Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Mimpi buruk VS Kenyataan.


__ADS_3

"Hei little, kau sedang apa?" tanya Vivian pada putranya yang berusia lima tahun. Putra kecilnya sedang duduk mengayunkan kakinya dikursi santai teras rumah.


"Aku sedang menunggu Papa pulang Ma." Putra kecil nya menjawab dengan lembut dan terdengar gemas.


"Apa Papa menjanjikan sesuatu padamu?" Vivian kembali bertanya. Ia kemudian ikut gabung duduk bersama putranya.


"Tentu. Papa berjanji akan membawa ku pergi dari sini. Aku tidak akan tinggal di sini." Anak kecil nya itu menjawab semangat.


"Apa maksudnya? Apa Ray ingin pindah? Tapi kenapa aku tidak tahu sama sekali?" Batin Vivian kebingungan.


"Apa Papa bilang kita akan pindah sayang?" tanya Vivian bingung.


"Tidak. Tapi hanya aku yang akan ikut Papa." Putra kecilnya menjawab polos.


"PAPA" tiba tiba little berteriak saat melihat seorang pria berjalan mendekat. Vivian segera menoleh.


"Max? Tidak tidak mungkin." Batin Vivian tidak terima.


Dengan cepat ia menggendong putranya dan hendak masuk kerumah, namun Max berhasil menangkap tangannya.


"Mau kemana sayang?" tanya Max dengan nada menakutkan.


"Lepaskan aku. Aku harus membawa putra ku masuk. Ini sudah sore." Ucap Vivian ketus berusaha melepaskan cekalan tangan Max dari tangan nya namun tidak bisa.


Max malah menarik nya mendekat hingga Max dapat memeluk nya dari belakang.


"Aku merindukan mu sayang dan juga putra kita." Ucap Max menekan kata putra kita.


Ia mencium leher Vivian lalu mencium pipi little.


"Papa aku merindukan mu. Gendong aku sekarang." Ucap little merentangkan tangannya dalam gendongan Vivian.


Max melepaskan pelukan nya dari Vivian kemudian melangkah kedepan Vivian hendak menggendong little. Namun dengan cepat Vivian menghindar.


"Jangan sentuh putra ku." Ucap Vivian marah.


"Putra kita sayang. Bukan hanya putra mu." Ucap Max menyeringai.


"Tidak. Ini putra ku dan Ray." Ucap Vivian. Air mata mulai menggenang di mata indah nya dan menetes perlahan.


"Oh ya. Aku lupa kau sudah mempunyai suami. Tapi lihat lah, aku berhasil menabur benih ku pada rahim mu dan mengalahkan suami mu." Ucap Max licik.


Vivian terdiam, tidak bisa berkata. Ia hanya mampu menangis mengingat semua yang Max perbuat padanya.


"Aku mohon jangan ambil putra ku." Pinta Vivian terisak.


"Aku tidak akan mengambil nya dari mu jika kau mau ikut dan hidup bersama ku." Ucap Max memberi syarat.


Vivian menggeleng kuat.

__ADS_1


"Baiklah jika itu mau mu. Aku akan membawa putra kita. Lagipula aku hanya menitipkan nya dirahim mu agar kau bisa terus mengingat ku setelah ia lahir." Ucap Max dengan cepat berhasil merebut little dari gendongan Vivian.


Vivian luruh terduduk lemas di atas lantai teras nya.


"Max aku mohon kembalikan putra ku." Teriak Vivian histeris padahal Max masih berdiri didepan nya.


"Hahaha tidak mungkin sayang, kecuali kau mau ikut bersama ku." Ucap Max dengan tawa menggelegar.


Raymond seketika berlari dari dalam rumah nya keluar menghampiri Vivian.


"Ada apa sayang?" tanya Raymond merangkul pundak Vivian.


"Dia ingin membawa little Ray. Aku mohon hentikan dia." Ucap Vivian menunjuk kearah Max.


"Ucapkan selamat tinggal pada Mama mu, little." Max memberi perintah pada putranya.


"Selamat tinggal Mama. Aku menyayangi mu." Ucap little pada Vivian.


Dengan sigap Max membalikkan badan nya dan berjalan menjauhi Vivian dan Raymond. Vivian hendak mengejar, namun langkahnya ditahan oleh Raymond.


"Ray, aku mohon jangan biarkan dia membawa little." Ucap Vivian menangis.


"Hahaha biarkan saja. Itu putra kandung nya sayang. Lagipula aku sudah muak melihat wajah anak itu dirumah kita." Ucap Raymond dengan tawa menggelegar dan tiba tiba berdiri.


"Ray, tapi kau berjanji akan merawat nya bersama ku." Ucap Vivian menatap pilu suaminya.


