
"Aku tidak bisa berdiam lebih lama lagi, atau wanita itu akan lebih menderita ditangan si gila." Batin Vanessa.
Vanessa kini sedang berada di markas nya untuk membuat persiapan. Bagaimanapun juga dia harus bisa mencegah Max berbuat lebih gila lagi.
"Aku tidak bisa hanya sendiri. Lebih baik aku hubungi Tuan Lu."
Vanessa pun meraih ponselnya dari saku nya untuk menghubungi Raymond. Tidak ada jawaban. Ia mengulangi hingga panggilan ke tiga namun tetap tidak ada jawaban.
"Ya ampun pria ini. Apa yang dia lakukan?" Gerutu Vanessa. Ia kemudian mencoba menghubungi Raymond kembali. Dan akhirnya diangkat oleh Raymond.
"Siapa kau?" tanya Raymond ketus menjawab panggilan Vanessa.
Vanessa menjauhkan ponselnya sejenak untuk memastikan dia tidak salah menghubungi orang.
"Astaga, kasar sekali." Batin Vanessa saat sudah memastikan yang dihubungi nya adalah Raymond.
"Aku hanya ingin kau datang ke apartemen Max jika kau ingin menyelamatkan istri mu. Bawa beberapa orang mu ikut bersama mu." Pinta Vanessa. Ia pun mengakhiri panggilan nya dan segera keluar dari markas nya untuk menuju ke apartemen Max.
"Bos, kau yakin tidak ingin kami ikut." Salah satu anak buah nya bertanya pada nya.
"Untuk saat ini aku tidak bisa melibatkan kalian." Jawab Vanessa menepuk pundak anak buah nya itu.
"Baik bos. Tapi jika bos butuh bantuan segera hubungi kami." Anak buah nya mengingatkan Vanessa.
"Baiklah. Aku harus pergi sekarang." Ucap Vanessa.
Ia pun kemudian berjalan menuju mobilnya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jarak markas nya dengan apartemen Max cukup jauh, karena markas nya berada di tempat terpencil yang cukup jauh dari kota.
"Max, setelah ini kita selesai. Aku tidak akan berharap padamu lagi." Gerutu Vanessa
Bukan tidak mencintai Max lagi. Tapi dia merasa lebih baik tidak berharap apalagi memaksa Max mencintai nya. Sangat sulit. Dia juga tidak ingin menjadi gila seperti Max.
"Aku mencintai mu sampai kapan pun itu. Tapi percuma jika hati mu masih diselimuti kegelapan dan obsesi gila mu." Gerutu Vanessa kembali. Vanessa bukan tipe perempuan yang manja ataupun cengeng, jadi untuk nya menangis adalah hal yang langka.
#####
"Sial. Jadi selama ini dia menyembunyikan Vivian di apartemen nya." Ucap Raymond saat setelah ia menerima panggilan dari Vanessa.
"Ada apa Tuan?" tanya Sion yang baru saja mendekat dan melihat Raymond yang sedang menggenggam erat ponselnya dan menahan amarah.
__ADS_1
"Siapkan anak buah mu sekarang. Kita harus kembali mengepung apartemen sialan itu." Ucap Raymond.
"Jadi dia menyembunyikan Nona Vivian di apartemen nya. Tempat yang kami kira tidak mungkin untuk dia datangi lagi. Benar benar licik." Batin Sion masih tidak bergeming dari tempat nya.
"Sion." Raymond sedikit membentak melihat Sion yang masih mematung.
"Ba baik Tuan." Ucap Sion sedikit gagap. Ia kemudian dengan segera meminta beberapa anak buah nya yang memang ada si mansion itu untuk segera bersiap.
"Semoga ini yang terakhir." Batin Sion.
Raymond menyiapkan sebuah pistol kecil dan diisi penuh dengan peluru. Tidak lupa ia juga membawa sebuah pisau lipat yang ia selipkan di sepatu nya. Tujuan Raymond saat ini hanya untuk menyelamatkan Istri nya. Urusan memaafkan atau menerima nanti saja dibicarakan.
Setelah selesai, mereka pun segera menuju ke apartemen Max. Raymond mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan Sion dan anak buah nya menggunakan beberapa mobil berbeda dan mengikuti Raymond dari belakang.
Dijalan Raymond mencoba menghubungi nomor asing yang tadi menghubungi nya untuk memastikan siapa perempuan itu. Namun sayang nomor nya sudah tidak aktif karena Vanessa memang mematikan ponselnya.
