Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 35 - Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga hari Raiyan berada di Jepang bersama Axnes.


Hari demi hari mereka lewati dengan membahas semua persiapan pernikahan mereka.


Bahkan Raiyan meminta keluarga besarnya datang lebih cepat ke Jepang.


Bahkan Raiyan memaksa keluarga besarnya untuk datang tiga hari setelah kedatangan nya, yaitu hari ini.


"Sayang, apa kau sudah siap?" Tanya Raiyan pada Axnes yang masih berada di dalam kamar mandi.


"Sebentar lagi." Teriak Axnes dari dalam kamar mandi.


Raiyan akan menjemput keluarganya di bandara.


"Sudah." Ucap Axnes semangat sambil masih mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil.


Raiyan memperhatikan penampilan kekasihnya yang tampak sangat menggoda.


Ia mendekati Axnes dan memeluk nya dari belakang saat Axnes sudah duduk di kursi depan meja rias nya.


"Sayang, kau sangat menggoda." Bisik Raiyan sensual di telinga Axnes.


Axnes menepuk puncak kepala Raiyan yang saat itu kepala Raiyan betengger indah di salah satu pundak nya.


"Jangan macam macam." Titah Axnes ketus.


"Sekarang tidak akan. Aku akan menahan nya sampai kita resmi menikah. Baru setelah itu aku akan memakan mu sampai habis." Ucap Raiyan.


Axnes hanya mendengus sebal.


"Apa diotak mu tidak ada hal lain selain hal mesum?" Tanya Axnes kesal sambil berdiri tanpa aba aba membuat Raiyan hampir saja terjungkal kebelakang.


Segera Axnes pun keluar dari kamar nya, dan Raiyan mengikuti dari belakang.


"Banyak. Banyak sekali hal yang aku pikirkan." Jawab Raiyan semangat.


Axnes hanya mengangkat bahu nya acuh.


Raiyan yang melihat Max sedang duduk di ruang keluarga pun timbul ide jahil untuk mengganggu kedamaian Ayah mertua nya.


"Sayang. Aku ingin membuat anak dengan mu. Membuat anak, lalu membuat anak lagi dan terus membuat anak tanpa henti." Ucap Raiyan dengan suara menggelegar.


Max tentu saja mendengarkannya, tapi ia berusaha untuk tidak terpancing.


"Hentikan itu Rai." Titah Axnes kesal.


Entah kenapa sejak bertemu keluarganya terutama Ayahnya, Axnes merasa tingkah laku Raiyan seperti anak kecil yang meminta perhatian.


Saat tepat di depan Max, Raiyan dengan sengaja menarik tangan Axnes hingga Axnes berbalik dan masuk kedalam pelukan nya.


Raiyan meraih tengkuk leher Axnes dan mencium bibir nya lembut namun cukup memancing gairah hingga membuat Axnes membalasnya tanpa.


"Aku mohon sadarlah. Disini ada Papa mu." Ucap Max geram.


Axnes yang mendengar suara Papanya pun segera melepaskan tautan bibir nya dan Raiyan.


Ia memukul pelan dada Raiyan dan wajahnya tersipu malu.


Raiyan hanya tersenyum sinis menoleh ke arah Max yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Papa, aku dan istriku tercinta ini akan pergi ke bandara untuk menjemput keluarga ku terutama Mama ku tersayang." Ucap Raiyan menekan kata Papa dan Mama.


Max sedikit kaget mendengar bahwa Vivian akan segera datang.


Bukan apa, mereka sudah dua puluh tahun lebih tidak bertemu.

__ADS_1


Max diam, tidak tahu harus menjawab apa.


Raiyan merasa senang melihat ekspresi yang ditunjukkan Max.


"Pa, aku dan Rai pergi dulu." Pamit Axnes pada Max.


Keduanya pun melenggang keluar. Mereka pergi menggunakan mobil Rex yang sengaja disimpan di rumah Max.


Mobil mewah berukuran besar yang cukup menampung lebih dari empat orang.


Segera Raiyan pun melajukan mobil itu menuju bandara.


"Aku gugup Rai." Ucap Axnes tersenyum kaku.


"Tidak perlu gugup sayang. Keluarga ku menyayangi mu. Kau tenang saja." Ucap Raiyan menenangkan kekasih nya.


Axnes hanya tersenyum kaku.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di bandara.


Mereka segera turun dari mobil setelah Raiyan memarkirkan mobilnya dengan benar.


"Dimana mereka?" Gumam Raiyan saat ia belum melihat keberadaan keluarga nya.


Mereka mencoba menunggu sesekali mengedarkan pandangan mencoba mencari keluarga nya.


"Itu mereka Rai." Ucap Axnes menunjuk kearah tiga orang yang sangat dikenal nya sedang berjalan mendekat kearah mereka.


"Hai sayang." Vivian malah terlebih dulu menyapa Axnes dan memeluknya.


"Hai Ma." Axnes membalas pelukan Vivian.


