Papa harap kamu tidak mengecewakan." Raymond kembali berkata.
"Tenang saja Pa." Raiyan kembali menjawab dengan percaya diri.
"Ayvin, bagaimana dengan persiapan ujian akhir mu?" Kini Raymond bertanya pada putra bungsu nya.
Putra bungsu nya tidak seperti Raiyan yang ahli di bidang bisnis, Ayvin lebih tertarik pada dunia kesenian terutama melukis dan mendesain sesuatu. Wajah Ayvin pun tampak lebih manis dari sang kakak.
"Sebentar lagi akan ujian pa. Dan aku sudah mempersiapkan diri ku dengan baik." Ayvin menjawab sambil mengunyah makanan nya.
"Good boy." Raiyan menepuk kepala adiknya beberapa kali, sedang adik nya hanya tersenyum.
Terhadap keluarga nya, Raiyan adalah lelaki yang lembut dan hangat.
"Lalu bagaimana dengan mu Dero?" Kini Vivian yang membuka suara bertanya pada Dero, Putra tunggal Dream dan Jiro yang sedang menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Hehe sudah beres juga ma." Dero cengengesan. Dero juga memiliki otak yang cerdas, hanya saja ia tidak serius menanggapi segala hal, baginya hidup serius itu membosankan.
Vivian memaksa nya agar memanggil nya Mama dan Raymond Papa, sejak dari kecil.
"Bohong Ma. Tadi malam saja dia keluar berkencan lagi dan pulang sudah jam tiga pagi." Raiyan membuka kedok sahabatnya itu.
"Dero Dero, sebaiknya kau fokus pada tugas akhir mu, jangan sampai mengecewakan Papa dan Mama mu." Vivian menasehati Dero, sedangkan Jiro hanya memejam matanya dan mengepalkan tangannya kuat mendengar kenakalan putranya.
Sangat berbeda jauh dari nya. Dero juga memiliki caranya sendiri untuk menghadapi segala sesuatu.
"Tenang saja Ma, aku pasti akan lulus dengan hasil tak kalah bagus dari Raiyan." Dero berucap percaya diri.
"Papa, Mama aku akan berangkat sekarang." Raiyan bangkit dari duduknya dan mencium singkat pipi Vivian.
"Adik kecil, mau ikut dengan kakak?" Raiyan bertanya pada adik kesayangan nya.
Ayvin mengangguk dan bangkit dari duduknya serta mencium pipi Vivian sekilas.
Tentu saja mereka tidak mencium Raymond, malu karena sudah dewasa. Hanya memeluk singkat saja lalu mereka pun berlalu.
"Hei tunggu aku juga." Dero berteriak karena ditinggal sahabat dan adiknya. Segera ia pun berlari mengejar kedua orang itu, tidak lupa membawa tas dan bola basket kesayangan nya. Tidak sempat pamit pada kedua orang tua kandung dan orang tua angkat nya.
__ADS_1
"Payah." Ucap Raiyan singkat.
Setelah mereka masuk ke mobil, Raiyan pun melajukan mobilnya menuju ke sekolahan adiknya terlebih dulu, karena memang rute perjalanan nya seperti itu.
"Kak, kakak masih berhubungan dengan kakak Emily?" Ayvin bertanya penasaran tentang kekasih kakaknya.
Emily adalah perempuan yang sudah Raiyan kencani selama dua tahun terakhir ini. Perempuan yang ia sayangi, tapi bukan berarti ia cintai.
"Masih. Memang ada apa?" Raiyan kembali bertanya pada adiknya.
"Tidak, hanya saja kakak sudah lama tidak mengajaknya main ke rumah. Aku pikir kalian sudah selesai." Jelas Ayvin.
"Kakak mu tentu saja tidak membawa Emily kerumah. Mereka sudah punya tempat bermain yang baru." Dero menimpali percakapan kedua kakak adik itu.
"Diam kau." Raiyan berusaha menghentikan mulut laknat sahabatnya itu.
"Kau tahu vin, kakak mu sekarang lebih suka bermain ke apartemen Emily, karena disana sepi." Ucap Dero tanpa sensor.
"Terserah kau saja Dero." Ayvin berucap malas.
Ayvin tidak terlalu suka pada Dero, baginya Dero sangat beo dan mulutnya tidak bisa dikontrol.
"Sudah sampai." Raiyan berucap singkat saat mereka sudah tiba didepan sekolahan adiknya.
"Terima kasih kak." Ucap Ayvin singkat, lalu turun dari mobil kakaknya.
"Kau juga carilah kekasih." Ucap Dero berteriak saat Ayvin sudah hampir masuk ke gerbang sekolahan nya.
