Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 42 - Keras Kepala


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


Sudah satu minggu sejak hari pernikahan Raiyan dan Axnes.


Keluarga besar Raiyan telah kembali ke Shanghai.


Raiyan dan Axnes juga diam diam sudah kembali ke Shanghai, namun mereka tidak mengabari kedua belah pihak keluarga mereka.


Mereka lebih memilih menetap di apartemen Axnes.


Raiyan bahkan tidak pergi ke perusahaan nya untuk bekerja hingga terpaksa Raymond kembali harus turun tangan dan menarik Jiro kembali untuk membantu nya.


Hari masih pagi, Raiyan dan Axnes masih terlelap di atas ranjang empuk mereka.


Namun Axnes mulai merasa gelisah. Perlahan ia membuka matanya.


"Em.." Axnes menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat merasakan hendak muntah.


Dengan kasar ia menggeser tangan Raiyan yang memeluk nya dan segera turun dari ranjang lalu berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Huek..huekk.." Axnes memuntahkan isi perutnya.


Raiyan yang tadi merasakan pergerakan kasar Axnes dan mendengar suara muntahan Axnes pun segera bangun dari tidurnya dan berlari masuk kedalam kamar mandi menyusul istrinya.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Raiyan cemas.


Ia memijat pundak Axnes sesekali menepuk pelan punggung istrinya, berharap dapat membantu Axnes.


Axnes terus memuntahkan isi perutnya hingga ia merasa lega.


Setelah selesai, ia terduduk lemas bersandar pada dinding kamar mandi nya.


"Rai, sepertinya aku hamil." Ucap Axnes menduga.


Raiyan melongok mendengar perkataan istrinya.


"Kau yakin?" Tanya Raiyan ragu, jantung nya seketika berdetak dengan sangat cepat membayangkan ia akan segera menjadi Ayah diusia muda.


"Aku tidak tahu. Tapi aku rasa begitu." Ucap Axnes lemah.


Raiyan mengulum senyum nya, ia tidak menyangka benih nya dengan mudah tumbuh di dalam rahim istrinya padahal mereka baru melakukan nya sekali, dan belum melakukan nya lagi setelah itu.


"Sebaiknya kita periksa saja ke dokter agar lebih yakin." Usul Raiyan.


Axnes mengangguk.


Raiyan segera membantu Axnes untuk bersiap begitupun dirinya.


Ia tidak ingin menunda waktu untuk hal baik ini.


Selesai bersiap, ia segera menuntun Axnes keluar dari apartemen mereka dan masuk kedalam lift untuk menuju ke mobil nya.


Raiyan berharap cemas, ia gugup mengetahui dirinya akan menjadi Ayah diusia muda.


Ia juga ragu apakah bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak nya kelak.


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di parkiran.


Raiyan segera membantu Axnes berjalan menuju mobilnya.


Setelah istrinya masuk, ia pun masuk kedalam bagian kemudi.


Raiyan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Rai, jika aku benar benar hamil bagaimana?" Tanya Axnes bingung.


Raiyan melongok mendengar pertanyaan Axnes.


"Memangnya ada apa? Kita sudah menikah, jadi jika kau hamil itu hal yang wajar kan?" Tanya Raiyan lembut.


"Aku ragu, apakah kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak anak kita kelak?" Ucap Axnes ragu.


Raiyan tersenyum.


"Kita pasti bisa sayang." Ucap Raiyan mengelus kepala istrinya.


Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit terdekat dengan apartemen mereka.


Raiyan segera turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya dengan benar.


Kemudian ia menuntun istrinya turun dari mobil, dan mereka pun segera masuk kedalam rumah sakit itu.


"Rai?" Sapa seorang pria dari arah berlawanan.


"Paman Shen." Raiyan membalas sapaan pria itu yang adalah Shen.


"Tidak ada yang sakit. Hanya saja tadi pagi Axnes muntah muntah. Jadi kami berpikir mungkin saja Axnes hamil." Ucap Raiyan semangat.


