
"Sayang lihat lah, dia sangat tampan." Raymond tidak habis habisnya memuji Raiyan putra kecil nya yang sedang dalam gendongan nya. Vivian duduk bersandar di atas ranjang.
"Benar. Dia sangat tampan seperti mu." Vivian menjawab tidak lupa memuji sumber ketampanan putra nya.
Sudah seminggu sejak Vivian melahirkan. Ia juga sudah kembali ke rumahnya dan sudah lebih segar.
"Wah wah, orang tua baru sedang berbunga bunga yah." Ucap Harley yang sedang berdiri didepan pintu kamar putra menantu nya.
"Ayah, masuklah." Raymond mempersilahkan Ayahnya untuk masuk.
Harley pun melangkah masuk mendekati keluarga kecil itu.
"Sini, ijinkan Ayah menggendong cucu tampan Ayah." Pinta Harley merebut cucu nya dari tangan putranya.
Raymond pasrah menyerahkan mainan hidupnya yang tampan itu pada Ayahnya.
"Wah tampan sekali cucu kakek. Jadi lelaki yang hebat kelak yah. Jangan seperti Papa mu, nakal." Ucap Harley seolah berbicara pada cucu nya.
Raymond hanya memutar malas kedua mata nya mendengar ejekan Ayah nya.
"Wah Ray, lihatlah Raiyan tersenyum pada Ayah." Harley kegirangan saat melihat cucu nya tersenyum.
"Wah Ayah benar." Raymond mengiyakan perkataan Ayahnya dan Vivian hanya tersenyum bahagia.
Ia tidak pernah menyangka setelah semua yang ia lewati, akhirnya ada kebahagiaan dalam hidupnya.
"Ah ya ampun. Baby Rai, ini bibi Dream." Ucap Dream yang berlari mendekat pada Raiyan yang berada dalam gendongan Harley.
Jiro, Sion, Vio, Shen, dan Ivy mengikuti dari belakang.
"Selamat Vi, kau sudah menjadi seorang Ibu." Ucap Shen menyerahkan kado yang sudah ia dan Ivy bawa.
"Terima kasih Shen. Kalian segeralah menyusul." Vivian menerima kado dari Shen sambil tersenyum.
"Haha tenang saja. Kau tahu aku tidak berhenti membuatnya. Setiap malam bisa berulang kali." Ucap Shen bangga.
"Aw..sakit sayang." Shen mengerang saat istrinya mencubit perutnya.
"Selamat Nona Vivian." Kini giliran Sion dan Vio yang menyerahkan kado pada Vivian.
"Terima kasih. Kalian juga cukup panggil aku Vivian saja. Dan segeralah menyusul." Ucap Vivian.
Sion dan Vio hanya tersenyum manis, tidak seperti Shen yang tidak punya tombol setel pada ucapan nya.
"Hei, tidak ada kah yang mengucapkan selamat pada ku? Aku juga berjasa dalam membuat Raiyan." Raymond protes.
"Kau tidak hebat. Bayangkan saja butuh waktu berapa tahun kau baru berhasil menumbuhkan benih mu." Shen menghina tapi sebenarnya mengejek Raymond.
"Kau ini." Raymond menendang bokong Shen dengan sangat kuat.
Semuanya tertawa serentak.
"Selamat Tuan Ray, Nona Vivian. Aku bahagia kalian sudah menjadi Ayah dan Ibu. Aku berharap bisa segera menyusul agar Raiyan dan anak ku nanti bisa bersahabat." Ucap Jiro tersenyum malu sambil menggaruk kepala nya.
"Terima kasih Jiro." Ucap Raymond.
Tok tok tok
Pintu kamar mereka diketok walaupun tidak ditutup.
"Ada apa?" Raymond bertanya pada pelayan yang sedang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Tuan Jiang dan Nyonya Jiang ingin bertemu Tuan." ucap pelayan itu menyampaikan pesan.
"Suruh mereka masuk saja dan bergabung ke sini." Raymond mengijinkan.
"Baik Tuan." Pelayan itu pun pamit untuk menyampaikan pesan pada Max dan Vanessa yang sedang menunggu dibawah.
"Tuan besar, ijinkan aku menggendong Raiyan." Pinta Dream, dan perlahan Harley menyerahkan bayi mungil itu pada Dream.
"Ah lucu sekali dan juga tampan. Vio, Ivy lihatlah ini." Ucap Dream mengajak Vio dan Ivy bergabung.
Vio dan Ivy memang masih sedikit canggung karena belum lama mengenal mereka.
"Kau benar Dream. Dia sangat tampan dan lucu." Ivy membuka suara.
"Semoga saja jika nanti kita sudah punya anak, anak anak kita bisa saling berteman baik dengan Tuan muda Raiyan." Vio menimpali.
Vio sama seperti Sion, bagaimana Sion memanggil Raymond dan Vivian ia akan mengikuti.
"Hai." Ucap Max yang baru saja masuk dan bergabung.
"Ayah." Max duluan menyapa dan memeluk Harley lalu diikuti Vanessa.
"Apa kabar mu Vi?" Max bertanya tulus pada Vivian, tangannya selalu menggenggam posesif tangan istrinya.