Raymond berjongkok dan mencengkeram dagu Vivian kuat.


Kemudian ia pun berjalan masuk ke rumah nya meninggalkan Vivian menangis sendirian.


"Ray, aku mohon Ray." Ucap Vivian sambil memukul lantai yang ia duduki.


"Vivian, Vivian bangunlah. Sadarlah." Ucap Raymond menepuk pelan pipi istrinya saat melihat Vivian bergerak gelisah dan sesekali menangis dalam tidur nya.


"RAY." Vivian terbangun dari tidur nya dan meneriakan nama suami nya.


Sigap Raymond langsung memeluk erat istrinya.


"Ada apa?" tanya Raymond khawatir. Sudah cukup lama dia tidak melihat istrinya bermimpi buruk.


"Ray anak kita. Dia membawa anak kita." Ucap Vivian menangis sambil memukul punggung suaminya lemah.


"Apa yang kau bicarakan? Tidak ada yang akan membawa bayi kita." Ucap Raymond mengusap punggung istrinya.


"Dia sudah mengambil putra kita Ray." Ucap Vivian lagi seperti orang gila.


"Vivian cukup." Ucap Raymond melepas pelukan nya dan menggoyangkan pundak Vivian sedikit kasar.


"Tidak ada yang akan membawa bayi kita pergi. Bayi kita tetap akan hidup dan tumbuh bersama kita." Ucap Raymond tegas.

__ADS_1


"Tapi ini milik nya Ray, ini miliknya." Ucap Vivian lemah hendak memukul perutnya namun secepat kilat kembali ditahan Raymond.


"Jangan bodoh Vi. Anak ini milik ku. Aku sudah memastikan nya. Dia milikku." Ucap Raymond dengan suara lantang.


Rasanya Raymond sudah habis kesabaran, namun tidak bisa berbuat banyak. Ia kasihan melihat kondisi istrinya.


"Kau yakin Ray?" tanya Vivian dengan ekspresi yang mulai lebih tenang.


"Aku terpaksa melakukan nya. Aku tidak ingin kau terus seperti ini dan akan membahayakan janin mu atau dirimu." Ucap Raymond.


"Tapi bagaimana bisa?" tanya Vivian penasaran. Ia sudah lebih tenang.


"Aku terpaksa menyuruh Sion memastikan sesuatu. Dan aku mendapatkan fakta kalau sialan itu selalu memasang kontrasepsi dalam tubuhnya bahkan saat hendak menyakiti mu." Ucap Raymond terpaksa mengingatkan Vivian akan kejadian pilu waktu itu.


"Kau tidak bohong Ray?" tanya Vivian masih sedikit ragu.


"Aku tidak berbohong sayang. Aku melakukan semua itu hanya untuk mu." Ucap Raymond kembali memeluk istrinya.


" Maafkan aku Ray." Ucap Vivian juga memeluk suami nya.


"Berjanji lah kau tidak boleh bersedih atau menyakiti diri mu lagi setelah ini. Kau harus menjaga kesehatan mu dan juga bayi kita." Titah Raymond sambil melepas pelukan nya.


"Aku berjanji Ray." Ucap Vivian tersenyum manis.


"Little, maafkan Mama. Mama sudah meragukan mu dan kehebatan Papa mu." Ucap Vivian tanpa sadar.


"Tentu saja Mama. Papa ku adalah pria terhebat di muka bumi ini." Ucap Raymond menirukan suara anak kecil.


"Haha kau ini Ray." Vivian tertawa mendengar guyonan suaminya.


"Papa berjanji akan menjaga mu dan Mama mu dengan sepenuh jiwa Papa. Papa tidak akan mengijinkan air mata Mama mu menetes lagi little. Kau juga harus kuat dan sehat agar bisa membantu Papa menjaga Mama mu yang suka menangis ini." Ucap Raymond mengelus perut Vivian yang masih rata.


"Haha Ray malu." Ucap Vivian lagi lagi tertawa mendengar perkataan suaminya yang mengejek nya.


"I love you Ray." Ucap Vivian tiba tiba.


Deg


Jantung Raymond langsung berdetak tak karuan. Istrinya sangat jarang mengungkapkan cinta padanya. Sekali mengungkapkan rasanya ia ingin langsung terbang ke surga.


"I love you too sayang. And we love you little." Ucap Raymond mengecup bibir Vivian lalu mengecup perut istrinya.


********


Aku yang ngetik berasa tegang gimana gitu.


Gimana perasaan kalian yang baca??


Share di komentar yah. Jangan lupa juga like, vote, dan favorit cerita nya.

__ADS_1


Bagikan keteman kalian agar lebih seru baca bareng2.


__ADS_2