
.
.
.
#SALAMTOLERANSI
.
.
.
.
"Rai, makan yang banyak. Semoga kau cocok dengan masakan Mama." Ucap Vanessa pada calon menantu nya itu.
Mereka kini sedang menikmati makan malam bersama.
"Ini lezat Ma. Terasa seperti masakan Mama ku." Ucap Raiyan tersenyum lebar pada Vanessa.
"Menjijikkan." Gumam Max melihat tingkah calon menantu nya itu.
"Ini sayang, kau juga makanlah." Titah Raiyan menyendokkan lauk dan sayuran untuk Axnes.
Axnes tersenyum manis mendapat perlakuan manis dari kekasihnya.
"Berhenti tersenyum seperti itu." Titah Max kesal pada putrinya.
Axnes tersenyum lebih lebar melihat Ayahnya cemburu pada kekasihnya.
"Kau harus punya banyak tenaga untuk nanti sayang." Ucap Raiyan menatap Axnes dan memberi kode lewat matanya.
"Iya sayang. Aku mengerti." Ucap Axnes masih tersenyum.
"Berani kalian macam macam, aku patahkan kaki Raiyan." Max mengancam dua sejoli itu.
"Max." Vanessa menegur suaminya.
Max mendengus kesal.
"Kali ini aku benar benar menemukan malaikat pencabut nyawa ku. Seperti nya aku akan mati di tangan pria nakal ini dengan diagnosa penyakit darah tinggi." Batin Max menusukkan garpu nya pada makanan nya dengan kasar.
Sedangkan Raiyan malah semakin sengaja bermanjaan ada romantisan dengan Axnes.
Vanessa hanya tersenyum melihat tingkah ketiga orang itu.
Selesai makan, mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga.
Raiyan sengaja menarik Axnes untuk menempel terus pada nya, agar bisa membuat Max jengkel terus. Padahal Axnes ingin sekali dekat dengan Mamanya.
"Papa, paman Rex dimana?" Tanya Axnes bingung karena sejak dari kedatangannya ia hanya melihat sekali keberadaan Rex.
"Paman mu sekarang sangat sibuk. Dia baru saja membuka cabang perusahaan baru. Maka dari itu ingin bertemu dengan nya dirumah akan sangat sulit." Jawab Max menatap kesal pada Raiyan.
"Ma, apa Axnes dulu kecil sangat nakal?" Tanya Raiyan penasaran.
"Axnes tidak nakal Rai. Dia dari kecil adalah gadis yang penurut." Ucap Vanessa lembut.
"Sampai akhirnya bertemu dengan mu dan dirusak oleh mu." Sarkas Max.
Raiyan hanya tersenyum sinis pada Max, walau dalam hati nya merasa bersalah.
"Jadi, apa kita bisa berbicara serius sekarang?" Tanya Max datar menatap tajam Raiyan.
__ADS_1
Raiyan mengangguk sambil menggosok bibir bawah nya dengan telunjuknya dan satu tangannya setia merangkul Axnes.
"Kapan kau akan menikahi putri ku?" Tanya Max dingin.
"Aku tidak akan menikahi nya. Kami yang akan menikah." Ucap Raiyan santai.
"Sama saja." Ketus Max.
"Tidak paman. Jika aku yang menikahi nya maka itu ku lakukan hanya karena tanggung jawab, begitupun sebaliknya. Tapi jika kami yang menikah itu artinya kami ingin bersama menyatukan cinta kami ke jenjang yang lebih serius. Ulangi pertanyaan nya." Jelas Raiyan dengan memerintah.
Max mengepalkan tangannya kuat.
Rasanya ingin sekali menghantam wajah Raiyan.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Max ketus.
"Yang sopan paman. Apa tidak bisa memberi contoh yang baik pada yang lebih muda?" Titah Raiyan tanpa rasa bersalah.
Vanessa tidak akan ikut campur dalam perdebatan mereka.
Hanya Axnes yang berusaha menghentikan kekasihnya.
Max meraih ponselnya hendak menghubungi Raymond dan Vivian untuk mengadu.
Raiyan seolah dapat membaca pikiran nya.
"Tidak perlu menghubungi Papa Mama ku, paman. Mereka tidak akan peduli dengan mu." Ucap Raiyan santai.
Brakk
Max melempar kasar ponselnya hingga pecah.
Raiyan tersenyum puas melihat Max tersulut emosi.
Vanessa tetap diam walau suaminya sudah tersulut emosi.
Sudah lama tidak melihat Max tersulut emosi seperti ini, apalagi yang memancingnya adalah calon menantu nya sendiri.
"Kami ingin menikah bulan depan." Ucap Raiyan tanpa basa basi lagi.
