Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Peristirahatan Terakhir.


__ADS_3

Pagi ini tidak seperti biasanya, tampak fajar tidak untuk menyambut pagi ini. Hanya awan mendung dan hujan rintik rintik yang menemani setiap hati manusia yang sedang berduka atau berbahagia.


Rex kini sedang berada di ruang khusu rumah sakit untuk mengantarkan jenazah Vanessa menuju tempat peristirahatan terakhir nya. Max juga di sana. Penampilan Max sangat kacau, itu karena dia tidak beranjak sedikitpun dari sisi Vanessa sejak kemarin malam. Dimana dokter dan petugas rumah sakit membawa jenazah Vanessa, disitu lah dia akan pergi.


Rex tidak peduli padanya lagi. Ia hanya perlu menyelesaikan proses pemakaman Vanessa dan setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari kota nya sekarang dan kembali ke Jepang, dengan ataupun tanpa Max.


"Tuan semua sudah siap." Ucap salah satu petugas yang mengurus jenazah Vanessa saat menghampiri Rex.


"Baiklah." Ucap Rex kemudian berjalan menuju mobil yang sudah siap membawa Jenazah Vanessa menuju tempat pemakaman.


"Tidak tidak. Kalian tidak bisa membawa Vanessa ku. Pergi kalian." Ucap Max menghadang pergerakan mobil itu dari depan.


Rex memejamkan mata dan mengepalkan tangannya kuat. Ia benar benar sudah habis kesabaran rasanya.


"James, kau bawa Tuan mu ini menjauh. Pastikan dia tidak berbuat onar lagi. Jika dia ingin ikut pastikan dia tidak mengganggu prosesi pemakaman." Rex memerintahkan pada James yang baru saja sampai.


"Baik Rex." Ucap James membungkuk sedikit. Dengan segera ia menyeret Max untuk menjauh dari mobil yang ia hadang tadi.


Max meronta, namun tenaga nya kali ini tidak cukup kuat dibanding James. James menyeret nya untuk masuk kedalam mobil yang dibawa nya tadi. Segera ia mengunci pintu saat Max mencoba untuk keluar dari mobilnya. Segera ia pun melajukan mobilnya mengikuti mobil yang membawa jenazah Vanessa dan Rex tadi.


"Hentikan mobilnya sialan. Kau tidak lihat mereka membawa Vanessa ku." Ucap Max berusaha membuka pintu mobilnya. James tidak peduli dan terus melaju.


Hingga akhirnya mereka sampai di tempat pemakaman. Tampak tidak banyak unit makam ditempat itu. Segera petugas pun membawa peti yang berisi jenazah Vanessa menuju ke tanah yang sudah digali membentuk lobang besar.


James dan Max sudah keluar dari mobilnya. James setia menahan Max agar tidak mengacaukan semuanya.


"Vanessa ... Vanessa." Max memanggil nama Vanessa sesekali berteriak, dan terus meronta.


Rex mengatur semua prosesi pemakaman dengan baik. Saat peti mati Vanessa dimasukkan kedalam lobang yang sudah digali tadi dan para petugas menutupi dengan tanah kembali. James merasa ada sesuatu yang janggal. Namun ia tidak ingin menebak atau menduga lebih jauh.


"empat puluh delapan jam." Batin Rex menatap pilu peti yang sudah terkubur oleh tanah itu.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Rex pun meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan Max yang menangis meraung. James juga memilih pergi dari tempat itu dan tidak ingin mengganggu Max.


Max terdiam duduk mematung disamping makam Vanessa. Ia tersungkur dan posisi tangan dan badan nya menempel pada malam Vanessa seolah sedang memeluk Vanessa.


"Kembalilah Vanessa. Aku mohon. Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku minta maaf. Tolong berikan aku kesempatan Vanessa." Ucap nya sambil memukul tanah makam Vanessa.


"Tidak aku harus membawa mu kembali. Kau tidak boleh pergi tanpa ku. Tidak boleh." Max menggila lagi sambil mengkais tanah makam Vanessa dengan tangan nya. Ia bahkan tidak peduli dengan hujan yang turun semakin deras membasahi tubuhnya.


"Maafkan aku Max." Batin Rex yang ternyata masih menyaksikan perbuatan Max dari jauh.


#####


Raymond tampak masih setia menunggu istrinya sadar dari tidur panjang nya. Dengan setia ia menggenggam tangan Vivian seolah memberikan kehangatan pada istrinya. Cinta nya yang besar mengalahkan segala amarah nya kali ini.


