
[ Mampir di karya ku yang judulnya
" Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) "
dan "IF LOVE "
Tinggalkan jejak setelah hadir yah. Makasih. ]
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
.
"Rai, kau tidak usah masuk saja." Pinta Axnes.
Mereka kini sedang berada di parkiran bawah RV2 Agency.
"Kenapa sayang?" Tanya Raiyan bingung.
"Aku tidak nyaman dengan mereka. Aku tidak ingin mereka salah paham." Ucap Axnes menjelaskan.
"Berani saja mereka macam macam dengan mu, aku akan mencongkel mata mereka satu persatu." Ucap Raiyan geram.
Raiyan tidak main main mengingat apa yang sudah terjadi pada Emily karena menganggu Ayvin.
"Em, Rai apa ... " Axnes menghentikan perkataannya.
Ia ingin bertanya hal yang diucapkan pria misterius tadi pagi, tapi lalu mengurungkan niatnya.
"Ada apa?" Tanya Raiyan bingung.
"Tidak. Tidak apa apa." Axnes menggeleng kepalanya lalu melepas seat belt nya.
Raiyan pun melakukan hal yang sama.
Mereka turun dari mobil.
"Sayang." Raiyan memanggil Axnes lembut sambil mengulurkan satu tangannya.
"Tapi Rai ... " Axnes ingin menolak bergandengan tangan, namun belum selesai Axnes bicara Raiyan sudah bertindak duluan.
Axnes pasrah, sepertinya untuk banyak hal Raiyan memang tidak bisa dibantah.
Mereka menaiki lift khusus yang diperuntukan bagi orang orang penting di dalam perusahaan itu saja.
Ting
Pintu lift terbuka.
Para karyawan yang melihat Raiyan dan Axnes berjalan bersama pun cukup terkejut, apalagi setelah melihat Raiyan menggandeng tangan Axnes.
Bisikan bisikan mulai terdengar.
"Hei, kau lihat. Apa dia sekarang adalah kekasih Tuan Raiyan?"
__ADS_1
"Ah, pantas saja dia cepat terkenal. Ada Tuan Raiyan dibelakang nya."
"Dia sangat cantik dan cocok dengan Tuan Raiyan."
"Tuan Raiyan tampaknya sangat mencintai nya."
"Aku sangat ingin berada di posisi nya."
"Cih, murahan. Pantas saja dia mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Ternyata jual diri pada atasan."
Begitulah bisikan bisikan yang terdengar.
Tidak semuanya buruk namun yang buruk sangat menyakitkan.
Raiyan menghentikan langkahnya di depan para karyawan itu.
Ia kemudian berdiri menghadap Axnes yang menunduk sedih.
"Sayang, aku mencintaimu tanpa syarat. Jadi kau tidak perlu mendengar perkataan para parasit itu. Kau percaya pada ku? Atau perlu aku merobek mulut mereka saat ini sebagai bukti nya?" Raiyan menyatakan isi hati nya dengan lantang dan kalimat terakhir membuat para karyawan menunduk ketakutan.
Axnes tersenyum "Tidak perlu Rai. Aku percaya pada mu. Kau mencintai ku itu sudah cukup." Ucap Axnes tulus.
Raiyan mengecup singkat kening Axnes, kemudian mereka melanjutkan langkah mereka menuju ruangan Axnes dimana manajer Axnes sudah menunggu.
Setiap model diperusahaan itu memang diberikan ruangan khusus agar mereka lebih leluasa membahas tentang pekerjaan dan segala persiapan nya.
"Hei Nona cantik. Ayo sini duduk. Aku sudah menunggu mu dari tadi." Ucap manajer Axnes yang bernama Stev itu sambil tersenyum manis menyambut Axnes. Ia seorang pria, hanya saja pria gemulai.
"Ada apa Stev?" Tanya Axnes bingung.
Tidak biasanya Stev tersenyum semanis itu. Wajahnya tampan, hanya saja dia gemulai hingga mengurangi nilai ketampanan nya.
"Kau lihat ini, ini adalah kontrak baru untuk produk iklan kosmetik ternama di dunia. Mereka tertarik ingin merekrut mu." Ucap Stev sambil menunjukkan kontrak itu pada Axnes.
"Rai, apa kau setuju jika aku menandatangani kontrak ini?" Tanya Axnes pada kekasihnya yang sedang asyik memainkan rambut panjang nya sambil menyerahkan kontrak tersebut
Raiyan menerima kontrak tersebut dan melihat detail isi nya.
