
DOORRRR
Vivian melepaskan satu tembakan kearah Max sambil memejamkan matanya.
"VANESSA." Max berteriak dengan suara menggelegar dan menopang tubuh Vanessa yang tumbang seketika karena menghadang peluru yang Vivian lepaskan agar tidak mengenai Max.
Max ikut jatuh terduduk bersamaan dengan tubuh Vanessa yang tumbang. Max menahan darah yang mengalir dari perut Vanessa dengan satu tangan nya. Ia membaringkan kepala Vanessa diatas pahanya.
"Vanessa, kenapa kau lakukan ini?" tanya Max dengan suara begetar. Ia tidak menyangka perempuan arogan yang selalu berkata bahwa ia mencintai nya benar benar rela melakukan apapun untuk nya.
"Aku, aku mencintai mu Max." Ucap Vanessa tertatih menahan sakit. Ia tersenyum getir dan mengelus pipi Max.
"Berhenti lah sebelum semuanya menghancurkan mu lebih jauh." Vanessa kembali melanjutkan perkataannya dengan senyum manis nya walau menahan sakit.
"Maafkan aku Vanessa, maafkan aku. Tidak, kau tidak boleh meninggalkan ku sendirian. Tidak kau tidak boleh." Ucap Max meraung memeluk erat Vanessa yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tidak ... tidak." Vivian luruh jatuh kelantai karena tembakan nya salah sasaran. Seketika ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Max tidak peduli, ia segera membopong tubuh Vanessa yang tidak berdaya dan meletakkan nya dengan hati hati dikursi belakang mobilnya. Dengan segera ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Vanessa sampai duluan ke apartemen Max dibanding Raymond dan orang orang nya.
#####
Setelah Max berlalu, tak lama Raymond pun sampai di apartemen Max. Tanpa menunggu lama, ia segera menuju ke apartemen Max menggunakan tangga khusus.
Sesampainya disana, ia merasa aneh melihat pintu apartemen Max terbuka. Kondisi didalam ruangan rapi. Ia memutuskan untuk mendekati kamar Max.
"Darah?" Batin Raymond saat ia melihat bercak darah didekat pintu dalam kamar Max.
Mata nya langsung menangkap sosok cantik yang sangat ia rindukan. Vivian tergeletak pingsan. Dengan cepat ia melangkah kearah Vivian dan menutup tubuh Vivian dengan jas yang ia kenakan.
"Pistol? Apa yang sudah terjadi?" tanya Raymond dalam hati. Ia sedikit heran karena tidak menemukan siapapun di apartemen Max selain bercak darah dan Vivian yang pingsan.
Dengan segera ia menggendong Vivian menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Shen.
"Dream, bawakan beberapa pakaian Vivian kerumah sakit Shen." Titah Raymond melalui sambungan telepon. Setelah itu ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ia tidak berkata apapun pada Vivian yang pingsan. Bukan membenci, hanya saja hatinya masih belum siap dengan keadaan yang sudah terjadi.
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit Shen segera menyambut mereka dan meminta perawat untuk meletakkan Vivian diatas brankar dan membawanya keruang penanganan.
Shen segera memeriksa keadaan Vivian, sedangkan Raymond menunggu diluar. Hatinya berkecamuk melihat keadaan istrinya. Ia mengacak kasar rambutnya. Frustasi, itu yang dirasakan nya.
Ucapan Ayahnya tentang Vivian masih terngiang ngiang di kepalanya bersamaan dengan video panas yang Max kirimkan padanya.
"Tidak tidak. Jangan gegabah Ray. Ayah benar, Vivian tidak seperti Ibu mu. Dia bukan seperti Ibu mu." Batin Raymond berusaha menenangkan dirinya.
Tak lama setelah itu Shen keluar dari ruang penanganan. Wajah Shen tidak tampak biasa. Raymond melihat itu sedikit khawatir.
"Bagaimana keadaan Vivian? Apa dia baik baik saja?" tanya Raymond khawatir.
Huft
Shen menghela nafas kasar.
"Dia tidak baik baik saja secara fisik. Mental nya juga sangat menderita saat ini." Ucap Shen menatap kasihan pada Raymond.
"Sial." Ketus Raymond memukul dinding didepan nya.
"Sebaiknya setelah dia sadar nanti, berikan dia waktu sendiri dulu, atau setidaknya temani dia tanpa harus bertanya apapun." Shen kembali menjelaskan.
