
"Vi, kapan kau ingin aku mendaftarkan mu kuliah?" tanya Raymond disela-sela sarapan mereka.
"Tidak tidak. Itu tidak perlu." Jawab Vivian sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kau tidak ingin kuliah lagi, begitu maksudmu?"
"Bukan. Hanya saja aku akan berusaha sendiri. Kau sudah melakukan banyak hal untuk ku. Dan aku tidak ingin merepotkan mu lagi." Jelas Vivian.
"Aku tulus melakukan nya untuk mu Vi." Ujar Raymond dengan nada sedikit ditekan. Raymond mulai merasa kesal, pasalnya sejak hari itu Vivian seperti berusaha menjaga jarak dengan nya dan menolak setiap tawarannya untuk membantu.
"Tidak Ray. Sungguh kau sudah melakukan sangat banyak untuk ku."
"Kalau begitu anggap saja aku sebagai kekasih mu atau.." Raymond menghentikan kalimat nya sejenak untuk berpikir "Atau kau bisa mengganggap ku Sugar Daddy mu. Haha." Lanjut Raymond diiringi tawa yang sedikit menggelegar membuat para pelayan dan pengawal yang ada di dekat menatap nya heran.
"Kau ini." Ucap Vivian kesal sambil melempar kan sepotong kecil roti tanpa selai yang ia makan tadi. Ia merasa Raymond sangat berbeda saat bersama nya dan saat bersama Jiro atau bawahannya yang lain. Dengan nya Raymond selalu bisa tertawa atau sekedar tersenyum, bahkan tak jarang Raymond menjahilinya. Tapi akan berbanding terbalik jika ia sedang bersama Jiro atau yang lainnya.
"Tuan." Sapa Jiro yang saat ini sudah berdiri di samping belakang Raymond.
"Kau? Ada apa? Bukankah sudah ku bilang hari ini aku tidak ingin dijemput?" tanya Raymond bertubi-tubi.
"Aku ingin melaporkan sesuatu Tuan." Ucap Jiro serius. Mereka menghentikan pembicaraan sejenak sambil menimang untuk melanjutkan pembicaraan mereka didepan Vivian.
"Lanjutkan." Ucap Raymond memberi Ijin pada Jiro.
__ADS_1
"Tuan, pelaku penyerangan tempo hari tidak mudah untuk kami temukan pasalnya ada dari mereka yang sudah keluar meninggalkan kota ini dan juga ada yang sudah mengganti identitas mereka." Jelas Jiro.
Raymond tidak langsung menjawab Jiro, ia justru memperhatikan sejenak Vivian yang masih asyik menyantap sarapannya tanpa mempedulikan mereka. Ia merasa Vivian sudah baik-baik saja atau mungkin hanya berpura-pura.
"Hentikan saja pencarian nya. Dan jangan mengungkit masalah itu lagi jika aku atau dia tidak memulainya." Titah Raymond tegas sambil melirikkan matanya kearah Vivian seolah memberi kode pada Jiro.
"Baik Tuan." Ucap Jiro dengan posisi sedikit membungkuk.
"Baiklah karena kau sudah di sini maka aku berangkat dengan mu saja." Ucap Raymond saat ia menyudahi sarapannya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Baik Tuan aku akan menunggu dimobil." Ujar Jiro sambil melangkah meninggalkan Tuannya.
Raymond melangkah mendekati Vivian dan mengecup dalam puncak kepala Vivian membuat Vivian sedikit kaget dan mematung sejenak.
"Haha aku berangkat dulu." Pamit Raymond meninggalkan Vivian yang masih dalam keadaan tersipu. Namun ditengah jalan ia berhenti dan berbalik.
"Beritahu aku jika kau sudah memikirkan tentang kuliah mu Vi." Ucap Raymond dengan suara sedikit keras karena jarak mereka. Dan hanya dibalas anggukan oleh Vivian. Raymond pun melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah terparkir di depan mansionnya dengan Jiro yang duduk di bangku kemudi. Setelah ia masuk dan duduk di bangku belakang, Jiro pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan Raymond. Perusahaan Raymond begerak di bidang teknologi bernama "Lu Technology" dan sudah memiliki cabang dimana-mana.
