Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Antara Hati dan Obsesi.


__ADS_3

"Tuan Ray." Jiro berusaha membangunkan Raymond yang tengah terlelap dilantai kamarnya.


"Tuan Ray, bangunlah." Jiro memanggil Raymond dengan sedikit menepuk lengan Raymond.


"Eungh..ada apa?" tanya Raymond pada Jiro dan berusaha bangkit dari posisinya. Jiro segera membantu atasan nya itu.


"Tuan aku menemukan beberapa kejanggalan pada Video Nona Vivian kemarin." Ucap Jiro tanpa ingin basa basi.


Raymond mengepalkan tangannya kuat. Tampak darah yang sudah mengering ditangan nya ikut pecah akibat kepalan tangan nya.


"Maaf jika aku lancang melihat nya tanpa persetujuan Tuan, tapi aku rasa Nona Vivian melakukan nya bukan atas keinginan nya sendiri." Jiro melanjutkan perkataannya tanpa peduli Raymond ingin mendengar atau tidak.


"Jika dilihat dengan teliti, tangan nona Vivian terikat pada besi dikepala ranjang. Dan suara Nona Vivian bergetar seperti sedang menangis. Paling aneh adalah aku dapat melihat ujung runcing pisau yang ditempelkan dileher Nona Vivian." Jiro terus melanjutkan perkataannya walau Raymond diam tidak menanggapi.


"Aku merasa Nona Vivian dijebak dan diancam." Jiro mengakhiri perkataannya.


"Kau sudah menemukan Ayah ku?" tanya Raymond dengan suara datar.


"Belum tuan." Jiro menjawab sambil menghela nafas kasar.


"Temukan Ayah ku dulu sebelum kau membahas hal lain." Titah Raymond. Ia kemudian beranjak dari tempat nya dan berjalan menuju kamar mandi.


Dibuka nya air dari shower sehingga mengguyur membasahi tubuhnya. Dia duduk di bawah air shower yang mengalir sambil menekuk memeluk kedua lututnya.


"Vi, kau dimana? Aku merindukan mu." Ucap Raymond. Dia sangat merindukan istrinya walaupun amarah melingkupi nya.


#####


"James, antar tua bangka ini kembali pada putra pecundang nya." Titah Max pada James saat ia berada di sebuah gedung tua tempat dia menyekap Harley.


"Baik Tuan." James menyanggupi dan berlalu dengan membawa Harley bersamanya.


"Raymond Raymond. Kau mengambil milikku dari awal, sekarang aku akan membuat mu merasakan sakit berkali lipat melihat istri mu harua melayani ku." Gerutu Max sambil menghisap rokok nya.


Setelah itu Max melajukan mobilnya menuju ke apartemen nya. Tempat dirinya menahan Vivian. Setelah sampai di sana ia segera memasuki kamar nya.


Deg


Seketika jantung nya berdetak tidak karuan saat melihat kondisi Vivian yang mengenaskan. Ia segera berlari kecil mendekati Vivian dan membuka ikatan tangannya.


Kemudian ia melangkah ke arah lemari nya dan meraih sehelai kemeja nya untuk dipakai kan pada tubuh polos Vivian.

__ADS_1


Vivian sadar, tapi pandangan nya kosong. Ia lebih seperti orang yang tak bernyawa. Air mata nya tidak berhenti mengalir dari sudut mataa nya.


"Maafkan aku Vi. Maafkan aku." Ucap Max lembut lalu memeluk erat Vivian.


Vivian tidak bergeming. Dia hanya diam meratapi nasib nya dan terus terisak.


"Aku janji aku tidak akan menyakiti mu. Hiduplah bersama ku. Tinggalkan brengsek yang sudah memisahkan kita itu." Ucap Max lagi dan mengecup beberapa kali puncak kepala Vivian.


"Kau tidak mencintai ku Max. Kau tidak mencintai ku." Vivian mulai menunjukkan respon.


"Tidak Vi. Aku mencintai mu. Aku ingin hidup bersama mu." Max kembali berucap untuk meyakinkan Vivian.


"Kau tidak mencintai ku. Jika kau mencintai ku kau tidak akan melakukan ini semua pada ku." Timpal Vivian. Tatapan nya tetap kosong, air mata nya tidak berhenti mengalir.


"Aku mencintai mu Vi. Aku hanya ingin bersama mu. Aku tidak ingin kau pergi." Ucap Max.


Tanpa menunggu jawaban dari Vivian, ia langsung menjambak rambut Vivian hingga Vivian mendongak keatas.


Seketika ia langsung melahap bibir Vivian dan membaringkan tubuhnya lalu menindih nya. Vivian berusaha sekuat tenaga melawan namun nihil. Kekuatan Max jauh lebih kuat dari nya.


Max kemudian melepaskan tautan bibir mereka, ia menatap wajah menderita Vivian.


Deg


"Sial." Ucap nya kasar lalu meninju ranjang nya berkali kali.


