Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 48 - Berdamai dengan Hati


__ADS_3

"Rai." Sapa Max yang melihat Raiyan keluar dari kamar nya.


Raiyan menatap dingin pada Max.


"Rai, bisa kita bicara?" Tanya Max ragu melihat ekspresi dingin menantunya.


Raiyan mengangguk lalu mendahului Max berjalan ke taman belakang dan duduk di kursi taman tersebut.


"Ada apa?" Tanya Raiyan tanpa basa basi saat Max sudah duduk di samping nya.


Hah


Max menghela nafas kasar.


"Rai, aku minta maaf karena sudah tidak percaya pada mu dan sudah menuduh hal yang tidak benar pada mu." Ucap Max.


Raiyan hanya diam dan menatap lurus kedepan.


"Aku tahu bukan hanya itu kesalahan ku. Banyak kesalahan lain yang ku perbuat terutama menyakiti Mama mu. Tapi bisakah kau memberi ku satu kesempatan untuk menebus semua dosaku dimanapun lalu?" Ucap Max lagi namun Raiyan masih diam.


Max mulai frustasi.


"Rai, kau bisa menghukum ku dengan cara apapun. Kau bisa memaki ku, menghina ku, meludahi ku. Terserah padamu. Tapi aku mohon jangan pisahkan aku dengan putri ku." Ucap Max lagi.


"Apa sopan menyebut aku saat berbicara dengan menantu mu?" Tanya Raiyan dingin tanpa menatap Max.


Max mengernyit bingung.


"Pertama, aku sudah bilang kalau aku sudah memaafkan mu demi putri mu. Kedua aku juga tidak akan membahas masa lalu lagi demi menghargai Mama ku. Ketiga Papa meminta maaf tapu kembali menuduhku bahwa aku ingin memisahkan Axnes dari mu? Apa itu itikad baik dari seseorang yang meminta maaf? Meminta maaf lalu kembali menuduh?" Ucap Raiyan.


Max tampak berpikir.


"Sudah tua tapi pikirannya lebih dangkal dari ku." Ucap Raiyan menyindir mertua nya.


Max mengepal tangannya geram.


"Sudahlah Pa. Jika Papa ingin menebus kesalahan Papa, maka cukup hiduplah dengan baik. Jangan membuat masalah lagi. Bukan apa? Aku hanya kasihan pada Mama Vanessa dan istriku jika mereka mempunyai suami dan Papa yang suka membuat masalah." Ucap Raiyan menyindir lagi.


"Rai, kau tahu? Rasanya aku ingin merobek mulut pedas mu saat ini juga." Ucap Max geram.


"Lakukan saja. Tapi jangan salahkan aku jika setelah itu Papa tidak aka pernah bisa melihat Axnes dan cucu Papa lagi." Ucap Raiyan enteng.


"Aku memaafkan mu untuk semua kesalahan mu Pa. Apapun itu. Aku sekarang ingin hidup tenang. Aku ingin berdamai dengan hati ku dan membuang jauh semua perasaan yang tidak seharusnya ku tanamkan. Aku ingin hidup lebih baik untuk istri dan anak-anak ku kelak. Papa juga berdamai lah dengan hati dan masa lalu Papa. Semua itu sudah berlalu dua puluh tahun yang lalu. Hiduplah lebih baik dan berbahagialah." Ucap Raiyan lalu bangkit berdiri dan berlalu meninggalkan Max setelah menepuk dua kali pundak Max.


Max masih diam di tempatnya.


"Rai." Sapa Vivian yang berpapasan dengan putranya.


"Aku baru habis mengobrol dengan Papa Max, Ma. Dia ada dibelakang." Ucap Raiyan menunjuk kearah taman belakang.

__ADS_1


Raiyan pun merasa Mamanya masih perlu menyelesaikan sekali lagi masa lalu nya dengan Max.


Raiyan pun melangkah meninggalkan Mama nya.


Vivian yang mengerti tujuan dari perkataan putranya pun akhirnya memilih melanjutkan langkahnya menuju ke taman belakang rumah nya.


"Max." Sapa Vivian pelan.


Max menengadah menatap Vivian.


Vivian tersenyum kecil.


"Boleh aku duduk?" Tanya Vivian sopan.


Sikap sopan Vivian tidak pernah luntur meski terhadap orang yang sudah menyakiti nya.


"Silahkan." Ucap Max.


Vivian pun duduk di samping nya namun berjarak.


Mereka hening sejenak hingga akhirnya Max membuka suara.


"Vi. Maafkan aku untuk semua kesalahan ku dimasa lalu. Sungguh, aku tahu bahkan jika aku meminta maaf hingga bibir ku melebur pun kesalahan ku tak termaafkan. Jika kau ingin menghukum ku, aku tidak keberatan." Ucap Max sendu.


