Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Luka Raymond


__ADS_3

"Hei Princess kau tidak apa apa?" tanya Louise saat ia sudah kembali ke rumahnya dan melihat Joyce masih setia disana dengan kedua mata yang sudah tertutup dan tubuh yang sedikit menggiggil. Ia menyeringai saat mendapati bahwa ternyata Joyce pingsan dan entah sejak kapan. Ia kemudian menggendong Joyce menuju ranjang nya dan menyelimuti nya tanpa mengganti pakaiannya. Entah apa tujuan nya memasukkan obat perangsang kedalam minuman Joyce tadi padahal ia juga tidak ingin menyentuh nya.


"apa kau tahu, kau terlihat sangat cantik walau dengan wajah mu yang pucat ini" ucap Louise menelusuri garis wajah Joyce dengan jari telunjuknya, kemudian berhenti pada bibir mungil Joyce.


"Tapi sayang itu tertutupi karena kebusukan mu" timpalnya lagi seraya mencengkeram kuat dagu Joyce membuat Joyce meringis namun belum menyadarkan diri. Louise kemudian melepaskan cengkeraman nya dengan kuat sehingga membuat wajah Joyce terdorong kesamping.


Ia lalu pergi lagi meninggalkan Joyce yang masih pingsan. Ia melajukan mobilnya tanpa arah, tanpa tujuan. Hingga pada akhirnya berhenti didepan sebuah mansion mewah. Ia memperhatikan mansion itu secara seksama seolah sedang mengulang suatu kenangan. Tanpa terasa buliran air mata mulai menetes membasahi pipi nya.


"Maafkan aku" itu yang terucap dari bibir nya sambil memukul setir mobil nya beberapa kali dengan kuat. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju Club malam. Tanpa berlama lama ia langsung mendapati mangsanya. Ia mendatangi seorang wanita yang duduk disebuah sofa dan dalam keadaan setengah tidak sadar. Ia kemudian membawa perempuan itu menuju markas nya untuk mengeksekusi nya. Kali ini ia tidak memiliki hasrat untuk menikmati wanita itu padahal sepanjang perjalanan wanita itu beberapa kali mencoba menggoda nya.


Saat sampai di markas nya ia langsung menarik wanita itu dengan kuat, membawa nya ke ruang eksekusi. Tidak berlama lama kini terlihat wanita itu sudah tak berdaya dengan darah mengalir deras dari perutnya dan juga jangan lupakan sebuah simbol khusus yang dilukiskan Louise di lengan mangsa nya setiap kali ia selesai mengeksekusi nya. Ia tersenyum puas lalu pergi meninggalkan wanita yang sudah tidak berdaya itu. Ada kepuasan tersendiri setiap kali ia selesai mengeksekusi para mangsanya.


Hari telah pagi, tampak fajar mulai menyongsong membuat penduduk bumi yang masih terlelap terganggu akan sinar indahnya. Begitu juga dengan Vivian yang mulai tersadar dari tidurnya. Ia masih merasakan sakit pada kedua kakinya, namun ia tetap mencoba melangkah karena ia merasa sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Dengan susah payah ia mencoba melangkah hingga akhirnya sampai di kamar mandi. Ia pun langsung menuntaskan hajat nya. Diluar terlihat Raymond memasuki kamar nya dengan membawa nampak yang berisi semangkuk bubur dan juga segelas air hangat.


Namun saat masuk, ia tidak mendapati Vivian diranjang nya membuat ia menggeram berpikir kalau Vivian kabur meninggalkan nya. Ia kemudian berbalik hendak keluar dari kamar Vivian namun saat mendekati pintu ia mendengar bunyi air dari kamar mandi membuatnya mengurungkan niat nya untuk keluar. Kemudian terlihat Vivian keluar dari kamar mandi dengan tertatih menahan sakit. Raymond mengepalkan tangan nya kuat, bukan karena amarah tetapi karena merasa bersalah. Ia kemudian melangkah mendekati Vivian dan hendak menolong nya tapi ia kalah cepat karena Vivian sekarang sudah duduk di tepi ranjang nya. Raymond pun menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Makanlah bubur itu" ucap Raymond lalu berbalik dan melangkah pergi namun langkah nya terhenti saat Vivian memanggilnya.


