Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 30 - Rahasia Terbesar


__ADS_3

"Axnes. Axnes Jiang." Axnes menjawab sedikit menunduk karena malu dan gugup.


"Jiang?" Gumam Vivian.


"Apa kau putri dari Max Jiang?" Tanya Raymond tanpa basa basi.


"Benar Paman. Apa paman mengenal Papa?" Tanya Axnes menatap Raymond.


"Papa mu adalah sahabat Mama nya Rai." Ucap Raymond tersenyum namun menahan kesal pada putranya.


"Apa kau sekarang bekerja? Atau masih kuliah?" Tanya Vivian lembut menggenggam tangan Axnes.


Axnes tersentuh.


"Aku bekerja sebagai model di RV2 Agency bibi." Jawab Axnes sopan.


"Jangan panggil aku bibi. Panggil aku Mama. Kau harus terbiasa." Ucap Vivian tersenyum manis walau hati nya tidak tenang.


Raymond menatap tajam putranya, ketiga sahabatnya juga menatap bingung walau mereka memang sudah tahu hubungan nya dengan Axnes.


Dan Ayvin sama seperti Mama nya, menatap seolah bertanya pada Raiyan.


"Kau tunggu sebentar, Mama akan membawakan mu minuman dan beberapa camilan." Ucap Vivian lalu bangkit dari duduk nya.


"Rai, ikut Papa sebentar." Ucap Raymond bangkit dari duduk nya.


"Sayang kau tunggu di sini yah. Ayvin temani kakak ipar mu mengobrol." Titah Raiyan pada kekasihnya dan adik nya.


Keduanya mengangguk.


Raiyan kemudian bangkit dari duduk nya dan berjalan mengikuti langkah Raymond.


"Kakak Axnes, apa kakak sudah lama menjalin hubungan dengan kak Rai?" Tanya Ayvin kaku.


"Em, kami baru saja menjalani nya selama kurang lebih tiga bulan." Ucap Axnes sopan walaupun Ayvin lebih muda dari nya.


"Oo..kakak Axnes, aku temani kakak berkeliling rumah saja. Aku sebenarnya tidak terlalu pandai mengobrol." Usul Aivyn.


"Apa tidak masalah?" Tanya Axnes.


"Tentu saja tidak. Sebentar lagi kakak akan menjadi bagian dari keluarga ini." Ucap Ayvin semangat.


Ayvin tampak sangat menyukai Axnes walaupun tidak terlalu mengenal nya, tidak seperti perlakuan nya pada Emily.


"Baiklah." Ucap Axnes.


Ayvin kemudian menuntun Axnes berkeliling melihat lihat isi dan sekitar rumah nya.


Sedangkan tiga sahabat Raiyan memilih keluar dan duduk di teras depan.


Axnes kagum, rumah keluarga Lu sangat mewah dan elegan.


Mereka sesekali bercerita kecil.


"Vin, berapa umur mu?" Tanya Axnes.


"Delapan belas kak. Hanya muda lima tahun dari kak Rai." Ucap Ayvin sopan.


Axnes mengangguk.


"Bagaimana? Apa kakak suka dengan rumah ini? Nanti kakak akan menjadi Nyonya muda pertama di rumah ini." Ucap Ayvin semangat.


"Rumah ini sangat indah." Ucap Axnes.

__ADS_1


"Rumah ini Mama yang mendesain nya. Hanya saja ada bagian yang sudah direnovasi dan juga ukuran nya sudah diperluas. Dan asal kakak tahu, rumah si payah kak Dero berada di samping rumah kita." Ucap Ayvin antusias.


"Ternyata Mama Vivi hebat juga." Ucap Axnes memuji calon Ibu mertua nya.


"Mama memang hebat. Aku juga ingin sekali menjadi desainer dan arsitek seperti Mama." Ucap Ayvin semangat.


"Belajar yang rajin. Aku yakin kau pasti bisa." Ucap Axnes menepuk pelan puncak kepala calon adik ipar nya.


Ayvin terkekeh.


Mereka terus berkeliling hingga kembali lagi ke ruang keluarga dan pandangan Axnes menangkap sebuah bagian dinding rumah itu yang terdapat banyak sekali foto foto indah terpajang.


"Ayvin, apa aku boleh melihat itu?" Tanya Axnes menunjuk kearah dinding tersebut.


Ayvin mengangguk.


"Ayo kak." Ucap Ayvin menarik tangan Axnes.


Ayvin dan Axnes tidak tahu kalau dibalik dinding itu, Raymond dan Raiyan sedang berada.


"Ini adalah dinding yang menyimpan banyak kenangan. Semua ini adalah foto foto keluarga besar kita." Ucap Ayvin menunjuk beberapa foto yang tertempel rapi di dinding itu.


"Oh ya, ini adalah kakek. Tapi beliau sedang tidak disini. Kakek lebih sering menghabiskan waktu di luar negeri menikmati masa tua nya." Ucap Ayvin menunjuk foto Harley Lu.


Axnes mengangguk.


"Apa ini Rai semasa kecil?" Tanya Axnes menunjuk kearah foto seorang bocah laki laki yang tersenyum sambil memegang pisau.


Ayvin mengangguk.


"Kakak benar. Mama dan Papa bilang dari kecil pun kakak sangat suka bermain pisau. Jika tidak diberi maka dia akan menangis sampai orang rumah tidak tahan mendengar nya." Ucap Ayvin sesuai yang ia tahu.


Axnes mengangguk namun tersenyum lucu.


"Ayvin, kesini sebentar." Pinta Vivian dari arah dapur.


"Kakak silahkan lihat lihat saja. Aku bantu Mama dulu." Ucap Ayvin lalu berlari ke arah dapur.


