Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Harley VS Max


__ADS_3

"Selamat datang pak tua."


Kalimat yang pertama kali Harley dengar ketika ia berada didalam ruangan itu. Ruangan yang sangat minim cahaya. Tubuhnya tidak diikat, mulut nya pun tidak ditutup seperti penculikan pada umum nya.


Ia mendengar jelas suara yang menyambut nya, hanya saja tidak jelas dari mana arah datang nya. Suara tersebut adalah suara berat khas seorang pria.


Tap


Tap


Tap


Bunyi langkah kaki yang menggema di seluruh ruangan. Seperti mendekat pada Harley, tapi ia juga ragu.


"Aku dibelakang mu pak tua." Ucap pria yang menculik Harley tepat di telinga nya.


Harley dengan mantap berbalik arah. Ia dapat melihat sesosok pria namun wajah nya tidak jelas karena minim nya pencahayaan.


"Aku merindukan mu Ayah." Ucap pria itu menekan kata Ayah kemudian memeluk Harley dan bersama dengan lampu ruangan yang menyala.


"Louise, kau ... ?" Harley terkejut saat pria yang memeluk sudah melepaskan pelukan nya. Rupanya manusia yang menculik nya adalah pria yang sudah ia selamatkan dari maut. Pria yang selama ini ia kenal sebagai Louise dan ia anggap sebagai putra nya.


"Haha. Selamat datang Ayah." Ucap Max tertawa santai.


"Mengapa kau membawa ku kesini?" tanya Harley penasaran. Bukan takut, Harley tidak takut bahkan jika ada yang ingin menghabisi nyawa nya. Baginya umur nya sudah terbilang renta, pergi dengan cara apapun ia tidak masalah.


"Aku hanya merindukan mu Ayah." Ucap Max tersenyum licik.


"Katakan terus terang apa tujuan mu?" Nada bicara Harley mulai meninggi. Ia mulai merasa "Putranya" itu tidak seperti yang ia kenal selama ini.


"Sebelum nya aku akan memberi tahu mu satu hal. Nama asli ku adalah Max Jiang. Jadi jangan pernah lagi kau memanggil ku dengan nama Louise." Ucap Max mencengkeram kuat dagu Harley membuat Harley meringis.


Max kemudian berjalan santai menuju sofa sambil menghidupkan rokok yang ia taruh di mulut nya. Ia pun duduk dengan mengangkat kaki nya dan menaruh nya diatas meja yang berhadapan dengan sofa tempat ia duduki sambil menghisap rokok nya.


"Duduk disini Ayah." Ajak Max pada Harley sambil menepuk tempat kosong di samping nya.


Harley hanya menurut. Ia sangat ingin tahu apa yang diinginkan oleh Max. Bukan uang atau harta pastinya, karena Max sudah mempunyai itu.


"Apa yang kau inginkan Max?" tanya Harley setelah duduk di samping Max.

__ADS_1


Bukan langsung menjawab, Max malah menghisap dalam rokok nya dan membuang asap nya tepat di wajah Harley. Kemudian ia tersenyum sinis melihat Harley yang mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir asap rokok nya.


"Aku tidak ingin apapun dari mu." Ucap Max kembali menghisap rokok nya.


Harley memandangi jengah pada Max. Rasanya ia ingin sekali membuang Max kembali ke jurang tempat ia menemukan Max. Ia memutuskan untuk diam saja dan menunggu Max yang berbicara. Seperti nya Max suka bermain main.


"Apa yang aku inginkan ada pada putra mu." Ucap Max kini nada nya terdengar seram dan pandangan nya lurus kedepan, tajam seakan ingin membunuh.


Harley dengan mudah bisa menebak maksud dari perkataan Max.


"Kau ingin menantu ku?" tanya Harley santai namun menatap tajam kearah Max.


"Santai bung. Jangan menatap ku seperti itu. Kau tidak pantas." Ujar Max lagi lagi membuang asap rokok pada wajah Harley.


"Dari awal dia memang milik ku. Tapi putra mu merebutnya dari ku." Timpal Max mencengkeram kerah baju Harley.


Harley tidak melawan, ia tahu melawan pu percuma. Dari segi usia jelas fisik Max masih lebih kuat dari nya. Dan dari segi emosi, tentu saja Max sedang terbakar amarah. Tidak baik untuk dilawan.


"Kau menggunakan ku sebagai umpan?" tanya Harley tersenyum lalu menepis lembut tangan Max dari kerah baju nya. Ia melihat ada keraguan dimata Max saat ia menjawab nya tadi.


"Bukan untuk mengumpan putra mu, tapi menantu mu. Oh bukan lebih tepat nya wanita ku." Ujar Max dengan tatapan sulit diartikan. Nafsu birahi, amarah, dan keraguan bercampur satu.


"Seperti nya kau sangat menginginkan milik putra ku. Apa kau nanti tidak akan menyesal karena hanya mendapat bekas putra ku?" tanya Harley tersenyum mengejek.


Satu tinjuan diberikan Max diperut pria paruh baya itu. Harley meringis namun ia tidak membalas.


"Aku lupa, kau memang lebih pantas mendapat yang bekas." Lagi lagi Harley mengucapkan kalimat yang mengundang amarah Max.


Kembali Max meninju perut Harley beberapa kali dengan kuat. Max benar benar gelap mata bahkan tidak peduli jika yang disiksa adalah orang tua.


