Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 45 - Pulanglah!


__ADS_3

Raymond benar benar mengalami kecelakaan, namun entah itu disengaja atau tidak hanya dirinya sendiri yang mengetahui nya.


Vivian bersama kedua putra nya dan menantu nya sedang menunggu dengan cemas didepan pintu ruangan UGD.


"Vi, bagaimana keadaan Ray?" Tanya Shen yang baru saja tiba bersama Jiro dan Sion.


"Papa masih ditangani oleh dokter didalam." Jawab Ayvin karena Vivian hanya terisak sambil memeluk putra bungsunya, sedangkan Raiyan bersama istrinya.


Raymond dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh warga setempat yang melihat kejadian kecelakaan itu.


"Semoga saja tidak ada masalah serius." Gumam Jiro pelan.


Mereka bertiga memutuskan untuk ikut menunggu dan berdiri agak jauh dari keempat orang itu.


"Apa ini bagian dari rencana yang kau usulkan pada Ray?" Tanya Sion curiga sambil berbisik.


Shen tidak menjawab dan hanya menempelkan telunjuknya pada bibir nya.


"Kau gila Shen, bagaimana jika nyawa Ray benar benar melayang karena ide konyol mu itu?" Protes Jiro.


"Aku juga tidak tahu akan seperti ini. Aku hanya menyuruh nya menghubungi Raiyan dan pura pura kecelakaan setelah nya. Siapa sangka dirinya akan mengalami kecelakaan asli?" Ucap Shen membela diri.


"Tapi tetap saja kau membahayakan nyawa Ray." Protes Sion kemudian.


Mereka bertiga beradu argumen sambil berbisik sedangkan Raiyan menatap tajam dan penuh kecurigaan pada ketiga paman itu.


"Apa kalian tahu sesuatu tentang kecelakaan ini?" Tanya Raiyan curiga menatap tajam pada ketiga paman itu.


Nada bicara Raiyan terdengar membunuh di telinga mereka bertiga terutama Shen.


Ketiganya serentak menggeleng dan tersenyum bodoh.


"Semoga saja kalian jujur. Jika aku tahu kalian berbohong, siap siap saja." Ucap Raiyan mengancam.


Ketiganya serentak mengangguk.


Mereka kembali menunggu hingga dokter selesai menangani Raymond didalam ruang UGD.


Setelah beberapa lama, akhirnya dokter tersebut pun keluar.


"Bagaimana keadaan suami ku dokter?" Tanya Vivian cemas.


Matanya masih merah karena terisak dari tadi walau tidak mengeluarkan suara.


"Keadaan Tuan Raymond sudah membaik. Hanya beberapa luka bagian luar. Dan sudah kami tangani." Ucap dokter tersebut tersenyum.


"Baiklah. Terima kasih." Ucap Vivian, lalu sang dokter pun pamit pergi.


Tak lama, Raymond dipindahkan ke ruangan inap. Keluarga dan sahabatnya mengikuti dari belakang.


Setelah perawat keluar dari ruangan itu, mereka satu persatu pun masuk kedalam.


Vivian bersama kedua putra nya dan menantu nya berdiri berdampingan disamping ranjang Raymond.


Raymond masih terlelap dan beberapa bagian tubuhnya ditutup perban yang cukup besar.

__ADS_1


Sedang ketiga sahabatnya memilih berdiri di belakang agak jauh dari keluarga inti.


"Eng." Raymond melenguh pelan dan perlahan membuka matanya.


Setelah matanya terbuka sempurna, ia mengerjap beberapa kali dan menelisik sudut ruangan tempat ia berada.


Hidung nya dapat mencium bau obat obatan, yang menandakan ia sedang dirumah sakit.


Ia menoleh pada ketujuh orang yang sedang berdiri seolah sedang mengahadiri prosesi pemakaman.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Raymond kesal namun pelan.


"Ray." Vivian menyebut nama nya namun belum menghampiri nya.


"Kenapa kalian berdiri seperti itu? Kalian pikir aku ini sudah tiada?" Tanya Raymond lagi dengan kesal.


Raiyan tersenyum sinis.


"Bersyukur nya Papa masih hidup." Ucap Raiyan dingin.


"Ray, kau membuatku takut." Ucap Vivian kini baru menghampiri suaminya.


"Pria payah. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain membuat Mama ku menangis." Gerutu Raiyan.


"Aku bisa mendengar itu." Ucap Raymond kesal.


"Jika kondisi mu sudah baik, aku dan istri ku akan pulang sekarang. Dia harus banyak istirahat." Ucap Raiyan ketus dan mulai melangkah dengan menggenggam tangan Axnes.


"Pulanglah!" Titah Raymond.


"Pulanglah kerumah kita seperti dulu Rai. Papa minta maaf. Papa tahu Papa yang salah dalam hal ini. Papa mohon pulanglah kerumah. Jangan menyulitkan diri mu dan istri mu." Pinta Raymond sendu.


