
Vanessa yang baru saja selesai bekerja segera berlari kecil menuju parkiran mobilnya.
"Huft, ya ampun kenapa malam ini dingin sekali?" Gerutu nya merasakan suhu kota yang tidak seperti biasanya.
Saat sudah sampai di dekat mobilnya, ia sedikit kaget melihat Max yang berdiri bersandar dimobilnya. Dua tangannya ia masukan ke saku celana nya, dan satu kaki nya diangkat seolah menginjak ban mobil Vanessa.
"Max? ada apa kau kesini?" tanya Vanessa saat ia sudah berdiri di depan Max.
Max tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah cantik yang sudah ia rindukan seharian ini.
"Aku merindukan mu." Ucap Max, kemudian meraih Vanessa kedalam pelukan nya.
Hangat, itu yang dirasakan Vanessa. Vanessa membalas pelukan nya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Max. Max memperat pelukan nya sambil mengelus rambut Vanessa.
"Aku juga merindukan mu Max." Ucap Vanessa, membuat Max tersenyum.
"Apa kau sudah makan?" tanya Max melonggarkan sedikit pelukan nya dan menatap dalam mata Vanessa. Vanessa hanya menggeleng.
Cup
Satu kecupan diberikan Max padanya.
"Ayo, aku akan membawa mu makan." Ucap Max. Ia pun membuka pintu mobil Vanessa dan menyuruhnya masuk.
"Ikuti mobil ku dari belakang." Ujar Max pada Vanessa, dan Vanessa mengangguk sambil tersenyum manis.
Setelah nya Max pun berlalu dengan diikuti oleh Vanessa. Entah apa yang akan Max tunjukkan pada nya dan kemana Max akan membawa nya. Bagi Vanessa selama itu bersama Max, ia tidak keberatan. Biarlah jika Vanessa dikatakan bodoh karena mencintai pria yang mungkin tidak mencintai nya.
Mobil Max berhenti didepan sebuah gerbang besar, namun bukan jalan masuk kedalam rumah ataupun restoran. Lebih tepatnya gerbang tanpa bangunan didalamnya. Vanessa juga menghentikan mobil nya disamping mobil Max. Max turun terlebih dulu dan segera menuju ke samping mobil Vanessa untuk membukakan pintu baginya.
"Ini dimana Max?" tanya Vanessa penasaran. Tampak di depan mereka seperti hanya ada gerbang besar dan hutan didalamnya.
"Ikuti aku." Ucap Max menggenggam tangan Vanessa. Vanessa hanya mengikuti pergerakan Max. Hingga akhirnya mereka tiba ditepi sebuah danau yang indah dan dihiasi lampu lampu kecil berwarna warni.
"Wah, ini indah sekali Max." Ucap Vanessa tertegun melihat pemandangan didepan nya.
__ADS_1
"Kau suka?" tanya Max memeluk Vanessa dari belakang. Vanessa mengangguk sambil mengelus tangan Max yang melingkar sempurna diperut nya.
Max meletakkan dagu nya di salah satu pundak Vanessa. Ia memejamkan matanya dan menghirup dalam aroma wangi tubuh Vanessa yang mampu membuat nya merasa tenang. Ia benar benar tidak tahu apakah ia mencintai Vanessa atau tidak.
Ia nyaman di dekat Vanessa. Ia ingin bersama Vanessa, tapi ia tidak ingin memaksa Vanessa. Ia tahu Vanessa mencintai nya, tapi ia tidak tahu dengan perasaan nya sendiri.
"Max, apa kita hanya akan melihat pemandangan indah ini sampai kenyang?" tanya Vanessa yang merasa lapar. Mac tadi memang menanyai dirinya tentang makan sesuatu kan?. Max terkekeh mendengar ucapan Vanessa.
"Ayo." Ucap Max memegang pundak Vanessa dengan kedua tangannya dsn menuntun nya berjalan kearah kanan danau.
Semakin melangkah, mereka semakin dekat pada sebuah meja yang dihiasi dengan kain putih dan taburan kelopak mawar merah di atasnya. Tidak lupa dua lilin ditengah meja yang mengeluarkan wangian menenangkan. Vanessa lagi lagi dibuat tertegun.