"Kemarilah" ucap Vivian sambil menepuk tempat kosong disampingnya.


Raymond melangkah dengan ragu dan sedikit tidak percaya, bahkan setelah perlakuan kasarnya tadi malam Vivian masih berbicara lembut padanya. Saat ia sudah sampai ia pun duduk di samping Vivian seperti permintaan nya. Ia tidak ingin memandang Vivian, bukan tidak ingin tapi ia sedang sangat menyesal.


"Maafkan aku Ray" ucap Vivian yang lalu memeluknya dari samping. Membuat jantung Raymond berdetak cepat, bukan karena rasa cintanya namun kali ini karena rasa bersalah. Bagaimana tidak, setelah perlakuan kasarnya Vivian masih berbicara lembut kepada nya dan sekarang Vivian memeluknya dan meminta maaf. Ia tidak bergeming walau ia ingin sekali membalas pelukan itu.


"Aku tahu aku salah. Seharusnya aku mengabari mu kemarin. Tapi entah kenapa aku bisa tertidur di cafe dan Joyce pergi meninggalkan. Lalu Louise itu salah satu dosen ku dikampus. Ia membantu ku dengan membawa ku ke apartemen nya. Tapi sungguh Ray aku tidak melakukan apapun dengan nya." Jelas Vivian panjang lebar dengan suara sendu tanpa peduli respon dari Raymond. Entah kenapa ia merasa harus menjelaskan nya kepada Raymond. Raymond akhirnya membalas pelukan nya.


"Maaf Honey. Aku yang sudah terlalu berlebihan. aku menunggumu cukup lama didepan bahkan sudah menghubungi ponsel mu berkali kali tapi tidak ada jawaban. Aku sangat khawatir" ucap Raymond menyesal dan memeluk erat Vivian.


"Akkk.." ucap Raymond sambil membuka mulutnya seperti sedang ingin menyuapi anak kecil.


"Aku bisa makan sendiri" ucap Vivian sambil berusaha merebut sendoknya.

__ADS_1


"Tidak aku akan menyuapi mu. Ayo buka mulut mu atau aku yang bukakan" ancam Raymond jahil dengan menaik turunkan kedua alisnya. Mau tidak mau Vivian membuka mulut nya dan menerima suapan demi suapan dari Raymond.


"Apa masih sakit?" tanya Raymond memandangi kaki memar Vivian disela sela kegiatan menyuapi nya.


"Tentu saja. Kau pikir aku ini manusia karet yang tidak merasakan sakit?" gerutu Vivian dengan nada dibuat kesal dan terdengar lucu padahal didalam hatinya ia sedang menahan perih. Ia tidak tahu kenapa ia merasakannya.


"Maaf" Ucap Raymond lalu menunduk sedikit dan menciumi memar pada kakinya. Karena sedari tadi Vivian sudah duduk dengan posisi memeluk kedua kakinya saat Raymond mulai menyuapi nya. Vivian hanya berdehem membalas ucapan Raymond. Didalam hatinya ia takut, takut jika ia akan mengecewakan Raymond lagi dan membuat Raymond mengulangi perlakuan kasarnya lagi kepadanya.


Setelah selesai memakan bubur nya ia kemudian meminum air hangat yang dibawakan Raymond hingga tersisa setengah.


"Istirahat lah. Aku akan menghubungi pihak Universitas untuk meminta cuti beberapa hari sampai kaki mu sembuh" ucap Raymond dingin sambil melangkah keluar meninggalkan Vivian. Vivian menatap sendu kepergian Raymond.


"Apa yang membuat mu menjadi sekeras itu dengan hidup mu Ray? Apa yang membuat mu merasa takut ditinggalkan? Sepahit apa masa lalu yang sudah kau lalui? Apa kau tidak ingin berbagi sedikit saja beban mu kepada ku? Walau aku tidak bisa membantu tapi setidaknya aku bisa mendengarkan" batin Vivian sedih setelah kepergian Raymond. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengetahui lebih tentang kehidupan Raymond. Entah sejak kapan ia ingin sekali jika pria yang sudah menemani nya selama dua tahun ini bisa berbagi sedikit saja beban dan luka dihatinya.


^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^

__ADS_1


^^^Jangan lupa juga untuk menekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya~^^^


...*Terima Kasih*...


__ADS_2