Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 26 - Belajar Terbuka


__ADS_3

[ Mampirlah di karya ku yang berjudul "IF LOVE " dan


"Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) "


Tinggalkan jejak komentar dan like kalo udah mampir.]


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


.


.


"Tuan, aku sudah melihat kedatangan Nona Axnes di apartemen nya." Ucap salah satu pengawal yang Raiyan tempatkan di sekitar apartemen Axnes.


.....


"Dia diantar oleh seorang pria menggunakan sebuah mobil hitam, Tuan." Ucap nya lagi.


.....


"Baik Tuan." Kembali ia berkata, lalu panggilan pu diakhiri.


#####


"Rai, kau mau kemana?" Tanya Dero bingung saat melihat Raiyan tergesa gesa hendak pergi.


"Axnes sudah kembali." Ucap Raiyan datar.


Mendengar Axnes sudah kembali namun diantar oleh seorang pria menggunakan mobil, perasaan nya jadi tak menentu.


Ia jadi meragukan penculikan Axnes itu benar adanya, atau hanya sandiwara Axnes saja karena mempunyai pria lain dibelakang nya.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Vion menimpali.


"Pengawal yang menyampaikan pada ku. Dia diantar pulang oleh seorang pria." Ucap Raiyan menahan geram.


"Jangan gegabah Rai. Tanyakan baik baik apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Vynshen mengingatkan.


Raiyan tidak berkata lagi dan langsung keluar dari markas nya menuju mobil nya.


Setelah masuk kedalam mobil, ia pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke apartemen Axnes.


"Axnes, awas saja jika aku tahu kau bermain di belakang ku. Aku tidak akan mengampuni mu hanya karena aku mencintai mu." Geram Raiyan mencengkeram kuat setir mobil nya.


Setengah jam kemudian ia pun sampai di apartemen Axnes.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, ia segera mendapatkan lift untuk naik ke unit milik Axnes.


Setelah keluar dari lift, dengan segera ia berjalan mencapai pintu apartemen Axnes dan menekan password nya.


Terbuka.


Namun ia tidak mendapati keberadaan Axnes.


Ia pun segera menuju ke kamar Axnes, dan sepertinya Axnes sedang mandi karena terdengar suara gemericik air dikamar mandi.


Ia pun memutuskan untuk duduk di atas ranjang Axnes dan menunggunya selesai.


Tak lama kemudian Axnes pun keluar dari kamar mandi, ia tidak menyadari kedatangan Raiyan.


Segera ia melangkah mendekati lemari pakaian nya, meraih pakaian yang nyaman untuk ia kenakan dan segera mengenakan nya.


Raiyan tidak bersuara saat melihat kekasihnya bertelanjang hingga mengenakan pakaian di depan nya.

__ADS_1


Sengaja, salah satu cara agar kekasihnya itu tidak macam macam karena ia sudah melihat bentuk nya.


"Ekhem." Raiyan baru bersuara setelah Axnes selesai berpakaian.


"Papa." Axnes memekik terkejut.


Perlahan ia berbalik dan mendapati kekasihnya sedang duduk di atas ranjang nya dan menatapnya dengan tatapan yang tidak mampu ia artikan.


"Raiyan, ada apa kau disini?" Tanya Axnes kesal.


"Apa aku tidak boleh kesini lagi?" Tanya Raiyan datar sambil turun dari ranjang dan berjalan kearah Axnes.


"Bu bukan seperti itu. Hanya saja kau membuatku terkejut." Ucap Axnes terbata karena mulai merasa takut pada kekasihnya yang tampak berbeda itu.


"Apa yang sudah kau lakukan dibelakang ku?" Tanya Raiyan geram mencengkeram kuat dagu Axnes.


Axnes meringis menahan sakit.


"Lepaskan aku. Sakit." Ucap Axnes memukul tangan Raiyan yang mencengkeram nya namun tidak dihiraukan oleh Raiyan.


Raiyan mendorong Axnes mundur hingga Axnes terpojok dan menyandar di lemari nya denga tangannya masih setia mencengkeram dagu Axnes.


Air mata Axnes mulai mengalir, namun Raiyan tidak iba.


Kecemburuan nya yang tidak beralasan sedang menguasai dirinya saat ini.


Sigap Raiyan menyambar bibir Axnes dan mencumbu nya kasar.


Kecupan nya mulai turun ke leher jenjang Axnes hingga membuat tanda besar di sana setelah ia melepaskan tangan nya dari dagu Axnes.


Air mata Axnes mengalir semakin deras.


"Rai, aku mohon jangan." Pinta Axnes saat ia merasakan tangan Raiyan mulai bergerak membuka kancing baju nya.


Raiyan tidak iba, ia semakin menjadi dan malah menarik tangan Axnes lalu mendorong nya kuat hingga terpelanting ke atas ranjang.


Axnes mencoba menghindar hingga meringkuk ditepi pojok ranjang nya.


Raiyan mengecup puncak kepala nya.


"Katakan apa yang terjadi sayang?" Pinta Raiyan masih terdengar mengancam namun ia tidak menyentuh Axnes lagi.


Hiks


Suara isakan Axnes terdengar.


"Katakan Axnes." Raiyan membentak dengan suara menggelegar.


Axnes mendongakkan wajahnya.


"Bukankah kau yang seharusnya mengatakan apa yang sudah terjadi dengan mantan kekasih mu yang bernama Emily itu?" Ucap Axnes dengan segala keberanian nya.


