
"Ambil darah ku saja" terdengar suara pria yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Kau?" ucap Vivian, Jiro, dan Sion serentak. Pria yang dimaksud adalah Rex orang yang sudah mencelakai Raymond dengan begitu parah. Tanpa bertanya dokter segera menarik Rex untuk menuju ruang pemeriksaan.
Max yang tadi datang bersama Rex kini tengah menatap pilu gadis yang dicintai nya sedang menangis sesekali menyebut nama Raymond. Ia ingin marah namun ia tidak mampu. Ia sadar ia sudah terlalu jauh untuk menggapai Vivian. Ia tidak sanggup melihat gadis nya itu menangis terus, ia pun memutuskan untuk menghampiri dan membawanya ke dalam pelukan nya.
"Tenang lah. Dia pasti akan baik-baik saja" ucap Max berat.
"Jika kau terus menangis seperti ini bagaimana kami akan menjelaskan pada nya saat ia sadar nanti" lanjut Max. Tanpa ia sangka Vivian membalas pelukan nya.
"Aku takut. Aku takut dia tidak akan kembali Louise" ucap Vivian dengan suara lemah dan penuh kesedihan. Ia masih memanggil Max dengan nama Louise karena ia belum mengetahui yang sebenarnya.
"Jika dia tidak kembali lagi maka aku yang akan pergi ke alam baka untuk menyeret nya kembali" ucap Max dengan nada menakutkan seolah sedang mengancam.
Tak jauh dari mereka Jiro menatap aneh kepada Max "Apa dia sehebat itu? Sampai-sampai dia bisa pergi ke alam baka untuk membawa orang yang sudah disana untuk kembali" batin Jiro merasa heran dengan apa yang diucapkan oleh Max. Sion hanya tersenyum kecil melihat tatapan heran Jiro pada Max.
Terlihat Rex sudah selesai dengan pemeriksaan nya dan sedang berjalan mendekati mereka. Setelah diperiksa dan semua baik-baik saja, dokter pun mengambil darah Rex sebanyak tiga kantong dan mungkin akan memerlukan lebih. Ia memaksakan diri untuk keluar dan menunggu bersama mereka padahal kondisi nya masih sangat lemah.
"Vi" namun perkataannya Rex terhenti saat ia melihat Max mengangkat telapak tangannya. Ia pun mengerti lalu memutuskan untuk duduk tak jauh dari Vivian.
"Kau istirahatlah sebentar" ucap Sion iba melihat kondisi lemah Rex.
"Tidak apa-apa. Aku akan berbaring di sini saja" ucap Rex lalu ia membaringkan tubuh lemah nya dikursi panjang tempat mereka duduk. Jiro kemudian mendekati Sion dan berbisik.
"Hei, apa kau sudah menghubungi Tuan besar Harley?" tanya Jiro berbisik pada Sion.
__ADS_1
"Tidak tidak, kau saja yang hubungi beliau" jawab Sion menyilang kan tangan nya tanda ia tidak ingin melakukan apa yang diusulkan Jiro.
"Kau ini lebih tua dan kau adalah pengawal kepercayaan Tuan Ray, sebaiknya kau saja yang hubungi Tuan besar Harley" ucap Jiro tak ingin kalah.
"Kau masih muda dan kau adalah orang kepercayaan Tuan Ray dalam urusan perusahaan jadi sebaiknya kau saja yang memberitahu Tuan besar" ucap Sion mengelak usul Jiro. Mereka sedang kebingungan bagaimana menyampaikan pada Tuan besar mereka kalau putra tercinta nya sedang kritis.
"Louise aku harus membuat panggilan sebentar" ucap Vivian melepas pelukan nya dari Max dan Max hanya mengangguk lalu membiarkan Vivian pergi. Vivian melangkah tidak jauh dari mereka lalu ia mengeluarkan ponsel nya untuk memanggil seseorang. Dalam dering ke dua orang yang dihubungi Vivian langsung mengangkat panggilannya.
"Paman" ucap Vivian. Ya Vivian sedang membuat panggilan kepada Harley.
