
"Wah, akhirnya Nona Vivian bisa pulang juga. Aku sudah tidak sabar untuk memasak bersama lagi." Ucap Dream yang sedang menanti kepulangan Vivian di mansion.
"Memang nya kau pikir Nona Vivian itu anak buah mu?" Ketus Sion pada nya.
"Ya ampun, kau ini kenapa tidak pernah ramah pada ku?" tanya Dream kesal.
"Karena kau kekasih Jiro payah itu." Sion menjawab sembarangan. Dia hanya senang saja mengerjai perempuan itu.
"Hoh, Jiro itu tidak payah. Kau saja yang tidak bisa sesempurna dia." Dream membanggakan kekasihnya, membuat Sion termuntah (maksudnya pura pura muntah).
"Laki laki sempurna? Haha kau belum tahu saja. Jiro itu sangat tidak bisa diandalkan dalam urusan ranjang." Ucap Sion tertawa kecil meremehkan.
"Kau ini. Aku menyesal mempunyai kakak seperti mu." Ucap Dream, lalu pergi meninggalkan Sion. Sion hanya tertawa karena sekali lagi dia menang dari adiknya.
Ya, Sion adalah kakak kandung dari Dream. Hanya saja banyak yang tidak tahu bahkan ketika tahu pun mereka tidak akan percaya. Alasan nya karena mereka tidak mirip sedikitpun dan juga tidak pernah akrab kalau sedang berbicara, selalu saja berakhir dengan pertengkaran atau perdebatan.
#####
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Raymond yang sedang membantu Vivian mengemaskan barang barang nya. Setelah seminggu dirawat, Vivian diijinkan pulang oleh Shen yang bertugas sebagai dokter pribadi nya.
"Hem. Aku siap. Aku sudah sangat merindukan rumah kita." Ucap Vivian mengangguk semangat dan tersenyum lebar. Raymond yang melihat ekspresi bahagia istrinya makah menghentikan kegiatan mengemas nya dan berjalan mendekati istrinya.
Ia melingkarkan tangannya pada leher istrinya dan menatap dalam kedua mata indah Vivian. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Vivian.
"Ray, apa yang kau lakukan?" tanya Vivian berusaha menghindari wajah suaminya yang semakin mendekat sambil tersipu malu.
Tanpa menjawab, Raymond langsung menyatukan bibirnya pada istrinya. Ia mencium lembut bibir Vivian. Pada akhirnya Vivian terbuai dan membalas suaminya. Raymond membawa Vivian berjalan mundur kebelakang hingga Vivian terduduk diatas ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Ciuman Raymond semakin panas dan mulai menelusuri leher putih Vivian. Sebenarnya masih ada ketakutan dalam diri Vivian. Tapi ia berusaha untuk membuang jauh semua itu. Ia tidak mungkin menghukum Raymond selamanya tanpa memberi jatah pada suaminya kan.
Raymond memutuskan untuk membaringkan istrinya tanpa melepas bibir nya yang sedang mencumbu istrinya.
"Ray itu ... " Ucap Vivian saat melihat Shen sudah masuk keruangan mereka. Raymond tidak ingin berhenti, pertama karena ia terbawa suasana, kedua karena ia memang sudah sangat menginginkan istrinya.
"Ekhem. Tuan Raymond Lu yang terhormat, bisakah kau tidak menjadikan rumah sakit ku sebagai tempat mesum mu?" tanya Shen melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Sial." Ucap Raymond lalu segera menghentikan kegiatan nya. Vivian meraih selimut untuk menutupi wajah nya yang merona malu karena tertangkap basah sedang bercumbu dengan suaminya.
"Kalian sudah akan pulang, jadi sebaiknya lakukan saja dirumah agar tidak merusak citra rumah sakit ku." Gerutu Shen. Mau tidak mau Vivian membuka selimut yang menutupi nya, dan bangun dari posisi nya menjadi duduk.
"Vi, ini obat yang harus kau konsumsi. Jika sudah habis nanti, kau bisa datang untuk konsultasi lagi pada ku jika kau mau." Ucap Shen memberikan obat pada Vivian dan mengedipkan sebelah mata nya.
__ADS_1
"Hei, jauhkan mata kotor mu itu dari istri ku." Ketus Raymond sambil memeluk dan membenamkan wajahnya istrinya diperut nya.
"Tenang lah, dibanding istri mu, aku lebih menyukai mu." Ejek Shen pada Raymond sambil berjalan pelan hendak meninggalkan mereka. Dengan sigap Raymond menendang bokong Shen hingga membuat Shen hampir jatuh tersungkur.
Seketika Vivian tertawa melihat kelakuan suami dan sahabatnya itu. Shen memandang Raymond dengan tatapan membunuh. Tapi bukan berarti ia benar benar marah. Segera ia pun keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka.
"Sayang, apa semuanya sudah selesai?" tanya Raymond mengecek semua barang barang nya.
"Sepertinya sudah." Jawab Vivian.
"Ayo sayang. Kita pulang sekarang. Mansion kita sudah terlalu lama menunggu Ratu nya." Ajak Raymond menggandeng posesif tangan istrinya.
"Hem." Vivian berdehem dan mengangguk semangat.
Mereka pun keluar dari ruangan itu dan berjalan meninggalkan rumah sakit menuju ke tempat parkir. Disana Jiro sudah menunggu didalam mobil dan sedang tertidur.
"Plak plak." Raymond menggedor pintu mobilnya membuat Jiro terperanjat.
"Ya ampun, apa tidak bisa mereka sedikit lebih lama dan membiarkan aku istirahat sejenak." Gerutu Jiro membukakan kunci otomatis pada mobil nya dari dalam.
