Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 9 - Kelulusan Raiyan dan Masa Lalu yang Terkuak


__ADS_3

NOTE : Aku ada nulis cerita baru judulnya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)" **atau kalian bisa langsung klik di bio aku aja. Tinggalkan jejak komentar dan like yah.


...~ Happy Reading~...


.


.


.


.


3 bulan setelah kematian Emily**


"Selamat untuk kelulusan mu Rai." Ucap Harley.


Harley yang sudah renta itu tidak menyangka masih bisa menyaksikan acara wisuda cucu sulung nya.


"Terima kasih kasih kakek." Raiyan tersenyum manis.


"Selamat untuk kelulusan mu Rai. Papa harap setelah ini kau bisa memimpin perusahaan dengan baik." Ucap Raymond.


"Baik Pa." Ucap Raiyan.


"Rai anak mama. Selamat untuk kelulusan mu. Mama harap setelah ini kau tidak mengecewakan mama dan jadilah pria dewasa. Segera cari menantu untuk mama." Kini Vivian yang bersuara.


"Terima kasih Ma." Ucap Raiyan.


"Kakak, selamat." Ayvin berucap senang.


"Terima kasih adik kecil." Raiyan mengacak rambut Ayvin.


"Rai..Rai..Rai.." Ketiga sahabat nya memanggil nya bersamaan.


"Hei." Mereka saling memberi salam persahabatan mereka.


"Ayo kalian berfoto dulu untuk jadi kenangan kalau kalian pernah mudah." Ajak Vivian sengaja mengejek mereka berempat.


Mereka pun menuruti permintaan Vivian.


Krek


Bunyi kamera.


"Wah bagus sekali." Vivian memuji hasil foto nya.


Kemudian mereka berempat satu keluarga dan Harley berfoto bersama.


Bergantian dengan yang lainnya.


Tidak terasa Mereka semua telah menyelesaikan pendidikan Strata Satu dan sebentar lagi akan terjun ke dunia kerja ataupun meneruskan usaha keluarga mereka seperti Raiyan.


"Dero, ayo Papa mau bicara sama kamu." Jiro merangkul pundak putranya lalu pergi dari tempat itu dan agak menjauh dari mereka.


"Dero, Papa harap setelah ini kau bisa lebih dewasa. Papa tidak ingin kau menjadi pria jahat dan brengsek." Jiro menasehati putra nya.


"Tenang saja Pa. Bukankah aku selama ini juga tidak membuat masalah yang berlebihan." Ucap Dero membela diri.


"Papa hanya tidak ingin kau seperti mantan pengawal Mama Vivian dulu." Ucap Jiro mengingat tentang Max.


"Memang nya dia kenapa?" Dero bertanya penasaran.

__ADS_1


"Dia menggunakan cara yang salah untuk memaksa Mama Vivian mu agar menjadi miliknya. Menjebak Mama Vivian, lalu menyetubuhi nya secara paksa." Dero menjelaskan dengan suara sendu.


"Jahat sekali. Tapi aku berjanji aku tidak akan seperti itu Pa." Ucap Dero percaya diri.


"Katakan siapa pria itu?" Raiyan yang entah sejak kapan berada di belakang mereka langsung datang dan menghampiri serta mencengkeram kerah baju Jiro.


"Rai, itu semua masa lalu. Lagi pula Mama mu sudah memaafkan nya." Jiro berusaha menenangkan Raiyan.


"Rai tenang dulu." Dero hendak memisahkan Raiyan dari Ayahnya tapi malah didorong oleh Raiyan dengan sangat kuat hingga terpental ke belakang.


"Katakan siapa pria itu?" Raiyan menggeram tapi berusaha menahan diri untuk tidak memukul Jiro.


"Jangan seperti ini Rai. Jika Mama mu tahu dia akan bersedih." Jiro masih saja mencoba membujuk Raiyan.


"Itu urusan ku. Katakan saja siapa pria itu?" Raiyan menuntut jawaban.


"Max. Namanya Max Jiang." Jiro pasrah karena tahu tidak mungkin bisa lari dari kejaran Raiyan.


"Kapan itu terjadi?" Raiyan bertanya kembali.


"Hah, itu tidak penting. Aku pasti akan membalas rasa sakit Mama ku." Tanpa menunggu jawaban Jiro, Raiyan melepaskan cengkeraman pada kerah baju nya dengan kuat hingga ia terjungkal.


Tujuan Raiyan adalah Mamanya. Saat menemukan keberadaan Vivian, segera ia menghampiri Vivian dan memeluk erat Ibunya.


"Maafin Rai, Ma. Harusnya Rai tahu lebih awal." Ucap Raiyan.


"Hei, kau kenapa?" Vivian kebingungan.


"Rai janji, Rai akan membalas rasa sakit itu untuk Mama." Ucap Raiyan lagi.


