Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Luka


__ADS_3

"AYAH" Vivian berteriak saat ia terbangun dan tersadar dari mimpi buruk nya. Kejadian kemaren malam kembali menghantam ingatannya hingga terbawa ke alam bawah sadar nya.


"Ayah, Max mengapa kalian meninggalkan ku sendirian lagi? Dulu papa mama ku dan sekarang kalian. Hiks.." Gumam Vivian sambil memeluk erat kedua lututnya dan menenggelamkan wajah nya.


"Kau sudah sadar nona?" terdengar suara berat bertanya pada Vivian dan suara langkah kaki yang mendekat.


"Mengapa? mengapa kau harus membunuh ayah ku dan Max?" tanya Vivian masih dalam posisi seperti tadi sedangkan pria itu mengepal tangannya kuat saat mendengar Vivian menyebut nama Max.


"Apa kau berpikir bahwa aku yang sudah menghabisi keluarga mu?" tanya pria itu dengan nada suara yang sulit diartikan


"Jika bukan kau siapa lagi? Hiks.." Ujar Vivian kembali kali ini ia sudah mengangkat kepalanya dan mata sembabnya langsung tepat berhadapan dengan mata tajam pria itu.


"Kau?" Ucap Vivian kembali saat melihat bahwa ternyata yang sedang berbicara dengan nya dan yang menyelamatkan nya tadi malam adalah Raymond.


"Ya aku. Apa kau masih berpikir kalau aku yang sudah menghabisi keluarga mu?" tanya Raymond dengan nada terkesan dingin begitupun aura yang dikeluarkan terkesan mengintimidasi. Sedangkan Vivian hanya menatapnya dengan tatapan pilu. Vivian merasa sangat hancur pasalnya Jordan adalah sandaran satu-satunya dan Max juga sosok yang sudah memberi warna dalam hidupnya akhir-akhir ini.


"Bukan aku yang melakukan itu." Jelas Raymond padanya. Entahlah tapi Raymond sangat tidak ingin jika Vivian salah paham kepadanya.


"Nanti setelah keadaan mu membaik aku akan memberitahu mu yang sebenarnya." Timpal Raymond lalu beranjak meninggalkan Vivian.


Setelah keluar dari kamarnya dan menuruni tangga Raymond lalu memerintahkan Dream kepala pelayannya itu agar membuatkan makanan untuk Vivian.


"Dan satu lagi kau beli semua kebutuhan yang diperlukan seorang perempuan. Pakaian nya atau apapun itu jangan sampai ada yang kurang." Tegas Raymond pada Dream.


"Baik Tuan, akan saya kerjakan segera." Jawab Dream sedikit menunduk.

__ADS_1


Raymond lalu mengeluarkan ponsel dari saku nya dan menghubungi Jiro agar membawa dokter Shen datang ke mansionnya serta memerintahkan kepada Jiro untuk mencari pelaku penyerangan keluarga Vivian yang sebenarnya. Raymond lalu mendudukkan bokong nya di Sofa single yang terletak diruang utama mansion nya itu. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Jiro datang bersama dokter Shen.


"Shen, kau ikut aku dan segera periksa kondisi Vivian." Perintah Raymond lalu beranjak dari tempat duduknya nya menuju kekamar nya yang diikuti oleh dokter Shen. Dokter Shen sedikit berpikir saat mendengar Raymond menyebut nama seorang perempuan.


..........


"Kondisi Fisik nya tidak terlalu parah, luka dikaki nya juga tidak parah hanya perlu diobati dengan benar saja. Tapi psikis nya seperti nya sedikit bermasalah." Ucap dokter Shen saat sudah selesai memeriksa Vivian. Sedang Vivian hanya diam saja dengan air mata yang masih mengalir dari sudut matanya. Ada luka di hati Raymond saat melihat itu.


"Kita bicarakan diluar Shen." Lalu mereka keluar dari kamar itu meninggalkan Vivian sendiri.


