Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 39 - Aku Emily!


__ADS_3

"Emily?" Raiyan menggumam saat melihat seorang perempuan berdiri di ambang pintu dengan perut buncit dan wajahnya persis seperti Emily.


"Tidak mungkin." Aku Raiyan menggeleng kepalanya.


"Aku kembali sayang. Aku kembali bersama anak kita." Ucap perempuan itu dengan lantang sambil berjalan mendekati mereka membuat semua orang menatap tajam pada Raiyan terutama keluarga mereka.


"Jangan mendekat. Kau bukan Emily. Emily sudah tiada. Aku yang menyaksikannya sendiri." Ucap Raiyan semakin melangkah mundur.


Vivian sangat terkejut mengetahui kebenaran ini begitu juga dengan yang lain nya seperti orang tua Axnes, Ayvin, Raymond dan Harley.


"Bu bukan begitu Ma, aku bisa menjelaskan." Ucap Raiyan gelagapan saat melihat Vivian menitikkan air mata.


"Arghh." Raiyan menjambak kasar rambutnya.


"Rai, tenang lah dulu." Ucap Axnes mencoba menenangkan suaminya dan memilih berpikir positif.


"Kau tidak mungkin Emily." Ucap Ren dari ambang pintu bersama calon istri nya.


"Ren, kenapa kau seperti itu. Aku Emily. Apa kau juga melupakan ku. Kau dulu mencintai ku Ren." Ucap perempuan yang mengaku sebagai Emily itu saat berbalik menatap Ren.


Ren tersenyum sinis.


"Apa buktinya jika kau adalah Emily?" Tanya Ren menuntut bukti.


"Aku..aku mempunyai tes DNA." Ucap Emily sedikit gugup.


"DNA? Sayang nya aku tidak percaya pada laporan DNA. Jaman sekarang banyak orang memalsukan DNA mereka demi mendapatkan apa yang bukan milik mereka." Ucap Ren lantang dan berdiri tepat di depan Emily.


"Rai, percayalah aku Emily. Dan ini anak kita. Hasil dari hubungan kita selama hampir tiga tahun itu Rai." Ucap Emily memilih merayu Raiyan daripada berhadapan dengan Ren.


"Sayang, apa kau percaya pada ku?" Tanya Raiyan menggenggam erat tangan Axnes didepan dada nya.


"Aku percaya pada mu Rai." Jawab Axnes dengan penuh keyakinan.


"Kau selesaikan saja dulu masalah mu dengan nya. Aku percaya kau bisa Rai." Ucap Axnes memeluk suaminya


Axnes tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, lagipula Ren juga bilang kalau Emily sudah meninggal.


"Baiklah sayang. Berjanjilah kau akan menunggu ku." Pinta Raiyan memeluk erat istrinya.


"Aku akan menunggu mu Rai, pasti." Ucap Axnes yakin.


Raiyan melepaskan pelukan nya dari istrinya, ia mengecup dalam kening Axnes lalu melangkah turun dari altar pernikahan.

__ADS_1


"Kau ikut aku." Ucap Raiyan geram menarik tangan perempuan yang mengaku sebagai Emily itu dengan sangat kuat.


Ren dan Alina memilih mengikuti Raiyan.


"Axnes, sebaiknya kita kembali dulu kedalam kamar." Ucap Vivian lembut mendekati Axnes.


"Iya Ma." Ucap Axnes.


Mereka pun segera kembali ke kamar.


Mereka memilih bergabung dalam satu ruangan yaitu suite room yang ditempati Vivian dan Raymond.


Axnes sebelumnya telah berganti pakaian.


BRAKK


Raymond menggebrak meja didepan nya membuat semua orang tersentak kaget.


"Katakan siapa lagi yang mengetahui kematian Emily bersangkutan dengan Raiyan?" Titah Raymond dengan suara menggelegar.


Ketiga sahabat Raiyan sontak menunduk, begitupun Axnes.


Raymond melihat tingkah mereka berempat pun sudah mengerti jawaban nya.


Ayvin menggeleng.


"Aku hanya tahu kakak pergi mencari kak Emily karena kak Emily sudah membayar orang untuk menindas ku." Jawab Ayvin jujur.


