
Max terlihat sedang berada di dalam pesawat yang sama dengan Rex. Rex tidak menyadari keberadaan kakak nya karena mereka memang duduk dengan jarak yan cukup jauh.
"Vanessa, aku pergi untuk hidup yang lebih baik. Aku hidup untuk memperbaiki semuanya. Aku pergi dengan membawa maaf dari semua orang entah itu tulus atau pun tidak. Aku pergi membawa cinta mu yang belum sempat ku balaskan. Aku pergi untuk memulai sebuah awal yang baru. Jepang adalah tempat yang tepat untuk ku. Tempat pertemuan pertama kita. Tempat pertama kali kau tersenyum manis dan tulus pada ku. Bantu aku untuk hidup lebih baik dengan cinta mu yang tertinggal dihati ku. Walau kau telah pergi tapi cinta mu tidak akan pernah mati dalam hati ku. Aku mencintai mu Vanessa, walau itu terlambat. Aku bawa pergi semua kenangan singkat kita."
Max dengan setia memandang kearah jendela pesawat. Hatinya benar benar terasa lebih tenang setelah mendapatkan maaf dari semua orang. Sesekali ia akan tersenyum sendiri mengingat semua tentang Vanessa.
"Pelan pelan saja jika kau menginginkan ku Tuan." Bisik Vanessa dengan suara sensual ditelinga Max dan menggigit kecil telinga nya.
"Aku mencintai mu Max." Ucap Vanessa dalam tidur nya.
Semua hal yang berkaitan dengan Vanessa satu persatu berputar di otak nya.
Tak lama kemudian perawat yang ia naiki akhirnya lepas landas. Setelah berada di atas awan, ia kemudian mengalihkan pandangan nya kearah Rex yang berjarak beberapa kursi didepan nya.
Rasanya ingin sekali memeluk adiknya itu. Tapi untuk saat ini tidak mungkin karena adiknya masih marah pada nya.
Setelah dua jam lebih akhirnya mereka mendarat di Jepang. Max tergesa gesa mengejar Rex setelah mereka keluar dari bandara.
"Rex." Akhirnya ia memutuskan untuk berteriak memanggil Rex.
Rex menoleh kearah sumber suara. Ia kaget melihat Max berdiri tak jauh dibelakang nya.
"Max?" Batin nya.
"Aku mendapatkan mu." Ucap Max dengan nafas tidak menentu saat ia sudah berdiri didepan Rex.
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Rex tanpa ekspresi.
"Aku membuntuti mu." Max menjawab dengan jujur.
"Persetan dengan itu." Ucap Rex kasar dan berbalik meninggalkan Max. Namun dalam langkahnya ia tersenyum.
"Tunggu lah aku, ya ampun anak ini." Max kembali mengejar Rex sambil berteriak.
Bukan nya berhenti, Rex malah semakin mempercepat langkahnya. Akhirnya Rex masuk kedalam sebuah taxi.
Dengan langkah seribu Max langsung menuju taxi itu dan duduk di samping Rex.
"Hehe." Max terkekeh.
"Tidak tahu malu. Bisa bisa nya dia mengikuti ku setelah apa yang dia lakukan pada ku." Gerutu Rex sengaja agar Max mendengar nya.
"Mau bagaimana lagi. Aku hanya mempunyai dirimu saat ini." Ucap Max polos.
"Kau kan punya banyak uang. Beli saja adik yang baru. Aku tidak membutuhkan dirimu." Rex berkata kejam pada kakaknya. Namun itu tidak meruntuhkan semangat Max.
"Tidak ada yang bisa menggantikan mu adik ku." Ucap Max gemas mengacak rambut Rex.
Perdebatan mereka terus terjadi tanpa mengarahkan sang sopir taxi untuk berjalan.
(Dialog dalam bahasa Jepang)
"Tuan tuan boleh saya tahu alamat yang ingin kalian tuju?" Sang sopir bertanya pada mereka.
__ADS_1
"Aku ingin ke district ... " Rex menjawab.
"Baiklah." Kemudian sang sopir taxi pun melajukan mobilnya.
"Apa mereka pasangan kekasih?" Gerutu si sopir.
"Bukan." Max dan Rex menjawab serentak.
Si sopir hanya menganggukan kepalanya, kemudian taxi melaju dalam keheningan.
(Dialog bahasa Jepang selesai)
Tak lama akhirnya mereka sampai ke tempat yang disebut oleh Rex tadi. Tempat yang dulu mereka tempati dan akan mereka tempati lagi kedepan nya.
Setelah sopir menurunkan barang barang mereka dan menerima bayaran, ia pun melajukan mobilnya pergi meninggalkan Max dan Rex.
Max memperhatikan seksama tempat tinggal nya itu. Bayangan wajah Vanessa kembali berputar di otak nya.
Hah
Max menghela nafas kasar.
"Selamat datang kehidupan baru yang lebih baik." Batin Max.
Setelah itu ia pun masuk kedalam rumah itu menyusul Rex yang sudah masuk duluan.
