Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Culik


__ADS_3

"Louise apa boleh aku pinjam korek api mu lagi?" tanya Vivian sambil tersenyum kaku.


"Ini pakailah" ucap Louise dengan senyum sambil memberikan korek api nya pada Vivian.


"Terima kasih" ucap Vivian ceria menerima korek api Louise dan beranjak kembali kepada kelompok nya. Louise hanya tersenyum melihat tingkah pujaan hatinya itu.


Satu hari kegiatan mereka telah dilewati dengan baik, mereka menjadi lebih mengenal satu dan yang lainnya. Begitupun dengan Vivian dan Louise, keakraban mulai terjalin diantara mereka. Kelompok Vivian kini tengah memasak untuk makan malam mereka. Sedangkan kelompok lain juga melakukan kegiatan yang lain. Tak terasa hari mulai malam dan ini juga merupakan malam terakhir mereka bersama. Setelah besok kegiatan selesai maka mereka akan kembali ke tempat masing-masing. Mereka memulai makan malam mereka ditemani oleh api unggun yang memberi kehangatan kepada tubuh mereka.


Entah sengaja atau tidak Louise mendapatkan tempat duduk bersebelahan dengan Vivian. Vivian tidak terlalu mempedulikan itu.


"Ini makanlah" ucap Louise memberi sepotong daging dipiring Vivian.


"Terima kasih" ucap Vivian tanpa menoleh kearah nya.


"Setelah ini akan ada pesta api unggun, apa kau akan ikut?" tanya Louise.


"Hem sepertinya begitu. Lagipula entah kapan lagi akan diadakan kegiatan seperti ini" Jawab Vivian tetap tidak menoleh kearah Louise. Itu tidak masalah baginya asalkan gadis yang ia cintai itu mau mempedulikan nya.


"Aku dengar mereka ingin mengadakan permainan yang dinamakan "Cerita Masa Lalu", dan nanti semuanya akan mendapatkan pasangan masing-masing lalu mereka akan saling berbagi cerita" ucap Louise panjang lebar.


"Apa permainan seperti itu akan menarik?" tanya Vivian merasa aneh dengan nama permainan yang disebutkan oleh Louise.


"Hem seperti nya akan menarik, tergantung kau mendapatkan siapa sebagai pasangan mu dan seperti apa cerita nya nanti" ujar Louise menahan senyum. Vivian hanya berdehem dan mengangkat bahunya.


Setelah selesai makan malam mereka pun diarahkan untuk segera berkumpul di lapangan yang lebih luas dan terdapat api unggun yang lebih besar. Mereka duduk membentuk lingkaran dan lagi-lagi Louise mendapat tempat disebelah Vivian. Lalu satu persatu diarahkan ke tengah untuk mengambil satu nama yang akan menjadi pasangan mereka. Hebat nya Louise mendapatkan nama Vivian dan juga sebaliknya. Mereka pun kemudian duduk terpisah dengan yang lain.

__ADS_1


Mereka kaku untuk memulai cerita dan tidak tahu ingin menceritakan apa. Vivian terlihat sedang berfikir keras mencari ide sambil sesekali melihat wajah Louise berharap mendapatkan petunjuk.


"Aku duluan saja" ujar Vivian memecah keheningan. Ia pun kemudian menceritakan masa lalu nya saat bersama Jordan dan Max.


"Kau tahu kau itu sangat-sangat mirip dengan Max, maksud ku wajah kalian sangat mirip" ucap Vivian menghentikan ceritanya.


"Yang membedakan hanya ini" lanjut Vivian sambil mengusap bekas luka Vivian dengan telapak tangan nya.


Louise langsung meraih telapak tangan Vivian dan menggenggam nya erat seakan ia tidak ingin melepas nya lagi. Ditatap nya mata indah Vivian dalam, mata yang selalu ia rindukan.


"Apa kau masih merindukan nya?" tanya Louise masih menggenggam tangan Vivian.


"Hem sampai sekarang pun aku masih sangat merindukan nya. Entah sebagai apa tapi yang jelas aku sangat-sangat merindukan nya" ucap Vivian sendu lalu menundukkan kepalanya.