Yang ditunggu pun akhirnya terjadi. Perlahan Vivian membuka kedua bola mata indah nya. Ia mengerjap menyesuaikan pandangan nya dengan cahaya ruangan.


Saat pandangan nya menangkap sosok Raymond yang berdiri memandangi nya, dengan cepat ia bangkit dari posisinya dan duduk meringkuk ditepi atas ranjang nya. Ia memandang Raymond dengan penuh ketakutan.


"Sayang tenanglah. Ini aku Ray." Raymond berusaha menenangkan istrinya dan berkata selembut mungkin. Walau ia sangat ingin membawa istrinya kedalam pelukan nya, tapi ia menahan diri agar tidak membuat Vivian lebih ketakutan.


"Ray?" tanya Vivian menatap lekat wajah Raymond. Perlahan ekspresi takutnya mulai memudar. Namun segera wajah takut nya berganti menjadi sedih.


"Tidak Ray, jangan mendekati ku. Aku hina, aku kotor Ray. Maafkan aku." Ucap Vivian menunduk lalu memeluk kedua lutut nya.


Raymond mengepalkan tangannya kuat melihat keadaan istrinya. Bukan marah, hanya saja ia merasa gagal menjadi seorang pria dan tidak bisa melindungi wanita nya dengan baik.


"Hukum aku Ray. Hukum aku yang kotor ini. Ceraikan aku. Buang aku jauh jauh dari hidup mu. Aku tidak pantas untuk mu." Vivian melanjutkan perkataannya dengan terisak.


Raymond tidak tahan lagi melihat keadaan istrinya seperti itu. Dengan sigap ia naik keatas ranjang dan duduk di samping Vivian. Segera ia membawa Vivian kedalam pelukan nya.


"Sudah sayang. Ini bukan salah mu. Aku sudah bilang aku akan tetap mencintai mu selama yang terjadi bukan keinginanmu sendiri. Jangan bersedih lagi." Raymond berusaha menenangkan istrinya. Dia memeluk erat Vivian, mengelus rambutnya dan mengecup beberapa kali puncak kepala nya.

__ADS_1


"Tidak Ray, aku kotor. Aku tidak layak disamping mu. Aku tidak layak hidup dengan mu." Vivian masih terus menolak kenyataan kalau Raymond memaafkan nya.


Wajar saja Vivian seperti itu, kebanyakan pria pasti akan jijik pada istrinya setelah istrinya disetubuhi oleh pria lain walaupun itu dengan paksaan. Tapi Raymond tidak ingin seperti itu, ia tidak ingin kehilangan wanita nya. Wanita yang selalu membuatnya bahagia.


"Sttt, sudah sayang. Tidak perlu menangis lagi. Aku disini untuk mu dan akan selalu ada untuk mu." Ucap Raymond.


Ia kemudian melepaskan pelukan nya dan menangkup wajah Vivian dengan telapak tangan nya.


"Aku mencintai mu. Dan kau mencintai ku. Itu sudah cukup bagiku. Aku yang harus minta maaf karena sempat meragukan mu. Maafkan aku sayang." Ucap Raymond tulus. Vivian tidak menjawab dan hanya menatap dalam mata tajam Raymond.


Seketika Raymond mengecup bibir Vivian lembut, bibir yang sudah sangat ia rindukan itu.


"Sudah, jangan bersedih lagi yah." Ujar Raymond saat ia sudah melepas bibir nya dari Vivian.


"Aku takut Ray. Aku membunuh." Ucap Vivian bergetar.


"Tidak, itu bukan salah mu. Kau hanya berusaha membela diri." Bela Raymond pada istrinya.


"Sudah yah, jangan bersedih lagi. Kau harus bangkit. Kita perbaiki semuanya." Raymond berusaha menguatkan istrinya.


Ia terus memeluk erat istrinya, hingga akhirnya Vivian tertidur lagi.


"Aku mencintai mu sayang. Dan akan selalu begitu." Ucap Raymond mengecup sekilas bibir istrinya lalu membaringkan tubuh istrinya kembali ke ranjang.


*******


Terima kasih sayang sayang ku yang tidak pernah bosan nungguin update cerita recehan ku ini. Juha untuk semua dukungan yang selalu kalian berikan.


Jangan bertanya kenapa aku membuat Raymond dan Vivian bersama lagi, karena kekuatan cinta selalu memiliki caranya sendiri untuk menyatukan manusia.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE " yuk.

__ADS_1


Jaga kesehatan kalian yah.


__ADS_2