
"Paman, Raymond" Shen menghentikan perkataan nya.
"Ada apa dengan Raymond? katakan Shen" ujar Harley sedikit membentak.
Hah
Shen menghela nafas kasar.
"Raymond mengalami syok pasca terkena tembakan dan ditambah ia juga kehilangan banyak darah. Sehingga kemungkinan nya untuk dapat pulih sangat kecil. Jika ia dapat melewati masa kritis nya malam ini maka kemungkinan ia untuk pulih akan meningkat" jelas Shen dengan berat hati.
"Ray" ucap Vivian pilu.
"Untuk saat ini Ray belum bisa ditemui. Aku akan kembali untuk memeriksa kondisinya nanti" ucap Shen lalu melangkah pergi meninggalkan mereka yang ada di sana.
"Jangan Ray. Jangan sampai kau juga meninggalkan ku" ucap Vivian dan setia memandangi Raymond yang terbaring tak berdaya melalui kaca transparan yang terdapat dipintu ruang operasi. Raymond belum dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang belum stabil. Harley hanya terduduk lemas dikursi tunggu. Jiro dan Sion tak berani bersuara karena bagaimanapun mereka tetap merasa bersalah karena sudah lalai melindungi Tuan mereka. Max entah kemana dan Rex mengepalkan tangan nya kuat memendam rasa bersalah karena telah melukai Raymond.
"Tuan minumlah dulu" ucap Ryan yang baru sampai dengan memberikan sebotol air mineral kepada Harley dan untuk yang lain nya. Harley hanya menerima nya tanpa meminumnya. Ia sangat takut kehilangan putranya, nyawanya yang sudah ia jaga dan lindungi selama ini. Setelah istrinya pergi dengan pria lain ia memutuskan untuk menjaga putranya sendirian dan bekerja keras membangun kembali bisnisnya yang sudah bangkrut. Penyesalan terbesar nya adalah ia gagal mencegah putranya untuk masuk kedalam dunia hitam.
Max yang baru saja kembali kerumah sakit merasa aneh saat melihat semua yang ada disana duduk tertunduk lemas. Vivian tidak menangis lagi, namun tetap saja mereka menampakkan raut kesedihan.
"Ayah bagaimana keadaan Raymond?" tanya nya pada Harley.
"Raymond kritis" jawab Harley singkat.
Ada perasaan lega saat mendengar bahwa Raymond kritis. Biarlah ia dikatai jahat atau tidak punya hati. Setidaknya selama Raymond kritis ia bisa dekat dengan Vivian. Siapa tahu dia bisa mendapatkan hati Vivian kembali. Ia hanya melangkah dan duduk di samping Vivian berhadapan dengan Harley. Ia lalu menggenggam erat tangan Vivian membuat Harley yang melihat nya merasa aneh. Namun Harley berusaha untuk berpikir positif. Keselamatan putranya lebih penting dari apapun untuk saat ini.
"Aku lapar sekali" batin Jiro menepuk perutnya sambil memasang tampang memelas menatap Sion. Sion memutar malas kedua bola matanya. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu, sahabat nya itu benar-benar tidak tahu tempat dan waktu. Keadaan seperti sekarang bisa-bisa nya ia masih memikirkan perutnya.
__ADS_1
"Jiro pergilah bersama Sion dan belikan makanan untuk semua orang yang ada disini" ucap Harley memberi perintah. Jiro menahan senyumnya, ia benar-benar beruntung kali ini. Ia lalu melangkah diikuti Sion. Saat sudah cukup jauh Sion menepuk kepala belakang Jiro dengan kesal.
"Apa?" tanya Jiro mengusap kepalanya yang sakit karena pukulan Sion.
"Kau ini cobalah untuk melihat tempat dan keadaan. Saat seperti ini bisa-bisanya kau lapar dan ingin makan" ucap Sion mengomeli Jiro.
"Ya maaf. Mau bagaimana lagi, aku bisa hidup tanpa wanita tapi tidak bisa hidup tanpa makanan" ucap Jiro sambil terkekeh sedang Sion hanya menggeleng tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu. Memang benar apa yang dikatakan Jiro dan bahkan prinsip dan kelakuan nya sangat berbanding terbalik dengan Sion. Jika Sion sering menghabiskan malam dengan perempuan yang berbeda-beda maka tidak dengan nya. Tetapi mereka akan sangat serius jika sudah berhadapan dengan Raymond.