"Max, semua itu sudah berlalu. Kau tahu, putra sulung ku sudah membalaskan segala dosa mu padaku dengan cara mencintai putri mu. Mencintai putri dari pria yang sudah menyakiti Ibunya. Semua itu sudah setimpal dengan dosa mu." Ucap Vivian lembut.


Max terenyuh mendengar perkataan Vivian.


"Terima kasih Vi." Ucap Max hendak memeluk Vivian.


"Singkirkan tangan mu itu Player tua." Sarkas Raymond dari belakang mereka.


Raymond segera berlari dan memeluk istrinya.


"Apa? Kau cemburu? Harusnya aku yang cemburu karena kau merebutnya dari ku dulu." Ketus Max.


"Aku tidak merebutnya. Kau yang bodoh menyamar jadi Louise segala, bahkan menjalin hubungan dengan teman nya. Siapapun akan melupakan mu. Belum lagi melakukan hal tersebut di depan matanya. Prempuan mana yang tidak muak dengan tingkah mu." Ucap Raymond membuat Mac terdiam.


Jika waktu bisa diputar dan ia tidak menyamar menjadi Louise untuj membalas dendam pada Joyce saat itu, apakah saat ini ia sudah bahagia bersama Vivian?


Ah, Max menggeleng kuat kepalanya. Dia sudah punya Vanessa, apa lagi yang ingin dikejar nya? Pikirnya.


"Hah, anggap saja kau beruntung." Ucap Max tak mau kalah.


"Sudahlah, kalian ini berdebat seperti anak kecil. Sadarlah, kalian sebentar lagi akan menjadi seorang kakek." Ucap Vivian meledek kedua pria itu.


"Dan aku akan menjadi kakek buyut." Ucap Harley yang baru datang dituntun oleh Ayvin.


"Dan aku akan menjadi paman yang paling pintar." Ucap Ayvin semangat.

__ADS_1


Kelima orang itu tertawa bersama.


"Hem, sepertinya ada yang sibuk bernostalgia sampai melupakan aku dan putrinya?" Ucap Vanessa menghampiri kelima orang itu terutama suaminya, Max.


"Tidak sayang, aku hanya ... "


Belum selesai Max berbicara, Ia sudah mendapat cubitan di bibirnya.


"Diamlah. Aku akan menghukummu nanti." Ucap Vanessa pura pura kesal.


Max memonyongkan bibirnya membuat mereka semua kembali tertawa.


"Sudah, ayo kita masuk. Makan malam sudah siap. Aku tidak ingun putri dan cucuku kelaparan." Ucap Vanessa berjalan meninggalkan mereka duluan.


"Max, aku penasaran satu hal. Kenapa saat itu kau bisa tiba tiba menjadi dosen di kampus ku?" Tanya Vivian penasaran sambil mereka melangkah menuju ke ruang makan.


"Aku dulunya adalah lulusan sekolah arsitektur ternama. Aku bahkan lulus dengan hasil terbaik. Tapi setelah aku lulus aku malah bertemu dengan Ayah angkat mu dan menjadi tangan kanannya." Ucap Max seolah mengeluh.


"Lalu bagaimana Rex bisa menculik ku saat itu?" Tanya Vivian lagi.


Vivian sungguh penasaran dengan dua cerita itu selama dua puluh tahun lebih.


"Saat itu ia mendapat informasi dari Joyce. Aku juga tidak pasti bagaimana mereka berkenalan. Tapi Joyce yang saat itu cemburu karena aku peduli padamu pun gelap mata dan meminta Rex untuk melakukan penculikan itu." Ucap Max menjelaskan.


Vivian mengangguk mengerti.


"Sayang, bagaimana jika aku mengembalikan dirimu ke masa lalu?" Protes Raymond cemburu pada istrinya.


Vivian hanya mengedikkan bahunya acuh, namun tetap memeluk suaminya sambil berjalan.


Dimeja makan tampak Raiyan bersama istrinya sudah sibuk menyantap makanan yang sudah terhidang diatas meja.


"Maaf, kami duluan. Kami sudah sangat lapar." Ucap Raiyan dengan mulut penuh makanan.


Yang tua terkekeh melihat tingkah Raiyan.


"Sepertinya dia merasakan, apa yang istrinya rasakan." Gumam Raymond pelan pada Vivian.


Vivian mengangguk setuju.


"Baguslah. Agar nanti dia lebih paham bagaimana caranya menghargai wanita dan rumah tangga mereka kelak karena semuanya tidak akan mudah." Ucap Vivian.


Mereka pun menyantap makan malam mereka dengan diiringi obrolan santai diantara mereka.


...~ To Be Continue ~...


######


Endingnya bakal menyusul..

__ADS_1


Like dan komentar..❤❤❤


__ADS_2