
"Ray, aku ingin ikut." Vivian merengek ingin ikut suaminya ke markas nya hari ini.
Setelah sekian lama tidak ada yang mengganggu ketenangan Raymond di dunia bawah, tiba tiba saja beberapa hari ini ada sekelompok tikus yang mencoba mengusik nya.
"Tidak sayang. Kau tidak bisa ikut. Aku akan menghukum para tikus tidak berharga. Tidak mungkin kau ikut." Ucap Raymond menolak keras.
Tak terasa kehamilan Vivian sudah memasuki bulan keempat. Perut rata nya sudah sedikit membesar.
"Aku mohon." Pinta Vivian memohon dan mengatupkan tangannya didepan wajahnya.
"Ya ampun wanita ini kenapa jadi menyebalkan sekali." Gerutu Raymond sengaja berharap istrinya marah dan langsung berlari ke kamar.
"Ayolah Ray, aku mohon. Aku sudah lama sekali tidak melihat mu menghukum orang." Ucap Vivian polos.
Raymond terbelalak tak percaya mendengar kalimat terakhir istrinya. Ia tahu istrinya memang suka dengan tontonan tontonan yang menguji nyali, tapi tidak percaya kali ini istrinya ingin menyaksikan secara langsung.
Hah
Raymond menghela nafas kasar.
"Mungkin ini efek ia mengidam." Batin Raymond dalam hati, mengingat beberapa keanehan istrinya yang terbilang ekstrim sejak kehamilan nya.
Pertama istrinya sering meminta pisau dan daging. lalu mencincang nya hingga halus. Kedua Vivian memaksa ingin menggoreskan pisau pada tubuh Raymond, mau tidak mau Raymond merelakan tubuhnya karena Vivian menangis menjadi jadi saat Raymond menolak nya. Masih banyak lagi yang lain.
Dan sekarang, istrinya ingin menyaksikan secara langsung dirinya menghukum para tikus tidak berguna itu. Benar benar sudah diluar nalar. Kadang Raymond berpikir, apakah istri mengandung seorang bayi manusia atau seorang monster, hingga ngidam nya ekstrim seperti itu.
"Baiklah baiklah. Kau boleh ikut. Tapi ingat untuk tidak macam macam." Ucap Raymond terpaksa menyetujui keinginan istrinya dengan syarat.
"Aku janji." Ucap Vivian bergelayut manja dilengan suaminya.
Raymond akhirnya membawa istrinya menuju ke markas nya. Sepanjang perjalanan Vivian tersenyum ceria sesekali bersenandung. Raymond menyetir sendiri.
"Sayang, aku harap ini yang terakhir kali nya kau mengidam ekstrim seperti ini atau aku akan gila nanti. Kau bahkan lebih kejam dari ku yang seorang mafia." Ucap Raymond memelas.
"Haha ini keinginan bayi kita Ray." Ucap Vivian tanpa rasa bersalah.
"Apa ada wanita hamil lain yang mengidam ekstrim seperti dirimu?" tanya Raymond bingung.
"Tidak ada. Hanya aku saja." Ucap Vivian lantang padahal ia juga tidak tahu apa ada wanita lain yang seperti dirinya sewaktu hamil.
Tak lama mereka pun akhirnya sampai di markas Raymond. Vivian berjalan dengan semangat, bahkan ia yang memimpin didepan.
"Waw keren." Ucap Vivian saat melihat para tahanan sudah babak belur dan terikat. Anak buah Raymond yang berada di sana melotot tak percaya mendengar perkataan istrinya atasan nya.
Vivian memutuskan untuk duduk di kursi kebesaran Raymond yang ada di balik ruangan yang hanya dibatasi oleh kaca transparan itu.
Raymond mulai menghukum para tikus yang mencoba mengusik nya itu dengan beberapa hukuman ringan seperti memotong jari, menggores san mengoyak kulit mereka, atau memotong tangan mereka.
Vivian hanya tertawa kecil melihat perbuatan suaminya bahkan kadang menggeleng seolah meremehkan.
__ADS_1
Ia menguap lebar melihat seolah bosan menunggu Raymond.
"Sayang, boleh aku melakukan nya?" tanya Vivian menadahkan tangannya meminta pisau yang dipegang oleh Raymond. Entah sejak kapan ia sudah berdiri didepan Raymond.
Semua yang ada di sana terbelalak mendengar perkataan Vivian. Tidak menyangka Nyonya yang mereka kenal lembut dan baik hati selama ini, saat hamil malah jadi menyeramkan.
"Tidak. Lebih baik kita pulang sekarang." Ucap Raymond menghentikan kegiatan nya dan menarik tangan Vivian keluar dari ruangan eksekusi nya.
"Kalian selesaikan sisa nya." Raymond berteriak memberi perintah pada para anak buah nya yang masih mematung karena kaget.
