Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Menghapus Jejak


__ADS_3

"Hei gadis bocah, kemari." Raymond memanggil Vivian dengan sedikit ketus. Setelah kepergian Max dan Rex dari rumah sakit Vivian tidak langsung kembali ke ruangan Raymond. Ia keluar untuk membeli beberapa makanan kecil dan minuman untuk kekasihnya.


"Ada apa sayang? Aku hanya pergi sebentar dan kau sudah merindukan ku seperti itu." Vivian menggoda kekasihnya itu tanpa berjalan mendekati nya.


"Kemari." Ucap Raymond sedikit meninggikan suaranya. Vivian yang pasrah pun akhirnya mendekat. Saat sudah sedikit mendekat, Raymond langsung menariknya kedalam pelukan nya. Ia memeluk Vivian dengan sangat erat.


"Hei Tuan posesif ada apa?" tanya Vivian heran.


"Aku hanya sedang menghapus jejak pria aneh itu (maksudnya Max)." Ucap Raymond. Vivian tertawa kecil dan membalas pelukan Raymond.


"Sudah sudah, aku milik mu Ray. Kau bisa memeluk ku kapan pun." Ucap Vivian berusaha melepaskan pelukan Raymond. Raymond menuruti nya, ia melepas pelukan nya dan menatap dalam wajah cantik kekasih nya.


"Honey, terima kasih. Kau sudah mau menunggu ku kembali. Terima kasih kau dengan setia menunggu ku dengan semua kata-kata menyakitkan mu itu (maksudnya waktu Vivian bilang mau pergi sama Louise pas Raymond masih belum siuman)." Ucap Raymond menggenggam erat tangan Vivian. Raymond tidak henti-henti nya berterima kasih pada Vivian. Kali ini Vivian tertawa mendengar kata-kata Raymond.


"Kau tahu sayang, semua itu ide Jiro. Dia yang memberi ku pemikiran seperti itu." Ucap Vivian tersenyum.


"Jiro. Tunggu saja dia, akan aku hukum dia nanti." Ucap Raymond kesal.


"Tidak Tuan. Kali ini harusnya Tuan berterima kasih kepada ku dan memberi ku bonus." Ucap Jiro yang tiba-tiba masuk dan mendengar pembicaraan mereka.


"Enak saja. Kau memberi ide gila pada Honey ku dan bisa-bisa membuat dia meninggalkan ku." Kesal Raymond.


"No no no. Tidak Tuan, kalau bukan karena ide dari ku Tuan tidak mungkin siuman secepat ini dan Tuan mungkin akan benar-benar kehilangan Nona Vivian jika Tuan tidur lebih lama lagi." Ucap Jiro bangga sambil mendudukan dirinya di sofa yang ada diruangan itu.


"Baiklah kali ini kau menang. Tapi aku akan tetap menghukum mu dan Sion karena sudah memanfaatkan kekasih ku untuk membangunkan ku." Ucap Raymond ketus. Jiro yang tidak peduli hanya mengangkat bahu nya dan sedikit mencibir kan bibirnya.


"Rex, apa semua persiapan mu sudah selesai?" tanya Max yang baru saja sampai di rumah nya bersama Rex.


"Sudah kakak. Kakak tenang saja." Ucap Rex.


"Baiklah. Aku akan pergi untuk mengurus beberapa urusan penting. Kau istirahatlah." Ucap Max dan ia langsung berlalu dengan mengendarai mobil nya.

__ADS_1


"Saat nya aku bersenang-senang." Ucap Rex setelah kepergian Max. Ia pun melangkah memasuki rumah dan matanya langsung tertuju pada Joyce yang tengah sibuk menonton diruang tengah. Ia berjalan mengendap menghampiri Joyce dari belakang dan langsung menciumi leher putih Joyce. Joyce menoleh dan melihat pelaku nya ternyata Rex.


"Ayo puaskan aku sayang." Ucap Rex dan langsung menerkam bibir mungil Joyce. Joyce saat itu mengenakan pakaian yang cukup terbuka. Ia tidak keberatan untuk melayani Rex karena Rex selalu memperlakukan nya dengan lembut. Walau hatinya mencintai Max tapi ia tidak keberatan jika harus melayani Rex. Ibaratnya Max adalah hatinya dan Rex adalah tubuhnya.


"Kau ini. Ini masih siang dan ini ruang tengah. Bagaimana jika ada yang melihatnya?" ucap Joyce disela-sela ciuman mereka.


"Baiklah. Kau yang memintanya Nona jalang." Ucap Rex lalu menggendong Joyce ala bridal style sambil terus menciumi nya. Ada sakit dihati Joyce saat Max maupun Rex memanggilnya jalang, tapi ia juga tidak bisa membantah bahwa kenyataannya diri nya memang seperti itu.


