Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 24 - Terpaksa Memilih


__ADS_3

[ Yuk mampir dan ramaikan karya ku yang lainnya, judulnya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) " sama satu lagi judulnya "IF LOVE "


Jangan lupa jejak kehadirannya ya.]


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


.


.


"Oh ayolah, apa tidak ada pilihan yang lebih buruk dari kedua pilihan itu?" Tanya Axnes santai berusaha mengusir jauh rasa takut nya.


Ren menatapnya lekat.


Entah kenapa dari rasa ingin menyakiti Axnes, ia kini cenderung ingin memiliki Axnes.


"Kau ingin pilihan lain?" Tanya Ren tersenyum.


Senyuman yang ia tunjukkan kini bukanlah senyuman licik, melainkan senyuman manis.


Axnes mengangguk dan tersenyum kaku.


"Tidak ada salahnya mengulur waktu walaupun harus mengerjai para bajingan ini." Batin Axnes.


Ren kemudian melepaskan ikatan tangan Axnes, karena memang Axnes hanya diikat di tangannya melingkar ke belakang pada tiang.


"Ikut aku." Ucap Ren meraih tangan Axnes lembut.


"Hei, jangan bawa aku pergi sembarangan." Ucap Axnes kesal.


Ren tidak mendengar nya, ia terus menarik tangan Axnes lembut hingga Axnes terpaksa mengikuti nya.


Ken juga mengikuti dari belakang Axnes.


"Lepaskan semua yang ada pada badan mu." Ucap Ren tegas.


Ia membawa Axnes masuk kedalam satu ruangan yang tampak lebih rapi dari ruangan tadi.


Axnes menyilangkan tangan nya menutupi bagian dada nya.


"Oh ayolah Tuan. Jangan mesum seperti itu." Axnes salah mengira.


"Maksud ku lepaskan segala perhiasan ditubuh ny tanpa terkecuali termasuk pita rambut mu." Ucap Ren lagi.


"Mengagetkan saja." Ucap Axnes.


Mau tidak mau Axnes menurut.


Axnes melepaskan semua perhiasannya.


"Sudah." Ucap Axnes sedikit kesal.


Ren tersenyum, ia kemudian berjalan ke pojok ruangan itu dan meraih palu dari nakas nya.


Prak


Ia menghancurkan semua perhiasan Axnes menggunakan palu itu.


"Oh ya Tuhan. Itu semua hasil kerja keras ku." Axnes menggerutu kesal.


"Aku akan mengganti yang lebih mahal lagi." Ucap Ren menyeringai.


"Kenapa kau harus menghancurkan mereka?" Tanya Axnes kesal.


"Agar tidak ada yang dapat menemukan mu. Aku tidak tahu mungkin saja disalah satu perhiasan mu terpasang alat pelacak atau GPS dan sebagainya." Ucap Ren santai lalu menyimpan palu nya sembarangan.


"Oh ayolah, manusia mana yang bisa sepintar itu pada ku?" Tanya Axnes malas.

__ADS_1


Ren tidak menjawab.


Setelah menghancurkan semua perhiasan Axnes, ia berjalan mendekati Axnes dan menyatukan kening mereka.


"Pilihan terakhir, menikah lah dengan ku dan tinggalkan bajingan itu." Ucap Ren dengan nafas memburu.


"Tuhan, cabut saja nyawa ku. Kenapa pilihan nya tidak ada yang benar." Gumam Axnes yang masih dapat didengar Ren, membuat Ren lagi lagi tersenyum.


"Aku beri waktu tiga puluh menit untuk berpikir. Jika kau tidak bisa memilih maka keputusan nya adalah pilihan kedua." Ucap Ren dengan nada datar.


Ia mengecup singkat kening Axnes, lalu berjalan masuk kedalam ruangan lain yang masih berada didalam ruangan itu. Mungkin kamar mandi, karena setelahnya Axnes mendengar bunyi air mengalir.


"Sebaiknya kau putuskan pilihan yang tidak akan menyulitkan mu. Kakak ku akan bersikap baik dan lembut pada orang yang menurut pada nya. Lebih tepatnya orang yang ia cintai." Ucap Ken dingin.


"Dia? Cinta? Aku? Kau gila." Ucap Axnes kesal.


Ken hanya mengangkat bahu nya acuh, lalu keluar dari ruangan itu.


#####


"Arghh sial." Vion mengamuk, hampir saja dia berhasil mendapatkan lokasi Axnes namun tiba tiba sinyal alat pelacak yang ia lacak menghilang begitu saja.


"Ada apa?" Tanya Stev panik.


"Aku tidak tahu, tapi sinyal nya menghilang tiba tiba." Ucap Vion kesal.


"Habislah. Apa mereka sudah tahu tentang alat itu?" Stev menggerutu.


"Jalan terakhir untuk menemukan gadis pintar ku sudah hancur." Ucap Stev merengek dan kembali gemulai.


"Sebaiknya aku hubungi Tuan Max untuk meminta bantuan." Ucapnya lagi.


"Jangan." Titah Raiyan datar.


"Kenapa Rai? Bukankah itu lebih baik?" Tanya Vynshen bingung.


"Aku tidak ingin bertemu Max dalam keadaan seperti ini, dimana putrinya mengalami masalah karena ku. Aku yakin mereka menculik Axnes pasti karena ku." Ucap Raiyan.


