
Seminggu sudah sejak kejadian menyakitkan itu terjadi. Dan sudah seminggu juga Raymond merawat Vivian dengan penuh kasih sayang. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan itu, hanya yang ia tahu hasrat untuk memiliki Vivian sangat besar. Tak jarang ia dibuat kesal oleh tingkat Vivian yang sedikit tidak penurut, namun ia selalu berusaha mengendalikan emosi nya. Seminggu ini Vivian selalu mengurung diri di dalam kamar.
Kamar Raymond menjadi kamar Vivian, dan Raymond lebih memilih tidur diruang kerjanya. Memang banyak kamar yang masih bisa ia pakai dimansionnya, tapi ia tidak berminat. Sehingga sering kali saat ia merasa sudah sangat lelah maka ia akan memilih menyelinap masuk kedalam kamar nya dan berakhir tidur nyenyak di samping Vivian. Bahkan tak jarang ia tidur sambil memeluk erat Vivian. Awalnya tentu saja Vivian kaget dan takut, tapi pelan-pelan ia mulai terbiasa. Selama Raymond tidak melakukan hal diluar batas kewajaran ia masih bisa menerima nya.
Seperti pagi ini ketika Vivian bangun ia merasa sedikit susah untuk bergerak dan saat dilihat ternyata tangan Raymond kekar melingkar sempurna dipinggang nya. Pelan-pelan ia berusaha melepaskan diri namun tetap saja gagal padahal ia merasa ingin buang air kecil sekarang. Ia mencoba membangunkan Raymond dengan pelan namun bukannya bangun, Raymond justru mempererat pelukannya.Vivian benar-benar kehilangan akal, lalu muncul sebuah ide konyol untuk mengerjai Raymond.
"AYAH" teriak Vivian dengan suara keras dan itu berhasil membuat Raymond langsung bangun dan terduduk sambil mengucek matanya dengan keadaan setengah sadar. Vivian pun segera berlari ke kamar mandi yang masih berada didalam kamarnya itu untuk menuntaskan hajatnya sambil tertawa kecil. Setelah kesadaran nya terkumpul Raymond baru mengetahui bahwa ia sedang di kerjai oleh Vivian. Ia menunggu Vivian keluar dari kamar mandi dan setelah beberapa menit yang ditunggu akhirnya keluar.
"Maaf." Ucap Vivian polos tanpa rasa bersalah sambil menahan tawanya.
"Em..kemarilah." Raymond berdehem dan meminta Vivian untuk duduk disamping nya sambil menepuk beberapa kali tempat kosong diranjangnya. Vivian lalu menurutinya dan duduk disampingnya. Dan tiba-tiba Raymond menarik Vivian agar mendekat kepadanya dan seketika itu langsung menggelitik pinggang mungil Vivian membuat sang empunya tertawa terbahak-bahak karena kegelian. Begitupun dengan Raymond yang ikut hanyut dalam suasana itu, untung saja kamarnya kedap suara jadi para pelayan dirumahnya tidak akan mendengar suara tawa mereka.
"Hahaha maaf tuan..hahaha kau memeluk ku sangat erat sehingga aku kesusahan untuk ke kamar mandi hahaha." Jelas Vivian sambil tertawa. Raymond pun seketika menghentikan aksinya.
"Jangan panggil aku tuan Vi. Panggil saja aku dengan namaku. Berapa kali aku harus mengatakannya pada mu?" ujar Raymond dengan nada tinggi dan tegasnya.
"Ah iya maafkan aku Ray, aku belum terbiasa." Jelas Vivian lagi dan berusaha membuat senyum Raymond tercipta saat mendengar Vivian memanggil nya dengan nama pendek yang entah kenapa terdengar begitu manis ditelinganya.
"Baiklah aku memaafkan mu. Tapi buatkan aku sarapan pagi ini sebagai permintaan maaf mu." Pinta Raymond, sebenarnya itu hanya akal-akalan nya saja agar Vivian tidak mengurung diri terus dikamar.
"Tapi Ray.." belum sempat Vivian menyelesaikan kalimatnya, Raymond sudah memotongnya.
