
Note : Chapter ini mengandung adegan yang hanya diperuntukkan pasangan yang sudah menikah. Yang belum nikah minggir dulu jauh jauh!!!
Pagi ini tampak Raymond dan Vivian tengah bersiap untuk berangkat ke bandara. Mereka memilih kota Paris sebagai tujuan wisata bulan madu mereka. Kota dengan sejuta keindahannya dan keromantisan nya.
"Ayo sayang segera, aku tidak ingin melewatkan waktu berharga kita." Ucap Raymond bersemangat.
"Iya, aku juga sudah cepat ini." Jawab Vivian setengah mengomel.
"Bodoh. Harus nya tadi malam kau berkemas Vi, dan bukan memikirkan hal yang bukan bukan." Gerutu Vivian sambil berkemas. Raymond hanya tersenyum sambil membantunya.
"Sudah sudah, ini sudah cukup. Jika nanti kita butuh sesuatu yang tidak kita bawa, kita bisa membeli nya." Ucap Raymond menghentikan pergerakan Vivian.
Satu tangannya menggenggam tangan Vivian, dan satunya lagi menyeret koper mereka. Dengan segera mereka pun menuju bandara. Jiro yang menyetir mengantar Tuan dan Nyonya nya menuju bandara.
Tepat pukul sepuluh mereka tiba di bandara.
Jika di Shanghai menunjukkan pukul sepuluh pagi, maka berbeda di Paris yang masih menunjukkan pukul tiga subuh. Mereka berangkat menggunakan Jet Pribadi.
"Tuan apa aku tidak boleh ikut?" Pinta Jiro memelas.
"Memang nya jika kau ikut, kau akan berbuat apa disana?" tanya Raymond ketus. Ia kesal, bisa bisanya Jiro mengajukan diri nya untuk ikut. Padahal ia jelas tahu ini adalah bulan madu perdana Tuan nya.
"Aku bisa banyak hal Tuan. Aku bisa membawakan koper mu, membeli kan kalian makanan, memayungi kalian jika hujan, dan ... " Ucapan Jiro terhenti saat Raymond memotong nya.
"Sudah, jangan banyak berharap. Perusahaan ku lebih membutuhkan dirimu daripada aku." Ucap Raymond memegang pundak Jiro sengaja memasang wajah memelas.
"Tenang Jiro, jika nanti kau dan Dream menikah aku akan memberi mu fasilitas untuk berbulan madu ke Paris juga. Aku akan membiayai semuanya." Ucap Vivian ditengah perbincangan mereka. Vivian hanya tersenyum dari tadi melihat perdebatan antara bos dan bawahan itu.
"Benarkah Nyonya?" tanya Jiro semangat. Vivian mengangguk.
"Syukurlah ... " Ucap Jiro semangat.
"Jangan sayang, jangan menghamburkan uang mu untuk nya. Tidak ada manfaatnya." Ucap Raymond sengaja menyakiti hati Jiro. Raymond bingung kenapa orang orang terdekat nya tidak ada yang sepertinya.
Jiro yang polos dan blak blakan, Sion yang pecinta wanita, dan Shen? Shen yang benar benar tidak ada akhlak nya jika sudah berbicara dengannya. Selalu melantur dan keluar dari topik.
"Tidak sayang. Tentu saja aku tidak akan menghamburkan uang ku. Tapi aku akan memakai uang mu." Ucap Vivian polos sambil tersenyum manis mengedipkan kedua mata nya lucu.
Raymond yang melihat itu kemudian mendekat kan wajahnya ditelinga Vivian dan berbisik "Jika ingin menggoda ku, nanti saja setelah kita sampai disana."
Vivian langsung bungkam seribu bahasa menunduk malu. Sedangkan Raymond yang melihat nya hanya terkekeh. Setelah menunggu Jet Pribadi yang akan ditumpangi mereka selesai memeriksa seluruh sistem didalamnya, mereka pun berangkat. Kurang lebih tiga belas jam untuk mereka sampai di Paris.