#####
"Sayang, kapan aku bisa kembali bekerja?" tanya Vivian yang sedang baring diatas ranjang dengan perut suaminya sebagai bantalnya.
"Kau tidak perlu lagi bekerja." Ucap Raymond. Seketika raut wajah Vivian berubah menjadi sendu.
"Bukan bukan itu maksud ku sayang. Maksud ku adalah kau tidak perlu bekerja keluar rumah. Aku akan memfasilitasi semua yang kau perlukan sehingga kau bisa bekerja dengan nyaman dirumah." Raymond menjelaskan maksud ucapan nya.
"Benarkah?" Vivian bertanya dengan semangat.
"Iya sayang." Jawab Raymond dengan tangan nakal yang mulai menjelajahi tubuh istrinya.
"Sayang, aku ingin menunjukkan mu sesuatu." Raymond berkata dengan serius.
"Apa?" tanya Vivian penasaran.
"Sekarang kita mandi dan bersiap siap. Setelah itu aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Ucap Raymond spontan menggendong Vivian menuju kamar mandi.
Mereka pun mandi bersama. Setelah selesai segera mereka bersiap. Setelah selesai semua nya, Raymond menggenggam tangan istrinya keluar dari kamar menuju ke mobilnya.
Kemudian ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang ia ingin tunjukkan ke Vivian. Tentu saja mata Vivian ditutup dengan kain.
"Sayang, apa kita masih lama?" Vivian mulai merengek merasa tidak nyaman karena mata nya ditutupi.
"Sebentar lagi sayang. Kau bahkan bisa bersabar menunggu ku menuntaskan permainan, maka sekarang juga harus bersabar." Ucap Raymond terkekeh dan mendapat cubitan dipaha nya.
"Aw sakit sayang. Garang diranjang saja sudah cukup." Lagi lagi Raymond terkekeh.
__ADS_1
"Kau ini benar benar Raymond si mesum." Ucap Vivian mengomeli suami nya.
"Sudah ku bilang aku begitu hanya kepada mu." Ujar Raymond membela diri.
Tak lama mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Raymond menuntun Vivian untuk turun dari mobil dan berjalan sedikit menjauh dari mobil nya.
"Kau siap sayang?" tanya Raymond antusias.
"Iya." Vivian juga mengangguk semangat.
Perlahan Raymond membuka penutup mata Vivian. Vivian mengerjapkan mata nya menyesuaikan pandangan nya dengan cahaya matahari.
Vivian takjub saat melihat sebuah rumah megah tepat didepan nya.
"Ini seperti ... " Vivian merasa familiar dengan rumah itu.
"Ayo kita lihat kedalam." Raymond menggandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam rumah itu.
Vivian memperhatikan dengan seksama setiap sudut ruangan rumah itu.
"Bukankah ini rumah yang aku desain untuk Tuan Wang waktu itu?" Batin Vivian saat melihat setiap sudut ruangan rumah itu sama persis dengan desain yang ia berikan pada Tuan Wang waktu itu.
"Apa kau suka sayang?" tanya Raymond memeluk istrinya dari belakang.
"Aku suka Ray, Sangat suka. Tapi bagaimana bisa?" tanya Vivian penasaran.
"Kejutan untuk mu." Raymond menjawab dengan bangga.
"Tapi ini sudah ku berikan pada Tuan Wang waktu itu." Vivian menjawab dan menuntut penjelasan.
"Dan Tuan Wang adalah paman si Jiro payah. Aku meminta tolong pada nya waktu itu." Raymond kembali menjelaskan.
"Apa kau tidak berpikir untuk apa seorang asing membeli hasil desain mu dengan syarat desain itu haruslah desain rumah impian mu. Itu terdengar sangat aneh bagi orang lain sayang." Raymond melanjutkan perkataannya.
"Tapi aku tidak berpikir sejauh itu." Vivian membela diri.
"Maka dari itu aku dengan mudah mengerjakan semua ini tanpa hambatan." Raymond sangat bangga pada dirinya sendiri.
"Terima kasih Ray. Ini sangat indah." Ucap Vivian berbalik lalu mengecup bibir istrinya.
"Sama sayang. Tapi aku ingin lebih dari sekedar kecupan." Pinta Raymond dengan nada menggoda.
"Sayang ... " Vivian hendak mengomeli suaminya, tapi terhenti saat tangannya ditarik oleh Raymond menuju kamar utama, kamar untuk mereka berdua.
"Kita resmikan rumah ini dengan memadu kasih disini sayang." Usul Raymond.
Segera ia pun mencumbu mesra istrinya, mendapat persetujuan dari Vivian akhirnya mereka pun meresmikan rumah baru mereka dengan percintaan panas.
*****
Cerita ini belum ending.
Makasih buat dukungan kalian, jangan lupa untuk selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah.
__ADS_1
Mampir juga dan ramaikan karya ku yang judul nya " IF LOVE "
Semangat semua dan selalu jaga kesehatan kalian yah.