Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Membujuk


__ADS_3

"Joyce Joyce" Max berteriak memanggil Joyce. Ia baru pulang dari rumah sakit. Ia sedang memendam amarah dan cemburu.


"Iya Louise ada apa?" tanya Joyce dengan suara manja dan berlari memeluk Max. Mac menatap Joyce nyalang. Seketika ia langsung menjambak rambut Joyce dengan kuat membuat kepala Joyce mendongak dan meringis kesakitan. Seringai tipis muncul menghiasi wajah tampan Max namun bekas luka yang tidak akan pernah hilang dari wajah nya itu menambah kesan menakutkan pada wajahnya.


Lalu ia langsung ******* bibir Joyce dengan kasar membuat Joyce susah bernafas. Joyce berusaha untuk melepaskan diri namun hal itu justru membuat Max semakin brutal. Max benar-benar butuh pelampiasan sekarang. Ia lalu menarik kasar tangan Joyce menaiki tangga dirumah nya itu menuju kamar nya. Setelah didalam kamarnya tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuh Joyce dan melempar nya dengan kuat ke ranjang. Joyce mulai ketakutan.


Max biasa memang memperlakukan nya dengan kasar tapi tidak sekasar hari ini. Ia langsung menindih tubuh Joyce lalu merobek paksa pakaian Joyce dan terus ******* bibir mungilnya. Lalu turun ke leher Joyce, ia menggigit leher putih nya itu dengan kasar. Lalu semakin kebawah sampai pada dua gundukan milik Joyce yang terpampang nyata dihadapan nya. Dimainkan dengan kasar gundukan itu, wajah Joyce sudah merah bukan karena nafsu melainkan rasa takut dan sakit yang Max berikan.


Max menghentikan permainan nya sebentar lalu ia membuka pakaiannya dan melempar nya sembarangan. Tanpa menunggu ia langsung menancapkan milik nya pada Joyce dengan kasar membuat Joyce berteriak kesakitan. Ia bukan nya iba malah semakin bersemangat menyakiti Joyce. Dihentak nya dengan sangat kuat milik nya. Joyce menangis menahan sakit namun ia seakan buta dan tidak mempedulikan keadaan Joyce.


"Sakit Louise aku mohon hentikan" ucap Joyce tertatih menahan sakit. Namun bukannya kasian lagi-lagi ia semakin kasar dan kasar pada Joyce. Joyce hanya bisa pasrah dan berharap semua ini cepat selesai. Jika biasanya dia selalu memohon untuk lebih walaupun Max kasar tapi tidak kali ini. Namun harapan nya sia-sia, entah kekuatan dari mana yang Max dapatkan yang membuat dia sangat kuat malam ini. Hingga setelah dua jam ia baru merasakan pelepasan.


Saat ia hendak pergi ia melihat ada bercak darah tanda bahwa milik Joyce lecet karena ulah nya. Bukan nya iba ia justru menampilkan seringai menakutkan. Ia lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai dan berpakaian ia lalu melangkah keluar namun sebelum itu ia menoleh sebentar melihat wanita yang sudah ia tahan dan ia siksa beberapa waktu ini. Lagi-lagi ia menyeringai melihat Joyce meringkuk ketakutan dan menangis tersedu-sedu.


"Kau memang pantas mendapatkan nya jalang. Tunggu saja aku akan memberi mu yang lebih hebat dari yang tadi" ucapnya lalu ia pun pergi meninggalkan Joyce dalam keadaan mengenaskan tanpa pakaian.


Tujuan nya sekarang adalah Vivian. Ia ingin menjaga Vivian dan menemaninya walau dari jarak jauh. Saat ia sudah berada didepan pintu ruang rawat Raymond, ia dapat melihat gadisnya tengah tertidur dengan posisi duduk dan ranjang Raymond sebagai tumpuan nya. Ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar itu lalu berjalan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Saat sudah didepan Vivian, ia memperhatikan dengan intens wajah sembab Vivian. Dahinya mengernyit seakan merasa khawatir, tangan nya setia menggenggam tangan Raymond.

