
[ Yuk mampir di karya ku yang berjudul
"Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) "
dan "IF LOVE "
Tinggalkan jejak komentar dan like kalo udah mampir.]
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
"Kau lihat, bukankah dia terlalu cantik untuk kita habisi begitu saja?" Tanya seorang pria yang menculik Axnes kepada temannya yang lain.
Mereka berjumlah dua orang.
Axnes masih pingsan, dan dua pria penculik itu mengikat nya pada sebuah tiang.
"Aku tidak berminat dengan seseorang yang berhubungan dengan brengsek itu." Ujar pria satunya lagi.
"Oh ayolah adik. Tidak perlu berpura pura seperti itu. Kau lihat saja lekuk tubuhnya begitu sempurna." Ucap pria pertama.
Perlahan Axnes mulai sadar, sepertinya pengaruh obat bius nya sudah habis.
Ia perlahan mengangkat kepalanya dan menelisik keadaan sekitarnya.
Ruangan tersebut sangat luas, tapi tidak terang.
Pandangan Axnes seketika jatuh pada dua pria tampan yang berdiri tepat di depan nya, satu pria bertelanjang sambil merokok. Dan satu lagi tampak cuek dan tatapan nya membunuh.
"Ren, Ken?" Tanya Axnes tidak percaya.
"Oh hai. Kita bertemu lagi Axnes. Padahal aku kira tadi itu sudah pertemuan terakhir kita." Ucap Ren pura pura. Ren yang sedang bertelanjang dada dan merokok.
"Kalian mau apa? Lepaskan aku." Pinta Axnes meronta untuk lepas, namun tidak berhasil.
"Haha, santai sayang. Permainan belum dimulai." Ucap Ren, lalu perlahan ia berjalan mendekati Axnes setelah memadamkan rokok nya.
"Ah, kau cantik sekali." Ucap Ren menelusuri wajah Axnes dengan telunjuknya hingga berhenti tepat di depan dada Axnes.
"Apa yang akan kekasih mu lakukan nanti, jika aku menyentuh mu terlebih dulu?" Tanya Ren dengan nada datar.
"Lepaskan aku." Pinta Axnes dengan suara lantang.
"Ya ampun. Sepertinya kau sudah tidak sabar sekali." Ucap Ren tersenyum licik.
Ia semakin mendekat pada Axnes dan langsung menyambar bibir Axnes.
__ADS_1
"Arghh.." Axnes menggigit kuat bibir Ren membuat ia mengerang kesakitan.
Plak
Ren menampar Axnes.
"Murahan. Kau ingin menolak ku? Itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Ren kasar.
Plak
Ia kembali menampar pipi Axnes yang masih mulus.
"Aku pastikan kau akan menjadi budak nafsu ku setelah ini. Aku akan merenggut mu didepan kekasih bangsat mu itu." Ucap Ren lagi.
Ken hanya menjadi penonton setia.
"Apa salah Rai pada kalian?" Tanya Axnes berusaha untuk tidak takut walau menahan sakit di pipinya.
"Salah nya? Aku tidak akan pernah memberi tahu mu. Karena kau akan hidup dibawah ku, jadi itu tidak penting bagi mu." Ucap Ren kemudian mengelus pipi Axnes yang ia tampar tadi.
"Aku mohon jangan sakiti Rai. Kau bisa menyakiti ku, tapi jangan dia." Ucap Axnes memohon pada Ren.
Ken yang menyaksikan itu, merasa sedikit iba pada Axnes. Namun ia memilih untuk diam.
"Kau memohon untuk nya? Dia tidak layak Axnes. Dia tidak layak mendapatkan cinta dari siapapun." Ucap Ren geram, mencengkeram kuat dagu Axnes hingga Axnes meringis kesakitan.
"Jangan, aku mohon. Jangan sakiti Rai. Kau ingin aku? Kau bisa sakiti aku, jika kau ingin habisi nyawa ku, aku tidak keberatan, tapi aku mohon lepaskan Rai. Jangan libatkan dia dalam kebencian kalian." Ucap Axnes kembali memohon.
Axnes menangis, sedih, sakit, takut.
"Bangsat itu tidak pantas kau cintai sampai sebegitu besar. Kau ingin tahu perbuatan terpuji apa yang sudah ia lakukan?" Tanya Ren geram, masih mencengkeram dagu Axnes.
Axnes mengangguk, walau dagu nya terasa sangat sakit.
