
"Cukup Rai. Jika kau ingin pukul, maka pukul aku." Titah Axnes geram melihat tingkah kasar suaminya.
Rai melepas cengkeraman tangannya dari kerah baju Vynshen dengan kasar.
"Kau membela nya?" Tanya Raiyan kesal.
"Rai, cukup. Kau tidak tahu apa yang terjadi dan semua tidak seperti yang kau lihat." Ucap Vivian berusaha melerai.
Raiyan langsung menarik tangan Axnes dengan kasar untuk kembali ke rumah mereka.
"Vynshen, maafkan kelakuan kasar Rai." Pinta Vivian merasa tidak enak hati pada Vynshen.
"Tidak apa apa bibi. Jika begitu, aku pamit sekarang. Semoga masalah Rai dan Axnes cepat selesai." Ucap Vynshen.
Ia pun masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Vivian.
Raiyan menarik Axnes hingga masuk kedalam kamar mereka.
"Apa mau mu Axnes? Baru seminggu tinggal terpisah, kau bahkan sudah berani keluar dengan sahabatku. Bahkan kau berani mengajak Mama ku." Tuduh Raiyan membentak kasar.
"Apa mau ku? Kau bertanya apa mau ku? Harusnya aku yang bertanya apa mau mu Rai? Sekarang kau bahkan memanggilku dengan sebutan nama ku." Bentak Axnes tak kalah kasar.
Raiyan frustasi.
"Kau pikirkan salah mu Rai. Jangan hanya bisa menuduh orang tanpa bukti dan alasan yang jelas. Aku memang keluar tapi dengan Mama. Kami hanya tidak sengaja bertemu dengan Vynshen lalu ia menawarkan tumpangan untuk kami." Ucap Axnes.
Walaupun mereka sedang emosi, tapi Axnes mencoba menjelaskan segalanya.
"Lalu kau bangga? Kau bahagia? Bisa jauh dari ku? Bisa dekat dengan pria lain? Begitu?" Tanya Raiyan masih menuduh Axnes.
"Aku lelah Rai. Aku lelah. Kau berubah." Ucap Axnes lemah dan terduduk di tepi ranjang mereka.
"Aku yang berubah? Hebat. Kau harusnya berpikir, setelah melahirkan apa yang kau lakukan? Kau hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Berdandan pun tidak pernah, rumah selalu berantakan setiap aku pulang dari bekerja. Bahkan kadang aku kelaparan pun masih harus menunggu mu masak terlebih dulu." Ucap Raiyan.
"Aku hanya sendiri Rai, dan kau menyuruhku mengurus seisi rumah ini dan juga Yanes yang sedang aktif bergerak sendirian? Lalu kemana janji mu yang dulu?" Ucap Axnes mengungkit janji manis Raiyan.
"Janji? Aku bahkan tidak pernah berjanji apapun." Ucap Raiyan asal.
"Lihatlah, bahkan dengan janjimu sendiri kau lupa. Kau yang ingkar Rai. Kau! Kau berjanji ingin menjadi orang tua mandiri dan membantu ku mengurus semuanya. Kau yang melarang untuk memanggil pelayan ke rumah ini dengan alasan kau akan membantu ku. Tapi apa? Hanya satu bulan setelah Yanes lahir. Dan setelah itu, kau berubah. Kau menjadi semena-mena pada ku. Kau menganggap ku seperti pelayan dan perawat untuk putra mu. Itu saja." Bentak Axnes dengan amarah memuncak.
Raiyan terdiam.
"Aku lelah Rai. Aku tidak sanggup sendiri. Jika kau sudah tidak mencintaiku dan tidak lagi menginginkanku, ijinkan aku kembali pada orang tua ku. Setidaknya aku tidak merasakan sakit hati seperti ini." Pinta Axnes terisak.
"Aku bukan wanita kuat seperti Mama mu atau Mama ku. Aku butuh suamiku. Aku butuh pendamping ku. Aku butuh Raiyan yang dulu mencintaiku." Ungkap Axnes.
Raiyan semakin merasa bersalah.
__ADS_1
Ia mendekati istrinya lalu memeluk Axnes.
Gairah Raiyan terpancing.
Ia melepaskan pelukannya dan mulai mencium paksa bibir istrinya.
Axnes mendorong Raiyan dengan kuat hingga pautan bibir mereka terlepas.
PLAKK
Axnes menampar pipi Raiyan dengan kuat.