"Lakukan jika kau ingin aku memaafkan mu." Ucap Raymond tegas dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Baiklah." Gumam Vivian. Mau tidak mau ia harus keluar dari kamarnya dan turun kedapur untuk membuatkan Raymond sarapan. Setelah sampai didapur ia masih kebingungan akan membuat makanan apa untuk Raymond karena dia bahkan tidak tahu selera dan kesukaan Raymond seperti apa.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" ujar Dream dari belakang.
"Ah iya. Itu Raymond memintaku untuk membuatkan nya sarapan, tapi aku tidak tahu selera dan kesukaan nya seperti apa?" ujar Vivian menjelaskan. Sebenernya Dream sudah mendapatkan pesan singkat dari Raymond untuk membantu Vivian didapur.
"Baiklah nona, aku akan membantu nona dan memberitahu nona tentang makanan apa saja yang tuan sukai." Ujar Dream.
"Terima kasih..bagaimana aku bisa memanggilmu?" tanya Vivian disela ucapan terima kasih nya.
"Dream itu nama ku. Panggil saja aku Dream." Jawab Dream.
"Baiklah Dream."
"Apa makanan ku sudah siap nona kecil?" tanya Raymond saat ia tepat berdiri di belakang Vivian membuat Vivian kaget dan langsung berbalik menghadapnya. Mata indah Vivian langsung berpapasan dengan mata tajam nya dan itu sukses membuat detak jantung nya berpacu cepat.
"Ehm..sebentar lagi Ray." jawab Vivian gelagapan.
"Baiklah." ujar Raymond singkat lalu berbalik menuju meja makan.
Tidak lama kemudian Vivian menata setiap makanan yang sudah jadi diatas meja dibantu Dream. Vivian menyusun dengan rapi satu per satu makanan itu. Setelah dirasa sudah siap iapun memutuskan untuk pergi, namun belum sempat ia melangkah tangan nya berhasil dicekal oleh Raymond.
"Duduklah dan temani aku sarapan." titah Raymond.
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakan." Raymond kembali melanjutkan kalimatnya saat ia melihat tanda-tanda penolakan dari Vivian. Vivian pun akhirnya pasrah dan ikut bergabung dengan nya dimeja makan. Mereka memakan sarapan mereka tanpa berkata-kata.
"Ray, apa aku boleh tidur dikamar lain saja? aku tidak enak jika harus membuat istirahat mu terganggu." Pinta Vivian.
"Tidak." Jawab Raymond dengan nada tegas dan sudah dipastikan Vivian tidak dapat melawan kata-katanya.
"Setelah ini bersiap lah aku akan membawa mu mengunjungi makam ayah mu." titah Raymond.
Mendengar makam ayahnya seketika membuat air mata Vivian mengalir. Raymond yang melihat itu langsung menghampiri Vivian dan mendekapnya dalam pelukan dengan posisi Vivian masih duduk dan Raymond yang berdiri.
"Jangan menangis. Kau harus bisa menghadapi ini. Kau akan mengunjungi ayah mu dan katakan pada nya bahwa kau sudah baik-baik saja. Jangan membuat ayah mu bersedih." Ujar Raymond berusaha menenangkan. Ia sebenarnya sangat malas mengatakan kalimat itu mengingat Jordan Li juga musuhnya namun mau bagaimana lagi ia tetap ayah yang sudah memberi cinta dan kebahagiaan untuk gadisnya itu. Yah, Raymond mengklaim bahwa Vivian adalah gadisnya sekarang.
"Baiklah." Jawab Vivian singkat. Lalu Raymond berjongkok dihadapan Vivian dan menghapus air matanya dengan jarinya lalu membawa tangan Vivian kedalam genggaman nya.
"Jangan bersedih lagi. Aku janji aku akan menjaga dan melindungi mu." Ucap Raymond serius. Dan dibalas anggukan dari Vivian membuat Raymond tersenyum dan kembali membawa Vivian dalam pelukan. Setelah itu mereka pun melanjutkan memakan makanan nya dan setelah itu Vivian naik kekamarnya dan bersiap-siap.
^^^~Sekian dulu yah.^^^
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya~^^^
^^^Jangan lupa tekan favorit juga jika readers menyukai cerita ku agar bisa mendapatkan pemberitahuan update nya.^^^
...*Terima Kasih*...
__ADS_1