__ADS_1


"Vi, seandainya aku yang terbaring disini apa kau akan memperlakukan diriku sama? Apa kau juga akan mengkhawatirkan seperti ini? Apa kau juga akan menangis seperti ini untuk ku?" gumam Max sambil menyisihkan beberapa helai anak rambut yang menutupi wajah cantik Vivian. Bolehkah Max merasa iri sekarang? Bolehkah jika Max ingin berada di posisi Raymond saat ini?.


Ia lalu keluar dari ruangan itu dan duduk dikursi tunggu yang ada di depan ruangan. Ia menengadahkan kepala nya ke atas, kedua tangan nya menjadi tumpuan dibelakang kepalanya. Ia tersenyum miris mengenang masa-masa indahnya dulu saat bersama Vivian dan memikirkan Vivian yang kini sudah mencintai laki-laki lain. Apa pantas ia merasa sedih? Apa pantas ia merasa terluka?. Jika bisa mengulang waktu mungkin ia saat itu akan melepaskan dendamnya dan segera menemukan Vivian. Sehingga Vivian tidak perlu jatuh cinta kepada laki-laki lain.


Ia dengan setia duduk di depan ruangan itu seakan ia sedang menjaga Vivian walau dari jauh sampai tanpa sadar ia pun terlelap.


Tak terasa malam telah berlalu dan kini fajar telah menyongsong. Namun hal itu tidak dapat mengusik tidur lelap Max hingga ada seseorang yang membangunkan nya.


"Hei Tuan Louise bangunlah, apa kau semalaman tidur disini?" ucap seseorang itu yang tak lain adalah Jiro. Max masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Saat kesadaran nya sudah terkumpul, ia kemudian langsung beranjak meninggalkan Jiro dan Sion tanpa mengatakan apapun.


"Aneh" gumam Sion menatap kepergian Max.


"Nona Vivian, sebaiknya Nona diantar pulang dulu oleh Sion untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Biar aku yang menjaga Tuan Ray disini" ucap Jiro namun Vivian hanya menggeleng.


"Ayolah Nona. Jika Nona seperti ini nanti aku bisa dimarahi oleh Tuan Ray. Nona tahu kan jika Tuan sangat tidak suka melihat Nona bersedih apalagi sampai mengabaikan diri nona sendiri" ucap Jiro lagi berusaha membujuk Vivian.


"Kau benar. Aku tidak boleh membuat Ray kecewa" ucap Vivian tiba-tiba dan langsung melenggang keluar diikuti Sion dari belakang. Tinggallah Jiro sendirian bersama Tuan nya.

__ADS_1


"Tuan bangunlah. Apa kau tidak kasihan melihat ku eh maksud ku melihat Nona Vivian?" rengek Jiro pada Raymond.


"Aku mohon Tuan. Bisa-bisa aku gila jika kau tidur lama seperti ini. Otak ku memang cerdas tapi aku tidak sepintar dirimu. Apalagi jika aku harus menghadapi klien mu yang cerewet. Aku tidak akan sanggup" celoteh Jiro panjang lebar. Sebenarnya itu hanya akal-akalan nya saja, ia berusaha menyemangati Raymond dengan caranya sendiri.


"Tuan jika kau terus tidur dan tidak ingin bangun maka aku akan membawa Nona Vivian pergi jauh dari sisimu" ancam Jiro dan sukses membuat Raymond bereaksi walau hanya sebentar. Jiro yang melihat itu bersorak dalam hati nya.


"Saat mendengar nama Nona Vivian disebut kau cepat-cepat bereaksi Tuan. Apa sebegitu cinta nya kau pada Nona Vivian?" batin Jiro dalam hati nya.


"Ingat Tuan aku tidak main-main. Jika kau tidak segera bangun maka aku akan segera membawa Nona Vivian pergi jauh dari mu dan tidak akan ku ijinkan dia bertemu dengan mu lagi" ucap Jiro lagi menekan setiap kata nya dan berhasil membuat Raymond kembali bereaksi walau hanya sebentar.


**********


Always Thanks untuk para reader yang masih setia dengan Mr. Mafia or Mr. Psychopath?


Dukungan kalian sangat berarti buat ku.


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part. Serta tekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya.

__ADS_1


Follow IG ku @zml1104_ untuk mengetahui spoiler chapter selanjutnya.


__ADS_2