Plak plak plak


Raymond menghampiri ketiga sahabat Raiyan dan masing masing mendapat satu tamparan.


Mereka bertiga tetap menunduk, orang tua mereka tidak ingin ikut campur.


"Masalah sebesar ini dan kalian menyembunyikan nya dari kami semua? Apa kalian pikir kalian sudah sangat hebat hah?" Tanya Raymond geram dengan suara menggelegar.


"Ma maafkan kami paman." Ucap Dero gelagapan.


"Kalian bersikap seperti itu berarti kalian telah mendukung tindakan Raiyan. Apa kalian tidak mengerti juga?" Raymond masih geram.


Nafasnya naik turun tak beraturan.


"Kami hanya tidak ingin paman dan bibi kecewa saat mengetahui ini." Ucap Vion pelan.

__ADS_1


"Waw hebat. Apa sekarang kami bahagia? Iya kami bahagia? Kami sedang tertawa begitu?" Tanya Raymond berdiri tepat di hadapan Vion.


"Aku seharusnya tidak mengijinkan kalian berteman jika tahu kalian bukan nya saling mendukung untuk menjadi lebih baik tapi malah saling menyembunyikan kesalahan." Ucap Raymond lagi.


"Apa kalian tidak sadar? Masalah Ayvin bisa diselesaikan baik baik dengan Emily, dan kalaupun Rai terlanjur mengambil keputusan sendiri, harus nya kalian segera memberitahu kami para orang tua dan bukan nya menyembunyikan. Terlebih kesalahan Emily masih bisa dimaafkan dan dia seorang perempuan." Ucap Raymond masih tetap geram.


"Dan Axnes, kau juga tahu hal ini?" Tanya Raymond kini tertuju pada menantunya.


Axnes yang sedang duduk di samping Vivian pun mengangguk pelan.


"Darimana kau tahu?" Tanya Raymond.


"Dari pria yang tadi datang bersama calon istri nya. Dia adalah Ren. Waktu itu dia menculik ku karena masalah ini." Ucap Axnes sejujur jujurnya.


"Kau bahkan diculik karena masalah ini dan kau menyembunyikan nya?" Tanya Max tak percaya.


"Aku hanya tidak ingin Rai mendapat masalah Pa." Ucap Axnes tulus.


"Tapi sekarang masalah justru lebih besar nes. Dan perempuan itu sedang hamil, jika itu benar benar adalah Emily dan bayi nya adalah bayi Rai, pernikahan mu yang belum genap satu hari ini bisa bisa hancur." Ucap Raymond menyadarkan.


Axnes menunduk.


"Aku tahu, aku sangat tahu kalian menyayangi Rai terutama dirimu Axnes. Tapi tidak seharusnya kalian menyembunyikan masalah sebesar ini. Sekarang mau bagaimana? Tiba tiba saja perempuan itu datang dengan kabar mengejutkan, hamil anak Rai. Lalu apa yang bisa kita lakukan lagi?" Tanya Raymond frustasi.


Ia benar benar tidak pernah menyangka jika putra sulung nya bisa segila itu.


"Sudahlah Ray, kau harus tenang dulu. Ayah yakin Raiyan bisa menyelesaikan masalah nya dengan baik." Ucap Harley membujuk putranya.


"Semoga saja masalahnya bisa selesai dan bukan nya malah bertambah besar." Raymond menggerutu.


"Aku harap masalah ini adalah yang terakhir yang kalian sembunyikan." Ucap Raymond lalu keluar dari kamar itu.


"Maafkan aku Ma. Aku benar benar tidak tahu jika Rai menyembunyikan ini dari kalian semua." Pinta Axnes pada Vivian.


"Sudahlah. Ini bukan murni kesalahan mu. Semua sudah terjadi, benar kata kakek, kita semua harus tenang. Semoga saja Rai benar benar bisa menyelesaikan masalah ini." Ucap Vivian memijit pangkal hidungnya dengan satu tangannya dan satu tangannya merangkul Axnes.


...~ To Be Continue ~...


#####


Sampe sini dulu yah..


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2