Shen tersenyum.


"Mari, ikut aku. Agar kau segera dapat diperiksa." Ucap Shen menuntun Axnes dan Raiyan.


Mereka pun mengikuti langkah Shen hingga ke dalam satu ruangan.


"Dokter Jen, aku punya pasien untuk mu." Ucap Shen setelah masuk kedalam ruangan itu.


"Silahkan duduk." Ucap Dokter Jen sopan.


"Dokter Jen, kau mengenal anak bocah ini?" Tanya Shen menunjuk Raiyan.


Dokter Jen menggeleng.


"Dia adalah putra dari Vivian dan Raymond." Jelas Shen.


Dokter Jen sedikit terkejut, namun segera kembali bersikap biasa lagi.


Dokter Jen segera memeriksa Axnes setelah menuntun Axnes masuk kedalam ruang pemeriksaan yang masih berada di dalam ruangan kerjanya.


Dokter Jen tersenyum saat melihat ternyata memang benar ada janin yang sedang bertumbuh didalam rahim Axnes.


Selesai memeriksa, Dokter Jen kembali menuntun Axnes kembali bergabung bersama Raiyan dan Shen.


"Bagaimana dokter?" Tanya Raiyan cemas.

__ADS_1


"Selamat, istri mu sedang hamil dan perkiraan usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke delapan." Jelas Dokter Jen.


Raiyan tersenyum manis dan bersorak gembira dalam hati.


"Ini resep vitamin untuk menjaga kondisi istri dan bayi kalian. Jangan membuat istri mu stres dan biarkan dia untuk lebih banyak beristirahat saat ini." Ucap dokter Jen lagi.


"Baik dokter. Terima kasih." Ucap Raiyan.


Raiyan pun segera bangkit dari duduk nya dan membantu Axnes, lalu mereka melangkah meninggalkan ruangan dokter Jen.


Shen terlupakan.


Melihat Raiyan dan Axnes meninggalkan nya begitu saja, Shen pun segera mengejar mereka.


"Raiyan." Panggil Shen dengan suara sedikit tinggi.


Langkah Raiyan dan Axnes terhenti.


Shen segera menghampiri mereka.


"Rai, pulang lah kerumah orang tua mu. Mereka mencemaskan mu." Ucap Shen.


Raiyan terdiam sejenak.


"Tidak Paman. Aku tidak ingin berharap apapun dari mereka. Aku akan hidup dengan baik tanpa mereka." Ucap Raiyan sendu.


Jelas ia juga sangat merindukan keluarga nya, tapi masih merasa kesal karena Ayahnya sendiri tidak percaya pada nya.


"Rai, istrimu sedang hamil muda. Kau tidak bisa egois dan keras kepala seperti ini. Kau harus pikirkan kondisi istri mu." Ucap Shen lagi berusaha membujuk Raiyan.


"Aku akan menjaga istri ku dengan baik Paman. Paman tidak perlu khawatir." Ucap Raiyan.


Ia pun kembali menuntun Axnes keluar dari rumah sakit itu menuju tempat parkiran.


"Sayang, apa kau keberatan jika hanya tinggal berdua dengan ku?" Tanya Raiyan cemas setelah mereka sudah didalam mobil.


Axnes menggeleng.


"Tidak Rai. Aku adalah istri mu sekarang. Jadi kemanapun kau membawa ku, aku pasti ikut." Ucap Axnes tersenyum.


"Aku berjanji akan berusaha menjaga mu dan bayi kita dengan baik. Aku akan berusaha memberi yang terbaik untuk kalian berdua." Ucap Raiyan tulus.


Axnes mengangguk.


Raiyan tersenyum.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Raiyan meminta persetujuan dari istri nya.


"Em." Axnes berdehem lembut.


Raiyan pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke apartemen mereka.


...~ To Be Continue ~...


######


Selain sibuk, aku juga lagi pusing mau ngetik apa.

__ADS_1


__ADS_2