Axnes kembali menelisik setiap lembaran foto yang tertempel rapi di dinding itu.


Sesekali ia tersenyum.


Sampai akhirnya ia tidak sengaja mulai mendengar obrolan Raiyan dan Raymond.


"Ada apa Pa? Papa memanggil ku kesini hanya untuk duduk?" Tanya Raiyan bingung.


Raymond menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kasar.


"Apa tujuan mu ingin menikah dengan Axnes?" Tanya Raymond was was.


"Bukankah Papa sudah tahu? Aku mencintai nya." Ucap Raiyan tersenyum.


"Rai, jika kau masih dengan niat awal mu ingin balas dendam, sebaik nya kau hentikan. Bukankah kau sudah berjanji?" Ucap Raymond menasehati putranya.


Prangg


Axnes tidak sengaja menyenggol vas bunga didekat nya.


Axnes salah paham dan hanya mendengar setengah, jadi ia hendak berbalik dan pergi.


"Axnes." Gumam Raiyan mencoba mengejar langkah Axnes yang sudah berlari duluan namun sia sia.


Axnes tidak ingin mendengar teriakan nya.

__ADS_1


Bahkan ketiga sahabatnya membantunya mengejar dan mencoba berteriak menghentikan Axnes pun, Axnes tidak ingin mendengar teriakan mereka.


Air mata nya menetes.


Ia terus berlari hingga akhirnya mendapat sebuah taxi.


Ia menaiki taxi itu dan memberi sebuah alamat pada sopir taxi itu.


"Kenapa kau jahat Rai? Kau ternyata sudah tau dari awal bahwa aku adalah putri dari pria yang sudah menyakiti Mama mu? Tapi kenapa kau tidak pernah mengatakan itu? Kenapa lagi dan lagi kau berbohong pada ku? Kau membuat ku jatuh cinta pada mu dengan sangat dalam, tapi nyatanya semua itu hanya agar kau bisa membalas dendam mu." Batin Axnes terisak.


Ia merasakan sakit hati yang teramat sangat ketika mengetahui pria yang sudah sangat ia cintai itu ternyata mendekati nya hanya demi membalas dendam. Walau sebenarnya Axnes sudah salah paham sepenuhnya.


"Nona, kita sudah sampai." Ucap sopir taxi itu setelah berhenti di depan sebuah rumah minimalis.


"Terima kasih." Ucap Axnes lalu memberikan ongkos taxi pada sang sopir lalu ia pun turun.


Segera ia berjalan masuk kedalam rumah itu dan menekan bel rumah tersebut.


Air mata nya tidak berhenti mengalir.


Lama tidak ada yang membuka pintu.


Axnes semakin kesal dan menekan bel rumah itu dengan kasar.


Tak lama kemudian barulah pintu dibuka, terlihat seorang wanita keluar dari rumah itu dengan pakaian berantakan dan langsung berlari meninggalkan rumah itu.


"Stev." Sapa Axnes terisak lalu memeluk Stev pada leher nya.


"Hei, kau kenapa gadis kecil?" Tanya Stev khawatir sambil mengusap punggung Axnes.


"Aku bodoh Stev. Aku mencintai pria yang ternyata hanya memperalat ku dan ingin membalas dendam pada Papa." Ucap Axnes terisak.


"Hei hei, ayo duduk dulu." Ucap Stev menuntun Axnes untuk duduk di sofa ruang tamu nya.


Ia kemudian memberikan segelas air putih untuk Axnes, Axnes meminumnya hingga habis.


"Coba katakan pelan pelan apa yang terjadi." Ucap Stev sambil menghapus air mata Axnes yang sudah membanjiri pipi nya.


"Dia jahat Stev. Dia mendekati ku karena tau aku adalah putri dari pria yang sudah menyakiti Ibunya. Dia menjebak ku dengan kata cinta dan perlakuan manis nya hanya demi membalas dendam. Aku bodoh Stev, aku bodoh." Ucap Axnes gegabah.


Hah


Stev menghela nafas panjang.


"Sayang ku dengarkan aku. Sebaiknya kau tanyakan dan bicarakan baik baik dengan nya. Kau tahu, bagaimanapun juga aku tetap seorang pria. Dan selama ini aku tidak mendapatkan sedikit pun kepalsuan dari cara nya memperlakukan mu. Bahkan saat dia menatap mu saja, matanya penuh cinta dan ketulusan." Ucap Stev mengelus rambut Axnes.


Axnes terdiam sejenak.


"Tapi Stev, bahkan keluarga besar nya semua tahu tentang rencana nya." Ucap Axnes masih kekeh dengan pendiriannya.


"Sayang ku, Axnes ku, cinta manis ku. Kau jangan hanya mengambil kesimpulan dari satu pihak atau dari sepenggal kalimat yang kau dengar. Seharusnya kau bisa lebih dewasa dan mencoba untuk mendiskusikan semua nya secara dewasa. Aku memang tidak pernah serius menjalani hubungan dengan wanita mana pun, tapi aku bisa tahu bagaimana ketika seorang pria tulus mencintai gadis nya." Ucap Stev berusaha membujuk Axnes.


Stev sangat menyayangi Axnes, yang sudah seperti adik nya sendiri. Maka dari itu Stev tidak ingin Axnes salah langkah atau menyesal nanti nya.


"Sebaiknya sekarang aku mengantar mu pulang. Kau tenangkan diri mu dan setelah itu bicarakan baik baik dengan Raiyan." Ucap Stev lalu menuntun Axnes untuk berdiri dan mengantar nya kembali ke apartemen nya.


...~ **To Be Continue ~...


*******


Tahan dulu ya.


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.

__ADS_1


__ADS_2