"Kali ini apa yang dialami nya tidak main main Ray. Fisik dan hati nya sama sama terluka. Jika kau benar benar mencintai nya, maka dampingi dia hingga keadaan nya membaik. Tapi jika kau tidak menginginkan nya lagi, maka biarkan dia sembuh sendiri tanpa menambah luka pada nya." Ucap Shen panjang lebar.
Raymond memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Vivian. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang Vivian. Hingga ia memutuskan untuk duduk di kursi kosong samping ranjang Vivian.
Ia meraih tangan Vivian kedalam genggaman nya. Dikecup berkali kali tangan mungil yang sangat ia rindukan itu. Tidak, tidak hanya tangan nya, tapi semua nya.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku tidak bisa menjaga mu dan malah menyalahkan mu. Maafkan aku." Ucap Raymond terisak dan menggenggam erat tangan Vivian.
"Aku bodoh. Aku menyalahkan mu begitu saja tanpa mencari kebenaran. Harus nya aku tahu kau tidak sehina Ibu ku. Maafkan aku sayang." Ucap Raymond lagi, kini ia memukuli dadanya dengan satu tangannya seolah menyalurkan rasa sakit Vivian pada dirinya.
Maaf dan hanya kata maaf yang terus terucap dari bibir Raymond. Ia merasa kecewa, sekaligus bersalah. Rasa cinta nya pada Vivian lebih besar, mengalahkam ego nya.
#####
Dirumah sakit lain, tampak Max sedang mondar mandir tak tentu arah. Sesekali kaki nya menendang kursi tunggu didepan nya atau tangannya memukul dinding didepan nya.
"Sial sial sial." Ucap Max geram.
__ADS_1
Ia marah, tapi ia marah pada dirinya sendiri. Marah karena sudah membuat nyawa perempuan yang mencintai nya itu terancam. Marah karena ia membiarkan dirinya dikuasai ego hingga terlalu lama sampai ia tidak bisa melihat ketulusan Vanessa.
"Vanessa, aku mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku." Gerutu Max menjambak kasar rambutnya.
Ia benar benar frustasi saat ini. Ia tidak menyalahkan Vivian lagi, tapi ia menyalahkan dirinya sendiri. Dirinya yang terlalu bodoh karena tidak bisa merasakan ketulusan Vanessa.
"Bertahanlah Vanessa. Jangan pergi tanpa ku. Aku tidak ingin tanpa mu." Batin nya lagi.
"Kak ... "
Max menoleh kearah suara yang memanggil nya. Ia melihat sosok adiknya berjalan mendekati nya.
"Rex ... " Ucap Max mematung.
"Kak, ini akhir yang kau inginkan bukan?" tanya Rex dengan tatapan pilu pada kakak nya.
"Kau bahagia sekarang? Kau bahagia sudah menyakiti dua perempuan baik sekaligus?" Rex kembali melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak menyangka kau kejam seperti ini kak. Selama ini aku hidup dari belas kasihan mu. Aku pikir kau benar benar sosok kakak yang pantas ki jadikan panutan. Tapi aku salah. Kau tidak layak." Rex tersenyum sinis.
"Pergilah dari sini. Vanessa tidak membutuhkan dirimu. Kau hanya akan menambah luka dan masalah dengan kehadiran mu. Pergi saja sejauh yang kau inginkan dan jangan pernah bertemu Vanessa lagi. Dia pantaa bahagia dan bukan bersama mu. Kau terlalu rendah untuk dicintai perempuan baik seperti Vanessa atau perempuan manapun. Lebih tepat nya kau tidak layak mendapatkan cinta dari siapa pun." Rex menghina kakak nya habis habisan.
Walau perkataannya menyakitkan, tapi hati nya juga sakit harus mengatakan semua kata kata menghina itu pada kakaknya. Tapi mau bagaimana lagi, ini cara terakhir dan satu satunya yang bisa dia pakai untuk menyadarkan kakaknya.
"Sekarang pergilah kak. Pergi dari sini." Nada bicara Rex meninggi.
Max mau tidak mau akhirnya Max pergi meninggalkan rumah sakit itu. Entah kenapa ia merasa tidak punya kemampuan melawan Rex, bahkan ia merasa semua yang Rex katakan padanya adalah kenyataan.
"Vanessa ... "
Misi yang seger numpang lewat
*********
makasih buat semua dukungan kalian.
Jangan bosan bosan selalu ninggalin jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita sebagai bentuk dukungan kalian.
__ADS_1
Ramaikan juga yuk karya ku yang berjudul IF LOVE
Salam sayang buat kalian semua dan selalu jaga kesehatan yah.