
Delapan Bulan Kemudian
Tidak terasa putra Raiyan dan Axnes sudah memasuki usia delapan bulan.
Yanes kecil sangatlah aktif dan sangat lincah.
Diusianya yang baru delapan bulan, ia sudah lihai berdiri saat memegang sesuatu yang tingginya sebetis orang dewasa.
Axnes sangat kelelahan menjaganya, belum lagi dengan segala pekerjaan rumah yang menumpuk.
Terkadang Raiyan memang membantunya, namun hanya terkadang.
Lebih sering Raiyan akan langsung beristirahat setelah ia pulang dari bekerja.
Bahkan tak jarang ia akan mengomel jika Axnes meminta bantuan darinya.
Seperti saat ini.
"Rai, kau sudah pulang?" Tanya Axnes sedikit ceria melihat suaminya sudah kembali dari bekerja.
"Em." Hanya deheman dingin yang Raiyan berikan sebagai jawaban.
"Rai, aku minta tolong setelah mau membersihkan diri, tolong jaga Yanes. Pekerjaan rumah masih banyak yang belum selesai dan aku juga belum sempat memasak." Pinta Axnes lembut.
"Ya ampun, kau ini cerewet sekali. Aku baru pulang kerja dan bahkan belum sempat duduk. Biarkan saja dia bermain untuk melatih fisiknya." Ucap Raiyan ketus.
"Tapi aku tidak ingin dia terjatuh." Ucap Axnes mencoba memberi pengertian pada Raiyan.
"Jika tidan ingin dia terjatuh maka jaga dia. Itu saja harus aku ajari." Ucap Raiyan kasar dan langsung masuk kedalam kamar.
Raiyan sengaja tidak memakai pelayan, alasannya selalu sama yaitu ingin menjadi orang tua yang mandiri dan juga suami istri yang mandiri.
Air mata Axnes mulai mengalir.
Seharian mengurus buah hati mereka dan segala pekerjaan rumah sendirian, baru meminta Raiyan untuk menjada putra mereka sebentar saja sudah mendapat kemarahan seperti itu.
Axnes akhirnya menggendong Yanes menggunakan gendongan sambil mengerjakan pekerjaan rumah.
Mulai dari menyapu, mencuci piring kotor hingga pakaian kotor. Satu yang Axnes syukuri, ia tidak perlu repot mencuci menggunakan tangan karena semuanya sudah menggunakan mesin.
Namun tetap saja melelahkan. Malam hari pun Axnes selalu tidak cukup tidur.
Ingin sekali ia mengeluh dan mengadu pada kedua orang tuanya dan mertuanya, namun Axnes memilih memendam semuanya dan mencoba mengerti keadaan Raiyan yang lelah karena pekerjaan walau sebenarnya ia jauh lebih lelah.
"Yanes, kau duduk dulu disini. Hati-hati jangan sampai jatuh. Mama harus memasak sebentar." Ucap Axnes pada putranya dan mendudukkan Yanes di karpet.
__ADS_1
Axnes pun segera memasak, yang ia pikirkan adalah suaminya pasti lapar, walaupun ia sendiri juga sudah sangat lapar.
Ooaaa Ooaaa
Tiba-tiba Yanes menangis histeris.
"Aw.." Axnes tidak sengaja mengiris jarinya sendiri saat mendengar putranya menangis.
Tanpa memikirkan lukanya, ia segera berlari melihat Yanes dan ternyata Yanes tumbang dari duduknya.
"Ya ampun anak Mama. Pasti sakit kepalanya." Ucap Axnes sambil menenangkan putranya dan menggosok kepala putranya dengan telapak tangannya.
Yanes kecil masih menangis membuat hati Axnes juga tidak tenang hingga ikut meneteskan air mata.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi." Ucap Axnes lagi.
"Astaga, menjaga seorang bayi saja kau tidak bisa, bagaimana dengan yang lainnya." Ucap Raiyan mengomel saat ia keluar dari kamar karena mendengar putranya menangis.
"Harusnya aku berpikir dua kali untuk menikahi mu." Ucap Raiyan ketus.
"RAIYAN." Bentak Vivian dari pintu.
Vivian datang ke rumah mereka bersama Raymond.
"Kau tidak apa apa sayang?" Tanya Vivian menghampiri Axnes sedangkan Raymond menghampiri Raiyan.
Satu tamparan keras melayang di pipi Raiyan.
"Apa begini caramu memperlakukan istri mu? Apa begini caramu bicara pada istrimu?" Tanya Raymond kesal.
Raiyan terdiam.