Raiyan tidak langsung menolak atau mengiyakan.


Ia hanya diam mematung.


"Papa akan lakukan apapun agar kau mau pulang kerumah Rai. Papa mohon. Saat kau tidak ada, Mama mu selalu bersedih, begitupun Ayvin dan juga Papa. Bahkan kakek mu juga." Ucap Raymond membujuk putra nya.


Mendengar perkataan Raymond, Raiyan seketika merasa bersalah.


"Baiklah." Ucap Raiyan singkat mengiyakan permintaan Ayahnya.


Sekeras apapun seorang Raiyan, ia akhirnya luluh juga untuk keluarganya.


Namun Raiyan tetap membawa istrinya keluar dari ruangan itu, tujuannya untuk membeli makanan dan minuman untuk mereka yang ada di sana.


Raymond menghela nafas lega mendengar jawaban putra sulung nya.


"Sayang, kau dan Ayvin pulang saja untuk beristirahat." Ucap Raymond lembut pada istrinya.


"Aku ingin menemani mu." Ucap Vivian melawan dengan lembut.


"Aku tidak apa apa. Lagipula aku tidak parah." Ucap Raymond lagi membujuk istrinya.


"Ayvin bawa Mama mu pulang. Besok datanglah lagi." Titah Raymond pada putra bungsunya.

__ADS_1


Ayvin mengangguk, namun Vivian masih bersikukuh ingin tinggal.


Raymond berusaha membujuk.


Akhirnya Vivian menurut, ia pun meninggalkan ruangan itu bahkan rumah sakit itu bersama Ayvin.


Sepeninggal keempat keluarga inti, sang pembuat ide konyol dan kedua sahabat yang lain mendekat pada Raymond.


"Bodoh, bukankah aku menyuruh mu untuk pura pura kecelakaan?" Tanya Shen kesal.


"Mana aku tahu kalau malaj jadi benar benar kecelakaan." Ucap Raymond santai.


Mereka tidak sadar kalau Raiyan dan Axnes telah kembali dan sedang menguping obrolan mereka.


"Bagaimana jika kau benar benar meregang nyawa? Arwah mu bisa jadi penasaran karena selalu mengingat ide dari ku." Gerutu Shen lagi.


"Kau berisik sekali. Yang penting putra ku sudah mengiyakan mau kembali ke rumah." Ucap Raymond.


"Ekhem." Raiyan berdehem dari ambang pintu.


Keempat orang tua itu seketika panik terutama Raymond. Wajahnya yang memang pucat itu menjadi semakin pucat.


"Ini untuk kalian." Ucap Raiyan meletakkan bungkusan makanan yang ia bawa dengan kasar diatas nakas.


Ia lalu berbalik dan hendak pergi dari ruangan itu bersama istri nya.


"Rai, Papa bisa jelaskan." Ucap Raymond dengan suara bergetar.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Satu kesalahan Papa baru ku maafkan, dan sekarang timbul kesalahan baru. Aku sudah muak dengan semua nya." Ucap Raiyan dan langsung membawa istrinya pergi dari tempat itu.


"Semua gara gara mulut ember kalian." Ketus Raymond melempar bungkusan roti yang Raiyan bawa tadi kearah ketiga sahabatnya.


·············


Raiyan keluar dari rumah sakit dan menuntun Axnes masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Rai, apa tidak sebaiknya kau mendengar penjelasan Papa Ray dulu? Lagi pula dia melakukan semua itu hanya agar kau mau pulang dan juga kau dengar sendiri kan kalau kecelakaan nya memang murni dan bukan disengaja." Ucap Axnes membujuk suaminya.


Axnes hanya tidak ingin melihat suaminya terus bermusuhan dengan Ayah mertua nya.


Sebersalah apapun Raymond pada Raiyan, Raymond tetaplah Papa Raiyan, seseorang yang sudah seharusnya dihormati dan disegani.


"Diamlah. Aku tau apa yang terbaik untuk kita." Ucap Raiyan datar.


Axnes menurut dan lebih memilih diam. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk berbicara banyak, pikir nya.


Raiyan melajukan mobilnya kembali ke apartemen mereka, dan sepanjang perjalanan mereka hening tanpa ada obrolan sedikit pun bahkan sampai di apartemen pun Raiyan langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang tanpa berbicara apapun.


Axnes mencoba mengerti dan ikut bergabung dengan suaminya diatas ranjang lalu memeluk suaminya, memberi kehangatan dan ketenangan.


......~ To Be Continue ~......


######


Gak kelar2 konflik anak dan bapak..

__ADS_1


Udah, janji aku setelah ini aku kelarin konflik nya lewat jalur persidangan hahah.


__ADS_2