Setelah sampai di kamar nya, Rex langsung membuka pakaian Joyce lalu membaringkan nya di sofa panjang yang ada dikamar nya. Ia mulai menjelajahi tubuh mulus Joyce dengan bibir nya membuat Joyce menggeliat. Lalu bibir Rex mulai menjelajahi milik Joyce membuatnya mendesah merasakan nikmat yang Rex berikan.


Saat dirasa cukup Rex membuka pakaiannya dan menyatukan dirinya dengan Joyce. Ia menghentak dengan kuat miliknya pada Joyce. Seluruh kamar dipenuhi oleh desahan Joyce, Rex hanya menatap nyalang Joyce yang keenakan itu.


"Rex lebih cepat lagi." Pinta Joyce disela-sela permainan mereka. Rex menurutinya dan menghentak dengan sangat cepat dan kuat. Joyce benar-benar mabuk kepayang dibuat Rex. Mereka pun meraih pelepasan pertama. Rex lalu rebah di atas tubuh Joyce. Joyce berusaha melepaskan dirinya dan ingin pergi namun Rex kembali menahan nya.


"Aku belum puas. Ayo lagi." Ucap Rex lalu mulai melancarkan aksi bejatnya pada Joyce. Pelepasan demi pelepasan terjadi di antara mereka hingga akhirnya mereka sama-sama tumbang dan terlelap. Max yang baru saja kembali tak sengaja melewati kamar Rex yang pintunya sedikit terbuka. Ia melihat kedalam dan terlihat adiknya dan Joyce tengah terlelap dengan posisi Joyce menindih Rex dan mereka tanpa busana.


"Murahan." Ucap Max dan berlalu dari sana.


"Honey kapan aku bisa pulang?" Raymond merengek manja pada kekasih nya.


"Payah. Lama sekali orang itu bekerja. Kalau semua Dokter disetiap rumah sakit seperti dia bisa-bisa semua pasien mati dengan cepat." gerutu Raymond kesal. Ia tidak betah berlama-lama dirumah sakit. Ia sebenarnya sangat benci bau obat-obatan.


"Bersabarlah sebentar." Ucap Vivian lalu menyodorkan sepotong apel ke mulut Raymond dan langsung dilahap oleh nya.


"Honey tapi aku ingin sakit terus saja agar kau selalu manis seperti ini padaku." Ujar Raymond tersenyum genit.


"Tidak usah berharap. Jika kau sakit lagi seperti ini maka aku akan pergi untuk mengejar Louise." Ucap Vivian lalu berbalik untuk mengambil minuman namun ditahan oleh Raymond. Seketika Raymond langsung mencium bibir kekasihnya itu.


"Kau ini suka berbuat semau mu." Ucap Vivian setelah Raymond melepas ciuman nya.


"Jangan pernah menyebut nama pria lain dengan bibir mu itu. Ingat semua yang ada pada diri mu itu mutlak milik ku." Ucap Raymond menekan setiap perkataan nya. Vivian hanya menggeleng mendengar perkataan posesif dari kekasihnya itu. Walau begitu Raymond bersumpah pada dirinya kalau ia tidak akan melebihi batas sebelum waktunya.

__ADS_1


"Jiro tadi kemana?" tanya Vivian. Karena tadi dia sempat ke kamar mandi dan ketika ia keluar ia sudah tidak melihat keberadaan Jiro.


"Dia pergi untuk mengerjakan pekerjaan Kantor." Jawab Raymond.


"Oh. Sayang apa aku boleh bertanya?" tanya Vivian sedikit gugup.


"Silahkan." Jawab Raymond.


"Apa benar kau adalah Ketua Mafia terbesar di Asia?" tanya Vivian bimbang. Ia pernah melihat sebuah artikel tentang status Raymond sebagai Ketua Mafia saat ia sedang mencari artikel tugas kuliahnya.


"Hem." Raymond berdehem singkat.


"Apa kau takut?" tanya Raymond saat melihat Vivian hanya mengangguk tanpa memandang nya.


"Tidak. Aku hanya berpikir kalau dunia mu pasti dipenuhi bahaya." Ucap Vivian sendu. Ia hanya takut kalau hal yang sama dialami kembali oleh Raymond.


"Aku akan menjaga diriku dengan baik. Kau tenang saja Honey." Ucap Raymond menyakinkan Vivian yang hanya dibalas deheman oleh Vivian.


"Sayang ajari aku menembak." pinta Vivian membuat mata Raymond membulat mendengar permintaan kekasihnya.


****************


***Terima kasih selalu ku ucapkan untuk para reader yang selalu setia dengan "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?"


Setiap dukungan kalian sangat penting terutama untuk pemula seperti ku.


Terus berikan dukungan kalian dengan tinggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.


Tekan Favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update episode selanjutnya.


Jika berkenan boleh tinggalkan sedikit tip dan hadiah-hadiah kecil untukku.

__ADS_1


Follow IG ku @zml1104_


^^^Salam Semangat***.^^^


__ADS_2