
"Tuan apa kita langsung pulang ke rumah?" tanya Ryan pada Harley. Saat ini mereka sedang berada didalam mobil, Ryan baru saja menjemput tuan nya yang baru pulang liburan. Sesuai janji Harley pada Raymond ia pulang tepat setelah seminggu.
"Tidak, kita ke mansion Ray terlebih dahulu. Aku ingin memberinya kejutan" ucap Harley sambil melihat kearah jendela mobil nya. Ia pulang bertepatan dengan weekend jadi ia yakin kalau putranya pasti sedang tidak bekerja.
"Hei bocah nakal" panggil Harley kepada putranya saat ia memasuki mansion putranya dan melihat putranya sedang asyik menonton film kartun dan merangkul mesra seorang perempuan sambil sesekali tertawa lepas. Tawa yang sudah lama sekali tidak ia dengar dari putranya. Mendengar suara ayah nya, Raymond yang terkejut pun langsung bangkit dari duduknya dan berbalik badan sedang Vivian masih duduk dan hanya menoleh ke sumber suara.
"A Ayah kapan ayah datang?" tanya Raymond gelagapan ia seperti orang yang sedang tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk. Saat mendengar Raymond memanggil ayah nya, Vivian merasa tidak enak dan langsung berdiri disamping Raymond dan tersenyum kaku.
"Baru saja. Apa kau merindukan ayah?" tanya Harley langsung memeluk erat putranya sambil sengaja menepuk keras punggung Raymond beberapa kali, membuat Raymond sedikit terbatuk.
"Hem..aku merindukan ayah. Tapi tolong lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas" ucap Raymond dan langsung dilepas oleh Harley sambil tertawa.
"Ho, apa ini calon menantu ku?" tanya Harley sambil menatap mata indah Vivian. Ia merasa seperti pernah melihat mata indah itu, tapi ia lupa dimana dan kapan.
"Kenalkan ini Vivian Ayah, Vi ini Ayahku Harley Lu" Ucap Raymond memperkenalkan Vivian dan Ayahnya secara bergantian. Mereka pun saling berjabat tangan.
"Vivian? Aku seperti pernah mendengar nama itu. Apa jangan jangan dia?" batin Harley, kenangan masa lalu mulai menghampiri nya.
"Vi, apa boleh aku meminta mu untuk membuat kan segelas teh dan membawa kan beberapa cemilan untuk Ayah ku?" tanya Raymond tidak nyaman, apalagi ia terpaksa harus memanggil Vivian dengan namanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ayah ku" ucap Raymond melanjutkan perkataannya.
"Baiklah" ucap Vivian singkat namun terdengar manis dan sopan. Ia lalu beranjak meninggalkan kedua pria itu.
"Ayah, kita bicarakan di ruang kerja ku saja" ajak Raymond, yang diangguki oleh ayahnya. Mereka pun berjalan menuju ke ruang kerja Raymond.
__ADS_1
"Ayah, apa kau mengenal pria ini?" tanya Raymond saat mereka sudah berada didalam ruang kerja nya sambil menyerahkan selembar foto kepada Ayah nya.
"Ya, dia ada Louise Jiang, pria muda yang aku selamatkan bersama Ryan dua tahun lalu" ucap Harley memperhatikan foto yang ia pegang.
"Apa Ayah tahu jika dia terlibat dalam perdagangan illegal? Apa Ayah yang memberinya suntikan dana?" tanya Raymond bertubi tubi.
"Tidak, aku tidak tahu. Aku memberinya dana agar ia bisa untuk membuka bisnis nya yg saat ini sedang ia jalankan" ucap Harley menjelaskan sambil menatap dalam mata putranya.
"Apa Ayah juga yang merekomendasikan dia menjadi dosen di Universitas Ayah?" tanya Raymond lagi. Yah, selama ini universitas tempat Vivian menimba ilmu itu adalah universitas yang dibangun oleh Harley belum lama namun dengan cepat bisa mendapatkan predikat yang baik didunia pendidikan.
"Ya, Ayah memang merekomendasikan nya kesana" jawab Harley singkat.
"Apa Ayah tahu dengan jelas latar belakang nya?" tanya Raymond kembali.
"Tidak. Tapi dia bilang dia sudah tidak punya siapapun disini. Ada apa?" tanya Harley kembali kali ini.
"Haha seperti nya tidak Ray, kau jangan takut" ucap Harley sambil tertawa.
"Siapa orang tua gadis mu itu?" tanya Harley ingin tahu tentang Vivian.
"Ruan Xu dan Esther Yang" jawab Raymond menyebutkan nama orang tua Vivian. Raymond terbelalak tidak percaya.
"Apa kau yakin Ray?" tanya Harley yang tengah mengingat masa lalu nya.
"Ia Ayah" ucap Raymond memejamkam kedua matanya dan menengadahkan wajahnya keatas.
__ADS_1
"Mengapa kita dipertemukan dengan cara seperti ini Ruan?" tanya Harley seolah sedang berbicara pada seseorang. Mata nya terpejam, tangan nya mengepal seolah sedang menahan perih di hatinya. Bayangan masa lalu tentang ia dan orang tua Vivian mulai menghampiri nya satu persatu.
"Tok tok tok" terdengar pintu ruangan diketok dari luar membuat lamunan mereka terhenti.
"Masuklah" ucap Raymond memberi ijin. Vivian pun masuk dengan membawa nampan berisi dua gelas teh dan beberapa cemilan.
"Ini paman, Ray. Silahkan dinikmati" ucap Vivian setelah menata teh dan cemilan itu dimeja antara tempat duduk Raymond dan ayahnya.
"Terima kasih Vi" ucap Raymond tersenyum manis.
"Baiklah aku keluar dulu. Panggil aku jika membutuhkan sesuatu yang lain" ucap Vivian lalu hendak beranjak pergi.
"Kau sangat mirip dengan wajah ayah mu Ruan Xu" ucap Harley yang kemudian membuat langkah Vivian terhenti dan menoleh melihat Harley. Raymond hanya diam menatap ayah nya dan gadisnya itu.
"A apa paman mengenal orang tua ku?" tanya Vivian menahan sesuatu dalam dirinya.
"Aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia adalah pria yang baik hati begitupun istrinya. Dan aku rasa kau mewarisi sifat dari mereka" ucap Harley yang lalu berjalan mendekati Vivian dan membawa Vivian dalam pelukan nya. Seketika perasaan Vivian menghangat, pelukan seorang ayah yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Apa paman bisa menceritakan tentang kedua orang tua ku kepada ku?" tanya Vivian menahan isak nya.
...Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku....
...Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran yang membangun, dan selalu tinggalkan like setiap kali selesai membaca satu part....
...Tekan Favorit agar kalian bisa mendapatkan pemberitahuan update episode selanjutnya....
__ADS_1
^^^# Follow IG @zml1104_ #^^^