Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 16 - Ditemani Kerja


__ADS_3

[ Jangan lupa mampir di karya ku yang judulnya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) "


dan "IF LOVE ". Tinggalkan jejak kalo udah mampir ya.]


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


.


"Hah, lelah sekali." Gumam Raiyan menghentikan sejenak pekerjaan nya yang menumpuk.


Raiyan telah resmi menggantikan posisi Ayahnya sebagai CEO di perusahaan milik Ayahnya selama sebulan ini, sejak ia kembali ke rumah keluarga nya.


Tok tok tok


Pintu ruangan kerja Raiyan diketok dari luar.


"Masuk." Titah Raiyan.


Tampak seorang perempuan muda masuk membawa setumpuk map berisi dokumen penting untuk Raiyan.


"Ma maaf Tuan, ini semua adalah dokumen yang harus anda periksa dan tanda tangani." Ujar Ana yang merupakan sekretaris nya.


Ana tidak terlalu cantik, lebih tepat nya tidak terlalu pandai merias diri.


"Letakkan saja disana." Ucap Raiyan menunjuk kearah meja sofa nya.


"Baik Tuan." Ana pun melaksanakan perintah Raiyan.


"Aku permisi Tuan." Pamit Ana.


"Ana, setelah ini jangan biarkan siapapun menganggu ku jika tidak benar benar penting." Titah Raiyan lagi sebelum Ana benar benar pergi dari ruangan nya.


"Baik Tuan." Ucap Ana, kemudian keluar dari ruangan


Raiyan.


Raiyan pun kembali berkutat dengan pekerjaan nya yang menumpuk.


Padahal hari sudah sore, tapi Raiyan masih saja terus menyibukkan diri, malas pulang.


Bukan karena bermasalah dengan keluarga nya, tapi bosan karena setelah dirumah pun diri nya tidak ada kegiatan lain selain istirahat.


"Hah, Tuhan rasanya aku ingin menikah agar saat seperti ini setidaknya ada yang menemani ku." Pinta Raiyan memelas.


Jika selama ini ada Emily untuk Raiyan mainkan, maka saat ini berbeda sekali. Raiyan tidak pernah lagi terpikir untuk bermain perempuan lagi.


Tring tring


Ponsel Raiyan berbunyi.


"Siapa yang berani menganggu ku. Awas saja jika si Dero laknat itu." Gerutu Raiyan langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggil.


"Ada apa? Katakan cepat. Aku sedang tidak punya waktu berurusan dengan mu." Raiyan berkata dengan kesal.


"Kau sibuk sekali Rai? Ya sudah. Lain kali saja aku mengganggu mu." Ucap si penelpon yang ternyata adalah seorang perempuan.


Raiyan menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa yang memanggil, dan ternyata adalah Axnes.

__ADS_1


"Um, Axnes bukan, bukan seperti itu. Aku tadi mengira kalau yang menelpon ku adalah Dero. Kau tahu dia suka sekali mengganggu ku tanpa sebab." Ucap Raiyan gelagapan tidak lupa dengan alasan yang terdengar konyol.


"Em..baiklah. Rai apa kau sudah makan? Kau dimana sekarang?" Tanya Axnes penuh perhatian.


"Aku belum sempat makan nes. Aku masih di perusahaan ku. Pekerjaan ku sangat banyak dan ingin sekali ada yang menemani ku." Raiyan mengeluh memelas.


"Haha kau ini. Aku baru selesai photo shoot. Apa boleh aku bermain ke tempat mu. Tadi juga aku sudah membuat beberapa makanan kecil bersama teman ku. Apa mau makan bersama?" Tanya Axnes ragu.


Axnes tahu saat ini Raiyan adalah CEO yang sedang diincar banyak wanita. Jadi ada sedikit rasa tidak percaya diri jika dekat dengan Raiyan.


"Mau mau. Tentu saja aku mau. Datanglah ke sini. Aku menunggu mu." Raiyan menjawab semangat bahkan menganggukan kepalanya seolah Axnes sedang di depan nya.


"Ya sudah. Aku segera kesana." Ucap Axnes lalu mematikan panggilan nya.


Raiyan dan Axnes memang sudah mulai lebih dekat selama hampir dua bulan ini. Mereka juga tidak jarang akan menghabiskan waktu bersama jika sedang senggang.


"Oh Tuhan. Terima kasih kau dengan cepat menjawab keinginan ku." Raiyan berucap semangat sambil memandang haru pada langit langit diatas kepalanya.


Raiyan pun meneruskan pekerjaannya dengan semangat dan senyuman diwajah nya.


Satu jam telah berlalu, tapi Raiyan belum mendapati kemunculan Axnes didepan nya.


"Dimana dia?" Gumam Raiyan.


Raiyan kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Axnes. Tidak tersambung.


Raiyan mencoba memeriksa monitor CCTV di depan perusahaan nya.


"Ya ampun. Kenapa mereka membuat Axnes menunggu." Raiyan menggerutu saat melihat dari layar monitor komputer nya yang menampilkan Axnes tengah duduk di luar gedung perusahaan nya dan tampak sedikit kedinginan karena Axnes beberapa kali menggosok telapak tangannya dan menempelkan pada lengan nya.