"Hei bung, kali ini kau hebat sekali mendapatkan sandera yang begitu cantik." Ucap dokter Shen santai karena memang mereka sepantaran.


"Tutup mulut mu. Dia bukan sandera ku." Ujar Raymond menegaskan.


"Jadi apa maksudmu dengan kondisi psikisnya yang bermasalah?" tanya Raymond


"Dia seperti nya mengalami trauma, jadi Bung sebaiknya kau bisa membantunya melupakan hal yang membuat nya trauma, dan usahakan jangan membuat ia terlalu bersedih." Ujar Shen sambil melangkah meninggalkan Raymond.


"Tuan ini semua barang-barang untuk nona." Ujar Dream yang menghampiri Raymond saat ia hendak melangkah pergi.


"Baiklah, serahkan pada ku." Lalu Raymond menerima semua paper bag yang dibawa Dream tadi dan masuk kembali kekamarnya.


"Ini semua untuk mu." Ujar Raymond sambil menata setiap barang-barang tadi di walk in closet dikamarnya.


"Bolehkah tuan menceritakan sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Vivian yang membuat pergerakan Raymond terhenti.

__ADS_1


Raymond menghela nafas sejenak lalu berjalan menghampiri Vivian dan duduk diranjang disamping Vivian.


"Awal nya memang aku dan kelompok ku akan menyerang ayah mu untuk membalas apa yang sudah ia perbuat kepadaku. Namun saat sampai di mansion mu aku melihat sudah ada kelompok lain yang sedang menyerang dan akhirnya aku dan kelompok ku mundur. Dan ketika diperjalanan pulang aku melihatmu sedang berlari sehingga aku memutuskan untuk membantu mu." Raymond menceritakan apa yang ia tahu dan memang itu yang telah terjadi.


"Maafkan aku." Ucap Vivian dengan suara lemahnya.


"Tidak, kau tidak perlu minta maaf." Ujar Raymond lalu tiba-tiba membawa tubuh Vivian kedalam pelukannya.


"Apa boleh jika aku meminta mu untuk memakam kan Ayah ku dan orang-orang yang tewas disana secara layak?" pinta Vivian terisak dalam pelukan Raymond.


"Sudah. Sudah aku lakukan. Apa kau ingin mengunjungi makam ayah mu?" ujar Raymond. Yah, Raymond memang sudah mengaturkan pemakaman untuk Jordan Li dan orang-orang nya yang tewas. Raymond melakukan nya semata-mata demi Vivian.


"Tidak. Tidak sekarang." Ucap Vivian.


Raymond lalu melihat makanan Vivian yang masih tertata rapi diatas nakas samping ranjang nya. Ia melepaskan pelukan nya dari Vivian dan meraih makanan tersebut. Kemudian ia berusaha untuk membujuk Vivian untuk makan. Vivian menolak untuk makan. Raymond yang kehabisan akal pun akhirnya memutuskan untuk memaksa Vivian dengan cara menyuapinya.


"Makanlah jika kau tidak ingin ayahmu bersedih di sana." Ucap Raymond sambil mendekatkan sendok berisi makanan itu ke bibir Vivian. Mendengar kata Ayah membuat Vivian akhirnya luluh. Iapun akhirnya menerima suapan demi suapan dari Raymond.


Ia berjanji dalam hatinya kepada mendiang ayahnya dan Max bahwa ia akan menjalani hidupnya dengan lebih baik kedepannya. Ia akan mencoba melupakan setiap luka yang ia dapat sekarang. Dan ia berjanji akan membalas kebaikan Raymond walau entah dengan cara apa. Tak lupa ia juga berjanji akan berusaha menggapai impian nya menjadi seorang Arsitek.


^^^~Sekian dulu yah.^^^


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah~^^^


...*Terima Kasih*...

__ADS_1


__ADS_2