Deg


Raiyan tiba tiba merasa kelu di lidah nya dan badannya terasa kaku.


"Aku tidak akan mengatakan apapun sebelum kau yang mengatakan apa yang coba kau sembunyikan." Ucap Axnes tak kalah membentak.


Raiyan masih diam dan mematung.


Gadis yang sangat ia cintai, kini mengetahui hal yang coba ia tutupi dan ia kubur dalam.


"Apa? Kau ingin membunuh ku juga? Atau kau ingin merenggut paksa diriku lalu setelah itu memaksa ku bunuh diri? Begitu?" Tanya Axnes kecewa.


Bukan kecewa karena perbuatan Raiyan, tapi lebih karena Raiyan mencoba menutupi masa lalu nya.


Bukankah sepasang kekasih harus saling terbuka sekalipun itu tentang masa lalu.


"Maafkan aku." Pinta Raiyan mencoba memeluk Axnes.

__ADS_1


Namun Axnes mendorong nya kasar.


Raiyan melemah, bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan gadis yang sangat ia cintai itu membencinya.


"Bahkan tidak ada yang aku tutupi dari mu termasuk rahasia kedua orang tua ku. Tapi kau? Bahkan untuk rahasia mu sendiri kau berusaha untuk tutupi. Untuk apa? Untuk melindungi ku? Tapi kau justru hampir mencelakai ku dengan tangan orang lain." Axnes membentak mengeluarkan setiap perkataan nya.


Ia hanya marah karena Raiyan tidak jujur dari awal, ia marah karena ingin Raiyan jujur pada nya.


"Sayang, maafkan aku." Pinta Raiyan lemah.


"Tidak perlu memanggil ku dengan sebutan itu." Bentak Axnes lagi.


Raiyan kembali hilang kesabaran.


Ia menarik paksa kaki Axnes hingga Axnes kini berada di bawahnya.


"Katakan siapa yang mengatakan semua itu pada mu?" Tanya Raiyan geram kembali mencengkeram dagu Axnes.


Axnes menatapnya terluka.


"Katakan sayang." Titah Raiyan lagi, walau marah tapi ia masih menyebut Axnes dengan kata sayang.


"Ren. Ren mantan kekasih Emily. Emily yang sudah kau rebut darinya." Ucap Axnes kasar dan sengaja walau ia tahu bukan Raiyan yang merebut Emily.


Raiyan tidak menyangka bahwa Ren lah pelaku penculikan kemarin.


Raiyan sempat mengenal Ren, karena Ren pernah menemui nya dan memohon agar ia mengembalikan Emily pada nya.


"Sayang, itu tidak seperti yang dia katakan." Ucap Raiyan masih setia menindih Axnes.


Axnes diam menunggu Raiyan bercerita. Ia hanya ingin mendengar kebenaran dari mulut Raiyan langsung.


"Aku bertemu tak sengaja sekitar empat tahun lalu. Lalu kami saling mengenal hingga akhirnya berteman. Setahun setelahnya kami mulai menjalin hubungan yang lebih dalam, namun kami tidak saling mencintai. Dia kemudian menjebak ku untuk tidur dengan nya, hingga akhirnya hubungan kami mulai terjalin tidak sehat lebih tepat nya hubungan saling memuaskan." Raiyan menghentikan perkataannya dan menatap dalan Axnes.


Axnes tidak bersuara dan menunggu Raiyan melanjutkan perkataannya.


"Aku memang memaksa nya bunuh diri, tapi itu karena dia menyakiti adik ku. Dia membayar preman untuk memukul adik ku. Dan perlu kau tahu, aku tidak akan mengijinkan siapapun menyakiti keluarga ku atau orang yang aku cintai." Ucap Raiyan tegas lalu bangkit dan berbaring di samping Axnes.


Kedua nya hening sejenak.


Hingga akhirnya Axnes memberanikan diri memeluk kekasihnya.


"Rai." Panggil Axnes pelan.


"Hem." Raiyan menjawab singkat dan membalas pelukan Axnes.


"Aku minta mulai detik ini kau mau belajar untuk terbuka pada ku. Aku tidak masalah jika kau melakukan hal buruk sekalipun karena aku percaya pasti kau punya alasan. Tapi aku mohon mulai saat ini, belajar untuk terbuka pada ku." Pinta Axnes tulus.


Raiyan tidak menjawab.


"Jika kau tidak mau, maka jangan salahkan aku jika aku memilih pergi pada nya dan hidup bersama nya." Ucap Axnes mengancam menggunakan nama Ren.


"Baiklah baik. Aku akan jujur pada mu apapun itu mulai sekarang." Ucap Raiyan takut.


"Maafkan aku membuat mu marah." Pinta Axnes.


"Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuat mu dalam bahaya." Ucap Raiyan penuh sesal.


Axnes kemudian hendak bangkit namun Raiyan menahan nya.


"Rai." Protes Axnes.


"Aku mohon sayang. Aku lelah karena semalaman berusaha mencari keberadaan mu hingga tidak beristirahat. Aku ingin tidur dalam pelukan mu." Pinta Raiyan.


Axnes pasrah.


Ia akhirnya kembali memeluk Raiyan dan mengusap lembut punggung Raiyan hingga akhirnya Raiyan terlelap.


...~ To Be Continue ~...

__ADS_1


*******


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.


__ADS_2