Setibanya di Paris, hari masih sore. Raymond dan Vivian segera menuju rumah minimalis yang sudah Raymond beli sebelumnya. Raymond hanya akan memberikan yang terbaik untuk istrinya tanpa membuat istrinya kerepotan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ia menggenggam posesif tangan istrinya gadis yang sebentar lagi akan menjadi wanita nya. Ia sangat bahagia. Tidak menyangka perkataan Raymond kecil dulu menjadi kenyataan untuk menjadikan Vivian kecil sebagai istrinya.
"Sayang aku sangat bahagia." Ucap Raymond mengecup punggung tangan Vivian. Satu tangannya sibuk memutar setir mobil nya.
"Aku juga Ray." Ucap Vivian tersenyum manis.
"Aku berharap tidak ada lagi yang mengusik ketenangan kita." Batin Vivian.
Tidak lama mereka pun sampai di rumah nya. Segera Vivian berlari kecil memasuki rumah itu. Sedangkan Raymond menurunkan koper nya dari bagasi mobil. Tujuan terbesar dalam hidupnya saat ini adalah kebahagiaan istrinya dan membuat cucu untuk Ayahnya.
"Sayang, kau mau berjalan jalan atau istirahat dulu?" tanya Raymond melihat semangat istri kecilnya.
"Aku ingin langsung istirahat dulu. Aku sangat lelah." Ucap Vivian. Mereka sebenarnya sama sama merasakan lelah.
"Baiklah. Kau duluan saja. Aku akan menyusul." Ucap Raymond mengecup sekilas bibir istrinya. Dan segera Vivian pun menuju ke kamar mereka.
Rumah minimalis yang hanya memiliki dua kamar tidur dengan kamar mandi didalam nya, dan satu kamar mandi diluar. Dapur sederhana dan ruang santai. Raymond sengaja membeli rumah minimalis itu untuk mempermudah pergerakan mereka.
Setelah selesai mengemas barang barang nya, Raymond pun segera bergabung dengan istrinya di ranjang. Tak lama mereka pun terlelap hingga pagi. Mereka benar benar kelelahan karena perjalanan panjang itu.
Pagi telah menjemput. Vivian kini sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum nanti mereka akan jalan jalan.
"Wangi sekali." Ucap Raymond memeluk istrinya dari belakang. Bau shampo dari rambut Vivian yang masih sedikit basah begitu membuat Raymond tergoda. Ia mulai mencium leher istrinya sesekali menggigit kecil.
Segera ia mencium bibir mungil istrinya dan membawa tangan Vivian memeluk lehernya. Ia menggendong Vivian untuk duduk di atas meja dapur. Bibirnya terus menelusuri tubuh Vivian. Vivian yang kala itu hanya mengenakan dress lengan sejari pun sukses menggoda Raymond.
Tangan Raymond mulai bergerak aktif menjelajahi tubuh istrinya. Vivian seolah tersihir dan tidak menolak. Ia kini malah membuka kaki nya mengapit badan kekar Raymond, sehingga Raymond lebih mendekat kepadanya.
"Sayang boleh aku melakukan nya?" Bisik Raymond ditelinga Vivian. Kemudian ia menggigit kecil telinga Vivian tanpa menunggu jawaban istrinya. Ia mulai membuka retsleting dress Vivian yang kebetulan berada di punggung.
"Sayang bolehkah aku melakukan nya?" tanya Raymond lagi memperhatikan wajah sayu istrinya yang mulai terbakar gairah akibat perbuatannya.
"Ray aku ... " Vivian tidak melanjutkan perkataannya dan hanya mengangguk.
Mendapat persetujuan, Raymond langsung mencium bibir istrinya dengan panas dan menggendong istrinya kembali kekamar. Ia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dan membuka dress yang dikenakan istrinya. Raymond saat itu bertelanjang dada.