"Apa? Apa yang coba kau lakukan Rai? Kau ingin menyetubuhi ku? Kau pikir aku apa? Kau pikir semua masalah bisa selesai dengan berhubungan intim? Begitukah?" Tanya Axnes pilu.
"Aku akhirnya sadar Rai. Kau sama sekali tidak mencintai ku. Kau hanya ingin memiliki ku, kau hanya ingin tubuh ku." Ucap Axnes.
Raiyan merasa terpukul dengan ucapan istrinya.
Ia jelas sangat mencintai Axnes. Tapi entahlah apa yang membuatnya berubah seperti itu?
Axnes menatap Raiyan penuh kebencian.
"Aku sudah tidak mengenal Raiyan ku. Aku tidak mengenal suamiku lagi." Ucap Axnes lalu berlari keluar dari kamar mereka bahkan keluar dari rumah mereka.
Axnes berlari keluar ke jalanan, tidak kembali ke rumah Vivian dan Raymond.
Axnes bahkan tidak memakai Alas kaki.
Axnes terus berjalan dan berjalan tanpa tahu arah tujuannya, ia tidak menyadari dari arah belakang ada sebuah mobil yang bergerak ugal-ugalan. Sepertinya pengendara mobil itu dalam keadaan mabuk.
"Axnes awas." Teriakan Raiyan membuyarkan lamunan Axnes. Rupanya Raiyan tetap mengejar Axnes saat ia berlari keluar dari rumah mereka.
BRAKK
Mobil tersebut menghantam ke arah Axnes berpapasan ketika Axnes mulai berjalan masuk kedalam terowongan dekat daerah itu.
Raiyan segera berlari dan menghampiri tempat itu.
Axnes terhimpit oleh bagian depan mobil tersebut pada dinding terowongan.
Dengan sekuat tenaga Raiyan mendorong mobil tersebut hingga memberinya celah untuk mengeluarkan Axnes.
"Sayang, bertahanlah aku mohon. Jangan menakutiku." Pinta Raiyan sigap menggendong Axnes yang sudah tidak sadarkan diri dengan mulut mengeluarkan darah, walaupun tidak terlalu banyak.
Ia segera membawa Axnes kembali ke rumah dan memasukkan Axnes ke dalam mobil nya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
"Maaf sayang. Aku yang salah." Ucap Raiyan dengan suara tercekat.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai dirumah sakit.
Raiyan segera menggendong Axnes yang tidak sadarkan diri kedalam UGD dan dokter segera datang untuk memeriksa keadaan Axnes.
Raiyan diminta untuk menunggu diluar.
"Ya Tuhan, apa yang sudah ku lakukan?" Gumam Raiyan merutuki dirinya sendiri.
"Bodoh bodoh. Kau bodoh Rai!" Raiyan memaki dirinya sendiri.
Raiyan menunggu dengan gelisah dan perasaan bersalah sambil mondar-mandir tak tentu arah.
Ponselnya kemudian berdering.
Raiyan meraih ponselnya dari dalam sakunya dan menjawab panggilan yang ternyata adalah Vivian.
"Rai, dimana Axnes? Jangan bilang kau sudah berbuat kasar padanya?" Tanya Vivian tanpa basa basi saat Raiyan menjawab panggilannya.
"Axnes..dia kecelakaan Ma." Jawab Raiyan pilu.
"Apa? Kenapa bisa tiba-tiba seperti ini?" Tanya Vivian panik.
"Tadi ... "
Belum sempat Raiyan menceritakan yang terjadi, Vivian mematikan panggilannya.
Kemudian ada pesan masuk.
"Kirimkan alamat rumah sakit sekarang!" Isi pesan dari Vivian.
Raiyan pun mengetik alamat rumah sakit tempat ia berada sekarang dan mengirimkan pada Mamanya.
"Jangan sampai kau kenapa kenapa sayang! Atau aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." Batin Raiyan merasa sangat bersalah.
Tak lama kemudian Vivian dan Raymond tiba.
Plakk
Raiyan kini mendapatkan tamparan dari Vivian.
"Apa yang sudah kau lakukan hah? Apa hobby mu memang menyiksa orang yang mencintai dan menyayangi mu?" Tanya Vivian membentak putranya.
Meskipun itu adalah rumah sakit, namun Raymond tidak berusaha melerai.
Raiyan hanya mampu diam dan meratapi kesalahannya serta merenungkan ucapan Mamanya.
"Jika sampai Axnes kenapa kenapa, kau yang harus bertanggung jawab atas semuanya." Tegas Vivian membentak putranya.
__ADS_1
...~ To Be Continue ~...