"Jiro apa kau menyukai sejenis mu?" tanya Sion saat mereka sedang menunggu pesanan mereka dibuatkan. Jiro dibuat bingung sebentar dengan pertanyaan dari Sion.
"Hem yah. Sejujurnya aku sangat menyukai mu" ucap Jiro sambil meraba dada Sion sengaja saat ia menyadari arti pertanyaan Sion.
"Sial. Jangan menyentuh ku" ucap Sion lalu menepis kasar tangan Jiro.
"Hahaha" Jiro tertawa terbahak-bahak saat ia sudah berhasil mengerjai sahabatnya itu. Jiro memang gak punya akhlak.
"Jangan berani kau tertawa didepan Tuan Harley seperti itu" titah Sion serius dan diangguki Jiro.
"Ya ya dan siap-siap saja kau terkena penyakit" timpal Jiro malas.
"Kau tahu aku tidak ingin memberikan yang bekas untuk istri ku kelak" ucap Jiro tersenyum malu
"Menjijikan" timpal Sion lalu keduanya tertawa bersama. Benar-benar ya Jiro dan Sion, Tuan nya sedang sekarat dan mereka bisa-bisanya tertawa.
"Pesanan nomor empat puluh" terdengar suara wanita dari kasir menyebut nomor pesanan mereka.
Sion lalu melangkah menuju kasir untuk mengambil pesanan mereka. Ia mengambil pesanan nya lalu beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar panggilan wanita yang melayani nya tadi. Ia kemudian berbalik dan menatap wanita itu dengan heran.
__ADS_1
"Ini untuk mu Tuan. Hubungi aku jika kau butuh layanan tambahan" ucap wanita itu tersenyum genit sambil memberikan kertas berisi nomor ponselnya kepada Sion.
"Baiklah" ucap Sion tersenyum lalu melangkah pergi.
"Ini untuk mu" ucap Sion memberikan kertas tadi pada Jiro.
"Tidak penting" timpal Jiro menepis tangan Sion yang memegang kertas tadi. Ia malah merebut kantong berisi makanan yang dibawa Sion dan mencari-cari makanan miliknya. Setelah berhasil ia kemudian membuka bungkusan nya dan langsung melahapnya. Ia tadi memesan burger berukuran jumbo.
"Aku tidak butuh belaian dari wanita lain, aku hanya membutuhkan Dream ku tercinta" ujar nya melanjutkan pembicaraan tadi sambil merentangkan tangan nya seolah akan memeluk seseorang.
"Sebelum kau aku akan menikmati nya dulu" ucap Sion menggertak sahabatnya.
"Lakukan saja maka kepala mu akan aku pajang dikamar ku" ancam Jiro dengan nada mengerikan walaupun ia tahu Sion tidak mungkin melakukan itu.
Mereka kembali melanjutkan langkah mereka menuju rumah sakit. Mereka hanya berjalan kaki karena memang jarak nya tidak terlalu jauh. Namun saat mendekati ruang operasi tempat Raymond ditangani tadi mereka kaget melihat para dokter yang sedang kalut dan keluar masuk dari ruangan itu. Terlihat Harley yang tengah memeluk Vivian yang sedang menangis, Max dan Rex yang sedang mondar mandir seperti orang kebingungan.
"Ada apa?" tanya Jiro pada Max saat mereka sudah mendekat.
"Kesadaran Raymond menurun dan ia mengalami syok lagi" ucap Max menjelaskan dengan nada yang sulit diartikan.
Jiro dan Sion terbelalak mendengar penuturan Max. Jiro terduduk lemas dikursi tunggu sedang Sion tanpa sengaja menjatuhkan bungkusan makanan yang ia bawa tadi.
"Tuan" lirih Jiro menahan air matanya.
*************
***Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan Mr. Mafia or Mr. Psychopath?.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part yah.
Follow IG ku @zml1104_ untuk mendapatkan spoiler chapter selanjutnya***.