"Duduklah." Ucap Max menuntun Vanessa pada salah satu kursi dimeja itu. Setelah Vanessa duduk, ia pun ikut duduk di hadapan Vanessa.
Diatas meja sudah tersedia beberapa macam makanan yang menggugah selera. Vanessa tidak sabar untuk menyantapnya, namun tentu saja ia harus jaga imej sedikit.
" Makanlah." Ucap Max pada Vanessa.
Vanessa tersenyum dan mulai mencicipi makanan nya. Vanessa terbelalak tak percaya dengan rasa makanan nya yang lezat.
"Makanlah yang banyak." Ujar Max tersenyum.
Max senang melihat Vanessa bahagia karena hal kecil yang ia perbuat untuknya. Perasaan nya lagi lagi menghangat melihat raut bahagia Vanessa. Mereka melanjutkan kegiatan makan mereka dengan diselingi obrolan ringan.
#####
Raymond yang baru saja kembali dari bar berjalan sempoyongan masuk kedalam mansion nya.
"Vivian..Vivian." Ia berteriak memanggil nama Vivian.
Tentu saja tidak mendapatkan jawaban karena Vivian tidak di mansion nya dan sedang disekap oleh Max.
"Haha Jalang. Aku tahu kau sedang bersenang senang dengan brengsek itu." Ucap nya lagi dengan tawa menggelegar sambil menunjuk nunjuk ke salah satu tembok. Para bawahannya yang sedang berkumpul di mansion nya hanya bisa menggeleng miris melihat Tuan mereka.
"Aku akan membuat mu membayar semuanya Jalang murahan. Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Bahkan jika kau memohon untuk kematian mu, aku tidak akan memberikan dengan mudah." Lanjut nya lagi. Ia kemudian kembali melangkah sempoyongan menuju ke kamar nya.
__ADS_1
Brakk
Ia memukul cermin besar yang ada di kamarnya hingga retak. Belum merasa cukup ia kembali memukuli cermin besar itu hingga pecah dan jatuh berserakan. Tangan nya pun luka dan darah segar mengalir dari tangan nya.
Ia kemudian meraih salah satu serpihan kaca itu lalu berjalan mendekati foto pre wedding nya dan Vivian. Ia menggores wajah Vivian pada foto itu dengan serpihan kaca yang ia genggam.
"Jalang. Aku tidak percaya akhirnya kau mengkhianati ku dan menunjukkan taring mu yang sebenarnya." Ucap Raymond kemudian menusuk nusuk bagian runcing serpihan kaca itu diwajah Vivian.
"Pengkhianat, murahan. Aku mencintai mu tapi kau mengkhianati ku bahkan disaat Ayahku menghilang. Kau memakai kesempatan ini untuk bersenang senang dan menghancurkan ku. Aku tidak akan pernah mengampuni mu dan brengsek itu." Ucap Raymond, lagi dan lagi ia merusak foto pre wedding nya.
Pakkk
Ia melempar foto berukuran besar itu hingga bingkai nya rusak tak beraturan. Hancur, Raymond merasa sangat hancur tanpa mengetahui kebenaran yang sedang terjadi.
#####
Jika Raymond sedang berkutat dengan amarah nya dan Max sedang berbahagia dengan Vanessa. Maka berbeda dengan Vivian.
Vivian sedang menangis terluka meratapi keadaan nya. Ia merasa bersalah pada Raymond, ia menyesal tidak terus terang pada Raymond hingga akhirnya membuat dirinya terperangkap begini.
"Maafkan aku Ray. Maafkan aku." Hanya itu yang berulang kali terucap dari bibir Vivian. Ia tidak tahu apakah ia bisa lepas dari jerat Max atau tidak, tapi ia hanya berharap Raymond bisa memaafkan nya sekalipun nanti dirinya berakhir di tangan Max.
Visual Vanessa
******
Sekian dulu untuk chapter ini.
Selalu tinggalkan jejak komentar, like, vote dan favorit cerita nya ya.
Ramaikan karya ku yang judul nya "IF LOVE" yuk.
Makasih untuk setiap dukungan kalian. Sayang kalian semua.
__ADS_1