Raiyan segera keluar dari ruangan nya dan bergegas turun ke lobi perusahaan nya.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Raiyan khawatir sambil membuka jas yang ia kenakan lalu memakaikan pada Axnes.


Axnes tersenyum manis.


"Kau ini. Membuat ku khawatir saja." Raiyan mengacak rambut Axnes gemas.


"Kau khawatir pada ku?" Tanya Axnes menggoda Raiyan.


"Haha. Ayo kita masuk." Raiyan salah tingkah, tertawa kecil, dan mengalihkan pembicaraan.


Raiyan merangkul pundak Axnes setelah memposisikan jas nya dengan benar di tubuh Axnes.


Raiyan menatap tajam pada dua petugas keamanan yang sedang berdiri dan menunduk itu.


"Duduklah." Raiyan menuntun Axnes duduk di sofa.


"Terima kasih." Ucap Axnes mendudukan diri nya.


Raiyan berjalan kearah kulkas mini dipojok ruangan lalu mengambil dua botol air mineral.


Ia membukakan satu dan menyerahkan pada Axnes.


"Tidak. Ini dingin Rai. Kau saja memberikan aku jas mu karena tahu aku dingin tadi." Axnes menolak air mineral itu.


"Haha ya ampun. Aku jadi lupa. Maaf." Raiyan kembali salah tingkah.


Ia lalu berjalan ke meja nya dan menekan tombol angka khusus pada telepon nya yang menghubungkannya dengan petugas pantry.


"Bawakan aku secangkir teh hangat manis." Titah Raiyan.


Raiyan pun berjalan dan duduk di samping Axnes yang sedang sibuk menata makanan yang ia bawa tadi.

__ADS_1


"Maaf Rai, tapi ini sepertinya sudah sedikit dingin." Ujar Axnes sedikit sendu lalu menatap Raiyan.


Raiyan tidak menjawab, ia malah membuka lebar mulut nya sambil melirik makanan diatas meja dan Axnes secara bergantian.


"Kau ini manja sekali." Ucap Axnes gemas mencubit pipi Raiyan.


Axnes kemudian menyuapi Raiyan perlahan.


Tok tok tok


Pintu diketuk dari luar.


Raiyan berjalan kearah pintu dan hanya membuka sedikit lalu meraih teh hangat yang dibawa oleh petugas pantry dan langsung menutup pintu kembali.


"Ini untuk mu." Raiyan menaruh teh hangat itu di meja depan Axnes.


Raiyan duduk dan kembali membuka mulutnya pada Axnes.


Axnes menggeleng kepalanya pasrah melihat tingkah manja Raiyan. Dengan sayang ia menyuapi Raiyan hingga makanan yang ia bawa habis tak tersisa.


"Terima kasih nes." Ucap Raiyan mengelus puncak kepala Axnes.


Axnes mengangguk dan tersenyum sambil mengemas wadah kotor tempat makanan tadi.


"Axnes, apa kau mau menemani ku disini? Pekerjaan ku masih banyak, dan rasanya bosan sekali sendirian." Raiyan modus minta ditemani oleh Axnes.


"Baiklah. Lagi pula kau kan atasan ku juga. Mana berani aku menolak mu." Ucap Axnes lembut.


"Dan aku tidak mengijinkan mu untuk menolak ku." Raiyan memberi perintah.


Axnes hanya tersenyum.


Raiyan pun kembali mengerjakan pekerjaan nya dengan semangat, sesekali melirik Axnes yang berkutat dengan ponselnya sambil sesekali menguap.


Tidak ada pembicaraan diantara mereka.


"Hah, akhirnya selesai juga." Ucap Raiyan saat pekerjaan nya sudah selesai.


Raiyan meregangkan otot nya dan menoleh ke arah Axnes yang ternyata sudah terlelap diatas sofa nya.


Raiyan perlahan mendekati Axnes. Ia berjongkok di depan Axnes, lali menyibak beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Axnes. Raiyan mengusap lembut pipi Axnes.


"Kau cantik. Jadilah milik ku." Ucap Raiyan pada Axnes yang sudah terlelap.


"Rai." Axnes tiba tiba menyebutkan nama Raiyan dalam tidurnya membuat Raiyan tersenyum lebar.


Ia pun memutuskan untuk menggendong Axnes perlahan menuju ke mobilnya, setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen Axnes.


Apartemen itu adalah salah satu fasilitas yang diberikan pada Axnes setelah menandatangani kontrak bersama RV2 Agency.


Setelah sampai, Raiyan menggendong Axnes perlahan menuju ke unit apartemen nya. Ia tentu tahu password Axnes, Axnes yang memberi tahu nya.


Setelah masuk kedalam apartemen, Raiyan segera membawa Axnes kekamar. Ia membaringkan Axnes dengan hati hati, lalu melepaskan sepatu heel yang dikenakan Axnes. Setelah itu ia menyelimuti Axnes dengan benar.


Lalu ia berjongkok di depan Axnes. Ditatap nya wajah cantik yang menenangkan hati nya itu.


"Selamat tidur." Ucap Raiyan lalu mengecup sayang kening Axnes.


Setelah itu ia pun pergi dari apartemen Axnes dan kembali ke rumah nya.


...~ To Be Continue ~...


*******

__ADS_1


Like dan komentar jangan lupa.


Makasih.


__ADS_2