Raymond menyuruh Vivian untuk masuk terlebih dulu, sedangkan ia mengemas barang barang nya ke bagasi. Setelah selesai ia pun masuk dan duduk di samping Vivian.
"Kau ini, apa bisa menyetir dalam keadaan seperti itu?" tanya Raymond sedikit khawatir. Ia tahu Jiro pasti kelelahan karena menggantikan dirinya mengurus pekerjaan nya diperusahaan selama Raymond menemani Vivian dirumah sakit.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Raymond.
Setelah itu, Jiro meneguk air mineral nya. Baru setelah nya ia mulai melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Vivian menempel posesif pada lengan suaminya. Raymond kesenangan melihat tingkah gemas istrinya.
Perjalanan cukup memakan waktu karena sempat terjadi kecelakaan di jalanan hingga mengganggu kenyamanan pengendara lain. Akhirnya mereka pun sampai. Segera Raymond keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Ia meraih tangan Vivian dan menuntun nya masuk kedalam mansion.
"Selamat datang kembali Nona Vivian." Ucap Sion menyambut dengan penuh semangat.
Raymond menatap geli pada bawahan nya yang satu ini, karena tidak biasanya berlaku seperti ini.
"Kau mabuk?" tanya Vivian polos. Pasalnya ia tahu Sion bukan tipe pria ceria seperti Jiro atau Shen.
"Tidak Nona. Hehe." Ucap Sion terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Ya sudah. Ayo silahkan masuk Nona dan Tuan." Ucap Sion mempersilahkan Raymond dan Vivian untuk masuk.
Vivian menatap penuh kerinduan terhadap mansion nya. Sedangkan Raymond memeluk istrinya dari belakang sambil terus berjalan bersama.
__ADS_1
"Aku merindukan mu sayang." Ucap Raymond mengecup leher istrinya sambil menuntun istrinya kekamar.
Setelah dikamar, ia segera mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang menganggu. Kemudian ia pun menuntun istrinya untuk duduk di atas ranjang. Ia menempelkan kening nya pada kening istrinya dengan nafas memburu.
Perlahan ia mulai mencium lembut bibir Vivian kembali dan membawa tangan Vivian untuk merangkul leher nya. Ia memilih membaringkan Vivian dan dirinya diatas istrinya.
"Sayang bolehkah aku melakukan nya?" tanya Raymond meminta ijin. Walau ia sangat menginginkan nya tapi dia tidak ingin membuat istrinya takut dan menyakiti istrinya.
Vivian tidak menjawab dan terus membiarkan suaminya mencumbu dirinya. Ia tahu tidak bisa selamanya ia menelantarkan hasrat suaminya dan terus terpuruk dalam kesedihan.
"Sayang bolehkah aku melakukan nya?" Raymond mengulang pertanyaan nya dengan nafas semakin tidak teratur. Vivian mengangguk pelan.
Raymond yang mendapat ijin pun segera melancarkan aksinya. Dibuka nya pakaian istrinya hingga hanya tersisa pakaian dalam saja. Kemudian ia membuka kaos yang ia gunakan dan melempar nya sembarangan.
Ia kembali mencium lembut bibir Vivian dan mendapat balasan yang membuatnya semakin bersemangat. Ciuman mulai turun ke leher istrinya. Satu tangannya mulai membuka penutup pada tubuh istrinya dan satu tangannya ia gunakan untuk menopang tubuh nya agar tidak terlalu menghimpit istrinya.
Setelah berhasil, tangannya mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya dengan lembut. Vivian mencengkeram erat spray kasur nya agar tidak mendesah.
"Keluarkan saja sayang. Jangan takut." Ucap Raymond yang mengerti gelagat istrinya.
Tangan Raymond mulai menelusuri milik istrinya dan mulutnya memainkan gundukan indah istrinya.
"Akh ... Ray aku ... " Satu desahan lolos dari bibir Vivian membuat Raymond semakin bersemangat bermain pada tubuh istrinya. Ia tidak segera menyatukan dirinya, ia ingin memberi sensasi yang bisa membantu istrinya lebih tenang saat melakukan nya.
Kini ia bahkan sudah menjelajahi milik istrinya dengan mulut nya. Vivian menjambak kuat rambut Raymond merasakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.
"Ray aku ... " lagi lagi Vivian tidak mampu melanjutkan perkataannya, ia sudah terbakar gairah akibat perbuatan suaminya.
"Kau siap sayang?" tanya Raymond menghentikan aksinya dan menatap wajah sayu istrinya. Vivian hanya mengangguk.
Segera Raymond pun menyatukan dirinya dan istrinya dan menghentak lembut hingga akhirnya semakin cepat. Bibir dan tangannya setia mencumbu istrinya, sedangkan bagian bawah nya tidak berhenti bergerak.
Vivian mencengkeram erat spray kasur nya, kali ini bukan untuk menahan desahan nya agar tidak lolos, tapi ia merasakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya. Raymond benar benar melakukan nya dengan sangat baik kali ini. Membuat Vivian benar benar terbakar gairah hingga rasanya tidak ingin berhenti.
Pertempuran panas mereka terus terjadi hingga akhirnya mereka kelelahan dan terlelap. Mereka tidak peduli hari masih terang, mereka hanya saling melepas rindu dan saling memberi cinta.
******
Makasih buat dukungan kalian tidak pernah bosan kalian berikan pada ku.
Mampir juga di karya ku yang judul nya " IF LOVE " yuk.
__ADS_1
Tinggalkan jejak komentar, like, vote dan favorit cerita nya yah.
Salam sayang dan selalu jaga kesehatan kalian.