"Hahaha. Aku tidak akan membunuh mu hari ini pak tua sialan. Aku masih membutuhkan mu untuk membawa wanita ku kembali." Ucap Max memberi tinjuan terakhir lalu melangkah pergi keluar dari apartemen nya. Apartemen tempat ia menyekap Vivian dulu.


Setelah diluar, ia memerintahkan James yang dari tadi mengawasi keadaan sekitar untuk mengobati Harley. Setelah itu ia memutuskan untuk kembali ke rumah nya bersama Vanessa.


Sepanjang perjalanan senyum nya tidak pernah luntur karena wajah cantik Vanessa memenuhi pikirannya. Tubuh mulus nya, bibir mungil yang membuat nya candu seakan tidak ada pengganti yang lebih baik dari itu. Ia memikirkan Vanessa dan seolah melupakan Vivian sejenak.


Saat ia sampai ke rumah nya, dengan segera ia melangkah menuju kamar nya. Ia melihat Vanessa masih tertidur pulas. Waktu sudah berganti karena jam menunjukan pukul dua pagi. Ia memutuskan untuk setengah berjongkok disamping ranjang dan memperhatikan wajah Vanessa dengan teliti.


"Max." Terdengar igauan kecil keluar dari mulut Vanessa.

__ADS_1


Max tersenyum kecil mendengar nya. Entah lah, tapi ia selalu merasa senang saat Vanessa menyebut nama nya. Max jadi membayangkan suara sexy Vanessa saat mendesahkan namanya ketika bertarung di atas ranjang.


"Akh, kenapa aku bisa melupakan kejadian malam itu?" Batin Max memukul ringan kepalanya.


Perlahan terlihat Vanessa membuka matanya dan mengerjap pelan menyesuaikan cahaya kamarnya. Setelah mata nya terbuka sempurna, ia melihat Max tersenyum manis didepan nya. Sangat tampan walau dengan bekas luka diwajahnya.


"Apa aku sedang bermimpi? Kenapa Tuan gila ini bisa tersenyum semanis ini?" Vanessa menggerutu sambil tetap memandangi wajah tampan Max. Max tentu saja mendengar perkataan nya. Ia tidak marah dan malah tertawa kecil.


Ia kemudian berdiri dan melepaskan sepatunya. Setelah itu ia naik, masuk kedalam selimut yang menutupi tubuh Vanessa dan menindih Vanessa. Ia belum melakukan apa apa dan terua menatap wajah cantik Vanessa.


"Apa aku bermimpi lagi? Ya ampun hati ku, kenapa kau bahkan tidak bisa melepaskan Max walau sedetik. Sadarlah Vanessa, Max tidak mungkin untuk mencintai mu." Gerutu Vanessa memejamkan mata sambil menepuk nepuk jidat nya seolah mengusir pikirannya tentang Max.


Max tertegun mendengar celotehan Vanessa. Kali ini ia merasa Vanessa benar benar tulus pada nya. Sigap ia mulai mengecup lembut bibir Vanessa. Max yang selalu nya brutal pada wanita lain, kini sangat lembut pada Vanessa.


Vanessa membelalakan matanya, sadar ini bukan mimpi.


"Mex." Ucap Vanessa berusaha melepaskan ciuman Max dan ingin mendorong tubuh Max menjauh.


Max tetaplah Max, ia tidak peduli dengan penolakan Vanessa. Tangannya mulai menjelajahi tubuh Vanessa, dan bibirnya mulai menelusuri leher Vanessa membuat Vanessa menggeliat.


Max tersenyum penuh kemenangan. Tangannya mulai menelusup kedalam penutup bawah Vanessa dan memainkan nya disana. Vanessa semakin terbakar gairah akibat ulah Max.


Saat Max melihat wajah sayu Vanessa seakan meminta lebih, ia pun menghentikan aksinya.


"Tidurlah. Aku tidak ingin kau kelelahan karena harus bekerja besok." Ucap Max mengecup kening Vanessa penuh cinta. Ia tetap dengan prinsip awal nya pada Vanessa yaitu akan membuat Vanessa tunduk dan memohon di bawah nya.


Ia pun membetulkan posisi nya dan berbaring di samping Vanessa. Ia memeluk erat Vanessa hingga akhirnya terlelap.


"Pria sialan. Bagaimana dia bisa melakukan itu padaku? Dia memancing ku, dan disaat aku suka rela ingin menyerahkan diriku pada nya, dia malah menghentikan kegiatannya. Tidak Vanessa tidak. Kau harus membuat nya tunduk dan memohon di atas mu." Batin Vanessa didalam hati. Entah sejak kapan Vanessa bersedia menyerahkan dirinya pada Max hanya karena sensasi yang diberikan oleh Max.


Ia kesulitan untuk tidur kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk menghadap kearah Max. Ditatap nya wajah tampan yang mungkin menakutkan bagi sebagian orang itu. Wajah yang mampu membuat nya jatuh cinta saat pertama kali mereka bertemu di Jepang.


Pria misterius yang menakutkan. Psikopat gila yang suka menyiksa walau itu adalah adiknya sendiri. Entah bagian mana yang membuat Vanessa bisa mencintai pria itu. Tapi meski begitu Vanessa tetap tidak boleh lupa tujuan terbesar nya saat mendekati Max. Ia harus bisa menggapai nya walau harus mengorbankan dirinya sekalipun.


*******\************


Masih part nya Max yah. Selanjutnya part Vivian dan Raymond semoga segera menyusul.


Makasih buat kalian yang selalu mendukung dan menantikan kisah Vivian, Raymond, dan Max.

__ADS_1


Selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita nya ya.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE".


__ADS_2