Ia terus menciumi bibir istrinya dengan sesekali memainkan lidahnya didalam mulut Vivian. Kemudian ciuman nya mulai turun ke leher Vivian dan tangan nya mulai bergerak membuka tautan penutup dada istrinya.
Setelah berhasil, ia takjub melihat keindahan milik istrinya itu. Ia mulai memainkan nya dengan mulut nya dan satu tangannya meremas bagian sebelah nya. Sungguh membuat nya mabuk kepayang.
"Ray ah ... " satu desahan kecil lolos dari bibir istrinya.
Raymond tersenyum, ia kemudian melanjutkan aksi nya kebawah. Ia memainkan milik istrinya menggunakan mulut nya dan tangannya selalu meremas gundukan istrinya. Raymond melakukan semuanya dengan lembut.
__ADS_1
"Akhh Ray aku ... " Ucap Vivian merasakan kenikmatan. Raymond lagi lagi tersenyum. Ia menghentikan kegiatan nya dan menatap wajah istrinya yang sudah sayu karena gairah.
"Kau siap sayang?" tanya Raymond dan hanya dibalas anggukan oleh istrinya.
Dengan perlahan ia mulai menerobos milik istrinya yang masih sempit.
"Akh sakit Ray ... " Ucap Vivian saat suaminya mulai menerobos milik nya.
"Tahan sayang, ini hanya sebentar." Ucap Raymond sambil mencium sesekali menjilat leher istrinya. Dengan perlahan ia menghentakkan milik nya pada istrinya.
Sesuai apa yang dikatakan Raymond, perlahan Vivian mulai tidak merasakan sakit lagi. Ia mulai merasakan nikmat.
"Bagaimana sayang apa masih sakit?" tanya Raymond memandangi wajah cantik istrinya.
"Tidak Ray, aku akh ... " Desahan lolos lagi dari bibir istrinya membuat Raymond semakin bersemangat menghentakan miliknya.
"Panggil nama ku sayang." Pinta Raymond disela sela kegiatan mereka.
"Ray akhh ... " Ucap Vivian terus mendesah. Ia tidak menyangka walau ini pertama kali suaminya melakukan hal itu tapi suaminya sangat hebat. Dan ia pun dengan cepat dapat menikmati permainan suaminya dan mengimbangi nya.
"Ouh sayang ini sangat nikmat ... " Ucap Raymond terus menghentak miliknya membuat istrinya terus mendesah dibawah nya.
Vivian hanya diam dan terus mendesah menikmati hujaman dari suami tercinta nya. Raymond semakin menghentak kuat miliknya membuat istrinya menggila dan akhirnya mereka mencapai pelepasan pertama.
Raymond rebah di samping istrinya. Ia kemudian menatap wajah istrinya yang merona malu. Ia bahagia karena memberikan yang terbaik untuk istrinya dan mendapatkan yang terbaik dari istrinya.
"Terima kasih sayang." Ucap Raymond kembali mengecup bibir istrinya sekilas. Vivian hanya mengangguk.
Raymond kemudian menggendong Vivian ala bridal style menuju kamar mandi. Mereka pun mandi bersama tanpa berbuat apapun. Raymond ingin menabung nya untuk dilanjutkan nanti malam agar lebih panas.
*******
Weleh weleh udah jadi pria dan wanita seutuhnya mereka sekarang yah.
Babang Raymond pake acara nabung segala, enggak pengen cepet cepet dapet Raymond junior nih, hehehe.
Makasih ya reader yang tersayang selalu setia menunggu update dari "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?"
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak komentar berupa kritik atau saran dan juga like nya setiap kalian selesai membaca satu part.
Favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya, Vote cerita ku dan berikan rate bintang 5, 4, 3 jangan lupa.
Mungkin cerita ku tidak sebagus yang lainnya tapi aku berusaha memberi yang terbaik untuk kalian.
__ADS_1
Sayang kalian semua.