
"Sayang, coba kau lihat gaun mana yang cocok untuk kau kenakan nanti." Titah Vivian menyodorkan ponselnya pada Axnes.
Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas lebih detail persiapan pernikahan Raiyan dan Axnes.
"Ini semua bagus Ma." Ucap Axnes sambil mengusap layar ponsel Vivian ke kiri dan ke kanan.
"Itu adalah rancangan dari sepupunya Papa Rai. Kau bisa pilih yang paling cocok untuk mu." Titah Vivian lagi dengan lembut.
Axnes tampak memilih dengan serius.
"Rai, menurutmu yang mana yang cocok dengan ku?" Tanya Axnes bingung dan meminta pendapat Raiyan.
Raiyan menatap layar ponsel yang ditunjukkan oleh Axnes.
"Semuanya saja. Semuanya cocok untuk mu sayang." Ucap Raiyan tersenyum.
"Kau ini.." Axnes menepuk gemas lengan Raiyan.
"Pilih saja yang tidak terlalu terbuka dan nyaman dilihat Axnes." Titah Max pada putrinya.
"Orang tua diam saja." Ucap Raiyan memerintah pada Max.
"Rai." Axnes membentak Raiyan dengan cukup kuat, membuat semua orang menatap ke arah mereka.
Raiyan menatap Axnes seolah bertanya apa kesalahannya.
"Cobalah untuk bersikap lebih sopan pada Papa ku. Sebenci apapun kau pada nya, dia tetap Papa ku. Papa kandung ku." Ucap Axnes kesal.
Raiyan tersenyum.
"Aku kan hanya bercanda sayang." Ucap Raiyan hencak mencubit gemas pipi Axnes namun Axnes menepis tangan nya dengan cepat.
"Bercanda mu tidak lucu. Semakin hari kau semakin melewati batas mu. Jika kau seperti ini terus, aku tidak ragu untuk membatalkan semua rencana pernikahan kita. Setidaknya aku masih bisa memilih pria yang bisa sopan pada orang tua ku." Ucap Axnes kesal.
Ia lalu menyimpan ponsel Vivian secara asal dimeja depan mereka, lalu beranjak ke kamar nya.
Raiyan tentu segera mengejar nya.
"Hei, sayang. Jangan marah seperti itu." Teriak Raiyan sambil mengejar Axnes.
Axnes tidak menangis tapi hanya marah.
Saat sudah mencapai kamarnya, Axnes membanting pintu dengan sangat kuat membuat pintu mengenai wajah Raiyan yang saat itu hendak ikut masuk.
"Aw.." Raiyan mengerang kesakitan sambil membuka pintu kamar Axnes dan masuk kedalam.
Axnes tidak peduli sekalipun hidung Raiyan sudah berdarah.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa menjelaskan. Jangan marah seperti ini." Pinta Raiyan sambil mengambil tissue diatas meja rias Axnes dan menghapus darah dari hidungnya.
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan Rai. Kau sudah sangat keterlaluan, semakin hari semakin tidak sopan." Ketus Axnes kesal.
"Sayang, tapi aku hanya ... "
"Hanya apa? Hanya bercanda? Bercanda mu tidak lucu Rai. Aku tahu Papa ku memang bersalah pada Mama mu atau mungkin pada seluruh keluarga besar mu. Tapi kau juga tidak berhak tidak sopan bahkan kasar seperti itu pada Papa ku. Papa ku bukan dewa yang tidak pernah bersalah dalam hidupnya. Semua orang punya masa lalu nya masing masing. Tapi semua orang juga berhak memperbaiki diri dan itu yang coba dilakukan Papa selama sisa hidup nya." Ucap Axnes kesal.
Raiyan terdiam.
"Kau bukan lagi bercanda Rai, tapi kau sudah menginjak harga diri Papa ku sebagai seorang Ayah. Apa itu sifat yang akan kau tanamkan dan ajarkan pada anak anak mu kelak? Jika memang seperti itu, aku lebih baik tidak perlu menikah. Aku butuh seorang pria yang bisa menaungi keluarga kecil ku kelak, pria yang bersikap dewasa dan mampu mengajarkan hal baik pada anak anak kami kelak. Bukan pria yang selalu melihat orang dari satu kesalahan nya dan terus terusan menghakimi orang tersebut dari kesalahan nya tanpa melihat usahanya untuk berubah." Timpal Axnes lagi.
Dan lagi lagi Raiyan bungkam.
"Kau harusnya bisa berkaca pada Mama mu dan Papa mu yang pastinya lebih terluka di masa lalu karena Papa ku. Tapi mereka membuang jauh ego mereka dan membuang jauh semua kilasan masa lalu mereka yang pahit, memilih duduk berdampingan. Untuk apa? Untuk kita Rai, untuk menyatukan kita. Jika ditanya apa Mama mu sudah benar benar melupakan kepahitan masa lalu nya? Jawaban nya pasti tidak. Kau tahu kenapa? Karena itu menyangkut harga diri nya sebagai seorang wanita. Tapi dia berusaha untuk tidak egois demi dirimu Rai, demi kebahagiaan mu. Dan Papa mu, apa Papa mu juga sudah melupakan kepahitan masa lalu yang menimpa istrinya? Wanita nya dilecehkan oleh pria lain, apa iya semudah itu Papa mu bisa melupakan nya? Apa lagi setelah sekarang duduk berdampingan dengan penjahat nya. Jawaban nya tetap tidak Rai. Mereka semua yang menyaksikan kejadian itu tidak akan pernah melupakan nya, bahkan Mama ku sekalipun yang mempunyai penyesalan nya tersendiri. Tapi sekali lagi, mereka memutuskan untuk membuang jauh ego mereka dan memilih duduk berdampingan, untuk apa? Untuk kita Rai, untuk kita. Untuk melihat kita bahagia." Ucap Axnes membentak.