"Kau yakin secepat itu Rai?" Tanya Vanessa ragu.
Raiyan mengangguk serius.
"Aku yakin Ma. Aku tidak ingin berlama lama untuk hari baik itu." Ucap Raiyan serius.
Jika dengan Vanessa, Raiyan sangat sopan. Seperti sikapnya pada Vivian.
"Jadi bagaimana Papa?" Tanya Raiyan menekan kata Papa pada Max.
"Terserah kau saja. Lebih cepat malah lebih baik. Aku tidak ingin putri ku malah hamil besar sebelum menikah." Ucap Max ketus.
"Tidak ada yang akan hamil besar hanya dalam waktu sebulan Pa." Kini Axnes yang bersuara.
"Dimana akan diadakan upacara pernikahan dan pestanya?" Tanya Max.
"Disini. Aku ingin pernikahan kami digelar di negara kelahiran istri ku." Ucap Raiyan percaya diri menyebut Axnes istrinya.
"Cih. Pria murahan." Ucap Max berdecih kesal.
"Aku murahan, tapi setidaknya aku tidak mengganggu milik orang lain." Ujar Raiyan menyindir calon mertua nya.
Max hanya terdiam. Apa yang dikatakan Raiyan memang benar. Dulu, dialah yang sudah mengganggu Vivian padahal ia jelas tahu Vivian saat itu sudah menikah.
"Aku ingin bicara berdua dengan mu." Ucap Max menatap Raiyan.
"Aku tidak mau. Lain kali saja. Ada yang lebih penting yang harus aku kerjakan saat ini. Lagipula aku sudah mengantuk. Hoam." Raiyan menolak ajakan Max.
"Ya sudah, kalian istirahat saja. Besok kita akan membahas ulang semuanya." Titah Vanessa.
Raiyan dan Axnes pun bangkit dari duduk mereka dan beranjak ke kamar.
__ADS_1
Sesudah didalam kamar, mereka tidak langsung tidur.
Mereka hanya berbaring, berkutat dengan pikiran masing masing.
"Rai, apa kau sebenarnya masih membenci Papa ku?" Tanya Axnes sendu.
"Tidak sayang. Tapi mengerjai Papa mu sangat menyenangkan." Jawab Raiyan sejujurnya.
Kedua nya kembali terdiam.
"Sayang, aku bosan." Ucap Raiyan merengek lalu memeluk kekasihnya dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Axnes.
"Lalu kau mau apa supaya tidak bosan?" Tanya Axnes asal.
Raiyan diam sejenak seolah sedang berpikir.
"Aku ingin kita bermain." Ucap Raiyan kini menatap kekasihnya dengan tatapan jahil dan menaik turunkan kedua alis nya bersamaan.
"Hei, jangan macam macam." Titah Axnes.
#####
"Hah, kepala ku pusing sekali." Gerutu Max menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya.
"Bersabarlah. Semua itu karma mu." Ucap Vanessa malah mengejek suaminya.
Hah
Max menghela nafas kasar.
"Argh..sayang lebih kuat lagi." Suara erangan Raiyan terdengar kuat dari dalam kamar Axnes.
"Haha..diamlah Rai." Suara ketawa Axnes juga tidak kalah keras.
"Anak anak ini." Max memijat pangkal hidung nya, kepalanya terasa semakin pusing.
"Arghh..sayang kau sangat hebat. Lebih kuat lebih cepat lagi." Suara Raiyan kembali terdengar.
"Astaga." Ucap Max geram.
Ia langsung mengambil langkah seribu menuju ke kamar putri tercintanya.
"Dikunci." Gumam Max saat tidak berhasil membuka pintu kamar Axnes.
"Uh..sangat nikmat sayang." Suara lenguhan Raiyan lagi lagi terdengar.
Brakk
Dalam sekali tendangan, pintu kamar Axnes berhasil dijebol oleh Max.
"Apa yang ... " Ucapan Max terhenti saat melihat Axnes sedang memijat punggung Raiyan.
Raiyan hanya tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Aku hanya memijat nya Pa. Apa salah juga?" Tanya Axnes bingung.
"Arghh..terserah kalian saja." Geram Max.
"Pintu kamar ku rusak Pa." Keluh Axnes manyun.
"Besok suruh orang perbaiki. Malam ini tidur dikamar lain." Titah Max langsung pergi dari hadapan dua orang itu.
"Kena kau orang tua. Tidak apa tidak bisa membalas dendam pada mu. Setidaknya aku masih bisa mengerjai mu dan membuat mu darah tinggi." Batin Raiyan tersenyum sinis.
...~ To Be Continue ~...
*******
Dah, next part coba lebih serius.
Kasian Max dijahilin mulu sama mantunya.
__ADS_1
Like dan komentar jangan lupa.