"Kita temukan Axnes dengan cara kita sendiri. Tidak peduli apapun caranya." Ucap Raiyan tegas.


"Baiklah." Ucap Vion, Vynshen, Dero, dan Stev serentak.


#####


"Ah ya ampun, aku bisa gila memikirkan keputusan yang harus ku ambil." Ucap Axnes mengacak kasar rambut nya.


"Bagaimana?" Tanya Ren yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bawah nya.


"Berikan aku pilihan lain lagi." Pinta Axnes memelas.


Ren tidak menanggapi. Ia dengan santai berjalan keruangan lain yang masih juga berada dalam ruangan itu, Axnes mengintip dan ternyata itu adalah ruangan yang menyimpan semua pakaian Ren.


Ren menyambar sehelai kaos hitam dan celana jeans putih untuk ia kenakan.


"Duduklah." Ucap Ren menepuk tempat kosong di samping nya setelah ia duduk di sofa ruangan itu.


Axnes mau tidak mau hanya bisa menurut.


"Hanya ada tiga pilihan untuk mu. Tapi kini aku mengurangi satu. Pilihlah antara kau ingin menjadi kekasih ku dan menikah dengan ku." Ucap Ren terdengar sendu.


"Ya ampun si gila ini benar benar menyebalkan." Batin Axnes.


"Waktu tiga puluh menit hampir habis." Ucap Ren datar.


Ren tidak menatap Axnes, ia sibuk memainkan ponselnya.


"Aku memilih menjadi kekasih mu." Ucap Axnes pasrah.


Ren tersenyum.


"Baiklah." Ucap Ren bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Axnes.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya Axnes kesal.

__ADS_1


Namun Ren tidak menjawab dan terus melangkah. Ia mengira Axnes akan mengejar nya namun nyatanya Axnes tidak mengejarnya.


Akhirnya Ren menghentikan langkahnya.


"Bajingan. Sudah memaksa ku, sekarang tetap saja meninggalkan ku ditempat buruk seperti ini. Apa tidak bisa menyekap ku ditempat yang lebih baik. Aku bahkan tidak bisa kabur." Axnes menggerutu kesal.


Ren tersenyum menatap tingkah lucu Axnes.


Ia memutuskan untuk melangkah mendekati Axnes.


"Ayo sayang, aku akan membawa mu ke tempat yang lebih layak." Ucap Ren lembut mengelus kepala Axnes.


Ia menggenggam tangan Axnes lembut dan menarik Axnes keluar dari tempat itu.


Untuk saat ini, tidak ada lagi Ren yang kejam tadi.


Ren menuntun Axnes masuk kedalam mobil nya dan setelah ia masuk, ia pun melajukan mobilnya kembali kerumah nya.


Cukup jauh, dan terpencil.


Namun Axnes malah menikmati pemandangan sekitar jalan itu yang masih menampakkan pepohonan hijau menjulang tinggi.


"Indah sekali." Ucap Axnes spontan.


Ren kembali tersenyum dan spontan mengelus lembut rambut Axnes.


Axnes terkejut dengan pergerakan Ren yang tiba tiba, namun ia mencoba bersikap biasa.


Statusnya saat ini adalah kekasih Ren, jadi dia harus bisa semanis mungkin sambil mencari celah untuk kabur.


"Kita sudah sampai." Ucap Ren lembut lalu turun dari mobil kemudian mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Axnes.


Axnes terkagum tidak percaya melihat keindahan mansion di depan mata nya.


"Indah sekali. Apa dia anak raja?" Batin Axnes.


"Ayo masuk." Ren kemudian menggenggam tangan Axnes dan menarik nya masuk kedalam mansion itu.


Ren menuntun Axnes menuju ke sebuah kamar.


"Ini kamar mu. Masuklah dan bersihkan dirimu lalu segeralah istirahat." Titah Ren.


Axnes mengangguk patuh.


"Kamar ku disebelah, jika kau membutuhkan apa apa kau bisa memanggil ku." Ucap Ren lagi.


"Pakaian ku?" Tanya Axnes bingung.


"Sudah ada di lemari." Ucap Ren dingin. Ia pun memilih pergi dari sana dan masuk kedalam kamar nya.


Sepeninggal Ren, Axnes pun memilih segera membersihkan dirinya.


Setelah selesai, sesuai perkataan Ren, ia membuka lemari untuk mencari pakaian.


Ternyata didalam lemari itu tertata banyak sekali pakaian perempuan dan semuanya sepertinya adalah ukuran badan Axnes.


"Licik, sepertinya dia sudah mengatur semuanya." Batin Axnes lalu menyambar asal satu pasang piyama tidur untuk ia kenakan.


Setelah itu ia memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang hingga perlahan ia terlelap.


...~ To Be Continue ~...


******


Jangan salahin Axnes dulu yah..


Axnes terpaksa harus memilih biar dia aman sambil nyari celah buat kabur.


Semoga Raiyan bisa nemuin petunjuk untuk nyelamatin Axnes deh.


Atau aku jodohin aja Ren sama Axnes? Balasin dendam Ren ke Raiyan yang udah maksa Emily bunuh diri.


Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih selalu buat kalian yang dengan setia mendukung karya ku yang tidak ada apa apanya ini. Loph yiu oll.

__ADS_1


__ADS_2