"Paman hikss Ray, Ray sedang dirumah sakit paman. Paman datanglah sekarang" ucap Vivian terisak. Lalu panggilan Vivian langsung diputus sepihak oleh Harley. Jiro dan Sion yang mendengar Vivian menelpon Tuan besar mereka pun hanya bisa menghela nafas kasar. Jika berhubungan dengan nyawa putranya Harley tidak segan-segan bahkan jika harus membunuh sekali pun. Jiro dan Sion sudah sangat mengetahui itu maka dari itu mereka ragu untuk memberitahu pada Harley apa yang sedang terjadi.
"Jiro Sion apa yang sudah terjadi? Apa kalian dibayar hanya untuk melihat putra ku terluka?" tanya Harley dengan suara yang menggema di lorong rumah sakit membuat Jiro dan Sion bergidik ngeri serta Rex terbangun dari tidur nya. Ia datang tak lama setelah Vivian menelpon nya.
"Ma maaf Tuan. Kejadian nya terjadi dengan sangat cepat sehingga kami tidak sempat melindungi Tuan muda" ucap Jiro gelagapan. Jiro tahu Tuan besar nya bisa sangat manis namun juga bisa sangat menakutkan.
"Ayah tenanglah" ucap Max dan seketika semuanya serentak menoleh kearah Max dengan ekspresi kebingungan.
"Louise kau juga disini" tanya Harley lalu berjalan mendekati Max.
"Iya Ayah, aku bersama Raymond saat ia terluka" ucap Louise dengan tenang.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Harley memegang pundak Max. Max lalu menatap sebentar kearah Rex yang kini sedang menunduk dan memegang kepalanya dengan ke dua tangannya dan paha nya sebagai tumpuan.
"Kami tadi berusaha untuk menyelamatkan Vivian dari penculikan ayah. Namun baru saja memasuki rumah penculik itu tiba-tiba Raymond ditembak oleh penculik itu" ucap Louise kepada Harley. Ia juga sudah tahu apa pertanyaan Harley selanjutnya.
__ADS_1
"Dan dimana penculik itu sekarang?" tanya Harley. Benar-benar tepat dengan apa yang ia pikirkan.
"Maafkan aku paman, tapi penculik itu berhasil lari" ucap Vivian cepat. Ia yang sedang duduk tadi kini tengah menengadah menatap Harley.
"Apa kau baik-baik saja vi? Mata mu sangat bengkak" tanya Harley lalu berjongkok dan menggenggam tangan Vivian serta menghapus air matanya.
"Maaf paman. Jika bukan karena aku mungkin Ray saat ini masih baik-baik saja" ucap Vivian pilu lalu ia menunduk. Air mata tak pernah berhenti mengalir dari mata indahnya.
"Tidak tidak. Tidak vi, jangan menyalahkan diri mu. Dia mencoba menyelamatkan dan melindungi mu itu sudah benar. Karena dia laki-laki dan dia mencintai mu" ucap Harley lalu memeluk Vivian dengan posisi ia masih berjongkok.
Max lalu melangkah pergi meninggalkan mereka. Ia tidak tahan melihat adegan manis antara gadis pujaannya dan juga pria yang sudah menyelamatkan nya. Pria yang ternyata adalah ayah dari laki-laki yang dicintai gadis nya. Ia merasa terluka, ia terlambat. Jika saja saat itu ia tidak menyusun strategi pembalasan dendam dan langsung mencari Vivian saat ia sudah sembuh. Mungkin saat ini ia sudah bahagia bersama Vivian. Dan Vivian tidak perlu menangis untuk pria lain. Mungkinkah?
Lampu merah diatas pintu ruang operasi sudah tidak menyala pertanda operasi telah selesai. Satu persatu dokter yang terlibat dalam penanganan Raymond keluar meninggalkan ruangan operasi begitu juga dengan para perawat nya. Lalu dokter utama yang menangani Raymond pun keluar dari ruang operasi juga.
"Shen, bagaimana keadaan Ray?" tanya Harley pada Dokter Shen. Ya dokter utama yang menangani Raymond adalah Shen dokter kepercayaan Raymond.
"Paman, Raymond" Shen menghentikan perkataan nya.
*************
Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan Mr. Mafia or Mr. Psychopath?
Jangan bosan-bosan nungguin update nya yah.
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part yah. Tekan Favorit agar kalian bisa mendapatkan pemberitahuan update nya.
__ADS_1
Dan follow IG ku @zml1104_ untuk mendapatkan spoiler chapter selanjutnya.