"Baik Max. Bagaimana dengan kalian? Apa sudah ada tanda tanda?" Vivian bertanya tentang kehamilan Vanessa.
"Entahlah. Tapi aku berharap secepatnya." Kini Vanessa yang menjawab.
"Oh ya, ini untuk mu. Semoga kau suka." Ucap Vanessa menyerahkan kado berukuran kecil pada Vivian.
"Apa ini?" Tanya Vivian penasaran.
"Kau buka saja." Ucap Vanessa tersenyum.
"Ini indah sekali." Ucap Vivian saat melihat isi kado nya ternyata adalah liontin berlian berbentuk huruf R.
"Bisa kau pakaikan pada Raiyan jika ia sudah dewasa nanti. Itu cocok juga untuk pria." Ucap Vanessa.
"Terima kasih Vanessa." Vivian kemudian merentangkan tangannya dan Vanessa menyambut dengan pelukan.
Setelah lepas, Vanessa berjalan mendekati ketiga wanita yang sedang sibuk dengan bayi mungil itu.
"Jadi apa rencana mu setelah ini?" Raymond bertanya pada Max.
Ia mulai membangun hubungan yang sedikit lebih baik dengan Max dan mencoba melupakan dendam diantara mereka, setelah Vivian memaafkan kesalahan Max.
"Aku dan Vanessa akan kembali ke Jepang dan menetap di sana." Ucap Max.
"Em.." Raymond menjawab singkat sambil mengangguk.
"Max, bagaimana kabar Rex? Sudah lama aku tidak mendengar tentang nya." Vivian bertanya tentang Rex, pria yang pernah rela babak belur demi membantu nya lari walau gagal.
"Dia sekarang menetap di Amerika. Dia bilang bosan melihat wajah ku, apalagi jika melihat ku berdua dengan istri ku. Dia akan sangat iri." Ucap Max terus terang membuat Vivian terkekeh.
"Suruh dia segera menikah agar tidak perlu merasa iri lagi pada mu." Ucap Vivian.
"Aku juga sudah menyuruh nya. Tapi kau tahu seleranya terlalu tinggi. Dia ingin istri yang bentukan nya seperti model model terkenal dinegara bagian barat sana. Mungkin dari itu ia memutuskan untuk pergi ke Amerika." Max berucap jujur.
"Ada ada saja." Ujar Vivian menggeleng kepalanya pelan.
Mereka melanjutkan obrolan kecil mereka.
__ADS_1
"Apa boleh aku mencoba menggendong Raiyan?" Vanessa bertanya ragu.
"Tentu saja." Ucap Dream semangat lalu menyerahkan Raiyan secara hati hati pada Vanessa.
Vanessa pun menerima dengan hati hati.
"Lucu sekali." Ucap Vanessa gemas.
Raiyan tersenyum menampilkan deretan gusi nya yang masih ompong. Entah senyum karena mendengar pujian Vanessa atau senyum karena dikelilingi wanita wanita cantik.
Vanessa menggendong Raiyan menghampiri Max, diikuti ketiga wanita itu dibelakang nya.
"Sayang, lihatlah Raiyan sangat lucu, dan dia tersenyum dari tadi." Ucap Vanessa memperlihatkan Raiyan pada Max.
"Kau benar. Sini ijinkan aku menggendong nya. Aku ingin segera menjadi Ayah." Ucap Max meminta Raiyan dari gendongan Vanessa.
Saat dalam gendongan Max, senyum Raiyan langsung hilang.
Oek oek oek
Tiba tiba Raiyan menangis histeris.
"Dia tidak suka pada mu sayang." Ucap Vanessa lalu meraih Raiyan kembali.
Tangis Raiyan langsung terhenti.
"Coba sekali lagi." Pinta Max kembali meraih Raiyan dalam gendongan nya. Dan benar saja, Raiyan kembali menangis histeris.
Dengan segera Max mengembalikan pada Vivian.
"Dia menolak ku." Batin Max.
"Bahkan bayi saja tahu kau adalah pria jahat." Batin Sion.
"Rasakan. Itu tandanya Raiyan tahu kejahatan mu dulu pada Ibunya." Kini Jiro yang membatin.
Raiyan langsung diam dan malah tertidur pulas ketika Vivian menenangkan nya.
"Sudah, tidak perlu ribut. Mungkin Raiyan memang sudah lelah terbangun dari tadi." Ucap Harley mencairkan suasana.
"Lebih baik kita kebawah saja. Nanti malam kita makan malam bersama." Timpal Harley lagi sambil melangkah.
"Kalian duluan saja. Aku akan menyusul nanti bersama Vivian." Ucap Raymond.
Mereka pun satu persatu meninggalkan kamar Raymond Vivian dan turun kebawah.
********
Sekian terima kasih.
Udahan yah Extra Part nya. Boleh?
Mampir di " IF LOVE " yuk
Berikan dukungan kalian terus donk biar aku lebih semangat lagi buat Up.
Tinggalkan terus komentar dan like kalian setiap kali kalian selesai membaca.
Like dan komen kan gak perlu berbayar, baca aja gratis.
Kalau bukan kalian selaku pembaca yang mendukung para author apalagi yang pemula seperti ku, lalu siapa lagi.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa hari ini. Semoga lancar ya.