Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 40 - Jebakan


__ADS_3

...( Sedikit Perubahan, di awal paragraph)...


.


.


.


Raiyan membawa wanita yang mengaku sebagai Emily itu kembali ke apartemen milik perempuan itu sesuai dengan permintaan nya.


Ren dan Alina memilih mengikuti mereka dari belakang dengan mobil Ren sendiri.


"Semoga saja kau tidak bertindak bodoh Emily palsu atau aku yang akan memberi mu pelajaran." Ucap Ren membatin.


"Sayang, apa dia benar adalah Emily? Aku tidak percaya sama sekali." Tanya Alina meragukan.


Alina sempat tahu cerita tentang Emily dari Ren. Alina juga sempat melihat foto Emily dirumah Ren sebelum mereka memutuskan untuk menjalin hubungan serius.


"Dia bukan Emily. Aku yakin sekali. Cara bicara nya saja tidak mirip sedikitpun. Emily tidak akan gugup menghadapi ku sekalipun dia sedang berbohong." Jawab Ren dengan penuh keyakinan.


Alina mengangguk paham.


Tak lama mereka sampai, sesaat setelah Raiyan dan Emily sampai.


Raiyan menarik Emily dengan sangat kuat untuk naik ke unit apartemen nya karena sebelumnya Emily sudah memberitahu tempat tinggalnya pada Raiyan.


Raiyan bahkan tidak peduli Emily beberapa kali memintanya untuk berjalan perlahan dengan alasan lelah karena sedang hamil.


"Sekarang katakan apa mau mu wanita jahanam?!" Titah Raiyan geram dan mendorong Emily dengan sangat kuat keatas sofa ruang utama apartemen nya.


Emily tersenyum sinis.


Ren dan Alina tidak sempat ikut masuk akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menunggu di luar, takut jika Raiyan akan berbuat nekat dan gila.


"Tenang lah sayang. Kau dulu tidak pernah marah pada ku." Ucap Emily dengan nada sensual.


Satu kesalahan yang ia sebutkan saat ini, padahal Raiyan sering marah pada Emily dulu karena Emily selalu memancing nya.


Raiyan hanya tersenyum sinis dan menunggu perempuan di depan nya membongkar kebohongan nya sendiri.


"Aku rindu padamu Rai." Ucap Emily bangkit dari posisinya dengan susah payah dan melangkah mendekat pada Raiyan.


Raiyan hanya berdiri dan menunggu apa yang akan ia lakukan.


Emily melangkah ke arah dapur dan meraih sebotol air mineral untuk Raiyan.


Ia langsung membuka tutup nya dan memberikan pada Raiyan.


"Minumlah dulu." Ucap Emily.

__ADS_1


Sialnya Raiyan malah langsung meminum air tersebut tanpa berpikir dua kali.


Emily tersenyum sinis kembali.


Ia perlahan mulai melepaskan helai demi helai pakaiannya hingga menyisakan pakaian dalam bagian atas dan bawah nya.


Ia bahkan juga melepaskan perut silikon palsu yang ia pakai hingga membuatnya seolah sedang hamil.


"Sayang, apa aku masih sama membuat mu bergairah seperti dulu?" Tanya Emily mendekati Raiyan dan meraba dada bidang nya.


Raiyan yang sudah terjebak dengan meminum air yang sudah diberi obat perangsang oleh Emily tadi, seketika merasa tubuhnya memanas.


Raiyan berusaha menahan diri dan kembali mendorong Emily dengan sangat kuat hingga terjungkal di lantai.


"Kau penipu, kau bahkan memalsukan kehamilan mu. Katakan siapa yang membayar mu?" Titah Raiyan menahan gairah nya yang semakin memuncak.


"Haha. Itu tidak penting tampan. Tapi saat ini, aku harus menyelesaikan tugas ku dulu dengan memberi kepuasan pada mu." Ucap wanita itu akhirnya mengakui secara tersirat bahwa dia adalah Emily palsu.


Ia bangkit dari posisinya dan sengaja mencumbu Raiyan dan berusaha melepaskan pakaian Raiyan.


Raiyan tetap menolak dan berusaha membentengi diri nya.


Hanya Axnes istrinya yang kini ia pikirkan. Ia harus bisa menjaga kepercayaan istrinya.


Emily palsu itu dengan sangat sengaja menarik jas yang Raiyan pakai hingga membuat posisi Raiyan seolah mendorong dan menindih nya.