Deg


"Apakah Rai sudah tahu?" Batin Vivian.


Dia tidak ingin anak anak nya sampai tahu masa lalu nya, bukan karena malu tapi menurut nya itu sudah tidak penting untuk dibahas.


Apalagi dia tahu watak keras putra sulung nya yang sangat melindungi keluarga nya.


"Rai kau kenapa?" Vivian berharap Raiyan jujur agar bisa menghentikan nya.


Tapi Raiyan malah melepaskan pelukan nya dan melangkah pergi.


Vivian segera mengejarnya berharap bisa mencegah nya.


"Rai jangan lakukan sesuatu yang berbahaya. Jangan Rai." Vivian menatap khawatir pada putranya. Air mata nya mulai menetes. Sungguh hal yang Vivian takutkan selama ini akhirnya terjadi.


Raiyan mendekati Ibunya dan menghapus air mata Ibunya.


"Aku janji Ma. Aku tidak akan membiarkan orang jahat itu bahagia begitu saja." Raiyan kemudian mengecup sekilas kening Ibu nya dan berlalu pergi tanpa menghiraukan jeritan ibunya yang memanggil nama nya.


Tidak ada yang bisa menghentikan Raiyan jika dirinya sudah bertekat.


"Ada apa sayang?" Raymond menghampiri istrinya saat melihat istrinya menangis histeris.


"Raiyan. Raiyan pergi. Dia sudah mengetahui apa yang selama ini kita tutupi." Ucap Vivian tersedu.


"Bagaimana bisa dia mengetahui nya?" Raymond bertanya bingung sambil memeluk istrinya.


"Aku tidak tahu. Aku ingin Raiyan kembali. Aku tidak ingin Raiyan melakukan sesuatu yang berbahaya. Bawa Raiyan kembali Ray, aku mohon." Pinta Vivian pada suaminya.


"Kau tenanglah dulu. Aku akan pikirkan cara untuk membujuk nya." Ucap Raymond padahal ia sendiri pun tahu tidak mungkin bisa menghentikan Raiyan.

__ADS_1


"Ray ma maafkan aku." Jiro menghampiri mereka dari belakang.


"Ada apa?" Raymond bertanya bingung.


"Tadi aku menasehati Dero dengan membuat perbandingan pada Max dulu dan ternyata Raiyan mendengar semuanya." Ucap Jiro sedikit takut.


"Kenapa kau bisa ceroboh seperti itu Jiro. Aku sudah bilang jangan pernah menyebut hal itu lagi." Raymond geram.


"Aku minta maaf. Aku benar benar tidak sengaja." Pinta Jiro.


"Sudah sudah. Tinggalkan kami sendiri. Kau urus saja urusan mu dan keluarga mu." Titah Raymond.


Jiro akhirnya memilih pergi sesuai perintah Raymond.


"Mama." Ayvin menghampiri kedua orang tua nya.


"Ayvin." Vivian memeluk erat putra bungsu nya.


"Bantu Mama vin. Bantu Mama bawa kakak mu kembali." Ucap Vivian.


Ayvin terdiam. Secara garis besar Ayvin sudah mendengar semuanya.


"Maaf Ma. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Kita semua tahu kakak itu seperti apa. Jika dia sudah bertekat tidak ada yang bisa menghentikan kakak." Ucap Ayvin seolah kehilangan harapan.


Vivian menggeleng kuat.


"Sudah, sekarang kita pulang saja dulu." Ucap Raymond.


Ayvin dan Vivian menurut.


Dari kejauhan Vion dan Vynshen yang memperhatikan semua kejadian itu hanya bisa menghela nafas kasar.


Baru tiga bulan yang lalu Raiyan memaksa Emily bunuh diri dan setelah ini entah apa lagi yang akan terjadi.


Dan jika keluarga Raiyan tahu kematian Emily berhubungan dengan nya, entah apa yang akan terjadi lagi.


"Sangat sulit." Gumam Vion.


"Ponsel mu berbunyi." Ucap Vynshen.


Vion yang baru menyadari ponselnya berbunyi pun segera meraih ponselnya.


"Raiyan." Ucap Vion saat melihat si pemanggil ternyata adalah Raiyan.


"Hallo Rai, Mama mu menangis terus Rai. Kembali saja ke rumah. Jangan buat Mama mu bersedih." Ucap Vion terus terang.


"Jangan banyak bicara. Aku ingin kau cari keberadaan pria bangsat bernama Max Jiang lengkap dengan semua anggota keluarga nya." Ucap Raiyan memberi perintah pada Vion.


Ia tahu hanya Vion yang mampu melakukan semua itu dengan baik.


"Hallo Rai.." Ucap Vion tapi panggilan sudah dimatikan oleh Raiyan secara sepihak.


"Hah." Vion dan Vynshen menghela nafas kasar.


...~ To Be Continue ~...


*******


Like dan komentar jangan lupa.


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2