Selain bisnis gelapnya dengan jaringan tersebar hampir diseluruh penjuru benua Asia, tentu saja ia harus punya bisnis terang untuk kedoknya. Walaupun toh sebagian orang tetap mengenalnya sebagai ketua mafia asia,namun ia tidak peduli dengan hal itu. Baginya lebih baik ia dikenal sebagai seseorang yang menakutkan daripada harga dirinya diinjak-injak. Setelah sampai di perusahaan nya ia pun langsung melangkah dengan gagah menuju lift utama yang memang disediakan khusus untuk pemilik perusahaan dan para klien nya disusul Jiro. Jangan lupakan tatapan kagum dari para pegawai nya.
"Lalu bagaimana dengan Max?" tanya Raymond kepada Jiro saat ia sudah berada di ruang kerja nya bersama Jiro.
"Maaf Tuan, tapi kami juga tidak bisa menemukan informasi tentang nya." Jelas Jiro dengan sedikit membungkuk.
__ADS_1
"Tok tok tok" terdengar pintu ruangan nya di ketok dari luar.
"Masuklah." Titah Raymond dengan nada mendominan.
"Tuan, ini ada beberapa dokumen yang harus Tuan tandatangani." Ucap Lin sekretaris Raymond dengan suara menggoda, jangan lupakan pakaian terbukanya yang selalu ia kenakan. Ia sangat terobsesi dengan Raymond dan bahkan ia pernah berusaha merayu Raymond dengan menanggalkan hampir semua pakaian nya didepan Raymond tapi hal itu tidak bisa membuat pertahanan Raymond goyah. Raymond masih mempertahankan diri nya karena Raymond belum menemukan pengganti yang tepat.
Walaupun kelakuan Lin seperti itu tapi ia sangat cerdas dan selalu menyelesaikan pekerjaannya tanpa kesalahan.
"Baiklah kau bisa pergi." Titah Raymond setelah Lin menyimpan dokumen-dokumen tersebut dimejanya dengan pose sexy menampilkan belahan dadanya membuat Raymond merasa muak. Namun hal itu justru membuat nya memikirkan Vivian. Vivian yang sangat berbeda, penampilan nya pun tidak terbuka dan heboh. Walau terkadang Vivian mengenakan celana hotpans tapi itu masih wajar menurutnya.
"Tuan." ucap Lin dengan suara yang dibuat sesexy mungkin membuat Jiro yang mendengar nya seketika merinding.
"Keluar lah. Aku akan memberitahu mu jika sudah ku tandatangani." Titah Raymond tegas. Lin akhirnya mengalah dan memilih keluar, saat melangkah ia sengaja mendekatkan diri nya kepada Jiro membuat Jiro tidak sengaja menyentuh paha mulus nya. Membuat Jiro merasa Jijik.
"Menjijikan." Gumam Raymond yang masih dapat didengar oleh Jiro. Raymond lalu mengeluarkan ponsel dari saku nya dan membuka CCTV mansion nya yang sudah dihubungkan ke ponselnya. Tentu saja untuk melihat apa yang sedang di lakukan gadisnya itu. Dan ia tersenyum saat mendapati Vivian tengah berbaring di ranjang sambil membaca majalah. Raymond tergiur dengan penampilan Vivian yang saat itu tengah mengenakan tank top segaris dan hotpans. Vivian hanya memakai pakaian seperti itu saat ia sendirian di kamar dan bukan berarti Raymond selalu mengintip Vivian melalui CCTV nya. Raymond tidak sebejat itu.
"Jiro, kau belikan aku ponsel baru." Titah Raymond masih tersenyum tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar ponselnya.
"Baik Tuan." Ucap Jiro yang kemudian keluar dari ruangan tuannya dan segera melaksanakan perintah Tuan nya.
"Kapan kau akan menjadi milikku sayang?" gumam Raymond yang masih terus menatap layar ponselnya. Raymond benar-benar tergila-gila pada Vivian dan seringkali jiwa perkasa nya ingin memakan Vivian tapi tetap ia tidak ingin menyakiti perempuan penguasa hatinya itu. Lebih baik ia menahan diri daripada ia harus membuat Vivian terluka dan pergi meninggalkan dirinya.
^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah. Dan jangan lupa untuk tekan tombol favorit jika readers menyukai cerita ku~^^^
__ADS_1
...*Terima Kasih*...