
"Honey cepatlah. Ya ampun kau ini lama sekali. Apa kau ingin terlambat dihari pertama kuliah mu?" Raymond mengomeli Vivian bertubi-tubi sambil berjalan menuruni tangga setelah keluar dari kamar nya. Pasalnya dari Raymond bangun Vivian sudah bangun lebih awal dan sudah mulai bersiap, ia tahu karena ia bertanya pada Dream. Tapi sampai ia sudah selesai siap-siap pun Vivian masih belum tampak batang hidungnya.
"Hulf..kau bisa Vi, kau bisa. Aa ya ampun kenapa aku gugup sekali" gumam Vivian berusaha menenangkan diri nya didepan cermin.
Raymond sedang menunggu di bawah sambil mondar-mandir tanpa tujuan sesekali melirik jam tangan nya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke atas menyusul Vivian.
"Honey cepatlah lah" ucap Raymond dengan nada tinggi sambil menggedor pintu kamar Vivian. Kesabaran nya hampir habis menunggu Vivian.
"Krek" terdengar suara handle pintu dibuka dari dalam.
"Kau ini lama sekali" ucap Raymond menarik tangan nya untuk berjalan. Mau tidak mau Vivian hanya mengikutinya sambil menunduk. Perasaan nya benar-benar tidak tenang. Ia merasa gugup, bahagia, semua bersatu dalam hati nya.
"Ray, aku gugup sekali" ucap Vivian membuka pembicaraan saat sudah berada dalam mobil dengan Raymond yang mengemudi.
"Kau itu hanya akan pergi kuliah. Bukan berperang" jawab Raymond jutek. Ia benar-benar sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meluap.
"Tapi tetap saja aku sangat gugup" ucap Vivian kembali sambil memainkan jarinya yang saling bertautan. Raymond malas untuk menjawab nya membuat Vivian menghela nafas kasar.
Wajar saja jika Vivian merasa sangat gugup, untuk pertama kalinya setelah dua tahun ia akan kembali berbaur dengan dunia luar. Pasalnya selama ini ia hanya selalu bersama Raymond dimanapun dan kemanapun. Raymond sangat posesif menjaganya, setiap kali ia mendengar Vivian ingin pergi ia pasti meminta untuk ikut, dan Vivian tidak boleh menolak. Tidak terasa akhirnya mereka sampai di depan Universitas tempat Vivian akan kuliah.
"Belajar yang benar agar kau cepat lulus dan bisa mendesain rumah masa depan kita" ucap Raymond memegang lembut kepala Vivian sambil tersenyum saat mereka sudah keluar dari mobil.
__ADS_1
"Masuklah" ucap Raymond lagi dengan mencium puncak kepala Vivian. Vivian pun melangkah dengan pelan tapi pasti dan masuk ke Universitas ternama itu meninggalkan Raymond yang masih setia memandangi kepergian nya. Saat dirasa sudah aman Raymond pun beranjak menuju perusahaan nya.
"VIVIAN" terdengar suara seorang gadis berteriak memanggil nama nya. Vivian langsung menoleh kearah asal suara itu. Ternyata yang memanggil Vivian adalah Joyce teman Senior High School nya.
"Joyce kenapa kau bisa disini?" tanya Vivian setelah Joyce mendekat kepadanya dan memeluknya.
"Aku baru saja mendaftar disini. Dan hari ini adalah hari pertama ku masuk kuliah" jelas Joyce.
"Apakah kau juga menunda dua tahun masa kuliah mu" tanya Vivian penasaran. Pasalnya sejak hari penyerangan itu ia sama sekali tidak mendapatkan kabar tentang Joyce dan keluarga nya.
"Hem. Ah sudahlah cerita nya sambil jalan saja" ucap Joyce lalu menarik tangan Vivian untuk berjalan disampingnya. Sepanjang jalan menuju ruang kelas mereka menceritakan semua yang telah terjadi selama dua tahun ini sambil diiringi gelak tawa.
"Tertawalah sepuas mu sekarang nona. Sebentar lagi kau akan memasuki neraka mu" guman pria itu.
Saat sudah berada di ruang kelas, banyak mahasiswa yang menatap kagum akan kecantikan Vivian dan sebagian mahasiswi menatap iri padanya. Suara langkah kaki terdengar di lorong dekat kelas mereka tanda seseorang sedang berjalan mendekat.