"Dia telah membunuh wanita yang aku cintai. Wanita yang ingin aku nikahi walau dia selalu menolak ku dan lebih memilih tidur dengan pria bangsat itu." Ucap Ren melepas kasar cengkeraman nya hingga wajah Axnes terpelanting ke samping.
Ya, Ren adalah pria yang mencintai Emily. Lebih tepatnya mantan kekasih Emily sebelum Emily pergi dari Hongkong dan datang ke Shanghai lalu bertemu dengan Raiyan.
Ken adalah adik Ren, yang sangat mendukung kakak nya bersama Emily.
Dan Jeff? Jeff adalah sahabat Emily yang sebenarnya sudah sangat mengenal sifat buruk Emily.
"Aku mohon maafkan Rai. Aku janji akan membayar segala kesalahan nya, tapi tolong jangan sakiti dia." Pinta Axnes berusaha untuk melindungi kekasihnya.
"Kau sungguh ingin menggantikan kekasih mu itu untuk menebus kesalahan nya?" Tanya Ren tersenyum licik.
Axnes mengangguk.
Bagaimana ia tidak ingin Raiyan tersakiti. Ia sangat mencintai Raiyan, mak dari itu, ia harus bisa melindungi Raiyan walau harus mengorbankan dirinya sekalipun.
Ren kembali meraih tengkuk leher Axnes dan kembali ******* bibirnya.
"Jadilah wanita ku. Jadilah wanita ku dan hidup dengan ku. Dengan begitu aku tidak perlu menyakitinya ataupun diri mu." Pinta Ren menyatukan kening mereka.
__ADS_1
Axnes bimbang. Bagaimana bisa dia mengkhianati Raiyan.
"Berikan aku pilihan lain." Pinta Axnes berharap.
"Jadi budak nafsu ku, dan layani aku sekarang. Kau pilih saja." Ucap Ren santai.
Axnes benar benar tidak tahu harus bagaimana, kedua pilihan itu sama saja akan menyakiti dan mengkhianati Raiyan.
"Bagaimana? Jika kau gadis yang pintar kau sudah pasti tahu akan memilih yang mana." Ucap Ren santai.
#####
Raiyan yang baru saja mendengar kabar bahwa kekasihnya diculik, langsung meninggalkan perusahaan nya, bersyukur nya rapat penting nya sudah selesai.
Raiyan mengemudikan mobil nya dengan kecepatan penuh menuju ke markasnya, dimana ketiga sahabatnya, Stev, dan Dev sudah berkumpul.
"Bangsat." Raiyan memukul keras setir mobil nya.
"Berani saja kalian menyakiti Axnes, aku tidak akan mengampuni kalian." Ucap
Sampai dimarkas nya, ia segera berlari masuk kedalam.
Tampak Vion tengah sibuk melacak keberadaan Axnes.
"Sial, kenapa sulit sekali." Vion menggerutu.
"Rai, aku tidak yakin, tapi dari tadi ponsel Axnes selalu berpindah lokasi." Ucap Vion menjelaskan penemuan nya.
"Aku rasa ponsel Axnes tidak bersama Axnes saat ini. Mereka menyekap Axnes disuatu tempat. Sedangkan ponsel Axnes sengaja mereka bawa pergi. Pelaku penculikan ini sepertinya sudah mengatur semuanya dengan baik." Ucap Vynshen memecahkan kebingungan Vion.
"Arghh." Raiyan mengerang marah lalu menendang kuat kaki meja didepan nya.
Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan, hanya rasa marah, takut, dan khawatir bercampur menjadi satu.
"Apa tidak ada cara lain untuk menemukan Axnes?" Tanya Dero bingung.
"Aku ingat. Aku menempelkan sebuah alat pelacak yang sangat kecil dibelakang telinga Axnes, tepatnya didalam anting nya. Mungkin saja kita bisa melacak Axnes melalui itu." Ucap Stev.
Kini Stev sedang berada dalam situasi darurat hingga sifat gemulai nya pun tak tampak.
"Untuk apa kau menempelkan alat itu pada Axnes?" Tanya Raiyan bingung.
"Sebenarnya aku mendapatkan alat itu dari teman ku. Karena kami akan bekerja dengan orang asing kemarin jadi aku diam diam menempelkan alat itu pada anting Axnes. Apalagi setelah aku merasa tidak enak hati dengan orang orang itu." Ucap Stev menjelaskan.
"Vion, segera lacak." Ucap Raiyan memberi perintah.
Vion mengangguk dan segera melakukan perintah dari sahabatnya itu.
...~ To Be Continue ~...
*****
Like dan komentar jangan lupa yah.
__ADS_1
Makasih.