#####
"Aku berharap kali ini semuanya akan tepat. Jika dia akan menghukum ku, aku siap." Batin Max yang baru saja sampai ke apartemen nya.
Max sudah mengambil sebuah keputusan yang menurut nya itu adalah yang terbaik. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera naik ke apartemen nya menggunakan tangga khusus karena lift di apartemen nya sedang bermasalah.
Cukup tinggi. Sehingga Max sedikit kelelahan. Namun ia tidak ingin berhenti. Ia ingin mengakhiri semuanya walau mungkin sudah terlambat. Setidak nya dia mencoba. Akhirnya ia sampai di depan apartemen nya.
"Huftt." Max menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kasar.
Ia membuka pintu apartemen nya dengan perasaan tidak tenang. Setelah itu ia melangkah dengan perlahan tapi pasti menuju ke kamar nya tempat ia menyekap Vivian.
Dibuka nya pintu kamar itu perlahan. Setelah pintu terbuka sempurna, ia dapat melihat wanita cantik itu sedang duduk diatas ranjang menekuk memeluk kedua lutut nya. Pandangan nya kosong, seperti orang yang kehilangan tujuan hidup.
"Vi ... " Belum sempat Max mendekati nya, Vivian segera bangkit dari duduk nya. Ia meraih sebuah pistol yang disembunyikan dibawah bantal nya dan mengacungkan pistol itu pada Max.
"Sial." Batin Max. Ia kemudian meraba pinggang nya dan benar saja, pistol nya sudah tidak terselip di pinggang nya lagi. Sepertinya Vivian mengambil pistol itu saat malam itu ketika Max tidur disamping nya.
"Jangan mendekati ku pria iblis jika kau tidak ingin nyawa mu berakhir sia sia." Ucap Vivian mengancam.
Tubuhnya bergetar ketakutan, namun ia tidak ingin lemah. Ia harus melawan walau tidak menjamin dia akan menang.
Vivian hanya mengenakan kemeja Max yang kebesaran di badan mungil nya tanpa pakaian dalam. Itu semua perbuatan Max, dan Max yang melihat itu merasa terpancing.
__ADS_1
"Sial." Batin Max saat melihat penampilan menggoda Vivian.
"Tidak tidak. Bukan itu tujuan mu bajingan." Batin Max memaki dirinya.
"Vi, tenang lah dengarkan aku. Aku datang kali ini bukan untuk menyakiti mu." Ucap Max berusaha menenangkan Vivian.
Vivian tidak peduli. Dia menggenggam erat pistol ditangan nya.
"Jangan mendekat sialan. Aku tidak takut padamu." Ucap Vivian dengan suara lantang.
Max tidak tahu jika Vivian sudah bisa menembak dengan baik. Raymond yang mengajari nya dulu.
"Aku akan pastikan kau mati sia sia atau hidup tanpa masa depan." Ucap Vivian mengarahkan pistol nya naik turun antara dada dan area pribadi Max.
"Tenanglah Vi. Aku tidak ingin menyakiti mu. Aku hanya ingin berbicara sedikit dengan mu." Max lagi lagi mencoba bernegosiasi dengan Vivian. Tapi tentu saja Vivian tidak terpengaruh.
"Pembicaraan mu tidak penting sama sekali. Kau hanya akan memaksa ku untuk melayani nafsu binatang mu itu." Vivian mulai berbicara kasar pada Max. Jika dulu mereka adalah dua pribadi yang saling menyayangi walau tanpa hubungan yang jelas, tapi sekarang terlihat dimata Vivian hanya kebencian yang tersisa.
Tidak ada lagi tatapan hangat dan penuh kasih sayang yang pernah dia berikan pada Max. Semua berakhir, berakhir karena ulah kejam Max.
"Vi, aku mohon berikan aku kesempatan berbicara kali ini saja." Max kembali berucap sambil melangkah perlahan mendekati Vivian.
Vivian tidak tahan lagi. Dia ingin segera mengakhiri ini. Hingga akhirnya ...
DOORRRR
******
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Vivian berhasil menyelamatkan dirinya sendiri??
Bagi yang suka, jangan bosan nungguin update nya yah.
Selalu tebarkan dukungan positif kalian untuk author yang bukan siapa2 ini.
Tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita nya yah.
Mampir juga yuk di karya ku yang lainnya berjudul "IF LOVE"
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan kalian.
__ADS_1