Segera ia pun berdiri dan melangkah pergi. Namun ia berhenti sejenak untuk memberitahu Vivian sesuatu.


"Bersihkan dirimu. Aku tidak ingin meniduri wanita yang bertubuh kotor." Ucap Max kasar.


"Aku memang sudah kotor Max. Dan semua itu karena ulah mu." Timpal Vivian menekuk kaki nya dan memeluk lututnya tanpa memandang kearah Max.


Max geram, kemudian ia berbalik dan berjalan mendekati Vivian. Ia mencengkeram dagu Vivian kuat membuat Vivian meringis.


"Kau tidak akan kotor karena aku meniduri mu. Sedari awal semua yang ada padamu adalah milik ku. Kau membuat diri mu kotor dengan menyerahkan kesucian mu pada pria brengsek berkedok suami mu itu." Ujar Max geram. Ia kemudian menghempas wajah Vivian hingga terpelanting kesamping.


Segera ia melangkah pergi, namun lagi lagi langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Vivian.


"Aku menyesal pernah mencintai mu Max." Ucap Vivian terisak.


Hati Max seketika merasa sakit mendengar perkataan Vivian. Ia memejam kuat mata nya, dan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Maka cintai aku sekali lagi, dan aku akan membahagia kan mu." Ujar Max kemudian ia langsung meninggalkan Vivian didalam kamarnya.


Ia kemudian duduk bersandar di sofa. Kemudian ia meraih ponselnya untuk menghubungi Vanessa. Tidak ada jawaban, ia mencoba lagi dan lagi hingga panggilan kelima baru diangkat.


"Sayang, kau kemana saja?" tanya Max cemas. Dirinya benar benar berbeda jika sudah bersama Vanessa.


"Aku baru selesai menangani pasien." Vanessa menjawab dengan ketus.


"Haha aku merindukan mu. Apa malam ini kau ada waktu?" Max tertawa kecil.


"Malam ini? Aku ada pertemuan dengan beberapa teman ku." Jawab Vanessa berbohong. Vanessa hanya mencoba menjauh dari Max. Dia tidak ingin jatuh lebih dalam pada hubungan yang tidak pasti arah tujuan nya. Apalagi dirinya tahu kalau Max sangat terobsesi ingin memiliki Vivian.


"Apa teman teman mu lebih penting dari ku?" tanya Max memelas.


Hah


Vanessa menghela nafas kasar. Akhirnya ia memutuskan untuk berkata jujur.


"Max, aku minta maaf. Tapi aku tidak ingin menemui mu untuk saat ini. Aku tidak ingin terluka lebih dalam lagi. Melihat mu yang begitu terobsesi untuk memiliki nya membuat hati ku sangat sakit Max. Hanya aku yang bersungguh mencintai mu. Tapi tidak dengan mu. Aku tahu kau selalu menganggap ku membohongi mu. Kau selalu merasa aku ada niat tersembunyi saat mendekati mu. Dan aku jujur aku memang punya niat khusus untuk mendekati mu. Aku ingin membawa mu keluar dari jerat masa lalu mu. Aku ingin memberi mu cinta yang tidak kau dapatkan dari Vivian. Ketika sedang bersama mu, aku senang karena kau ada tapi semua itu tidak berarti apapun. Setelah kita berpisah hati mu tetap kembali pada Vivian. Maka untuk saat ini sebaik nya kita tidak perlu bertemu lagi. Satu lagi lepaskan obsesi mu sebelum semuanya menghancurkan mu terlalu jauh Max." Vanessa langsung menutup panggilan nya setelah berbicara panjang lebar.


Max menghela nafas kasar. Entah kenapa ia tidak mampu marah pada Vanessa saat mendapat penolakan dari nya dan perkataannya yang cukup menusuk hati itu.


"Aku tidak ingin kehilangan dirimu Vanessa." Gerutu Max menjambak kasar rambutnya.


"Maka lepaskan obsesi mu." Terdengar seperti Vanessa berbisik ditelinga nya.


Ia akhirnya memutuskan untuk kembali kekamar nya. Ia melihat Vivian sudah terlelap entah pura pura atau memang benar benar terlelap. Ia pun akhirnya naik keatas ranjang bergabung dengan Vivian. Ia memeluk erat tubuh Vivian yang masih sedikit bergetar karena menangis. Ia membenamkan wajahnya pada dada Vivian hingga akhirnya ia terlelap.


Max tidak tahu antara harus bertahan mengejar obsesi nya atau mengalah pada hati nya yang nyaman bersama Vanessa dan mengejar Vanessa.


******


Maaf ya kalo kalian ada yang kesal, marah, bahkan membenci beberapa karakter disini.


Tapi aku akan berusaha memberikan akhir yang baik untuk semua nya.


Makasih buat dukungan yang masih terus kalian berikan pada ku.


Tinggalkan komentar, like, vote, dan Favorit cerita ku yah.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE" yuk.

__ADS_1


__ADS_2