"Kau yang memintanya untuk menikah denganmu. Kau yang bahkan memaksanya agar tidak meninggalkan mu. Kau yang memilihnya. Kau yang menginginkan rumah tangga ini. Kau juga yang ingin tinggal terpisah dari kami agar bisa menjadi orang tua mandiri katamu. Lalu kemana semua kata kata manis itu? Kemana janji manis yang pernah kau ucapkan saat meminta Axnes untuk menjadi istrimu?" Tanya Raymond lagi memarahi putranya.
"Sayang, bawa Axnes pulang ke rumah kita. Sebaiknya aku hanya punya menantu tanpa putra." Ucap Raymond menyuruh Vivian.
"Ayo sayang, ikutlah dengan Mama. Mama akan membantumu." Ajak Vivian lembut.
Axnes hanya menurut. Pikirannya sudah kacau dan bercabang.
Vivian membawa Axnes dan cucunya Yanes kembali ke rumah mereka disusul Raymond dari belakang.
"Duduklah." Ucap Vivian menyuruh menantunya.
"Ayvin, bawa Yanes ke kamarmu dan tidurkan dia." Titah Vivian pada Ayvin dan Ayvin menurut.
__ADS_1
Vivian segera mengambil kotak obat dan mengobati jari Axnes yang teriris tadi.
"Kenapa kau hanya diam saat dimarahi seperti itu?" Tanya Vivian kesal.
Raymond duduk berhadapan dengan mereka.
"Rai pasti lelah bekerja seharian dikantor." Ucap Axnes masih membela Raiyan.
"Tidak ada yang lelah jika disyukuri. Dia terlalu tidak bersyukur. Papa dulu pun seperti dirinya. Tapi sepulang dari bekerja Papa masih bisa membantu Mama mengurus dia dan Ayvin. Jika tidak pun, Papa memilih mengerjakan pekerjaan rumah agar meringankan beban Mama. Dulu memang ada Dream, tapi kami juga tidak ingin membebankan terlalu banyak padanya apalagi dia juga sudah berkeluarga." Ucap Raymond.
Axnes hanya terdiam dan tersenyum getir.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, mulai hari ini kau harus dan Yanes harus tinggal disini bersama kami. Kau harus mengurus dirimu dengan baik. Walaupun kau sudah menikah dan menjadi Ibu, bukan berarti kau harus mengabaikan dirimu." Ucap Vivian menasehati menantunya.
"Tapi Rai sendiri dirumah." Ucap Axnes masih khawatir pada Raiyan.
"Biarkan saja dia. Jika dia tahu dia bersalah, dia yang akan datang dan meminta maaf. Jika dia tidak sadar akan kesalahannya, maka biarkan saja. Papa dan Mama yang akan menjaga dan merawat kau seperti putri kami sendiri." Ucap Raymond ketus.
Vivian meminta seorang pelayan membawakan makanan.
"Ayo, makanlah. Kau pasti belum makan dari tadi." Ucap Vivian hendak menyuapi Axnes.
"Aku bisa sendiri Ma." Ucap Axnes merasa tidak enak.
"Menurut saja Axnes jika mau masih menganggap kami sebagai mertuamu." Titah Raymond.
Axnes pun akhirnya menurut dan menerima suapan demi suapan dari Vivian.
"Anak itu benar benar keterlaluan. Selalu saja bikin masalah dan menyakiti hati seseorang." Gerutu Vivian kesal.
"Awas saja nanti jika dia menyesal. Aku akan pastikan dia tidan akan mendapatkan jatah selama satu tahun dari menantuku." Gerutu Vivian lagi membuat Axnes sedikit tersenyum.
"Axnes berjanjilah pada Mama, mulai saat ini kau harus lebih mencintai dirimu sendiri lagi. Jangan pernah takut untuk melawan jika Raiyan menindas mu." Ucap Vivian memeluk menantunya.
Axnes hanya mengangguk haru.
"Prahara rumah tangga memang selalu ada Axnes. Apalagi kalian adalah pengantin baru yang masih saling beradaptasi. Tapi ingatlah satu hal, jangan pernah mengijinkan kata pisah atau cerai keluar dari mulut kalian dengan mudah." Ujar Raymond.
"Baik Pa." Jawab Axnes.
"Sekarang kau istirahat saja, Yanes biar nanti Mama dan Papa yang akan mengurusnya. Kau tidurlah dengan baik malam ini." Titah Vivian penuh sayang.
Axnes mengangguk dan bangkit dari duduknya lalu melangkah ke kamarnya bersama Raiyan saat mereka masih tinggal di rumah itu.
Vivian dan Raymond juga beranjak ke kamar Ayvin untuk mengambil alih Yanes, lalu mereka pun membawa Yanes untuk tidur bersama mereka.
__ADS_1
...~ To Be Continue ~...