"Ayolah sayang, aku akan memuaskan mu saat ini." Ucap Emily merangkul leher Raiyan membuat Raiyan seolah sedang mencumbu nya.


PLAK


"Wanita jahanam. Aku tidak akan sudi menyentuh mu. Kau bahkan tidak ada harga nya sama sekali dibanding istri ku." Ucap Raiyan setelah menampar pipi Emily palsu itu dengan sangat kuat.


Raiyan menahan segala gairah nya yang semakin memuncak dan beranjak pergi dari tempat terkutuk itu.


Lebih baik ia menyalurkan hasrat nya pada istrinya daripada harus menyakiti istrinya lebih dalam.


Setelah Raiyan pergi, Emily palsu segera mengambil kamera tersembunyi itu lalu masuk kedalam kamar dan mengunci diri nya. Sudah bisa dipastikan ia memproses video tersebut untuk dikirim pada keluarga besar Raiyan.


"Rai, kau tidak apa-apa?" Tanya Ren khawatir saat melihat Raiyan berjalan sempoyongan keluar dari unit apartemen itu.


"Ren, kita mungkin bukan teman apalagi sahabat. Tapi kali ini aku minta tolong padamu. Bantu aku selesaikan masalah ini. Dia bukan Emily, aku sudah pastikan." Ucap Raiyan terbatah lalu segera melangkah keluar dari tempat itu.


Setelah berhasil mencapai mobilnya dengan susah payah, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk kembali ke rumah Max.


Entah lah keluarga besarnya sudah kembali ke rumah itu atau belum, tapi tujuan utama nya hanya istrinya saat ini.


"Maafkan aku sayang." Raiyan bergumam merasa bersalah pada istrinya.


Tak lama Raiyan pun sampai di rumah Max.

__ADS_1


Dengan segera ia melangkah masuk kedalam rumah itu setelah turun dari mobil nya.


Ia berjalan sempoyongan.


PLAK


Raiyan mendapatkan tamparan yang cukup kuat saat kakinya baru saja melangkah masuk kedalam rumah itu.


"Pria brengsek. Kau bahkan berani mengkhianati putri ku dihari pernikahan mu yang belum genap satu hari." Geram Max.


Ya, Max lah yang menampar Raiyan dengan kuat.


Keluarganya sudah menerima video palsu yang dibuat oleh Emily palsu itu.


"Itu semua tidak benar." Ucap Raiyan terbatah menahan sakit dan gairah bersamaan.


Axnes dipeluk erat oleh Vanessa dan Vivian.


PLAK


Raiyan kembali mendapat tamparan keras, kini dari sang Ayah kandung, Raymond.


"Tidak benar? Apa kau menganggap kami semua buta?" Ucap Raymond geram.


"Aku mohon Pa, Papa Max. Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Tapi saat ini aku membutuhkan istri ku." Ucap Raiyan menahan sesak dan menatap nanar pada istrinya.


"Sayang, aku mohon percaya pada ku. Aku tidak menyentuh nya." Pinta Raiyan berusaha untuk mendekat pada istrinya namun ditahan oleh Max dan Raymond.


Axnes mengangguk pelan pada suaminya.


"Aku mohon ... "


BRUKK


Raiyan seketika jatuh pingsan.


"Raiyan." Axnes berteriak histeris dan menepis tangan Vanessa dan Vivian yang memeluknya.


"Rai, bangunlah aku mohon." Pinta Axnes menepuk pipi suaminya.


"Cukuplah kalian. Jika masalah ini benar sekalipun, yang harusnya paling marah adalah aku karena aku istrinya. Jika memang dia menyentuh perempuan itu, aku yang harusnya marah pada nya karena yang dia khianati itu aku bukan kalian." Ucap Axnes geram pada orang tua nya.


Dengan sekuat tenaga ia berusaha memapah tubuh pingsan suaminya kedalam kamar.


"Siapapun yang masih menganggap aku bagian dari keluarga ini, tolong hubungi dokter." Titah Axnes tanpa menatap wajah keluarganya dan terus melangkah hingga masuk kedalam kamar nya.


...~ To Be Continue ~...


######

__ADS_1


Otak ku lagi menghilang, jadi buat nulis part ini perlu ngumpulin usaha, niat yang sangat besar.


Makasih sekali aku ucapkan untuk kalian yang sudah setia walaupun cerita nya sudah ngalur ngidul entah kemana.


__ADS_2