"Ini sangat menarik sayang. Aku yakin kau pasti bisa bekerja dengan baik untuk mereka. Terima saja. Jika ada masalah kau katakan saja padaku. Aku akan menyelesaikan untuk mu." Ucap Raiyan tersenyum dan mengembalikan kontrak tersebut pada Axnes.
"Wow brilliant. Tuan Raiyan memanglah Tuan Raiyan yang luar biasa." Ucap Stev dengan gemulai lalu bermain mata dengan Raiyan.
Raiyan menatap nya tajam, namun tidak ada ketakutan dari Stev.
"Terima kasih Rai." Ucap Axnes mengecup pipi Raiyan.
Senyuman Raiyan mengembang sempurna bak kelopak bunga yang baru mekar.
"Stev, kau menyukai pria atau wanita?" Tanya Raiyan asal.
Dia hanya niat mengerjai Stev.
"Aku menyukai dua dua nya Tuan. Hanya saja lebih berminat pada perempuan. Kau tahu, awh jika perempuan sedang bersuara dibawah ku, itu sangat menantang." Ucap Stev dengan nada menggoda yang justru membuat Raiyan dan Axnes merasa jijik.
"Sudahlah. Anggap aku tidak menanyakan itu." Ucap Raiyan kesal.
"Ini Stev. Aku sudah menandatangani nya." Ucap Axnes menyerahkan kontrak tersebut pada Stev kembali.
"Baiklah manis. Aku akan segera mengurus semuanya untuk mu. Kau bersiaplah untuk pemotretan mu yang sekarang." Ucap Stev kemudian berlalu pergi.
Tak lama datang dua staf yang akan membantu Axnes bersiap.
__ADS_1
"Nona Axnes, aku dengar kau sudah menandatangani kontrak baru itu yah?" Tanya salah satu staf yang sedang mengeluarkan pakaian untuk sesi pemotretan Axnes itu.
"Iya. Semoga saja aku dapat melakukannya dengan baik." Ucap Axnes sedikit tidak percaya diri.
"Kau pasti bisa." Ucap staf yang bertugas sebagai MUA itu.
Mereka pun segera membantu Axnes untuk bersiap karena sudah hampir tiba waktu untuk pemotretan.
Raiyan hanya setia menatap bayangan kekasihnya dari cermin yang berhadapan dengan nya.
"Kau sangat cantik sayang." Ucap Raiyan memuji Axnes.
Sedangkan dua staf itu menahan senyum mendengar kata kata romantis dari pria yang mereka kenal dingin itu.
Disisi lain.
Stev sedang berada di parkiran karena hendak bertemu dengan pihak perusahaan kosmetik yang baru saja Axnes tandatangani kontrak nya.
"Dimana mereka? Lama sekali. Bukankah lebih baik jika kami saja yang mengantar kesana." Stev menggerutu. Ia memang bukan pria penyabar.
Tit tit
Bunyi klakson dari pojok parkiran itu membuat Stev sedikit tersentak.
Perlahan mobil itu datang mendekat pada Stev.
"Kau Stev? Manajer Axnes Jiang?" Tanya seorang pria berwajah sangar saat kaca pintu mobil diturunkan.
Stev mengangguk.
"Aku adalah perwakilan dari perusahaan ... . Aku datang untuk mengambil kontrak nya." Ucap pria seram itu dengan nada datar.
"Ini." Stev menyerahkan kontrak itu walau ada kerucigaan dihati nya.
"Sudah, kau pergilah." Pria seram itu mengusir Stev dari sana.
Stev berbalik dan pergi, malas meladeni pria aneh seperti itu.
Setelah kepergian Stev, pria tersebut memeriksa kontrak itu.
Setelah dipastikan benar, ia pun meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Panggilan tersambung.
"Bagaimana?" Tanya pria lain dari seberang sana.
"Gadis bodoh itu sudah menandatangani kontrak yang kita berikan Tuan." Ucap pria aneh itu.
"Bagus. Jalankan saja rencana kita dengan baik. Siapkan orang yang kita butuhkan." Ucap pria lain dari seberang.
"Baik Tuan."
Panggilan pun berakhir.
"Gadis bodoh. Begitu mudah kau masuk kedalam perangkap kami." Gumam pria yang berada di dalam mobil itu.
Setelah itu ia pun melajukan mobilnya pergi.
...~ **To Be Continue ~...
Like dan komentar jangan lupa yah.
__ADS_1
Makasih**.