"Kau bisa menganggap ku sebagai dirinya jika kau mau Vi" ucap Louise menahan pilu. Vivian menggeleng lalu melepaskan pelukan nya, ia kembali menatap dalam mata Louise. Lalu tiba-tiba ia mencium bekas luka diwajah Louise membuat Louise terbelalak tak percaya.


"Aku tahu kau sangat mirip dengannya, tap tetap saja aku merasa ada perbedaan yang cukup besar diantara kalian" ucap Vivian setelah melepas bibir nya dari pipi Louise. Mereka sangat terbawa suasana walau tidak melewati batas, hingga tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang menatap benci kearah mereka. Siapa lagi kalau bukan Joyce, ia sangat marah melihat keakraban Vivian dan Louise. Ia benar-benar tidak sabar untuk menjalankan rencananya.


Disisi lain di mansion Raymond, terlihat ia dan para pelayan nya sedang sibuk mendekor mansion nya. Warna pink dan balon hati mendominasi. Ia ingin memberi kejutan untuk kekasihnya saat kekasihnya pulang besok.


"Hah aku lelah sekali" ucap Jiro yang sudah kelelahan.


"Kau istirahatlah. Besok kau harus menemani ku menjemput Vivian" ucap Raymond memberi pengecualian kepada Jiro. Hal itu pun tidak ingin ia sia-sia kan, ia kemudian berlari menuju salah satu kamar kosong di mansion Raymond dan langsung terlelap. Raymond hanya bisa menggeleng melihat kelakuan tangan kanannya itu.


"Kalian semua sudah bekerja sangat keras. Sekarang istirahatlah" ujar Raymond kepada para pelayan nya membuat mereka terperangah tak percaya. Tanpa menghiraukan mereka, Raymond pun beranjak menuju kamarnya dan membaringkan dirinya pada ranjang empuk nya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu sayang" ucap Raymond berbicara pada foto Vivian yang terpajang dikamar nya.


Disisi lain Vivian tengah bebaring ditengah lapangan tempat mereka berkumpul tadi sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang. Hanya ia sendiri disana karena ketika acara selesai yang lain sudah memasuki tenda masing-masing.


"Aku merindukan mu Ray, apa kau juga?" tanya Vivian memandangi langit seolah sedang berbicara dengan Raymond.


"Kau pasti sangat merindukan ku, aku belum pergi saja kau sudah tidak ingin melepas ku apalagi sekarang" timpalnya sambil tersenyum pada langit.


"Hoam" ia menguap tanda sudah mengantuk, Akhirnya ia pun masuk ke tendanya untuk istirahat.


Fajar telah menyongsong pertanda hari sudah pagi. Terlihat semua orang yang mengikuti kegiatan tengah bersiap untuk pulang begitupun dengan Vivian. Ia sedang berada di dalam tenda mengemasi barang-barang nya. Setelah selesai ia pun segera keluar dari tenda nya, namun ternyata sudah mulai sepi. Ia kemudian melepas tendanya dan melipat nya dengan rapi dan memasukkan nya kedalam koper. Lalu ia berjalan menuju tepi jalan untuk menunggu kedatangan Raymond karena sesuai janjinya ia meminta Raymond untuk menjemput nya.


Ia sudah menunggu kurang lebih tiga puluh menit namun Raymond masih belum datang. Tak jauh dari nya Louise melihat nya dari dalam mobil, lalu ia berniat mendekati nya namun naas ia kalah cepat. Vivian sudah dibawa paksa duluan oleh sekelompok orang berwajah sangar menggunakan mobil Van berwarna hitam.


"Tolong" hanya itu kata kata yang Vivian mampu teriak kan saat ia dibawa paksa. Louise memutuskan untuk mengejar mobil itu. Raymond yang ternyata ada dibelakang mobil Louise pun melihat kejadian itu terjadi. Tak ingin berlarut ia pun menyusul mobil Louise dari belakang.


"Tunggu aku Vi" ucap Louise dan Raymond bersamaan walau dimobil yang berbeda.


***********


Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran yang membangun. Dan juga like nya yah setiap kali selesai membaca satu part. Serta tekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya.


Sesekali boleh donk berikan tip buat author kalian ini. Sekali lagi terima kasih.


^^^Follow IG @zml1104_^^^

__ADS_1


__ADS_2