Vivian meronta lepas dan ingin kembali. Tapi Raymond menggenggam nya erat. Raymond rasanya sudah hampir kehilangan akal menghadapi keinginan gila istrinya.
Apa wajar seorang wanita hamil mengidam hingga seekstrim itu?
Segera Raymond menuntun Vivian masuk kedalam mobilnya kemudian ia juga masuk. Ia langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah nya. Vivian masih menatap kearah markas Raymond dengan tatapan kecewa.
"Seperti nya aku harus memanggil psikiater." Batin Raymond.
Ia mulai takut jika kejadian beberapa bulan lalu yang menimpa Vivian tanpa sadar mulai mengganggu kejiwaan Vivian.
"Aku lapar." Ucap Vivian tiba tiba.
"Kita makan setelah dirumah." Ucap Raymond singkat.
Vivian tersenyum. Ia kemudian tiba tiba memeluk erat tangan Raymond yang bebas. Raymond semakin bingung dibuat istrinya.
"Dream, apa kau sudah memasak?" Tanya Raymond saat berpapasan dengan Dream.
"Sudah Tuan." Ucap Dream sedikit menunduk.
"Kau temani istri ku makan dulu. Aku ada urusan sebentar." Ucap Raymond pada Dream.
Dengan senang hati Dream menemani Vivian, karena mereka memang sudah akrab seperti teman.
Raymond segera menuju ke ruang kerja nya. Dengan cepat ia meraih ponselnya untuk menghubungi Shen.
Panggilan terhubung.
"Shen, aku minta kau kirimkan aku psikiater terbaik dikota ini setengah jam lagi." Ucap Raymond langsung menutup panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari Shen.
Hati Raymond benar benar tidak tenang rasanya.
Sedangkan diruang makan Vivian sedang menceritakan kekesalan nya tadi pada Dream.
"Dream, aku sedih sekali tidak bisa menghukum para tikus itu." Ucap Vivian merengek sambil menyantap makanan nya.
Dream menelan kasar ludah nya mendengar perkataan Vivian.
"Ya ampun, sejak kapan Nona Vivian jadi menyeramkan seperti ini?" Batin Dream. Tenggorokan nya seperti tercekat, susah menelan air yang sudah masuk ke mulutnya.
__ADS_1
"Ya ampun Nona Vivian, jangan bersedih. Aku yakin Tuan Ray akan mengijinkan mu menghukum mereka yang lain nya nanti. Bahkan aku yakin Tuan Ray akan menyerahkan pada mu dari awal sampai akhir." Ucap Dream mencoba membujuk Nyonya nya itu.
"Benarkah?" tanya Vivian berbinar.
"Tentu saja. Mungkin." Ucap Dream lalu memelankan suaranya agar Vivian tidak mendengar kata terakhir nya.
Vivian langsung jadi bersemangat dan tidak muram lagi. Ia melahap dengan semangat dan menghabiskan semua makanan nya.
"Permisi, apa aku bisa bertemu Tuan Raymond? Beliau menyuruh Shen memanggil ku datang kemari." Ucap Seorang dokter tampan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"A sebentar, aku panggilkan." Ucap Dream hendak beranjak namun tidak jadi karena Raymond sudah turun kebawah duluan.
"Kau orang yang aku minta pada Shen?" tanya Raymond sanksi karena pria itu masih mudah dan tampan.
"Benar Tuan. Aku Jio." Ucap dokter tampan itu mengulurkan tangan nya.
"Ray." Ucap Raymond singkat.
Ia mempersilahkan Dokter Jio untuk masuk tanpa berbicara.
"Siapa yang akan ku periksa?" tanya Dokter Jio memandangi Raymond, Vivian, dan Dream secara bergantian.
"Sayang, kemarilah." Ucap Raymond melambaikan tangannya pada Vivian.
Vivian segera melangkah mendekati mereka.
"Istri ku." Jawab Raymond singkat dan memegang pundak Vivian dari belakang.
"Baiklah. Silahkan duduk." Ucap Dokter Jio meminta Vivian agar duduk.
Vivian pun menuruti. Dokter Jio menggunakan teknik Hypnotherapy pada Vivian dan menelusuri alam bawah sadar nya.
Raymond menanti cemas dengan hasil yang akan ia dapatkan nanti. Ia berjalan mondar mandir dengan pikiran kalut.
"Baiklah. Dalam hitungan ketiga kau akan tersadar setelah aku menepuk pundak mu." Ucap Dokter Jio.
Vivian terbangun setelah Dokter Jio melakukan aba aba yang ia ucapkan tadi.
"Bagaimana kondisi istri ku dokter?" tanya Raymond cemas.
********
Kira kira gimana jawaban Dokter Jio?
Jangan bosan nungguin update nya yah dan trus yuk beri semangat buat ku agar aku lebih semangat up buat kalian.
Tinggalkan komentar, like, vote, favorit, dan share yah.
Mampir juga di " IF LOVE "
__ADS_1