"Haha baiklah." Dero berucap singkat lalu memanjat berpindah ke kursi depan tanpa turun dari mobil terlebih dulu.
Raiyan kembali melajukan mobilnya menuju ke kampusnya.
"Hei bung, bagaimana jika malam ini kita bersenang senang. Sudah lama kan kita tidak bersenang senang. Hitung hitung sebagai pelepas stres karena tugas akhir yang melelahkan." Usul Dero pada Raiyan.
"Dimana?" Raiyan bertanya singkat pertanda ia setuju.
"Club tempat biasa saja. Bagaimana?" Dero kembali mengusulkan.
Raiyan mengangguk setuju. Setelah itu tidak ada lagi percakapan mereka hingga sampai di kampus.
Saat mereka sampai, terlihat dua sahabat mereka yang lain dan satu perempuan cantik sudah menunggu mereka.
"Hei bung." Ucap Dero mengepalkan tangannya memberi salam khas mereka dan kedua sahabatnya membalas dengan meninju kepalan tangan Dero.
Raiyan juga melakukan hal yang sama.
"Sayang, aku merindukan mu." Ucap Emily bergelayut manja dilengan Raiyan.
__ADS_1
Emily adalah putri tunggal dari bos kasino di Hongkong. Ia memilih Shanghai sebagai tempat nya mengenyam pendidikan agar bisa bebas dan jauh dari orang tua nya.
"Aku juga sayang." Ucap Raiyan melepaskan lengannya dari Emily dan merangkul mesra pinggang Emily serta melahap bibir kekasihnya sejenak.
"Woo." Ketiga sahabat nya bersorak melihat adegan panas mereka.
Raiyan hanya menyeringai, sedangkan Emily tersenyum malu. Status mereka memang pacaran, tapi tidak ada cinta diantara mereka. Hanya saling memberi kehangatan dan kepuasan.
"Hei, bagaimana jika malam ini kita bersenang senang?" Vion membuka suara sambil mereka berjalan menuju ruang kelas mereka.
Mereka satu jurusan yang sama dan sebentar lagi akan lulus bersama. Raiyan yang lebih tua satu tahun dengan mereka, saat itu sengaja menunda satu tahun pendaftaran kuliah nya agar bisa bersama dengan ketiga sahabat nya.
"Aku sudah mengusulkan pada Rai, dan dia setuju." Dero menimpali.
"Baiklah." Vynshen yang bersuara.
"Sayang, apa aku boleh ikut?" Emily bertanya manja.
"Tentu saja sayang. Mana mungkin aku bersenang senang tanpa mu." Raiyan menyanggupi keinginan kekasihnya.
"Hah, sepertinya malam ini aku juga harus mengajak kekasih ku." Dero berucap.
"Aku juga." Vion menimpali.
Vynshen hanya memutar malas kedua mata nya mendengar setiap pemikiran bejat ketiga sahabatnya. Vynshen yang paling tidak tertarik berhubungan dengan wanita, bukan karena kelainan, hanya saja baginya berhubungan dengan wanita akan merepotkan. Hanya membuat masalah dan berakhir mengorbankan kebebasan diri sendiri.
"Ayolah Vyn, kau tidak ingin seperti kami? Bisa menghabiskan malam dengan panas?" Dero bertanya tapi sebenarnya berniat menghasut sahabat nya.
"Tidak tertarik. Kau tahu masih banyak hal yang bisa ku lakukan untuk membuat malam ku panas. Melempar pisau dengan sasaran ku adalah pria tua bejat misalnya." Vynshen berkata tanpa rasa bersalah.
"Aku suka itu." Kini Raiyan yang menimpali. Dero dan Vion mengangguk setuju.
Mereka memang sama sama mempunyai sisi lain yang tidak diketahui oleh orang lain, selain orang terdekat mereka mungkin.
Mereka sama sama ahli melempar pisau, terutama Raiyan. Mereka sama sama suka menyakiti mangsa atau musuh mereka dengan cara sadis.
Sepertinya psikopat sejak lahir, terutama Raiyan. Sifat gila Raiyan bahkan sudah tercetak saat dirinya masih di dalam kandungan Vivian. Mungkin karena saat itu Vivian sempat membenci Max yang sudah menyakiti nya, sehingga sifat psikopat nya tertular pada Raiyan.
Mereka sudah sampai di kelas mereka. Tidak lama setelah itu dosen pun masuk ke ruangan kelas untuk menyampaikan sesuatu mengenai tugas akhir dan proses wisuda mereka.
*****
Pembukaan nya santai dulu ya.
Emily bukan anak Max Vanessa yah.
Tinggalkan komentar yah apa ada yang kurang atau perlu ditambahkan?
__ADS_1
Serta like nya jangan lupa.
Mampir di " IF LOVE " juga.