"Aku Louise Jiang. Terserah kalian ingin memanggil ku apa" ucap Louise dengan santai memperkenalkan diri membuat mahasiswa mahasiswi yang sedang bercerita langsung fokus memperhatikan nya. Ada yang kagum, ada yang ngeri melihat bekas luka diwajahnya. Dan kebanyakan mahasiswa tidak suka kepadanya karena walaupun terdapat bekas luka di wajahnya, ia masih terlihat sangat tampan.
"Max" gumam Vivian saat ia mengalihkan pandangan nya kepada Louise. Pasalnya Louise terlihat sangat mirip dengan Max walau dengan bekas luka yang menghiasi wajahnya. Louise mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru kelas dan pandangan nya berhenti saat mata nya bertemu mata indah Vivian yang sedang menatapnya penuh rindu. Ia kemudian mengalihkan pandangan nya dan mulai menyiapkan materi yang akan disampaikan kepada mahasiswa mahasiswi nya.
"Hari ini aku akan menyampaikan beberapa materi tentang teknik mendesain" ucap Louise memulai pelajarannya. Sepanjang ia menjelaskan Vivian tidak pernah mengalihkan pandangan dari nya. Vivian benar-benar sangat merindukan Max, bahkan setiap saat ia selalu berharap bahwa Max benar-benar masih hidup dan ia bisa bertemu lagi dengan nya. Beberapa mahasiswa mahasiswi tampak antusias mendengarkan dan sesekali bertanya kepada Louise bagian yang kurang mereka pahami. Ada juga yang mencoba menggodanya dengan menanyakan nomor ponselnya.
__ADS_1
"Baiklah sampai disini dulu penjelasan ku. Apa ada yang masih belum paham?" tanya nya lalu mengalihkan pandangan nya kepada Vivian yang masih setia memandangi nya. Saat dirasa tidak ada yang mengajukan pertanyaan lagi, ia kemudian berjalan keluar dari ruang kelas. Namun saat akan mencapai pintu kelas ia kemudian berhenti dan berbalik lalu melangkah mendekati Joyce yang duduk di samping Vivian.
"Nona manis apa aku boleh meminta nomor ponsel mu?" tanya Louise pada Joyce sambil tersenyum yang langsung mendapat sorak sorai dari yang lainnya. Vivian terbelalak tak percaya. Sedangkan Joyce hanya tersipu malu sambil menyerahkan ponselnya pada Louise. Louise melakukan panggilan melalu ponsel Joyce ke nomor ponselnya, setelah panggilan terhubung ia lalu mematikan panggilan dari ponsel Joyce. Dan meraih ponselnya dari saku celana nya. Ia langsung menyimpan nomor Joyce dan menamai nya Princess. Setelah selesai ia memperlihatkan ponselnya nya kepada Joyce membuat Joyce lagi-lagi tersipu malu. Lalu ia mencubit lembut hidung Joyce membuat seluruh kelas kembali bersorak heboh, lalu ia melangkah meninggalkan nya. Vivian benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hah, apa yang aku pikirkan? tentu saja dia bukan Max karena Max sangat tidak suka pada Joyce. Dia hanya beruntung mempunyai wajah yang mirip dengan Max" batin nya dalam hati lalu beranjak keluar dari kelas.
"Belajar lah dengan giat tapi jangan terlalu lelah" Louise mengirim pesan kepada Joyce. Sedangkan Joyce yang membacanya hanya bisa tersenyum malu dan membalas singkat mengiyakan isi pesan dari Sang Dosen tersebut.
"Ah aku sangat lapar" ucap Vivian yang sedang berjalan dilorong kampus sambil menepuk perutnya.
"Ini makanlah" ucap Louise yang menghampiri nya dari arah berlawanan sambil menyerahkan sekotak makanan kepadanya.
Vivian tidak menjawab malah menatapnya malas dan berlalu meninggalkan nya. Louise kemudian berbalik mengejarnya dan menghadang langkahnya dari depan. Ia kemudian meraih telapak tangan Vivian dan menyerahkan makanan tadi kedalam tangan Vivian dan berbalik meninggalkan Vivian. Ia melangkah sambil tersenyum dan menggeleng kecil.
"Dasar aneh" batin Vivian.
^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^
^^^Jangan lupa juga untuk menekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya~^^^
...*Terima Kasih*...
__ADS_1