"Bagaiman apa Raiyan nakal? Tanya Vivian curiga.


"Apa kabar mu nak?" Tanya Raymond yang tidak disangka juga memeluk Axnes penuh kasih sayang.


"Baik Pa." Axnes menjawab juga membalas pelukan Raymond.


"Ayo, Papa sudah lapar sekali." Ucap Raymond malah merangkul calon menantu nya.


Mereka bertiga hanya tersenyum.


"Adik kecil, bagaimana kuliah mu?" Tanya Raiyan mengacak rambut Ayvin.


"Baik baik saja kak." Ucap Ayvin tersenyum.


"Baiklah, ayo kita segera kembali. Mama Vanessa pasti sudah menungu." Ucap Raiyan semangat.


Mereka pun bergegas menuju ke mobil dan segera masuk kedalam.


Setelah nya Raiyan segera mengendarai mobil itu menuju ke rumah Max.


Sepanjang perjalanan mereka saling bercerita banyak hal, dan Raymond tampak sangat bahagia berbicara dengan Axnes. Mereka tampak seperti Ayah dan putri kandung.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di kediaman Max.


Raiyan segera memarkirkan mobilnya dengan benar, baru satu persatu dari mereka turun.


"Ayo Ma." Ucap Raiyan merangkul Mama nya dan Ayvin.


Sedangkan Raymond masih bersama Axnes.


"Axnes, Papa harap Raiyan tidak macam macam setelah kalian menikah nanti. Atau Papa akan menghapusnya dari daftar riwayat keluarga kita." Ucap Raymond pada Axnes.


Raiyan dari depan hanya tersenyum.

__ADS_1


"Vivian." Sapa Vanessa yang langsung mendekati mereka dan memeluk Vivian.


Vivian membalas pelukan nya tak kalah erat.


"Apa kabar Vanessa? Tidak menyangka akhirnya kita malah akan berbesan." Ucap Vivian.


"Aku baik." Ucap Vanessa sambil melepas pelukan nya.


"Vi." Sapa Max yang juga hendak memeluk Vivian.


Namun secepat kilat Raymond sudah berpindah di depan Vivian menghadang Max untuk mendekati istrinya didampingi dua putranya masing masing di kiri dan kanan.


"Baiklah baiklah." Ucap Max akhirnya mundur dan memilih memeluk istrinya.


Vanessa dan Axnes hanya tersenyum.


"Ayo masuk." Ajak Vanessa pada ketiga tamu barunya.


"Sebaiknya kita makan siang dulu, baru kemudian membicarakan hal penting." Ucap Max.


Semuanya mengangguk. Mereka pun langsung menuju ke ruang makan.


"Mama Vivian, ini semua adalah masakan Mama ku." Ucap Axnes semangat.


"Apa kau juga ikut membantu?" Tanya Vivian iseng.


Axnes menggeleng malu.


"Haha, nanti jika kalian sudah menikah, kau harus banyak belajar memasak agar Rai tidak makan diluar." Ucap Vivian lembut.


Axnes mengangguk semangat.


"Axnes tidak perlu belajar masak juga tidak masalah Ma, asal ia pandai dalam hal lain aku sudah bahagia." Ucap Raiyan sengaja lalu menatap ke arah Max dan menaik turunkan alis nya pada Max.


Max mengangkat garpunya seolah hendak menusuk mata Raiyan.


"Sayang, lihatlah Papa mu, ia sangat menakutkan." Rengek Raiyan sengaja.


"Kau yang mengganggu nya." Ucap Axnes abai.


Mereka tertawa kecil bersama.


"Kau tahu Vi, putra mu yang satu ini sungguh menjengkelkan. Tidak ada henti hentinya dia mengerjai ku." Max mengadu pada Vivian.


"Terima saja karma mu. Kau tahu kan saat kau menyakiti istri ku, Raiyan sudah terbentuk didalam rahim Mamanya." Raymond yang malah menjawab.


Mereka kembali tertawa kecil bersama kecuali Max.


Max hanya menunduk, ia benar benar masih merasa bersalah hingga saat ini.


"Sudahlah Max. Semua itu hanya masa lalu. Aku tidak ingin mengungkitnya lagi. Apalagi sebentar lagi kita akan menjadi besan." Ucap Vivian yang menyadari ekspresi Max berubah.


Max hanya menatap Vivian lalu tersenyum kecil.


"Kau dari dulu memang tidak pernah berubah dan selalu baik Vi." Batin Max menatap wajah Vivian yang tetap masih cantik dan awet muda seperti istrinya.


Mereka kembali melanjutkan kegiatan makan siang mereka dengan ricuh, tidak lupa Raiyan yang selalu ada saja ide jahilnya untuk membuat Max naik pitam.


...~ To Be Continue ~...


******


Kira2 kalo waktu itu yang dihamil Vivian malah beneran anaknya Max, bentukannya bakal gimana ya?


Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2