Amarah Axnes sudah tidak terkendali.
Raiyan diam mematung.
"Jika kau tidak bisa bersikap lebih sopan sedikit saja pada Papa ku, maka lebih baik kita akhiri semua nya sampai di sini. Lebih baik aku tidak menikah seumur hidup ku, daripada aku harus melihat Papa ku direndahkan setiap saat oleh pria yang bergelar suami ku kelak." Ucap Axnes sambil melepas cincin yang pernah diberikan Raiyan saat melamarnya waktu itu.
Raiyan segera mencegah nya.
"Sayang, aku minta maaf. Aku yang salah. Tapi aku mohon, jangan batalkan pernikahan kita. Aku tidak bisa tanpa mu." Pinta Raiyan penuh sesal.
"Aku akan minta maaf pada Papa mu. Aku janji akan bersikap lebih sopan pada Papa mu. Aku janji. Tapi tolong jangan batalkan pernikahan kita. Aku mohon." Pinta Raiyan mengatupkan kedua tangan nya di depan Axnes.
Axnes menatap mata nya mencari sebuah kebohongan atau tipu rayuan, namun nihil.
"Kau serius akan meminta maaf?" Tanya Axnes menyelidik.
Raiyan mengangguk serius.
"Baik, kita turun dan kau minta maaf secara tulus pada Papa ku." Titah Axnes tegas.
"Apa harus sekarang juga?" Tanya Raiyan menunduk lemah.
"Ya sudah, tidak sekarang. Tapi kita juga tidak perlu menikah sekarang." Ancam Axnes pada kekasihnya.
"Baiklah, baik. Aku menyerah. Aku akan minta maaf dengan tulus pada Papa mu. Jangan mengancam ku dengan meninggalkan ku. Aku tidak bisa." Ucap Raiyan.
Raiyan lalu berbalik dan turun kebawah.
Melangkah dengan segala keberanian, dan membuang jauh ego nya seperti yang diinginkan kekasihnya, Axnes mengikuti dari belakang.
"Papa Max." Panggil Raiyan kaku.
__ADS_1
Semua orang serentak memandang ke arah nya.
Max menatapnya seolah bertanya ada apa.
"Aku minta maaf atas semua ketidak sopanan ku. Maaf aku sudah lancang dan tidak sopan pada Papa." Ucap Raiyan kaku namun tulus.
Max tersenyum dan bangkit dari duduk nya.
Ia memegang kedua pundak Raiyan.
"Tidak apa apa Rai. Sungguh, jika apa yang kau lakukan bisa untuk menebus kesalahan ku pada Mama mu, aku tidak keberatan. Sungguh." Ucap Max tulus.
Raiyan tersentuh. Ternyata bicara menggunakan hati terasa jauh lebih baik, pikirnya.
"Papa juga minta maaf karena sudah menyakiti kalian." Ucap Max memeluk Raiyan yang sudah seperti putranya sendiri.
Raiyan seketika tersenyum.
Ia membalas pelukan dari Max.
"Maafkan aku Pa. Sungguh, aku yang bersalah dan berlaku tidak sopan disini. Jangan pisahkan aku dengan putri mu. Aku mohon." Pinta Raiyan sendu.
Max tertawa kecil, ia melepaskan pelukan nya.
"Kau pikir aku ini apa? Seenaknya memisahkan putri ku dari dirimu setelah kau merenggut kesucian nya sebelum waktunya." Ucap Max apa adanya, sedangkan Raiyan bermain mata pada nya agar tidak mengatakan hal itu, namun Max tidak mengerti kode mata nya.
Raiyan menatap kearah Raymond dan Vivian yang mendelik tajam pada nya.
Raiyan hanya tersenyum bodoh pada kedua orang tua nya.
"Aku mencintai kalian." Ucap Axnes memeluk Max dan Raiyan bersamaan.
Kedua nya tersenyum.
"Duduk di sini Rai." Titah Vivian mutlak.
Raiyan menurut, setelah Axnes melepaskan pelukan nya dari mereka.
"Kau ini kenapa nakal sekali? Kenapa selalu saja melakukan kesalahana? Pantas saja meminta menikah cepat." Kesal Vivian menjewer telinga Raiyan.
"Maaf Ma, maaf. Aku janji tidak nakal lagi mulai sekarang." Ucap Raiyan berjanji.
Kedua orang tua nya hanya mendengus kesal mendengar tingkah anak nya yang susah diatur ini.
Suasana kembali cair, dan mereka pun kembali membahas tentang persiapan pernikahan Raiyan dan Axnes.
Raiyan menepati janji nya dan bersikap lebih sopan pada Max, dan tentu saja semua berkat ancaman Axnes. Hanya Axnes yang dapat merubah sifat keras Raiyan secara perlahan, seperti Vanessa yang merubah Max perlahan.
__ADS_1
...~ To Be Continue ~...